My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Sakit Perut



" Eh pak, kenapa gak dimakan?." Tanya Eko dengan hati-hati melihat Keenan tak memakan baksonya.


" Hemm." Itulah jawaban sang presdir.


Tanpa banyak bicara, ia meraih botol saus dihadapan Eko kemudian menuangkannya kemangkuknya. Setelah sudah cukup banyak, ia juga meraih sambal ijo yang sama. Ia menambahkan saus dan sambal dua kali lipat lebih banyak dari Eko.


" Pa-pak, apa itu tidak kepedasan?." Tanya Eko melihat saus dan sambal yang menutupi bagian atas bakso dengan menyeluruh.


" Tidak, tenang saja. Aku sudah biasa." Jawabnya dengan kata-kata yang hampir sama dengan Eko tadi.


Mereka menghela napas, merasa atasan mereka sedang dalam suasana hati yang buruk.


Pertama, makan dipinggir jalan, dan sekarang makan bakso dengan level pedas yang kelewat batas.


' Sebenarnya ada apa dengan tuan Keenan. Tak biasanya ia makan ditempat seperti ini. Bahkan dia menambahkan saus dan sambal sebanyak itu. Apa maksudnya coba.' Batin Kalila penuh tanda tanya. Mengapa suaminya mau makan disini? Bukankah itu terdengar aneh? Seorang presdir PT. Elang Perkasa makan bakso pinggir jalan dengan para bawahannya.


Sungguh, seperti terjadi keajaiban dunia kedelapan.


Keenan tak ambil pusing melihat tatapan mereka. Ia segera melahapnya, ingin menunjukkan pada istrinya jika dia juga bisa makan pedas.


Baru satu suapan, kunyahannya berhenti. Sungguh pedas!!! Tapi apa mau dikata, ia sudah terlanjur menyiram baksonya dengan saus dan sambal.


Citra dan kehormatannya sebagai tuan muda sekaligus presdir bisa hancur gara-gara semangkok bakso jika dia mundur dalam satu suapan.


Sedangkan Eko, terlihat biasa saja, padahal sudah beberapa suap bakso masuk kedalam mulutnya. Harusnya pedasnya sama dengan dia yang baru satu suapankan?.


Sedangkan Kalila dan Eva menyeruput kuah bakso yang terakhir. Ya, merekakan datang paling awal, tentu saja habisnya juga paling awal.


" Mang!." Panggil Eva mengangkat tangan.


" Berapa mang?." Tanyanya menunjuk dua mangkok bakso miliknya dan Kalila.


" 30 ribu Neng."


Eva merogoh saku kemeja OBnya, begitupun Kalila. Ia memberikan uangnya pada Eva.


" Ini mang." Ucap Eva memberikan uang pas pada Mang bakso.


" Eh biar aku aja yang bayar." Cegah Eko sebelum mang bakso menerima uang dari Eva.


" Gak usah repot-repot mas, kami bawa uang kok." Jawab Eva dengan malu-malu, dan tetap memberikan uang itu pada mang bakso.


" Tapi..."


" Udah gak usah mas." Ucap Kalila saat Eko masih kekeh dengan keinginannya.


" Ya sudah kalau begitu, ini mang." Ucap Eko sembari memberikan uangnya karena memang sudah menghabiskan baksonya secepat kilat.


" Sebentar ya mas." Ucap mang bakso karena uang Eko lembaran merah.


Eko mengangguk.


Sedangkan Keenan yang kepedasan namun menahan agar tak membuka mulutnya, mengambil dompet disaku jasnya.


' Sial.' Rutuknya dalam hati melihat dompetnya hanya berisi rentetan kartu kredit. Ia tak ada uang tunai sama sekali.


Eko yang memang duduk disamping Keenan menyadarinya.


" Ini mang." Ucap Eko memberikan 15 ribu setelah mang bakso memberinya kembalian.


" Loh, emangnya masnya mau pesen lagi?." Tanya mang bakso bingung.


" Bukan, tapi buat bos saya." Jawab Eko.


Serentak semua menatap Keenan dengan pandangan terkejut. Seorang presdir dibayarkan bakso oleh bawahannya. Oh No!


" Oh, baik mas." Mang bakso kembali kebelakang gerobaknya.


" Saya akan menggantinya nanti." Ucap Keenan melihat tatapan meremehkan orang-orang dihadapannya.


Mau bagaimana lagi, ia memang tak punya selembarpun uang cash.


" Tidak perlu pak."


" Saya tidak ingin berhutang pada siapapun. Kau bisa kirimkan nomor rekeningmu kesaya." Ujar Keenan menyodorkan kartu namanya dan langsung melenggang pergi tanpa menghabiskan baksonya yang masih utuh.


Tentu saja karena ia sedang sangat malu, dan juga sudah tak sanggup memakan bakso dengan pedas tingkat dewa itu.


" Mungkin kepedesan." Ucap Eva saat ia, Kalila dan Eko menatap mangkuk penuh saus dan sambal milik Keenan secara bersamaan.


Mereka kemudian berjalan bersama kembali kekantor.


....


" Aduuh, kenapa gak sembuh-sembuh sih." Gerutu Keenan yang baru keluar dari kamar mandi, tepatnya toilet. Sedari pulang ia sudah bolak-balik ketempat itu. Tentunya karena makan saus dan sambal tak sesuai porsinya biasanya.


Bahkan ia melewati makan malamnya saking sibuk bolak-balik.


Tok...Tok...Tok...


" Saya bawakan makan malam dan obat tuan." Ucap Kalila yang tau keadaan perut suaminya. Ia sudah menduga hal ini sebelumnya. Karena ia tak pernah melihat Keenan makan saus ataupun sambal sebanyak tadi siang.


Untungnya, didalam kotak obat yang berada didapur, ada obat sakit perut.


" Hmm." Jawab Keenan singkat, saat akan menuju ranjang, lagi-lagi harus memenuhi panggilan dari perutnya dan masuk kekamar mandi.


" Hah, kasihan sekali tuan Keenan. Tapi kenapa ia harus makan pedas sebanyak itu? Itukan bukan kebiasaannya." Gumamnya heran.


Kalila menaruh makanan dan obat diatas nakas.


Tak berapa lama, Keenan keluar dari kamar mandi.


Ia segera menuju ranjang, wajah pria itu sudah terlihat pucat pasi. Seluruh isi tubuhnya sudah dikuras, pasti sekarang pria itu merasa sangat lemas.


" Bolehkah?." Kalila menawari untuk memapah Keenan.


Pria itu tak menjawab, Kalila meraih tangan Keenan kemudian menaruhnya dipundak. Kalila memapahnya menuju ranjang, kemudian ia mendudukkan suaminya diranjang, lalu juga mensejajarkan kaki pria itu.


Kalila meraih bantal disamping Keenan, dan menaruhnya dibelakang Keenan untuk bersandar.


" Anda mau makan?."


Keenan menggelengkan kepala, sepertinya sekedar untuk menjawab dengan ucapan sudah tak mampu.


" Baiklah, kalau begitu minum obatnya dulu." Ucap Kalila kemudian meraih obat dan segelas air putih yang tadi ia bawa.


" Ini." Ujarnya menyodorkan kedepan Keenan.


" Minumkan!." Titah Keenan dengan suara pelan.


Kalila menurut, tak ingin banyak bertanya disaat kondisi Keenan seperti sekarang.


Kalila menyodorkan obat kedepan mulut Keenan, kemudian Keenan membuka mulutnya dan Kalila memasukan obatnya, setelahnya ia meminumkan air putihnya.


Keenan yang merasa kurang nyaman akan posisi gelasnya, reflek menyentuh tangan Kalila, mengarahkan gelas agar posisinya minum lebih nyaman.


Kalila terlonjak saat Keenan menyentuh tangannya, untung saja ia bisa mengendalikan diri, jika tidak, gelasnya pasti sudah pecah tadi.


Setelah selesai minum, Keenan tak langsung melepaskan tangannya. Mereka saling tatap untuk beberapa waktu.


' Ada apa denganku, kenapa aku gugup begini.' Batin Keenan.


' Tuan, tolong lepaskan tangan anda...' Batin Kalila yang juga merasakan hal yang sama.


Karena sudah sangat tak nyaman dengan posisi mereka, Kalila memberanikan diri menarik tangannya membuat Keenan tersadar dan langsung melepas tangannya.


Kalila kemudian menaruh minum diatas nakas. Ia beranjak, namun Keenan meraih tangannya lagi.


" Apa tuan butuh sesuatu?." Tanyanya menahan gugup, ia kembali bersentuhan dengan suami sekaligus majikannya itu.


" Tetaplah disini!." Titah Keenan dengan mata terpejam, seakan sedang begitu meresapi rasa lemas ditubuhnya.


" Baiklah." Jawab Kalila kemudian duduk disofa yang berada dikamar.


" Apa mau saya panggilkan dokter?." Tanyanya lagi.


Ia tak tau jika Bi Susi sudah memanggil dokter Rio setelah ia memberitahu jika Keenan sakit perut.


" Tidak."


" Baiklah." Kalila memilih duduk disisi ranjang dengan tangan Keenan yang masih menggenggamnya erat.


Beberapa lama kemudian, terdengar napas Keenan beraturan, menandakan jika pria itu sudah terlelap sempurna. Mungkin karena efek obat yang dia minum sekaligus lemas, Keenan dengan mudah berpindah kealam mimpi.


Kalila kemudian menyelimuti Keenan yang memang belum berselimut. Ia juga membenarkan posisi bantal yang tadinya untuk bersandar agar lebih nyaman.


" Jika anda tidak bisa makan pedas, tak seharusnya anda makan sambal sebanyak tadi." Gumam Kalila merasa sikap presdir itu kekanak-kanakan.


Tok...Tok...Tok...


" Eh, siapa?." Gumamnya berjalan menuju pintu.


Ceklek.


" Lila, bibi sudah panggilkan dokter Rio, untuk memeriksa tuan muda." Ujar Bi Susi dengan raut khawatirnya. Sedangkan dokter Rio dibelakangnya dengan wajah yang juga cemas.


" Ah, dia sedang tidur. Saya baru saja memberikannya obat." Ujar Kalila pada dokter Rio.


" Aku akan tetap memeriksanya." Balas dokter Rio dan masuk kedalam kamar melewati Kalila. Kemudian disusul bi Susi dan Kalila.


***


Ya ampuuun... babang Keenannya sakit 😩, yuk beri like, komen dan vote nya biar bang Keenannya cepet sembuuh 😍.