
" Dia pria yang sama, yang hampir melecehkanmu dimalam itu." Jawab Keenan ragu, ia tak ingin Kalila mengingat malam itu. Walau berakhir dengan mereka bersatu.
Kalila mengingat-ingat malam yang Keenan maksud. Ia kemudian mengingat wajah Devan.
Seketika ia membulatkan mata, saat otaknya mengingat wajah itu.
" Tapi kenapa nona Alin dan pria bernama Devan sangat membencimu?." Tanyanya kemudian.
" Kau ini." Keenan menyentil dahi istrinya yang sedari tadi terus bertanya. Seperti reporter yang ingin menguak kisah selebriti.
" Auwh! Keenan ini sakit." Kalila meringis.
" Kau tidak perlu banyak bertanya tentang Alin ataupun Devan. Yang jelas, mereka bukanlah orang-orang yang baik." Ujar Keenan malas dengan menciumi rambut sang istri.
" Tapi, bagaimana jika mereka sudah berubah? Setiap manusia pasti pernah salah, bukan berarti mereka tak bisa menjadi lebih baik bukan?." Tanya Kalila dengan polosnya, Keenan yang mendengarnya merasa tersentuh.
Karena dia sendiripun adalah manusia yang pernah menyakiti hati lembut istrinya.
" Ya, aku mengakui itu. Jika tidak, mungkin aku tak akan punya kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan kita." Keenan memeluk Kalila erat, rasa bersalah kembali menghinggapi hatinya.
" Kalau begitu, izinkan aku bertemu nona Alin."
Sontak ucapan Kalila membuat Keenan menatap wajah cantik istrinya, dengan terpaksa, ia mengangguk, memberikan izin pada istrinya.
" Terima kasih."
" Tapi saat ini Alin ada diluar kota, kau bisa menemuinya jika dia kembali kesini."
" Benarkah? Atau kau sengaja berbohong?." Kalila merasa curiga, jangan-jangan ini hanya akal-akalan suaminya saja.
" Tidak, semenjak kami mengetahui rencananya dan Devan yang dipenjara, dia kembali kerumah ibunya, dan kemudian pergi keluar kota."
" Hem, baiklah. Tolong katakan jika dia sudah kembali ya..."
" Aku tidak punya waktu untuk mengintai jadwalnya."
" Hish! Kau ini. Kaukan bisa menyuruh sekretaris Jordi atau siapapun untuk mencari taunya."
"Baiklah, baik. Istriku tersayang. Sekarang tidurlah, kau butuh istirahat."
Kalila menuruti perintah suaminya, ia berbaring dengen kepala yang bertumpu pada pada Keenan.
Cahaya sang mentari menelusup lewat celah gorden, membuat seorang wanita hamil yang tengah pulas dalam hangatnya pelukan sang suami terusik.
Kalila mengerjapkan matanya, rasa bahagia menyeruak kedalam dada, kala ia menatap wajah suaminya.
Ia sungguh bahagia, tak pernah ia tertidur senyaman ini sejak kepergian sang ibu. Tapi semalam, ia benar-benar nyenyak, dalam pelukan seseorang yang tak lain adalah suaminya.
Tiba-tiba, ia merasa ada yang kurang. Ia kemudian mengingat-ingat apa itu. Kemudian ia teringat, jika rutinitasnya saat bangun tidur adalah munt*h, namun kali ini, ia tak merasakan walau sekedar mual.
" Rupanya kau ingin tidur dengan ayahmu, nak." Gumamnya mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
" Ya, dia pasti sangat merindukan ayahnya." Ucapan Keenan membuat Kalila terlonjak, tak menyangka jika suaminya sudah terbangun. Ia bahkan reflek melepaskan diri dari pelukan sang suami.
" Eh mau kemana? Tetaplah disini." Keenan yang masih memejamkan matanya menarik Kalila kembali dalam pelukannya.
" Jangan kemana-mana, dia pasti masih ingin bersama ayahnya."
" Tapi ini sudah pagi Keenan."
" Aku tau, tapi aku akan tetap seperti ini. Aku belum puas memelukmu." Ucap Keenan tanpa membuka mata.
Rasa kantuk karena hampir semalaman tertidur membuatnya tak ingin bangun. Ya, semalaman dia tak bisa tidur, ia sibuk menatap wajah cantik istrinya yang tertidur pulas.
Rasa bahagia membuatnya tak mengantuk sama sekali. Sampai menjelang pagi, ia baru memejamkan matanya.
" Bukankah kau harus berangkat kekantor?." Kalila berusaha mencari alasan agar suaminya itu bangun. Ini adalah hari pertamanya menjadi menantu yang sebenarnya dikeluarga ini, ia tak ingin malas-malasan.
" Itu kantorku, aku bebas berangkat jam berapapun."
" Huh,." Kalila menghela napas. Meski kesal karena Keenan tak mau bangun, tapi ia juga bahagia. Momen inilah momen yang diinginkannya, yang tak pernah ia sangka akan terwujud.
***
Kalila hanya menggeleng melihat mama Sarah, ia tidak menyangka jika wanita yang biasa bertutur kata lembut dan anggun, ternyata bisa cerewet juga.
" Itu karena aku sangat bahagia ma, sampai aku tidak bisa tidur karena sibuk memandang wajah cantik istriku." Keenan menjawab dengan meraih tangan Kalila yang berada disampingnya, kemudian mengecupnya, membuat si empunya tersipu malu.
" Kalau bahagia itu tidurnya nyenyak, bukannya malah gak bisa tidur." Ucap Sarah terkekeh, membuat yang lain ikut tertawa kecil, termasuk papa Haris.
Ya, pria paruh baya itu kembali ikut makan dimeja makan setelah beberapa lama hanya berada ditempat tidur. Kedatangan Kalila sungguh berpengaruh besar pada kesehatannya.
" Mama seneng banget, akhirnya keluarga kita bisa berkumpul disini." Ucap Sarah menatap Kalila.
" Ya, sudah lama keluarga ini terasa hampa." Timpal Haris.
" Maafkan Lila ma." Lirih Kalila merasa bersalah membuat semua menatapnya.
" Kenapa kau meminta maaf, yang harusnya minta maaf itu suamimu. Kau tidak salah sayang, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri." Ujar Sarah lembut.
Kalila mengangguk tersenyum, kemudian saling tatap dengan Keenan yang berada disampingnya.
" Ok. Sekarang aku mau kau suapi aku." Ucap Keenan mencairkan suasana, namun malah mendapat tepukan keras dilengannya oleh sang ibu.
" Auwh, kok mama mukul aku?." Tanyanya sembari mengelus lengan yang sakit, walau sebenarnya tak sakit sama sekali.
" Kau ini ya! Jangan manja sama menantu mama, dia itu sedang mengandung keturunan keluarga Pradipta. Harusnya kau yang memanjakannya." Sentak Sarah.
" Ya aku kan hanya ingin dimanja oleh istriku." Gerutu Keenan dengan cemberut membuat Kalila yang melihatnya terkekeh pelan.
" Tidak! Bukan Lila yang akan memanjakanmu, tapi kau yang memanjakannya."
" Hish, baiklah." Gerutu Keenan pura-pura ngambek, padahal dalam hati ia bahagia karena kehadiran Kalila, membawa kebahagiaan pada mama dan papanya.
***
Aldi telah sampai diibu kota saat menjelang siang, ia kemudian memutuskan mencari hotel lebih dulu untuk menginap.
Setelah sudah mendapatkan kamar hotel, ia segera menuju kantor Angkasa Group. Tentu saja mendapatkan alamat kantor besar bukanlah hal yang sulit.
Sesampainya dikantor, Aldi langsung menghampiri resepsionis.
" Permisi, saya ingin bertemu tuan Pradipta."
" Apa tuan sudah membuat janji?."
" Belum."
" Kalau begitu maaf, anda harus membuat janji dulu untuk bertemu dengan tuan Pradpita."
" Tapi ini sangat mendesak, katakan saja saya ayah dari Kalila."
" Kalila siapa ya?."
Aldi terdiam, ia baru mengingat perkataan putrinya jika pernikahan mereka dirahasiakan. Tentu saja tidak banyak yang mengenal Kalila.
" Tolong katakan saja begitu, tuan Pradipta pasti mengerti."
Belum sempat resepsionis itu menjawab, telepon kantor didepannya berbunyi.
" Em, apa bapak bernama tuan Aldi Hermawan?." Tanya resepsionis disela telponnya.
" Iya benar." Aldi mengangguk cepat.
Resepsionis itu kembali bicara pada orang ditelepon.
" Kalau begitu, silahkan anda naik kelantai 30, anda sudah ditunggu disana." Ucapnya kemudian.
Aldi mengangguk, meski ia tak mengerti kenapa ada orang yang menunggunya. Padahal ia datang mendadak. Mungkinkah tuan Keenan sudah tau kedatangannya?
Yah, mungkin saja begitu.
***