My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Bab 87



Aldi kemudian menaiki lift menuju lantai 30, setelah keluar dari lift. Ia sudah ditunggu seorang wanita yang tak lain adalah Dewi.


" Mari pak, silahkan masuk." Dewi mempersilahkan Aldi. Ia membukakan ruangan predir.


Aldi mengangguk, kemudian masuk kedalam.


" Permisi." Sapanya pada pria yang duduk dikursi kerja dengan membelakanginya.


" Selamat datang ayah mertua." Keenan berbalik, tersenyum pada ayah mertuanya.


" An-anda tuan Pradipta?." Aldi bicara dengan tergagap, ini pertama kali ia berhadapan dengan orang terhormat seperti Keenan.


" Duduklah ayah."


Dengan canggung, Aldi duduk dikursi didepan Keenan. Ia bingung, kenapa tuan Keenan mau memanggilnya ayah mertua.


" Ayah tak perlu gugup seperti itu, bukankah aku menantumu?." Keenan tersenyum melihat kegugupan ayah mertuanya.


" Li-Lila, dimana Kalila?." Aldi bertanya to the poin, pasalnya ia terlalu gugup saat ini.


" Tenanglah, putri ayah baik-baik saja."


" Karena ayah sudah disini, aku ingin menunjukkan ini pada ayah." Keenan memberikan sebuah berkas dan juga foto bukti jika Rita berusaha menjual Kalila.


" Apa ini?." Aldi meraih berkas dengan bingung.


" Ayah akan tau setelah membukanya."


Aldipun membuka berkas dengan penasaran. Seketika ia terkejut melihat apa yang tertulis disana.


" Bagaimana mungkin?." Lirihnya tak percaya.


" Foto-foto itu adalah bukti. Jika ayah kurang percaya, ayah bisa melihat video ini." Keenan menunjukkan rekaman CCTV dihotel, saat Jordi bicara dengan Rita.


" Ini tidak mungkin, bagaimana Rita tega menjual putriku?."


" Itulah kenyataannya, istri ayah itu tak sebaik yang terlihat."


" Bagaimana kau bisa mengetahui semua ini nak?, sedangkan ayah saja tidak tahu apapun."


" Itu bukanlah hal yang sulit untukku."


" Jika aku tidak menyelamatkannya, mungkin istriku itu sudah dijamah oleh pria hidung belang."


Aldi diam tak bersuara, ia terlalu shok melihat kejahatan istrinya. Tadinya, ia mengira Rita sudah sepenuhnya menerima Kalila. Namun nyatanya, wanita itu justru merencanakan hal buruk untuk putrinya.


" Lalu bagaimana keadaan Lila?."


" Seperti yang aku katakan sebelumnya, dia baik-baik saja."


" Jordi." Panggil Keenan pada sang sekretaris yang sudah stand by diluar.


" Bawa ayah kerumah." Titahnya.


" Baik tuan."


" Mari pak, kita akan menemui nona muda." Ajak Jordi pada Aldi.


" Nona muda?."


" Ya, nona muda. Nona Kalila."


Jawaban Jordi membuat Aldi merasa terkejut sekaligus heran. Mungkinkah putrinya sudah diterima oleh keluarga kaya itu?.


***


" Ayah...Lila bahagia ayah ada disini." Kalila menyambut ayahnya dengan pelukan manja seorang putri pada ayahnya.


" Lila, apa kau baik-baik saja nak?." Aldi menangkup pipi Kalila.


" Aku baik yah, sangat baik."


" Lila, kenapa membuat ayahmu berdiri, biarkan dia masuk." Ucap Sarah yang baru datang dengan ramah. Ia menghampiri menantu dan besannya.


Saat ini ia tetap berada dirumah mertuanya, karena baik papa Haris dan mama Sarah ingin ia tinggal disana sampai melahirkan.


" Ah iya ma."


Lila kemudian mengajak ayahnya masuk.


" Bi Susi, tolong buatkan minum." Teriak Sarah pada pembantunya.


Ya, semenjak Kalila pergi dan juga Keenan yang menjadi satpam abal-abal, Bi Susi kembali kerumah utama. Karena dirumah Keenan tak ada siapapun.


Ia dan beberapa pelayan akan kerumah Keenan hanya untuk bersih-bersih seminggu sekali.


" Terima kasih sudah menerima putri saya." Ujar Aldi pada besannya itu.


" Saya yang harusnya berterima kasih, karena anda memiliki putri sebaik Lila. Saya sangat beruntung memiliki menantu sepertinya." Balas Sarah menatap Kalila yang duduk disamping ayahnya.


Aldi tersenyum, ia sungguh tak menyangka jika putrinya akan diterima dengan baik.


" Lila, mama kedalam dulu ya." Pamit Sarah, ia tau ayah dan anak didepannya ingin waktu berdua.


" Sayang, apa kau sungguh diterima oleh mereka?." Tanya Aldi setelah melihat Sarah hilang dibalik pintu.


" Iya yah, ayah tenang saja. Mereka semua menerimaku."


" Apa kau tau? Bagaimana tuan Keenan tau ayah kesini?." Tanya Aldi.


Kalila tersenyum.


" Iya, dia tau sejak ayah baru keluar dari rumah. Dia memerintah pengawalnya untuk menjaga ayah, dari situlah dia tau ayah akan kemari." Jelas Kalila yang merasa bahagia akan sifat peduli suaminya.


Aldi hanya mengangguk.


Bi Susi datang dengan membawa segelas teh dan juga camilan.


" Silahkan pak."


" Terima kasih ya bi." Ucap Kalila.


" Sama-sama nona."


Kalila tersentak dengan panggilan bi Susi, padahal kemarin bi Susi tetap memanggilnya dengan nama, saat mereka mengobrol berdua.


Apa karena disini ada ayahnya?.


" Ayah tidak pernah menyangka jika tuan Pradipta dan keluarganya akan menerima kamu." Ujar Aldi pada putrinya setelah bi Susi kembali kebelakang.


Kalila tersenyum.


" Maafkan ayah nak." Lirih Aldi dengan lemah, mengingat rencana jahat Rita pada putrinya.


" Maaf untuk apa yah?." Kalila merasa bingung, kenapa ayahnya tiba-tiba minta maaf.


" Ayah minta maaf atas nama mama Rita."


Kalila tersenyum, kini ia tau kegundahan yang tengah ayahnya rasakan.


" Ayah tidak perlu minta maaf, mungkin memang mama Rita tidak menyukaiku." Ucapnya.


" Tapi jika ayah tidak selingkuh , kau tidak akan pernah mempunyai ibu tiri. Ayah tidak pernah menyangka jika sebenarnya mama Rita membencimu."


" Jika ayah tidak selingkuh, aku tidak akan mencari kerja, jika aku tidak bekerja, aku tidak akan bertemu Keenan. Semua yang terjadi, pasti ada hikmahnya."


" Kalaupun mama Rita tidak menyukaiku, itu bukan salahnya. Yang ayah harus lakukan, mungkin memberinya pengertian. Sangat jarang ada wanita yang benar-benar menyayangi anak dari pernikahan pertama suaminya, termasuk mama Rita. Aku mengerti ketidak sukaannya padaku." Lanjutnya panjang lebar.


" Kau memang putriku yang baik nak. Ibumu tidak membuatmu membenci ayahmu ini."


" Ibu adalah ibu yang baik, jika ayah mau, aku akan mengajak ayah kemakamnya."


" Sungguh?."


" Hem."


" Ayah mau, ayah ingin melihat pusara Nilam."


...


" Maafkan aku Nilam, maafkan aku yang dengan tanpa perasaan meninggalkanmu dan Lila dalam kesengsaraan. Aku tau, aku bukanlah suami dan ayah yang baik. Terima kasih karena tidak menanamkan kebencian pada putri kita." Ucap Aldi didepan makam mantan istrinya. Ia merasa menyesali semua perbuatannya dimasa lalu.


Kalila yang berada disamping ayahnya, memeluk sang ayah. Ia bahagia, akhirnya sang ayah mau berkunjung kemakam ibu.


Sedangkan Keenan, pria itu berjongkok disamping istrinya yang tengah menenangkan ayah mertua.


Setelah pulang dari kantor, dan ia mendapati Kalila pergi dengan ayahnya, ia segera menyusul. Kekhawatiran terjadi sesuatu pada wanita yang mengandung anaknyalah yang membuatnya menyusul.


Setelah cukup berdoa dan bernostalgia sebentar, mereka bertigapun akhirnya pulang.


***


" Karena kita semua sudah berkumpul disini, maka saya ingin mengatakan kalau saya ingin mengadakan resepsi pernikahan Keenan dan Kalila." Ucap Haris saat seluruh keluarga berkumpul diruang keluarga, setelah menikmati makan malam.


Semenjak kedatangan Kalila, kesehatannya kembali membaik, bahkan sangat membaik.


" Kenapa tiba-tiba yah?." Tanya Keenan.


" Tiba-tiba apanya! Kau ini sudah menikah 8 bulan, dan kau bilang tiba-tiba." Sentak mama Sarah pada putranya itu dengan mencubit pelan lengan Keenan yang duduk didekatnya.


Semua tertawa melihat tingkah ibu dan anak itu. Keenan melirik Kalila yang juga tertawa dengan bahagia.


' Istriku memang sangat manis.'


" Lila rasa tidak perlu pa, lagipula semua masalah sudah selesai saja, Lila sangat bahagia." Ujar Lila bersuara mengalihkan perhatian semua orang padanya.


" Tapi kami ingin menegaskan hubungan kalian didepan publik. Kau pasti tau, walau pernikahan kalian sah secara hukum dan agama, tapi pernikahan kalian masih tersembunyi dari publik." Ujar mama Sarah.


" Mama-mu benar nak, pernikahan kalian harus dipubilkasikan." Ujar papa Haris.


Kalila menoleh pada ayah Aldi, yang diangguki oleh sang ayah. Pertanda Aldipun setuju.


" Baiklah kalau begitu."


***