My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Malam Pertama



" Jika aku melakukannya berkali-kali, bagaimana?." Tanya Keenan menggoda, sejak tadi Kalila terus bicara dengan lantangnya, bukankah akan seimbang jika dia juga meladeninya?.


" Hemm, kalau begitu, saya akan meminum pil kontrasepsi." Ujar Kalila.


Padahal nyatanya, ia tak akan meminum satupun obat pencegah kehamilan itu.


" Usul yang bagus." Keenan mengangguk setuju.


" Kalau begitu aku juga akan memakai pengaman."


" Eh, jangan!!!." Pekik Kalila langsung tak setuju dengan usul Keenan.


" Kenapa?." Tanya Keenan menyelidik.


" Em, nanti rasanya pasti akan berbeda." Ujar Kalila kembali bicara sesantai mungkin, dengan mengedipkan matanya, seolah menggoda Keenan.


" Kau yakin itu alasannya?." Tanya Keenan tak percaya begitu saja, ia menyipitkan mata curiga.


" Hm, tentu saja."


" Jadi bagaimana, apa kita sudah deal sekarang?."


" Tentu..." Jawab Keenan. Ia ingin segera berpisah dengan Kalila.


Apalagi setelah melihat tingkah Kalila saat ini, sungguh membuatnya semakin yakin akan keputusannya.


" Ah iya hampir saja lupa. Boleh saya minta satu hal lagi?." Tanya Kalila teringat sesuatu yang penting.


" Benar-benar tak tau diri, kau terus saja meminta dan meminta." Cecar Keenan.


" Ya sudah, kalau begitu kita batalkan saja segala kesepakatan kita tadi. Anda tak perlu memberi keperjakaan anda, saya juga tetap menjadi istri anda." Jawab Kalila dengan santai mengancam Keenan secara tak langsung.


" Hah, baiklah, apalagi yang kau inginkan?." Keenan kalah, ia terpaksa menanyakan keinginan Kalila.


" Anda ambil kembali uang yang sudah diberikan pria itu saat menjual saya. Karena saya tidak mau hidup saya terkekang oleh pria itu."


Kalila merasa khawatir, jika pria yang sudah membelinya akan mencarinya kembali. Ia tidak mau hidup tertekan oleh pria seperti itu.


" Itu gampang."


Keenan tentu saja menyanggupi, toh dia tak pernah menjual Kalila pada siapapun.


" Anda yakin?." Kalila berusaha meyakinkan, jika ia akan aman setelah pergi dari Keenan.


" Hemm..." Jawab Keenan kesal, ia sendiri malas membahas Devan yang sudah memprovokasi Kalila.


" Ah ya, saya hampir lupa, jika anda yang sudah menjual saya. Jadi itu tidak akan sulit."


" Terima kasih tuan." Kalila tersenyum, ia sungguh merasa lega, ia sudah mendapatkan kebebasannya.


Melihat senyum Kalila, Keenan merasa melihat Kalila yang sebelumnya. Gadis ceroboh yang lugu dan polos yang pernah menciptakan rasa kasihan dihatinya.


" Hemm, baiklah... bagaimana kita lakukan malam ini juga." Ujar Keenan. Tentu saja jiwa normalnya sedari tadi sudah tergugah melihat tubuh Kalila.


" Tentu, tapi sebelum itu, saya minta uang mukanya dulu." Ujar Kalila dengan senyum cerahnya.


Padahal nyatanya, ia tengah dilanda kegugupan yang tiada tara. Karena bagaimanapun juga ini adalah malam pertamanya dengan sang suami.


" Heh, memang hanya uang dipikiran wanita sepertimu." Sinis Keenan.


" Bagaimana?." Tanya Kalila tak peduli dengan hinaan Keenan. Karena dia meminta uang untuk bisa kembali kekota mereka tanpa sepengetahuan Keenan.


Dia akan langsung pergi saat ada kesempatan. Dimana Keenan tak akan mengetahuinya.


Keenan kemudian menghubungi sekretaris Jordi, meminta tangan kanannya itu mengambilkan sebuah cek.


Tak berapa lama, terdengar pintu diketuk. Keenan segera melangkah maju, ia tak ingin ada yang melihat tubuh Kalila yang terekspos itu.


" Ini tuan." Sekretaris Jordi menyodorkan sebuah cek yang diminta.


Keenan menerimanya dengan posisinya yang hanya melongok sedikit kepintu. Agar sekretarisnya itu tak melihat tubuh Kalila.


" Kau boleh pergi." Ujarnya dan langsung menutup pintu.


Sekretaris Jordi merasa heran, untuk apa tuannya meminta cek? Dan kenapa hanya untuk sekedar membuka pintu lebih lebar saja seakan takut.


Sekretaris Jordi memilih tak ambil pusing, ia segera pergi dari sana.


" Ini, aku rasa itu cukup. Lagipula itu baru uang muka. Sisanya, setelah kita resmi bercerai."


" Tentu, tidak masalah." Kalila meraih cek itu dengan senyuman lebar yang tentu saja dibuat-buat. Seakan dia sungguh wanita mura*an yang gila harta.


" Cih."


" Kalau begitu mari kita mulai." Ujar Kalila menaruh kembali cek diatas nakas.


Perkataan Kalila kembali membuat Keenan langsung mendekati wanita itu.


Dia duduk disofa disamping Kalila, kemudian memangku wanita itu dan memeluknya posesif.


Ia segera melahap bibir mungil didepannya. Sungguh, itu adalah hal yang sedari tadi menggodanya.


Awalnya Kalila terkejut, namun agar Keenan tak curiga, ia berusaha mengimbangi permainan suaminya.


Permainan mereka semakin memanas, walau Kalila benar-benar kaku melakukannya.


Dan itu membuat Keenan sedikit heran, bagaimana seorang j***** seperti Kalila melakukannya seperti orang yang tak pernah berpengalaman sama sekali.


Tapi ia memilih tak ambil pusing, yang paling penting saat ini adalah menyalurkan h****tnya.


Keenan kemudian menggendong Kalila ala bridal style dengan tautan yang belum terlepas. Ia merebahkan Kalila diatas ranjang dengan hati-hati.


***


Kalila terbangun dari tidurnya, rasa lelah ditubuhnya benar-benar terasa. Ditambah lagi dengan area wanitanya yang terasa sangat perih.


Kalila menoleh kesampingnya, dimana suaminya tengah tertidur dengan pulasnya.


Bisa ia sadari, semalam Keenan terkejut saat mengetahui dirinya masih segelan. Mungkin saja setelah bangun pemikiran pria itu tentang dirinya akan berubah.


Tapi tidak dengan pemikirannya, sejak Keenan menjualnya pada pria lain, ia sudah merasakan kecewa yang terdalam pada pria itu.


Dia memang bodoh, ia tak memungkiri hal itu. Setelah tau suaminya menjualnya, dia malah meminta Keenan menidurinya hanya karena ingin mengandung anak pria itu.


Itu karena rasa cintanya yang masih ada, dia juga membutuhkan seorang anak yang akan mewarnai hari-harinya dalam kesendirian setelah ini.


" Aku sangat berharap dia tumbuh disini." Gumamnya menatap Keenan lekat dengan mengusap perutnya.


Berharap akan ada malaikat kecil yang tumbuh disana. Menjadi pengganti Keenan dihidupnya.


" Saya akan pergi, terima kasih untuk semuanya." Ujarnya lagi dengan mengusap air mata yang keluar tanpa ijin.


Hatinya sangat sakit, karena ia harus meninggalkan suaminya. Tapi, sekali Keenan menganggapnya wanita mura*an, ia yakin akan selalu seperti itu.


Bahkan, jika Keenan menyadari dirinya masih suci, pria itu pasti akan menuduhnya memalsukan keperawanannya.


Lagi pula, hubungan mereka juga diawali dengan salah paham. Jadi sangat wajar jika Keenan akan selalu menganggapnya seperti itu.


Kalila bangkit dari ranjang, ia berusaha tak merintih agar Keenan tak terbangun. Ia meraih gaun yang dipakainya saat Keenan mengajaknya kesalon.


Ia kemudian segera memakai gaun itu ditubuhnya yang polos.


Tak lupa ia meraih selembar cek berisi nominal 30 juta. Itu sudah lebih dari cukup untuk ongkosnya pergi dari kehidupan Keenan.


Tatapannya terhenti saat melihat beberapa kertas berserakan, kertas kertas itu sepertinya keluar dari saku jas kemeja Keenan yang dilempar sembarangan semalam.


Ia meraih salah satunya. Ia terbelalak melihatnya, itu adalah fotonya dengan seorang pria.


Ya, Keenan memang sudah mencetak foto-foto Kalila dan seorang pria diponselnya, sebagai bukti kuat saat diperlukan.


Namun siapa sangka, Kalila melihatnya sendiri.


Kalila merasa yakin ia tak pernah tidur dengan pria manapun. Tapi foto ini juga terlihat sangat asli tanpa editan sedikitpun


Itu artinya, inilah alasan Keenan menganggapnya wanita murahan, bahkan sampai menjualnya pada pria asing.


" Ada cepat termakan hasutan orang lain, sampai ada tak mempercayai orang yang tinggal serumah dengan anda." Gumam Kalila miris.


***


Setelah ini, Kalila jadi pergi gak ya? 🤔