My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Apa Yang Terjadi?



" Ini baru permulaan, aku ingin kalian hancur, seperti dulu kalian menghancurkan keluargaku." Gumam Devan dengan senyum liciknya.


" Maaf, karena aku harus melibatkanmu. Salahmu sendiri kenapa harus masuk kekeluarga bedebah itu." Ucapnya membelai wajah Kalila.


Ia segera memakai kembali kemeja yang ia lepaskan untuk mengelabuhi Keenan. Kemudian ia keluar dari kamarnya dan meminta orangnya membawa Kalila kembali kerumah Keenan.


" Bawa wanita itu kembali. Taruh dia didepan gerbang atau dimana saja terserah, yang penting tidak ada yang melihat kalian." Titah Devan pada bawahannya.


" Baik tuan."


***


" Tuan...tuan muda!." Panggil seorang satpam dirumahnya dengan tergesa mendekati Keenan yang tengah sarapan dengan wajah dinginnya.


" Hmm."


" Itu tuan...non...nona muda ada didepan."


Keenan langsung menjatuhkan garpu ditangannya. Ia terdiam beberapa saat hingga,


" Dia akhirnya kembali sendiri." Gumamnya sinis.


" Izinkan dia masuk!." Titahnya dan kembali makan dengan tenang, seakan tak ada beban pikiran apapun dikepalanya.


Ia sudah menebak wanita mura*an itu akan kembali setelah mendapat keinginannya. Dia pikir tak masalah jika Kalila kembali, karena mereka juga akan bercerai beberapa bulan lagi.


" Tapi..."


" Tapi apa? Aku sudah menyuruhmu mengijinkannya masuk. Kenapa malah diam saja?." Sentak Keenan.


" Nona muda sedang pingsan tuan." Ucap Satpam gemetar.


" Apa maksudmu?." Keenan langsung menatap satpam dengan tajam.


" Nona muda tergeletak didepan gerbang dalam keadaan tak sadarkan diri tuan..."


" APA!!!."


Brakk!!! Keenan menggebrak meja sembari berdiri.


" Bagaimana bisa?."


Tak ingin membuang waktu, Keenan segera berjalan setengah berlari. Ia melihat Kalila yang sudah dipindahkan kepos satpam.


" Kenapa dia sampai begini?." Tanyanya pada satpam disana. Tak lama kemudian satpam yang tadi masuk sampai disana.


" Kami tidak tau tuan, saat kami tadi membuka gerbang, kami sudah melihat nona muda seperti ini." Jelas salah satu satpam yang tadi memindahkan Kalila.


' Bagaimana bisa kau seperti ini, apa pria yang sudah menikmati tubuhmu membuangmu setelah puas.' Batinnya sinis. Namun ada sisi lain dihatinya yang merasa kasihan melihat keadaan gadis berstatus istrinya itu.


" Bawa dia kedalam!." Titahnya kemudian kembali kedalam.


2 Satpam membopong tubuh Kalila. Saat sampai dikamar pembantu milik Kalila, keduanya membaringkan Kalila diatas tempat tidur.


" Tuan muda, tubuh nona muda dingin sekali, sepertinya nona muda semalaman diluar." Ucap Bi Susi khawatir saat menyentuh tangan Kalila.


Keenan diam tanpa ekspresi, meski begitu ia juga menyadari jika wajah Kalila sangat pucat.


" Panggil Rio!."


" Baik tuan." Ucap Bi Susi dengan senang, karena tuan mudanya masih peduli dengan sang istri.


Dengan semangat iapun keluar untuk menuju lantai dasar, menghubungi nomor dokter Rio di lewat telpon rumah.


" Dokter Rio akan segera kemari tuan." Ucap Bi Susi setelah kembali kekamar.


Keenan tak menjawab, ia lebih memilih keluar dari sana. Hari ini ia akan tetap berangkat bekerja, karena tubuhnya juga sudah sangat fit.


Apalagi setiap melihat wajah Kalila, selalu membuatnya teringat foto-foto itu. Dan ia sangat benci akan hal itu.


Saat berada didepan rumah, sekretaris Jordi sudah siap seperti sebelumnya.


Sekretaris Jordi melihat tuannya penuh tanda tanya. Raut wajah tuannya itu menunjukan suasana hati yang tak baik.


Keenan masuk kedalam mobilnya, sekretaris Jordi pun langsung menuju kursi kemudinya dan melajukan mobil. Meski masih banyak tanya dibenaknya yang sama sekali tak terjawab.


Keenan memasuki area kantornya, dan seperti biasa, semua karyawan akan membungkuk hormat serta mengucapkan sapaan.


Keenan yang memang pada dasarnya jarang tersenyum hanya berlalu tanpa membalas sapaan mereka. Terlebih lagi, suasana hatinya begitu kacau.


Keenan segera memasuki lift dan menuju keruangannya, tentu saja dengan sekretaris Jordi yang masih setia mengikutinya. Dengan benak bertanya-tanya tentunya.


Sesampainya diruangannya, Keenan menyandarkan tubuhnya dikursi kerjanya, memejamkan matanya dengan tangan dikedua pegangan kursi.


' Bagaimana wanita mura*an seperti dia bisa berakting dengan begitu baik menjadi gadis yang polos dan lugu. Harusnya dia menjadi aktris saja.' Batinnya, sebuah rasa kecewa yang entah karena apa masih saja berada dihatinya.


" Apa jadwal hari ini?." Tanyanya ingin mengalihkan perhatian dari hal yang membebani pikirannya.


Sekretaris Jordi membacakan setiap jadwal dengan jelas dan lugas.


" Kau boleh pergi!." Titahnya setelah sekretaris Jordi membacakan jadwalnya.


Sekretaris Jordi membungkuk hormat, kemudian keluar dari ruangan tuannya.


...


Keenan pulang dengan tubuh lelahnya, ia segera masuk kekamarnya untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, ia turun untuk makan malam.


" Bagaimana keadaannya?." Tanyanya dingin sembari menikmati makanannya pada bi Susi.


" Nona muda sakit tuan, semalaman berada diluar ruangan membuat tubuhnya panas." Jawab bi Susi dengan raut khawatirnya.


Keenan diam, ia merasa kasihan. Tapi ia juga sangat membenci wanita mura*an itu, dia juga sakit karena ulahnya sendiri bukan?.


' Dasar wanita lemah.' Cibirnya.


" Dia sakit karena ulahnya sendiri, aku ingin dia tetap melakukan tugasnya seperti biasa. Tidak ada yang boleh memanjakannya!."


" Tapi tuan..."


" Aku tidak menerima bantahan."


Keenan kembali menyelesaikan makanannya dengan cepat. Kemudian menuju ruang kerjanya.


" Sebenarnya kenapa anda semarah itu pada nona muda tuan? Padahal kemarin anda terlihat panik saat nona muda hilang... Apa yang terjadi?." Gumam bi Susi heran. Ia prihatin pada Kalila yang justru mendapat kebencian dari sang suami disaat sakit.


Keesokan harinya, seperti yang Keenan perintahkan, Kalila tengah memasak didapur dengan tubuh lemahnya.


Ia dibuat bingung, kemarin ia ingat ada orang yang membekapnya, dan saat ia sadar dia justru sudah berada ditempatnya tinggal.


' Sebenarnya apa yang terjadi kemarin?, kenapa orang itu membawaku kesini tanpa melukaiku sedikitpun. Aku juga tak merasakan kekurangan suatu apapun?'


" Hah sudahlah, yang penting aku sudah kembali kesini dengan selamat, walau sekarang tubuhku jadi lemas begini. Mungkin saja itu penculik salah sasaran."


Ia mencoba berpikir positif, karena ia juga tak merasa kecolongan apapun, entah itu barang-barangnya, ataupun keadaan fisiknya.


Wajahnya masih pucat, rasanya ia benar-benar tak mampu untuk berdiri. Pusing, lemas, semua menjadi satu, namun karena perintah suaminya, Kalila tetap memaksakan diri untuk bekerja.


Lagipula ia juga sadar diri, bagaimana posisinya dihati suaminya.


' Saya tak mengira anda akan meminta saya tetap bekerja. Padahal dulu saat kaki saya sakit, anda mengijinkan saya untuk istirahat.' Batinnya heran.


Karena Keenan dulu memberinya keringanan saat kakinya sakit, tapi sekarang, Keenan tetap memaksanya bekerja.


Setelah makanan matang, Kalila menuju kamarnya, untuk bersiap berangkat bekerja.


" Bagus, dia sudah berhenti pura-pura sakit." Gumam Keenan mencibir melihat makanan dimeja. Karena ada beberapa makanan yang hanya Kalila yang memasak.


Keenan menikmati makanannya tanpa beban. Ia ingin memperlakukan istrinya seburuk mungkin. Rasanya harga dirinya jatuh saat wanita yang berstatus istrinya tidur dengan pria lain. Untung saja pernikahan mereka hanya diadakan secara sirri.


***