My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Koki Handal



" Maafkan ayah nak, karena ayah kau harus menghadapi banyak masalah...." Ujar Aldi yang tak dapat menahan tangisnya. Ia merasa menjadi ayah yang paling buruk didunia ini.


" Ini semua sudah takdir yah..." Ujar Kalila.


" Ayah akan menemui tuan Keenan." Ujar Aldi kemudian dengan mantap.


" Tidak! Jangan lakukan itu yah, aku tidak ingin berurusan lagi dengannya." Ucap Kalila mencegah.


" Tapi anak dalam kandunganmu butuh sosok ayah nak."


" Lila tau, tapi lebih baik Lila menjadi orang tua tunggal, dari pada anak ini harus mendapat penolakan dari ayahnya."


" Mungkin tuan Keenan akan berubah pikiran..."


Kalila menggeleng.


" Baiklah jika itu maumu, bersandarlah pada ayah kapanpun kau mau." Ujar Aldi akhirnya, ia tak bisa memaksakan kehendaknya.


" Terima kasih yah." Kalila mengusap air mata dipipinya.


...


Kalila melirik jam didinding, masih pukul 22.30. Tak biasanya ia terbangun dijam segini.


Ia merasakan perutnya keroncongan, tiba-tiba bayangan nasi goreng melintas dipikirannya.


" Kau menginginkan nasi goreng nak?." Tanyanya pada sang buah hati dengan mengelus perut datarnya.


Karena keinginan makan nasi goreng seakan tak bisa ditahan, Kalila akhirnya bangkit dari ranjangnya. Ia keluar kamar dan menuju dapur.


Ia mukai menyiapkan alat masak, dan juga bahan-bahan untuk nasi goreng.


Entah kenapa, ia ingin makan diluar, rasanya angin malam pasti sangat segar, pikirnya.


Ia membuka pintu rumah, kemudian duduk dikursi yang berada diteras.


Baru satu suap makanan masuk kemulutnya, ia merasa sangat mual. Ia segera berlari kekamar mandi disamping dapur dan memuntahkan isi mulutnya.


" Kenapa sayang, bukankah kau ingin nasi goreng, kenapa kau membuat mama mual?."


Rasa mual karena nasi goreng tak membuatnya menyudahi acara makannya. Ia kembali keteras dan melanjutkan makan.


Namun, lagi-lagi ia merasa mual.


Itu terjadi selama beberapa kali, hingga akhirnya, Keenan yang sedari tadi melihat istrinya, langsung menghampiri Kalila.


Ya, Keenan memperhatikan Kalila dari pos satpamnya. Tadinya ia bingung melihat Kalila keluar rumah, namun setelah melihat istrinya itu membawa makanan, ia tahu jika Kalila sedang lapar. Ia kemudian teringat dengan calon anaknya diperut Kalila.


Tadinya ia hanya diam saat melihat Kalila langsung masuk kedalam setelah sesuap makanan masuk. Namun setelah melihat hal itu berulang-ulang, ia memutuskan menghampiri Kalila


" Apa anda baik-baik saja nona?." Tanya Keenan pada Kalila yang baru saja keluar dari kamar mandi samping dapur.


" Em." Kalila mengangguk.


" Anda terlihat bolak-balik sedari tadi. Apa ada yang bisa saya bantu?."


" Tidak, aku hanya sedikit mual, mungkin ini efek hamil." Jawab Kalila.


' Kenapa aku masih saja ingin nasi goreng, padahal sudah muntah berkali-kali.' Pikir Kalila sembari mengelus perutnya, berharap anaknya mengerti jika dia tidak mau muntah lagi.


" Apa nona butuh sesuatu?." Tanya Keenan lagi. Ia tersenyum melihat Kalila mengelus perutnya.


Ingin rasanya ia mendekat dan melakukan hal yang sama, namun sayangnya itu tidak bisa ia lakukan.


" Tidak ada." Jawab Kalila, padahal hatinya ingin sekali berkata ' Bisa kau buatkan aku nasi goreng, entah kenapa tiba-tiba aku ingin kau yang membuatnya.'


Tapi tentu saja, Kalila merasa sungkan mengatakannya. Ia tidak mau merepotkan orang lain karena kehamilannya.


" Jika anda butuh sesuatu, katakan saja nona." Ujar Keenan melihat kegelisahan diwajah istrinya itu.


Kalila berpikir sejenak, sepertinya ia tidak akan bisa tidur jika menahan keinginannya. Ia memutuskan mengatakan keinginannya.


" Em, bisa mas Joko buatkan aku nasi goreng?." Tanya Kalila dengan hati-hati.


Keenan mengernyit mendengar permintaan Kalila. Sedetik kemudian ia melihat perut rata Kalila.


' Apa kau yang menginginkannya, nak?."


" Tentu nona." Jawab Keenan senang.


Keenan menggaruk dahinya yang tak gatal, bingung juga karena dia memang tidak bisa memasak.


" Akan saya usahakan."


" Mas Joko yakin?."


" Iya nona."


" Baiklah, aku tunggu dimeja makan." Ujar Kalila senang.


Ia merasa benar-benar bahagia karena satpam muda itu mau membuatkannya nasi goreng, ia sendiri tak mengerti kenapa perasaannya bisa sesenang itu.


Didapur, Keenan tengay ketar-ketir tak karuan, pasalnya ia bingung harus mulai dari mana. Ia kemudian teringat ponselnya, mencari tutorial memasak nasi goreng disana.


Keenan mulai mempraktekan sesuai apa yang dia lihat ditutorial, dengan semangat dia memulai acara masaknya yang pertama dalam sejarah kehidupan seorang Keenan Alvaro Pradipta.


Presdir yang biasanya berkutat dengan laptop, namun dalam sebulan ini menjadi satpam, dan hari ini malah menjadi koki dadakan.


Setelah 30 menit, akhirnya masakan penuh keteganganpun telah matang.


Keenan menyajikan nasi goreng ala-ala pada Kalila yang masih setia dimeja makan.


" Ini nasi gorengnya nona."


" Wah, kelihatannya enak sekali." Kalila berbinar melihat nasi goreng didepannya, air liurnya bahkan hampir menetes jika ia tak segera menyadarinya.


Tanpa basa-basi, Kalila segera menyendokan nasi goreng itu kemulutnya.


Ia diam beberapa saat, sungguh ini adalah nasi goreng terenak yang pernah ia makan. Bahkan nasi goreng buatan sang ibu tak terasa seenak ini.


" Mas Joko ini rendah diri sekali, bisa membuat nasi goreng ini, tapi tadi bilang akan diusahakan. Terima kasih banyak ya mas." Kalila tersenyum manis dengan mulut penuh nasi.


Tak pernah Keenan melihat Kalila sebahagia itu selama ia berada disini. Bahkan selama ia mengenal istrinya.


" Apa nasi gorengnya benar-benar enak nona?."


" Em." Kalila mengangguk sembari sibuk mengunyah.


' Apa nasi goreng buatanku sungguh seenak itu? Itu artinya, selain presdir yang cerdik dan pandai berakting, aku juga seorang koki yang handal.' Batin Keenan merasa bangga pada dirinya sendiri.


" Kalau anda mau, saya akan membuatkan anda setiap malam." Ujar Keenan semangat. Setidaknya walau Kalila tak menyadari, ia menjadi suami yang memanjakan istrinya yang sedang hamil.


" Benarkah?."


" Iya nona, itupun jika nona tidak keberatan."


" Tentu saja. Em...tapi aku tak yakin akan bangun setiap malam. Tapi aku akan memintamu jika aku terbangun."


" Siap nona!."


Kalila kembali melanjutkan makannya, hingga sepiring nasi goreng dihadapannya ludes tak tersisa.


" Ah kenyangnya." Gumamnya mengelus perutnya yang benar-benar kekenyangan.


" Aku kekamar dulu ya." Ujar Kalila pada Keenan dan menuju kamarnya.


Keenan mangangguk.


Ia kemudian kembali kepos satpamnya, disana sudah ada pak Toni.


Ya, pak Toni memang sempat kembali kerumahnya atas perintahnya. Tapi karena ia merasa tak nyaman begadang dimalam hari, akhirnya ia meminta Jordi meminta Pak Toni kembali bekerja.


Bukan bekerja dihadapan keluarga Aldi, hanya bekerja padanya.


Pak Toni akan datang sebelum tengah malam, dan menggantikannya berjaga, sementara dia akan tidur dikamar belakang, tempat pekerja.


Ya, bisa disebut ia bagian sift pagi hingga tengah malam, dan Pak Toni tengah malam hingga sebelum subuh.


Tentu saja agar keluarga Aldi tak mengetahuinya.


" Selamat malam tuan."


" Malam." Jawab Keenan dan kemudian menuju kamarnya yang bisa lewat samping rumah.


***