
"Kau salah Lio. Ivy bukanlah beban, tapi dia adalah nyawa dan juga kebahagiaanku. Aku tidak bisa hidup tanpanya, aku sangat menyayangi putriku."
"Arneta..."
Lio kembali memeluk wanitanya dengan perasaan bersalah. Karena niatnya yang ingin memberikan kehidupan baru untuk Arneta, justru telah membuat wanita itu begitu menderita. Apalagi kini ia sadar tidak bisa melihat Arneta hidup bersama pria lain. Tapi untuk melepaskan Ivy pun Lio tidak bisa, karena sejujurnya kini ia ingin memiliki keduanya. Tapi bisakah? Sementara ada janji yang harus ia tepati pada Anna.
"Tapi sekarang aku sadar. Hidup Ivy akan jauh lebih bahagia dan memiliki masa depan jika bersamamu. Jadi aku akan melepaskan Ivy untuk ikut bersamamu."
Lio yang terkejut hanya diam saja dengan menatap wajah cantik Arneta.
"Bawalah Ivy secepatnya ke Paris! Aku percayakan putriku padamu, jaga dia dan sayangi dia dengan tulus. Aku—"
Untuk ketiga kalinya bibir Arneta dibungkam oleh sebuah ciuman. Dan kali ini ciuman itu membawa tubuh keduanya berada di atas ranjang. Entah siapa yang memulainya, tapi yang pasti keduanya sama-sama menginginkan hal tersebut, hingga akhirnya kepuasan itu mereka dapatkan dengan tubuh polos tertutup selimut.
Dan untuk percintaan panas mereka kali ini, Lio tidak lagi meninggalkannya begitu saja di atas ranjang. Pria itu tetap berada di sisinya bahkan memeluknya dengan erat hingga Arneta bisa mencium wangi maskulin pria itu yang mungkin tidak akan pernah bisa ia cium lagi.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Lio dengan memulai pembicaraan setelah mereka berbagi peluh dan kenikmatan.
Arneta menganggukkan kepalanya dengan pasti. "Tapi aku mohon, berikan kesempatan bagiku untuk menghabiskan waktu bersama Ivy hanya berdua sampai kalian pergi ke Paris. Aku ingin membuat kenangan yang indah untuk putri kita agar ia bisa mengingat Mommy nya dengan baik," ucapnya dengan lirih sambil menahan tangis.
Lio hanya terdiam lalu menghela napasnya dengan panjang. "Ikutlah dengan kami ke Paris!"
"Amalia —"
"Arneta, namaku Arneta bukan Amalia!" ucapnya dengan melepaskan pelukan Lio lalu duduk bersandar pada headboard setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. "Hubungan kita sejak dulu tidak pernah jelas. Kau membenciku dan aku membencimu, tapi anehnya kita sama-sama berbagi kehangatan di atas ranjang sampai menghasilkan Ivy. Jadi mulai sekarang hubungan kita harus diperjelas hanya sebatas kedua orang tua bagi Ivy, tidak lebih seperti saat ini. Dan jangan membuat aku sebagai seorang ****** lagi, cukup sampai disini kegilaan yang kita lakukan."
Arneta tidak ingin semakin terperosok dalam kubangan dosa dan semakin merasa bersalah pada Anna, karena sudah dua kali ia tidur dengan suami wanita itu.
"Sekarang keluarlah dari kamarku sebelum mereka pulang! Dan ingat persiapkan keberangkatan kalian ke Paris secepatnya sebelum aku berubah pikiran!"
Lio yang sejak tadi diam pun segera beranjak dari atas ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri ia pun berjalan menuju Arneta yang masih terduduk di atas ranjang.
"Aku akan membawa Ivy pergi secepatnya," ucap Lio setelah mengambil keputusan untuk menjalankan keinginan Arneta saat di dalam kamar mandi tadi. "Aku juga akan memberikan waktu bagimu dan putri kita sampai kami berangkat ke Paris."
"Terima kasih," lirih Arneta yang entah harus tersenyum bahagia ataukah bersedih dengan keputusan yang telah mereka sepakati.
Terlebih saat melihat Lio yang pergi meninggalkan kamarnya, setelah memeluk dan menciumnya dengan penuh kehangatan.
"Aku berbohong dengan mengatakan membencimu, Lio. Karena sampai kapanpun aku tidak akan bisa membenci ayah dari anak-anakku," lirihnya dengan menangis sambil mengusap perutnya.
Ya, kini Arneta tengah mengandung benih dari Lio untuk kedua kalinya. Benih yang baru diketahuinya beberapa hari yang lalu dari hasil test pack yang dibeli Sasha. Karena kehamilan itu pulalah yang membuat Arneta mengambil keputusan untuk menyerahkan Ivy, demi kebahagiaan dan masa depan putrinya. Dan sebagai gantinya ia akan membesarkan dan merawat anak yang ada di dalam kandungannya seorang diri, sama seperti dulu ia membesarkan Ivy.