
Drrrrttt....
Ponsel Nadine bergetar, sebuah pesan masuk tertera dilayarnya. Nadine menggeser lock screen, tak lama ia dibuat terkejut dengan pesan itu, terlebih kepada si pengirim.
From: Arka
‘ada apa? Kenapa status lu begitu? Ada masalah?’
.....
Nadine terdiam cukup lama membaca pesan itu berulang kali. Ia merasa terkejut menerima pesan dari Arka. Pasalnya Arka memang semakin sering menghubunginya, kadang ia sengaja mengirim pesan-pesan random. Salah kirim katanya.
Tapi jujur saja Nadine sebenarnya sangat terganggu dengan sikap Arka ini. ia ingin hidup tenang tanpa gangguan, ia hanya ingin hubungan yang normal, teman saja, tanpa embel-embel mesra. Karena Nadine khawatir ia akan terbawa perasaan jika terus seperti ini.
Salahnya, ia tak pernah bisa membuat keputusan tegas. Baru dia blokir, tak lama dia buka lagi. *It’s not work it at all*. Perasaannya sendiri masih belum stabil, ia masih berusaha untuk menutup pintu hatinya dari Arka.
Tapi bagaimana ia bisa menutupnya jika Arka masih terus saja menghubungi Nadine. Membuat gadis ini dihimpit oleh dua rasa. Benci dan rindu.
“***hati-hati dengan benci dan rindu karena mereka ada di tempat yang sama, yaitu hati. Karena bedanya benci dan rindu itu tipis, tipis setipis kulit bawang***.”
Nadine menarik nafas pelan menetralkan perasaannya. Ia mulai mengetik balasan untuk Arka. Nadine hanya bisa positif thinking kalau apa yang Arka lakukan padanya tak lebih dari sekedar teman, tanpa ada ‘udang di balik batu’. Luka yang kemarin ia dapat sudah cukup.
Nadine: ga ada apa-apa
Arka: serius? Terus itu kenapa nulis status kaya gitu? Kalau ada masalah cerita aja.
Arka: biasanya juga lu selalu cerita kan sama gue, santai aja .
Nadine: gue ditawarin buat naik kepanggung nanti dinner, tapi gue ragu, antara mau dan engga...
Arka: kenapa ragu? Tahun kemarin bagus banget, gue juga pengen liat lu nari lagi,
Nadine: gue males, lagian gue cape sama kerjaan, ga akan ada waktu juga buat latihan,
Arka: kalo lu ngerasa siap, ambil aja. Tapi kalo ga mau yaudah, jangan dipaksa.
Nadine membaca balasan Arka, hatinya mulai menghangat. Arka selalu paham dengan dirinya, ia tak pernah memaksa Nadine. Ia memasukan ponselnya kesaku, meraih botol minumnya dan meminum isinya sampai habis.
Ia meraih ballpoin kemudian mengisi formulir itu setelah hatinya merasa mantap. Nadine menolak untuk berpartisipasi tahun ini. baginya tahun lalu sudah cukup, ia tak ingin lagi naik panggung. Sekalipun sensasi naik panggung sangat amat menyenangkan dan berkesan dihatinya.
\*\*\*
Nadine berbaris di gerbang mengantri pulang, ia bisa melihat samar-samar Arka ada disampingnya. Buka tepat disampingnya juga, hanya ada di barisan sebelah dan berbeda beberapa orang dari Nadine.
Ia pura-pura tak tau. Sampai di gerbang, Nadine ingat kalau dia memesan kostum untuk dinner. Nadine meraih buku daftar paket, lalu menepi supaya tak menghalangi jalan. Telunjuknya menelusuri barisan nama-nama yang tertera disana.
“nah...pak, paket saya atas nama Nadine!” ucap Nadine sedikit berteriak.
Dengan sangat semangat Nadine menunggu paketnya, ia melihat petugas sedang mencari paketnya di dalam pos.
“dapet paket?” tanya seorang lelaki yang tiba-tiba ada di sampingnya untuk *pass-card*
Nadine menoleh, ia melihat Arka yang memandangnya. Nadine hanya mengangguk seadaanya, ia sama sekali tak berniat membalas Arka.
Setibanya di apartement Nadine bergegas mengambil gunting dan membuka paketnya dengan semangat. Ia melihat sebuah bungkusan berwarna putih, dirobeknya hingga terlihat sebuah kain warna hitam yang sedikit glosy.
Satu set hanbok Korea tipe seragam pelajar berwarna hitam dengan rompi pink. Ini adalah kostum yang ia pesan dari 2 minggu yang lalu. Senyumnya mengembang, tak sabar ia memakai hanbok ini.
Setelah ia puas dengan hasilnya, ia mengambil beberapa selfie dirinya untuk kenang-kenangan. Nadine berdiri didepan cermin, memandang pantulan dirinya. Ia menyentuh rambut coklatnya.
Hatinya bimbang, apakah ia akan pakai hijab atau tidak. Ia mau sekali berdandan ala gadis korea, menyanggul rambutnya lalu ia akan merias wajahnya seperti gadis-gadis korea yang sering ia tonton di YouTube.
Tapi hatinya berbisik. ‘memangnya kalau pakai hijab kenapa? Apa gue bakal keliatan jelek?’.
Nadine membuka almarinya, mengambil sehelai kain warna hitam segi empat. Lalu memakainya di kepala menutupi rambutnya.
Ia memandang kembali pantulan dirinya. ‘cakep kok,’ pujinya melihat dirinya dengan hanbok dan hijab. Hatinya mantap. Ia ingin berhijab, dan tak mau lagi lepas pasang.
Drrrrttt....drrttt...
Getaran ponselnya membuyarkan lamunannya,
Arka: tadi paket apa? Seneng banget kayanya,
Nadine: paket kostum buat dinner,
Arka: ohh,, lu jadi beli hanbok?
Nadine diam, ada kesedihan diwajahnya. Ketika *dinner announcement* sudah tersebar dengan tema *culture nigth*. Nadine sudah memberi tau Arka tentang kostum yang akan ia pakai. Nadine merasa terpukul saat mengingat hal itu.
Ketika Arka mengatakan masih sayang dengan Clarissa, Nadine membuat komitmen dengan dirinya sendiri.
“kalau gue emang harus putus sama Arka, seenggaknya putus setelah dinner,”
Tapi hal itu kini hanya menjadi angan-angannya saja, karena faktanya mereka telah berpisah sebelum acara itu dimulai. Nadine mau sekali duduk berdua dengan Arka ketika acara dinner tahun ini, karena pastinya acara itu akan sangat membosankan. Ditambah lagi ia tak ada pasangan tahun ini.
Nadine tak lagi membalas pesan Arka.
***
Sabtu ini adalah menjadi sabtu yang *hectic* bagi Nadine dan kawan-kawannya. Teman satu rumah Nadine, yaitu Julia, Eisqil, Wulan dan Anisa. Semua sudah sibuk berdandan dari selepas ashar.
For your information Wulan adalah kekasih David, dan mereka sudah berpacaran jauh lebih lama dari pada Nadine dan Arka. Walaupun mereka lebih sering bertengkar.
Pernah disuatu malam ketika Nadine baru pulang kerja, ia melihat Wulan dan David ada di depan apartemen-nya. Nadine tak berniat menyapa mereka sebab suasana yang sangat tak menyenangkan.
Ia bisa melihat kemarahan David dari pandangannya, Nadine juga melihat mata Wulan yang memerah dan berair. Entah ada masalah apa yang sedang mereka perselisihkan. Tapi yang jelas, dibalik tembok kamar Nadine, ia dapat dengan jelas mendengar bentakan dan isakan tangis.
Mereka pasti sedang bertengkar. Setelahnya ia melihat pergelangan Wulan yang membiru, entah karena apa. Nadine bertanya pada Arka, karena ia merasa tak tega melihat Wulan yang lebih sering menangis, dan mungkin juga David telah melakukan kekerasan fisik pada temannya itu.
David memang lebih pemarah dari Arka. Sedangkan Arka, Jangankan memukul, membentak saja tidak pernah. Parah-parahnya Arka marah adalah mendiamkan Nadine. Nadine merasa beruntung dekat dengan Arka, bukan dengan David.
Oke kembali ke suasana sore ini.
Nadine tengah sibuk memoles wajahnya dengan make up. Wajah Nadine sedikit berbeda dengan polesan make up dan warna mata yang menjadi kelabu karena kontak lens. Tak lupa terakhir ia memakai hijab hitamnya dan memberi petini berbentuk bunga untuk pemanis.
Sempurna.
“wah cakep banget...” puji Eisqil yang tengah memakai high heels, membuat Nadine tersipu malu.
“hanbok-nya pas banget Nad, kalo gue yang pake kayanya bakal ngembang deh,” ucap Julia. Awalnya Julia sempat membeli hanbok, tapi karena merasa tak cocok dengan ukuran badannya ia pun beralih memakai gaun batik warna maroon.
“eh udah bener belum?” tanya Anisa sembari membenarkan letak hijabnya.
“udah...lu sih mau diapain juga tetep cakep,” puji Eisqil jujur. Anisa memang berparas ayu dan sangat anggun.
Eisqil membenarkan letak gaun model chinees-nya yang berwarna merah terang, dengan belahan rok yang cukup tinggi sampai kepaha. Seandainya Nadine tak berniat memakai hijab, mungkin ia pun akan memilih kostum yang lebih terbuka daripada hanbok.
Mereka semua turun dari apartemen menggunakan lift. Bak putri-putri kerajaan, mereka berjalan sangat anggun dengan gaun-gaun cantik, high heels yang elegan dan riasan wajah yang menambah daya tarik mereka.
Hujan rintik-rintik sore itu. Mereka berjalan menuju bus jemputan dengan tangan diatas kepalanya, takut kalau-kalau hujan membuat *make up* mereka luntur. Nadine dibuat terkesima dengan penampilan rekan-rekannya yang lain. Sangat mempesona.
Perjalanan cukup jauh, sudah satu jam lebih mereka ada dijalan sebelum sampai ditujuan. Tempat yang dipesan untuk *dinner* tahun ini sama seperti tahun kemarin. Jadi banyak diantara mereka yang tidak terlalu *surprise* dengan tempat dan suasananya.
Nadine mulai bernostalgia ke tahun kemarin, dimana ia menjadi salah satu pengisi acara. Ia ingat betul, dengan tampilannya yang membuat hampir seluruh teman-temannya pangling dengan dirinya.
make up yang sangat *eyecatching* membuatnya sangat cantik. Tak sedikit yang memuji penampilan Nadine kala itu. Apalagi setelah ia turun dari panggung. Semua menatapnya dengan takjub. Tak sedikit pujian yang ia terima. Dan setiap mata lelaki disana tertuju padanya, dia seperti bukan Nadine malam itu.
Pandangan Nadine ia sebarkan ke sekeliling *venue*. Ia mencari seseorang yang tak lain adalah Arka. Nadine penasaran dengan apa yang Arka kenakan malam ini. tahun kemarin Arka hanya berpenampilan casual formal. Kemeja maroon dengan motif garis, celana panjang dan sepatu hitam senada dengan celananya. Lengan kemeja yang digulung sampai siku, memperlihatkan lengannya yang putih, dihiasi sebuah jam tangan klasik di tangan kirinya. Dan ramnut yang begitu rapi membuatnya semakin tampan.
Sayangnya tahun lalu, Nadine belum dekat dengan Arka. Jangankan berpacaran, berteman pun belum. Tapi ia ingat betul saat itu, sebab pandangan mereka sering kali bertemu.
Nadine merasa sedikit kecewa karena Arka belum tiba di tempat. Mungkin bus untuk laki-laki akan tiba sedikit lebih terlambat. Nadine masuk mengekor teman-temannya mencari meja. Mereka memilih meja paling belakang yang jauh dari panggung tapi dapat dengan jelas melihat kesetiap sisi ruangan yang besar ini.
Nadine duduk menghadap panggung. Matanya tetap mencari-cari Arka. Tiba-tiba ia melihat sosok yang jangkung, putih dengan rambut yang disisir rapi ke kiri. Nadine tersenyum. Arka duduk di meja yang sejajar dengan Nadine, terhalang 1 meja diantara mereka.
Nadine tersipu melihat Arka yang sangat rapi. Walaupun ia tak memakai baju kebudayaan seperti David dan yang lainnya, tapi Arka tetap yang paling menarik dimatanya.
*Casual formal* memang sangat pas dengan Arka. Warna hitam dari kemejanya menambah kontras dengan kulitnya yang putih. Seandainya saja mereka belum putus, pasti mereka akan duduk di satu meja yang sama, seandainya saja....
Wulan dan David sepertinya sedang tak akur, Nadine memperhatikan mata David yang tak lepas dari Wulan si kebaya biru dongker. Ia melihat jelas bagaimana David menatap Wulan, tapi Wulan hanya asik sendiri berpura-pura tidak tau. Nadine merasa cemburu.
Jangankan ditatap Arka seperti itu, setiap kali Nadine meliriknya, lelaki itu selalu sibuk dengan ponselnya. Membuat Nadine meradang. ‘pasti lagi chating sama ceweknya.’ Batinnya kesal.
Dinner tahun ini sangat membosankan. Tempat yang sama, pelayanan yang sama, menu yang kurang lebih sama, dan para pengisi acara yang membosankan. Tak sedikit dari teman-teman Nadine yang komplain karena Nadine tak lagi naik panggung.
Ia merasa bosan, beruntung Arpil datang dan mengajaknya keluar untuk berfoto-foto dan dengan senang hati Nadine mengikuti April.
“eh tungguin!” Nadine sedikit berteriak berjalan menyusul April, membuat lelaki jangkung yang baru keluar dari musola menoleh padanya. Nadine melihat Arka yang sedang memakai sepatunya, rambut lelaki itu sedikit basah. Ia tampan. Aku Nadine dalam hati.
Arka tersenyum pada Nadine, tapi Nadine dengan sombong membuang muka tanpa membalas senyuman Arka. Membuat lelaki itu kecewa.
Dari jauh, diam-diam Arka memperhatikan Nadine, hanya saja setiap Nadine meliriknya ia akan menunduk melihat ponselnya, atau kembali melanjutkan makan.
Arka sendiri merasa acara ini memang membosankan, terlebih karena sikap Nadine yang dingin padanya. Jika saja hubungan mereka baik-baik saja mungkin Arka tak akan sebosan ini, karena ada Nadine disampingnya, seandainya saja....
Sepanjang acara ini, jujur saja Nadine tak menikmatinya, kecuali makanannya yang enak. Hatinya sangat gelisah, ia berharap Arka akan menyapanya. Tapi itu hanya angannya saja.
Arka bukan lelaki yang suka pamer kemesraan, dia adalah lelaki yang hanya bersikap romantis jika hanya berdua atau tak banyak orang yang tau. Dan Nadine sangat suka itu.
Nadine pulang lebih dulu, sebelum ia keluar gedung ia sempat melirik Arka yang masih sibuk berfoto dengan teman-temannya. Nadine mendengus kesal. Ia merasa kecewa dengan malam ini. entah apa yang membuatnya kecewa.
\*\*\*
Dua minggu setelah *dinner* tak ada hal menarik yang bisa diceritakan. Semua berjalan normal dan biasa-biasa saja. Arka pun tak pernah mengiriminya pesan atau apapun. Seolah tak terjadi apa-apa.
Hingga di hari Minggu yang cerah ini...
Nadine seperti biasa tengah sibuk dengan ponselnya diatas kasur, ia merasa sangat malas untuk melakukan kegiatan di luar rumah. Tiba-tiba rentetan pesan masuk membuat ponselnya bergetar beberapa kali.
Ia tau betul siapa yang selalu mengirimnya pesan seperti itu. Arka. Karena Arka memang sering kali mengirim pesan tak cuma 1 kali.
From Arka:
‘Nadine...gue minta maaf’
‘gue bener-bener minta maaf buat kesalahan gue’
‘gue tau lu sakit hati sama gue,’
‘gue minta maaf...’
Dengan kening berkerut Nadine membaca pesan Arka.
“lah kenapa ni orang, minta maaf mulu kaya lagi lebaran,” Nadine tak segera membalasnya, ia sengaja mebiarkannya sampai beberapa menit sebelum mengetik pesan balasan.
Nadine: ada apa? Tiba-tiba minta maaf lagi,
Arka: gue minta maaf karena udah buat lu sakit hati,
Nadine: kalo ini masih masalah yang kita pisah, ga usah khawatir, insyaallah udah gue maafin,
Arka: makasih Nad, gue ngerasa bersalah banget dan ga tenang, karena setelah gue sama lu pisah. Gue ngerasa kena karma sekarang.
Nadine: maksud lu??
....