
“aduh, kenapa nih orang gue tag sih,” gumam Nadine melihat balasan pesan Arka,
.
.
.
From: Arka
‘gua juga minta maaf, semoga amal kita selama setahun diterima Allah SWT, aamiin...’
Nadine menimang-nimang untuk membalas pesan Arka. Kalau salah kirim itu alasan ‘basi’, tapi ini memang tidak disengaja sebab pesan broadcast.
‘ya oke lah, seenggaknya gue ga keliatan terlalu receh,’ Nadine mengetik pesan balasan
Nadine: iya, amiin,
Arka: okee
Nadine: sip
Arka: eh, udah dulu ya, nanti sambung lagi, mau shalat isya dulu udah telat,
.
.
Nadine hampir saja teriak saking kagetnya. Seorang Arka mengatakan ‘mau shalat isya dulu udah telat’? wow...ini aneh.
“kesambet apa tuh anak, tiba-tiba mau tobat?” gumam Nadine.
“ngomong sama gue lu?” sahut April,
“nope, ehehe, yuk jalan.”
Ada perasaan senang sekaligus terkejut melihat Arka yang berubah. Sebab Nadine tau betul bagaimana Arka. Dia termasuk spesies ‘bad boy’, karena di antara semua lelaki yang pernah dekat dengan Nadine, Arka ini memang yang paling ‘bahaya’.
Bahkan Nadine pun bukan tak sadar kalau Arka memang membawa pengaruh buruk untuknya. Tapi seolah ia buta karena cinta. Nadine tak pedulikan dengan sikapnya yang semakin lalai dengan kewajibannya sebagai muslimah.
Bahkan ada rasa sedih ketika dirinya mulai sadar dan ingin berhijrah, ia sempat khawatir kalau Arka tetap sama dan tak membuang kebiasaan buruknya. Tapi sekarang Nadine merasa lega, Arka berubah. Walau entah apa yang membuatnya mau berubah.
***
Akhir-akhir ini isu internasional memang sedang panas-panasnya tentang masalah kedutaan AS yang dipindahkan dari Tel Aviv ke Jerusalem yang sontak membuat umat muslim di seluruh dunia dibuat geram dengan keputusan AS.
Bahkan PBB sama sekali tak menyetujui hal ini karena dirasa melanggar kode etik. Beberapa negara non-muslim pun ikut berkomentar dengan masalah ini. Bahkan yang paling keras adalah Turki. Nadine sendiri merasa tak terima dan ikut geram.
Ia memposting semua berita-berita yang sempat ia baca dan share di akum media sosial-nya. ‘ini gak adil,’ batinnya menolak semua keputusan AS yang menurutnya ‘gila’.
Sampai beberapa hari berlalu, Nadine masih saja berkutan dengan isu ini. Dan entah kenapa ia merasa sangat emosional dengan isu ini. Seolah miliknya yang berharga akan diambil secara paksa.
Al-Aqsa...ia sempat menangis mengingat hal ini, karena orang yahudi yang berniat membongkar Al-Aqsa. Nadine sibuk membalas pesan teman internasionalnya yang dengan sangat beruntung tinggal di Hebron, Al-khalil, Palestina.
Heba namanya. Entah bagaimana mereka bisa kenal dan berteman. Beberapa hari ini mereka berdua sibuk bertukar cerita dan opini seputar hal ini.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk mengejutkan Nadine. Keningnya yang tegang mengendur perlahan. Ia membuka pesan itu. Ekspresinya terkejut bukan main.
“woah...kerasukan ni orang!” jerit Nadine menggema dalam kamarnya.
Ia melihat banyak screenshot ceramah yang Arka kirimkan padanya. Iya, ceramah. HEY! It’s a big news! Nadine membaca beberapa pesan Arka.
Arka: ini ada rekomendasi ceramah para Ustadz yang gue suka, kayanya lu juga harus nonton videonya. ^^
WHAT!! COBA ULANGI?!
Nadine mengetik dengan kebingungan yang menjalar di seluruh fikirannya.
Nadine: aih, tumben banget lu bahas ustadz, kenapa lu bro?
Arka: aahaha, ya gak papa, tobatlah bentar lagi mau kiamat loh, ga baca berita? Di inter udah huru-hara.
‘bentar, sejak kapan dia punya ketertarikan dengan isu internasional?’ Nadine memutar otaknya saking bingungnya.
Nadine: plis deh, gue udah baca semua berita yang lagi heboh di inter,
Arka: ga heran gue, lu kan emang gitu selalu banyak tau,
Nadine: b aja sih. Tapi gue lagi khawatir banget sama Palestine dengan keputusan AS, kalau gini terus bisa-bisa perang dunia 3 bisa meletus.
Arka: ga bakal lama lagi lah, udah keliatan ciri-cirinya,
Nadine: tumben lu minat berita, heran gue. Lu juga aga berubah, salah makan lu?
Arka: ahaha, berubah gimana?
Nadine: ya berubah aja, tiba-tiba ada di masjid, kasi rekomen ceramah segala. Aneh.
Arka: hehe, gue mau bilang makasih sama lu, karena lu gue jadi sadar dan mau berubah.
Nadine: maksud lu? Berubah karena gue?
Arka: ada deh, kepo lu. Lagian kan dunia bentar lagi mau kiamat masa ga tobat-tobat ahaha
Nadine: iya juga, mana gue belum kawin pula, aihh sedih gua sih.
Arka: eh ngakak lah, masih sempet mikirin itu wkwkwk, yaudah sana cari cowo baru, sebelum dunia ini berakhir,
Nadine: eh si kampret, mentang-mentang lu udah tunangan songong amat yak,
Arka: lah kata mau cepet kawin,kkkkkk
Nadine rolling eyes, sikap annoying seorang Arka memang gak berubah.
Nadine: anyway, kapan lu nikah sama Clarissa?
‘Okee...ini bahasan yang sensitif,’ Nadine menahan nafas ketika mengetik pesan ini.
Arka: nanti, setelah kontrak lu selesai. Bukannya lu sendiri yang minta temenin sampe lu selesai?
Nadine merasa ada rasa haru membaca balasan Arka,
Nadine: serius lu? Padahal gapapa kali, lagian itu udah bukan urusan gue, mau kapanpun lu nikah udah ga ada hubungannya sama gue.
Arka: nanti aja, gue juga masih mau nemenin lu, masih ada 3 bulan lagi kan sampe kontraknya selesai?
BLAAARRRRRRR!!!!
Nadine tak tau bagaimana harus merespon. Perasaannya jadi tak menentu. Senang, haru, khawatir, geli, greget dan bingung semua jadi satu. Membuatnya berteriak-teriak sambil memukul-mukul bantal.
“oii ngapa lu Nad?” tanya Aesqil yang berlalu didepan kamar Nadine.
“aaaaakkkkkhhhhhh gue mau gila rasanya,” teriak Nadine.
“iisshh sakit lu,” Aesqil menggelengkan kepala melihat kelakuan Nadine.
***
Bulan Ramadhan telah tiba, itu artinya semakin sedikit waktu Nadine di sini. 2 bulan lagi setelah ia habis kontrak kerja, Nadine akan langsung pergi keluar Negeri untuk melanjutkan study-nya.
Ada hal yang mengganjal di hatinya, ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Arka. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Tapi hatinya begitu bimbang. Haruskah ia menceritakannya?
Setelah selesai sahur, Nadine melirik jam. Masih ada 15 menit sebelum imsyak. 3 butir kurma sebagai cuci mulut, dan segelas air hangat. For your information, air hangat dapat meminimalisir dehidrasi karena puasa.
Nadine memakan kurma sedikit demi sedikit sembari ia memainkan ponselnya. Sisa satu butir lagi, yang telah meluncur dengan aman kemulutnya. Nadine asik mengunyah kurma sampai tiba-tiba suara Adzan subuh berkumandang.
Ia tersedak dan buru-buru minum air yang tersisa masih sepertiga gelas. Oh my...
“uhuk..uhuk...uhuk... duh astagfirullah...keselek gue,” Nadine masih menepuk-nepuk dadanya.
“ngapa lu?” tanya Julia heran
“keselek kurma, pas banget adzan,”
“eh buset dah, makanya kalo 15 sampe 10 menit lagi tuh udahan,” Julia terkikik melihat kekonyolan Nadine.
“ya Allah...untung udah ketelen, moga ga buat batal,” gumam Nadine mengelus dadanya.
Setelahnya Nadine bergegas mandi dan bersiap siap untuk pergi kerja. Bulan Ramadhan ini adalah tahun kedua ia bekerja. Terkadang panasnya cuaca benar-benar membuat dirinya harus bertahan mati-matian supaya tetap berpuasa.
Nadine bersenandung pelan melantunkan lirik lagu yang menggema ditelinganya. Nadine memang tak pernah jauh dengan earphone-nya. Bahkan tak jarang ia hanya sekedar memasangnya tanpa menyalakan musik apapun.
Cuaca hari ini tak separah kemarin. Nadine sangat bersyukur karena semenjak ada pegawai baru di divisi Arka, lelaki itu mulai jarang mengunjungi tempatnya karena selalu si pegawai baru yang berkeliling mengambil sample.
Hanya satu masalahnya. Kantin. Nadine masih selalu was-was jika tak sengaja melihat Arka di kantin ketika jam makan siang, atau tak sengaja berpapasan dengannya ketika mereka satu shift.
Bukan masalah besar memang. Tapi menurutnya itu sangat mengganggu pemandangan. Matahari bergerak semakin tinggi, cuaca benar-benar panas. Keringat mulai bercucuran membasahi pelipis setiap orang.
“panas banget....” keluh Erika di sebelah Nadine.
Tampak sangat jelas bibirnya yang kering dan wajahnya yang lelah.
“sabar, masih setengah hari, entar sore juga ok lagi, kalo ga tahan coba istirahat dulu ke toilet, tapi jan ke mesin minuman,” jawab Nadine menguatkan Erika yang nampak kepayahan dengan cuaca.
Sejujurnya, Nadine pun merasakan hal yang sama. Tenggorokannya sangat kering, cuaca yang panas dan perut yang mulai lapar karena jam makan siang hampir tiba, membuatnya banyak berkhayal tentang es campur yang segar dengan lelehan sirup, eemmmmm.....
“eh, astagfirullah...” gumam Nadine tersadar dari lamunan tentang es campurnya.
Waktu berjalan terasa sangat lambat. Rasanya seperti tak bergerak sama sekali. Hingga akhirnya sampai di penghujung hari. Nadine melirik jam di ponselnya. Tinggal satu setangah jam lagi sampai adzan maggrib.
Ia melangkahkan kalinya ke pintu belakang gedung. Saat-saat begini memang paling menyenangkan duduk di padang belakang, lebih tepatnya di gazebo belakang.
Ada dua gazebo di padang belakang. Ia mendorong pintu, angin sore langsung menyambutnya, membelai wajah lelah Nadine. Ini menyenangkan, Nadine selalu suka suasana sore hari setelah ashar sebelum maghrib . Tenang dan teduh.
“ahh.” Desahnya kecewa ketika melihat Arka sudah duduk di gazebo belakang. Ia melirik gazebo satunya lagi yang lebih banyak orang. Nadine berdecak, padahal ia ingin duduk sendiri saja.
Nadine duduk di samping teman-temannya yang sedang sibuk dengan ponsel masing-masing. Dipasangnya earphone, ia ingin bersantai menikmati lagu.
“ooiii!!” sebuah suara seruan berhasil mencuri perhatian Nadine, ia mendongak melihat si pemanggil. Tak jauh-jauh, Arka melihat Nadine sambil melambaikan tangan. Nadine menimang-nimang untuk pindah tempat.
Arka melambaikan tangan dengan tak sabar, menepuk-nepuk bangku kosong disebelahnya. Ya memang, gazebo yang Arka tempati memang sepi. Hanya ada dia seorang.
Nadine mendesah pelan, ia bergerak menghampiri Arka. Lalu duduk di bangku sebelahnya tanpa berkata apa-apa. Menyandarkan punggungnya dan memainkan ponselnya mencari-cari lagu yang akan ia dengarkan sore ini.
“ngapain disana? Biasanya juga disini,” ucap Arka memulai pembicaraan,
“ya duduk aja,” Nadine masih sibuk dengan ponselnya,
‘lagian disini juga ada lu,’ sambung Nadine dalam hati.
“capek?” tanya Arka memandangi Nadine yang masih sibuk dengan ponselnya,
“hmm, gitu deh,” jawab Nadine asal,
“puasanya lancar?” tanya Arka dan hanya dibalas anggukan oleh Nadine,
Hening..
.
.
.
.
Masih hening.....
Suasana sangat canggung. Arka sibuk dengan fikirannya, sebenarnya ia ingin mengajak Nadine berbincang-bincang. Jujur saja, Nadine adalah orang yang menyenangkan diajak bicara, selain ia banyak tau, gadis ini pun selalu paham dengan Arka, membuatnya selalu nyaman.
Tapi sayang, Nadine sama sekali tak memandangnya. Ditanya pun hanya direspon sekedarnya. Arka memainkan ponselnya dengan gusar. Ia melirik Nadine yang sudah asik sendiri menonton youtube. Arka berbicara dengan seseorang di telfon.
‘paling sama ceweknya’- batin Nadine melirik Arka yang sedang bertelfon.
“lagi ngapain sih?” tanya Arka melirik Nadine yang asik cekikikan sendiri menatap ponselnya.
“nonton YouTube ,”
“nonton lawak ya?” Arka mencondongkan badannya ingin melihat ponsel Nadine.
Arka memandang Nadine sayu.
‘padahal gue ada di samping lu, tapi lu sama sekali ga mau notice gue,’- batin Arka.
“eh, btw, voucher kuotanya gimana, ok?” pertanyaan Arka sukses memcuri perhatian Nadine.
Nadine tersentak, ia megingat percakapannya dengan Julia selepas voucher itu ia berikan padanya.
Flashback~
“Jul, gimana koutanya udah dipake?” tanya Nadine.
“aihh, voucher-nya ilang masa,” Julia meringis mengingat voucher gratisnya yang hilang tempo hari.
“lah, kok bisa? Hilang dimana? Belum dipake emang?” cecar Nadine, persaannya semakin tak enak mengingat itu adalah pemberian Arka.
“ilang pas hiking kemaren. Kayanya ilang pas gue turun dari gunung. Soalnya pas nanjak sampe puncak masih ada, cuma emang belum sempet dipake, gimana dong?” jelas Julia merasa bersalah.
“hhggg, ya mau gimana lagi, yaudah ilang sih,”
Flasback end~
Nadine langsung menatap Arka dengan tatapan bersalah, membuat yang ditatap merasa serba salah. Arka mengangkat alisnya heran dengan respon Nadine.
“kenapa?” tanya Arka,
“gue minta maaf,” Nadine merasa tak enak hati mengatakannya,
“minta maaf buat?”
“voucher yang lu bagi, gue kasi Julia. Soalnya dia lagi butuh kuota, dan lagian kuota gue masih banyak juga,” jelas Nadine hati-hati takut menyinggung perasaan Arka.
“o..oohh yaudah gapapa kali, kan udah gue kasi,”
“tapi belum sempet dipake malah ilang,” sambung Nadine,
“wah kok bisa ilang,” Arka terkejut juga ternyata.
“ilang pas Julia bawa hiking katanya, jadi itu ilang sebelum dipake, maaf. Lu ga marah kan?”
Arka terkekeh mendengar penjelasan Nadine.
“gak lah, yaudah kalo ilang juga gapapa,”
“gue jadi gak enak, lu ngasih buat gue, malah gue kasi ke orang lain, ilang pula.”
“iya santai aja, lagian gue yang mau ngasih juga,”
Hening....
Belum sempat percakapan baru dimulai, bell masuk sudah berbunyi menandakan akhir istirahat sore ini. Nadine bergegas pergi dari gazebo meninggalkan Arka lebih dulu.
“udah masuk, gue duluan ya, bye,” pamitnya tanpa menunggu jawaban Arka ia segera melesat masuk ke tempat kerjanya.
Arka baru saja membuka mulutnya hendak membalas, tapi Nadine sudah pergi lebih dulu membuatnya menelan kembali kalimatnya. Ia pun kembali ketempat kerjanya.
***
Akhir-akhir ini Arka banyak memikirkan tentang rencana masa depannya. Apakah ia harus mencari rumah sewa di kota ini atau membeli rumah di kampungnya. Mengingat dirinya yang telah memiliki tunangan, itu artinya tak lama lagi ia akan melaksanakan pernikahan, mau tak mau membuatnya memikirkan banyak hal untuk masa depan.
Ini membuatnya sedikit pusing. Disisi lain, sesekali bayangan Nadine masih menghantui dirinya. Jujur aja, melepas Nadine adalah pilihan yang berat untuk Arka. Tapi apa mau dikata jika gadis itu menang telah menjaga jarak dan memilih jalannya sendiri. Arka tak bisa memaksanya.
Perasaanya seolah terbagi dua, bingung harus memilih. Disatu sisi ia merasa beratnya tanggung jawab dengan Clarissa dan juga keluarganya, satu sisi lainnya hatinya tak bisa berbohong jika ia masih menyimpan rasa untuk Nadine. Ini membuatnya frustasi.
Disuatu sabtu sore Arka mulai mengetik sebuah pesan, ia menghubungi Nadine untuk kesekian kalinya.
To: Nadine
‘Nad, di apartemen lu ada iklan sewa ga? Gue pengen cari tempat sewa,’
Ia menunggu beberapa saat hingga ponselnya berbunyi memperlihatkan balasan Nadine, ia tersenyum simpul. Menurutnya Nadine gadis yang lucu, di depan seolah tak peduli, tapi di belakang masih juga peduli. Peduli dengan caranya yang unik.
Nadine: sewa apartemen? Lu jadi mau pindah?
Nadine ingat. Dulu, Arka memang sempat mengeluh tinggal bersama dengan teman-teman kerjanya, ia ingin sewa tempat sendiri.
Arka: iya, di sana ada iklan sewa?
Nadine: kurang tau sih, biasanya di lobby ada pengumumannya. Entar gue liatin.
Arka: oke sip, Nadine memang terbaik, hehe
Nadine: emang mau pindah kapan? Lagi butuh cepet?
Arka: emm engga sih, cuma persiapan buat nanti selepas nikah, gue ada rencana bawa Clarissa ke sini. Makanya cari tempat.
Nadine: oh,
-mood langsung jatoh anjay,,,-
Arka: iya, soalnya gue mau ajak Clarissa jalan-jalan keliling kota. Jadi kayanya harus cari tempat.
Nadine: oh
Arka: biasanya disana ada pengumuman iklan sewa kan?
Nadine: iya
Arka: lu tau tempat sewa lain ga? Tapi jangan terlalu jauh,
Nadine: gaktaw
Arka: kayanya Clarissa bakal seneng kalo gue bawa ke sini,
Nadine: oh
Arka: lagian juga gue belum ada niatan pindah kerja dari sini.
Nadine: oh
-ni orang sengaja ya buat kesel? Duh sabar-sabar lagi puasa jan marah-
Nadine mengelus dadanya, hatinya benar-benar dibuat panas. Bayangan Arka dan Clarissa yang sudah menjadi pasutri terbayang-bayang di kepalanya, membuat hatinya sesak. Ada perasaan tak rela. Nadine melirik jam, tinggal 1 jam beselum berbuka puasa. Sabarrrr....
Arka: eh hari ini ada acara bukber?
Nadine: gak,
Arka: bukber sama gue mau gak? Kita keluar,
Nadine: mlz
Arka: beneran nih,
Nadine memutar matanya malas, ia merasa sedang dipermainkan. Maksudnya apa, sudah membuat hatinya panas entah dia sengaja atau tidak terus tiba-tiba mengajaknya untuk makan bersama. Nadine meringis dengan kelakuan Arka.
Arka: yaudah kalo ga mau, ga maksa.
Ia sama sekali tak membalas pesannya. Entah kenapa ia merasa Arka semakin menyebalkan. Seolah hal kecil pun terasa sangat menjengkelkan untuk Nadine.
Sementara itu. Sebenarnya Arka tak ada maksud untuk merusak mood Nadine. ia hanya terfikir tentang gadis itu dan tanpa pikir panjang menghubunginya dengan basa-basi.
Arka tak serius dengan permintaannya pasal rumah sewa, ia hanya sedang mencari topik untuk pembahasan.
Rusak sudah mood Nadine. Fikirannya mulai melayang-layang jauh tentang pernikahan Arka dan Clarissa lalu mereka tinggal bersama, bahagia setiap saat, tertawa bersama, bangun di pagi hari dengan keromantisan, yang aarrrhhh....
“sakit kepala gue,” keluh Nadine pada dirinya sendiri.
***
Hari-hari berikutnya terasa sama melelahkannya seperti biasa. Ini sudah memasuki pertengahan Ramadhan, tersisa kurang dari 15 hari sampai Idul Fitri. Nadine semakin rajin membaca Qur’annya walau perharinya tak pernah sampai target.
-ga bakal khatam nih kalo kek gini terus-
Malam itu Nadine baru turun dari bus, ia menyebrang jalan. Langkahnya terhenti melihat sebuah kertas tertempel di tembok gate.
Sebuah pengumuman sewa apartemen. Nadine langsung teringat Arka, buru-buru ia memotret pengumuman itu dan mengirimnya kepada Arka.
“aneh, ko ga di tempel di lobby, malah ada di gate,” gumam Nadine heran.
Ia melanjutkan jalannya sampai ke lobby, matanya melirik papan pengumuman berwarna biru. Banyak kertas yang tertempel di sana bahkan lebih banyak dari hari kemarin.
Nadine membacanya satu persatu mencari kriteria yang sekiranya pas untuk Arka. Lalu ia memotret beberapa iklan disana, dan mengirimkannya pada Arka. Hampir 10 iklan ia kirimkan untuk Arka.
Nadine hanya ingin berbuat baik, menolong ‘teman’. Bukankah meringankan urusan saudaramu itu adalah pahala? Walaupun hati terasa perih. Tidak masalah, lagi pula Arka pun sering membantu Nadine dikala ia susah.
Drrttt...ddrrrtt....
From: Arka
‘wah, banyak banget, makasih banyak Nadine, ’
Nadine hanya membaca pesan itu dengan muka datar, ia terlalu lelah untuk melayani Arka. Nadine perlu mandi sekarang, ia lelah. Lelah sekali.
Arka tak menyangka kalau Nadine benar-benar membantunya mencari tempat sewa.
-jangan kamu lupakan kebaikan saudaramu hanya karena dia melakukan satu kesalahan-