
Kalila yang terpejam berusaha menahan air matanya.
Ia mendengar...
Mendengar setiap perkataan suaminya. Pria yang sangat ia cintai dan telah lama dirindukannya, baru saja menyatakan cinta padanya.
Ya, Kalila memang sempat terpengaruh oleh obat tidur yang diberikan Rita. Namun, karena ia takut obat yang Rita berikan membahayakan bayinya, ia memilih hanya minum seperempatnya saja.
Dia terbangun, saat merasakan tubuhnya dibaringkan oleh seseorang.
Tapi karena merasa keadaan yang tak mendukung, ia lebih memilih pura-pura tetap terlelap. Dan akhirnya dia mendengar semua rencana jahat ibu tirinya.
Tadinya ia sangat ketakutan, berpikir dia benar-benar harus melayani pria hidung belang.
Nyatanya, suaminya datang, menyelamatkannya dari siasat ibu tiri yang selama ini ia anggap baik.
" Terima kasih." Ucapnya saat merasakan Keenan melepaskan tangannya yang sedari tadi pria itu genggam.
Keenan spontan menoleh, ia terkejut melihat Kalila sadar.
" Ka-kau?."
Kalila tersenyum, ia bangkit dan duduk bersandar diranjang.
" Sejak kapan...?."
" Sejak suamiku menyatakan cintanya padaku..." Lirih Kalila yang tak dapat menyembunyikan air matanya lebih lama lagi.
Keenan merasa semakin terkejut dengan pernyatan Kalila.
" Sungguh?." Tanyanya memastikan.
Kalila mengangguk.
Keenan dengan cepat memeluk istrinya. Ia tak pernah menyangka jika Kalila akan mendengar segalanya.
" Aku mencintaimu, aku mencintaimu." Ujar Keenan dengan mengeratkan pelukannya.
" Aku juga mencintaimu, suamiku." Jawab Kalila dengan deraian air mata. Tak mengira jika suaminya juga mencintainya.
" Terima kasih karena telah menolongku." Ujar Kalila setelah Keenan melepaskan pelukannya.
" Jangan berterima kasih untuk sesuatu yang memang harus aku lakukan."
" Maafkan aku, karena selama ini selalu membuatmu terluka." Ujar Keenan.
" Aku janji akan menebus semua kesalahanku, aku akan berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk kalian." Lanjutnya menyentuh perut istrinya.
" Tuan sudah mengatakannya tadi." Balas Kalila terkekeh.
Kalila kemudian teringat akan keganjalan dihatinya, dari mana Keenan tau kini ia tengah mengandung?.
" Dari mana tuan tau aku mengandung?."
" Rahasia." Balas Keenan menjawil hidung istrinya.
***
" Aku tidak pernah menyangka jika mas Joko itu tuan." ujar Kalila saat ia dan suaminya sedang perjalanan kembali keibu kota. Tentu saja dengan Jordi yang menjadi supir.
Keenan baru saja menceritakan semuanya, bagaimana dia mengetahui kehamilan Kalila. Serta bagaimana ia bisa menolong istrinya dari kejahatan Rita.
" Pantas saja aku selalu menyukai masakan buatan mas Joko." Lanjutnya dengan terkekeh, menyandarkan kepalanya dipundak sang suami yang memeluknya.
" Ya, aku juga tidak menyangka akan jadi koki handal dadakan." Balas Keenan sesekali mengecup kening istrinya.
" Kalau begitu, aku ingin tuan memasak tiap hari untukku." Ujar Kalila.
" Akan kulakukan, asal kau berhenti memanggilku dengan sebutan tuan."
" Lalu, aku harus memanggil apa?." Kalila mendongak, menatap wajah suaminya.
" Terserah, asalkan jangan tuan, aku bukan tuanmu, aku suamimu."
Kalila berpikir dengan keras, panggilan apa yang cocok untuk suaminya. Sedangkan selama ini dia sudah nyaman dengan panggilan tuan.
" Bagaimana kalo mas." Ucapnya kemudian.
" Tidak!." Keenan menjawab dengan raut tak suka. Hanya Jordi yang tau tuannya itu tengah cemburu.
Sedangkan Kalila hanya menatap heran suaminya.
" Memangnya kenapa jika aku memanggil 'mas'?. Tadi katanya asalkan jangan 'tuan'?." Tanyanya polos.
" Yang lain saja."
" Hemm..." Kalila kembali berpikir.
" Tapi aku tidak punya panggilan lain, panggil 'mas' saja ya..." Ucapnya putus asa.
" Kau kan bisa panggil aku sayang, hubby, atau apalah..." Balas Keenan kesal.
" Ya sudah kalau begitu, aku panggil sayang saja."
" Itu lebih baik."
" Sayang." Panggil Kalila mempraktekan panggilannya.
" Iya?."
" Aku khawatir ayah mencariku." Ujarnya mengingat ayah Aldi.
" Kau tenang saja, untuk sekarang aku tidak bisa mengatakan dimana putrinya ini. Tapi setelah memberi ibu tirimu itu pelajaran, baru aku akan mengatakannya pada ayah."
" Tapi kenapa tidak sekarang saja, ayah pasti akan cemas."
" Karena ibu tirimu bisa curiga jika ayah sampai bersikap tenang saat kau hilang. Kau tenang saja, aku sudah menyuruh orang untuk menjaga ayah."
" Memangnya sayang mau melakukan apa pada mama Rita?." Tanyanya penasaran
" Kau akan lihat nanti."
Kalila menghela napas, jika teringat Rita yang akan menjualnya pada pria hidung belang, ia akan sangat sedih sekaligus kecewa. Karena wanita yang selama ini ia kira baik, ternyata hanya pura-pura.
Tapi jika mengingat kepura-puraan Rita membuatnya merasa mendapatkan kasih sayang ibu, ia tak ingin wanita itu dihukum terlaku berat.
" Aku hanya akan memberinya sedikit pelajaran, agar dia menyesali perbuatannya." Ucap Keenan melihat kegundahan dihati istrinya.
Kalila mengangguk pasrah, tiba-tiba otaknya teringat hal yang lain, membuatnya seketika menatap suaminya.
" Bagaimana dengan nona Alin?."
" Aku sudah mengurusnya." Jawab Keenan singkat, ia tak ingin membahas wanita itu lagi.
" Dia pasti sangat sedih, harusnya aku tak ada diantara kalian." Gumam Kalila dengan tertunduk.
Sebagai perempuan, ia tahu betul jika diposisi Alin.
" Jangan berkata seperti itu, kau istriku. Dan jangan bahas wanita lain sekarang!."
" Tapi nona Alin..."
" Aku akan menjelaskannya nanti."
" Sebaiknya kau tidur, perjalanan masih lama. Aku tidak boleh kecapean." Ujar Keenan lagi, tak ingin istrinya banyak bertanya tentang Alin.
Kalila tersenyum, kemudian memejamkan matanya dengan tetap bersandar pada suaminya.
Sebuah hal yang tak pernah ia bayangkan, ia akan berada dalam dekapan pria impiannya, dekapan yang penuh kehangatan dan cinta.
***
.
" Akhirnya, aku bisa menyingkirkan anak sialan itu." Gumam Rita dengan senyum kemenangan.
Ia tak menyangka akan semudah ini rencananya. Jika tau begini, harusnya dia melakukannya dari dulu saja.
Rita melihat rekening di m-bankingnya dengan bahagia. Dia akan bershopping ria dan menghabiskan uang hasil menjual anak tirinya.
" Kenapa kau terlihat bahagia sekali?." Tanya Aldi yang baru saja masuk kerumah, melihat istrinya yang tak biasanya jam segini dirumah, tengah duduk diruang tamu.
" Ma-mas? Mas sudah pulang jam segini?." Tanya Rita dengan perasaan terkejutnya, ia melirik jam ditangannya baru pukul 2 siang.
" Iya, pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak, jadi aku memutuskan pulang lebih awal. Lagipula aku ingin menemani putriku yang sedang mengandung cucuku."
Rita membeku mendengar perkataan Aldi. Ia belum menyiapkan alasan apapun untuk suaminya itu.
Apa yang harus dikatakannya?.
" Kau belum menjawabku, kenapa kau bahagia sekali?." Tanya Aldi menyelidik.
" Em, itu mas. Biasa, perempuan menang arisan." Rita menemukan alasan yang tepat yang melintas dipikirannya.
Aldi mengangguk percaya, kemudian berjalan melewati Rita.
" Mau kemana mas?." Tanya Rita was-was, takut suaminya kekamar Kalila dan malah mendapati putrinya tak ada.
" Tentu saja kekamar, untuk mandi." Jawab Aldi dengan heran, kenapa Rita harus bertanya.
" Ah baiklah." Balas Rita bernapas lega.
" Ada apa, kenapa kau terlihat lega begitu? Apa ada yang kau sembunyikan?." Tanya Aldi melihat kelegaan Rita.
" Ti-tidak, tidak ada, aku hanya bernapas biasa saja." Ujar Rita berusaha mengatasi kegugupannya.
Aldi yang percaya kembali melanjutkan langkahnya.
" Huft, untung saja... alasan apa yang harus aku berikan nanti." Rita berusaha berpikir, hingga ia menemukan sebuah alasan yang tepat.