My Ex

My Ex
Nasib Kai



Bibir Asha masih cemberut meskipun saat ini sudah berada di meja makan. Seharusnya ini adalah makan siang untuknya, tetapi karena suatu hal ini menjadi pengganti makam paginya.


Ternyata Askara lebih pintar darinya. Meskipun sudah berusaha untuk berbohong, tetap saja akan ketahuan oleh Askara. Padahal awalnya Askara sudah percaya jika Asha sedang datang bulan. Namun, entah mengapa tiba-tiba Askara bisa mengetahui jika Asha sedang membohonginya dan langsung melakukan pembobolan gawang yang selama tiga tahun tanpa tersentuh. Bahkan rasanya masih sama seperti kali pertama Askara membobol Asha untuk yang pertama kalinya saat itu.


"Kenapa hanya diaduk-aduk?" tanya Askara saat melihat Asha masih mode ngambek.


"Udahlah, Sha. Lagian kamu kan juga menikmatinya. Masa gitu aja ngambek?" lanjut Askara lagi.


"Kamu tuh curang! Bilangnya cuma naik satu kali, tapi nyatanya malah berkali-kali. Mana gak ngasih jarak untuk ngambil nafas lagi. Kamu pikir aku kuda?" Perih tahu!" protes Asha dengan bibir manyunnya.


"Sssttt! Jangan keras-keras napa? Malu kalau sampai didengerin Bi Sumi. Nanti kalau dia pengen gimana? Kan jadi susah urusan!" tegur Askara.


Asha pun hanya mendengkus dengan kasar. Memang ucapan Askara ada benarnya, tetapi saat ini dirinya masih merasa kesal dengan Aksara yang tidak bisa menepati janjinya.


"Kamu tahu gak Sha? Kalau kamu manyun kayak gini bawaannya aku pengen menggigit bibir kamu, lho," canda Askara.


"Dasar messum!"


🌼🌼🌼


Karena pembobolan yang tak terduga, akhirnya Askara menyerahkan semua pekerjaannya kepada Kai, karena hari ini dirinya ingin beristirahat untuk memulihkan tenaganya yang telah terkuras karena harus menjadi kuda.


"Mengapa nasib bawahan itu selalu tertindas? Argh ...dasar bos sialan!" umpat Kai saat dia harus menghadiri sebuah rapat penting dengan para petinggi perusahaan untuk menanggapi rumor yang sedang memanas di perusahaan. Entah dari mana jalan ceritanya Kai Asha yang sedang trending sosial media. Jelas-jelas itu bukan dirinya, tetapi semua orang malah menuduh jika pria yang berada di samping Asha itu adalah Kai.


"Ya Tuhan ... aku harus bagaimana? Kenapa aku yang harus menjadi getahnya? Padahal pria itu jelas-jelas adalah pak Bos."


Perasaan Kai benar-benar tidak karuan. Seharusnya yang menangani masalah ini adalah bosnya. Apakah semua orang akan percaya jika yang berada di dalam foto itu bukanlah dirinya? Pasti semua orang menuntut bukti dari Kai jika bukan dia orang yang tidur bersama dengan Asha.


Sejak pagi pesan dan panggilan Kai tak ada satupun yang direspon oleh Askara. Kai sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi kepada bos-nya sehingga mengabaikan pesan dan panggilannya.


"Bos kamu terlalu jahat!"


.........


Asha merasa tidak percaya diri untuk keluar dari kamarnya karena banyak jejak yang ditinggalkan oleh Askara di sekitar lehernya. Meskipun di rumah itu hanya ada Bi Sumi saja tetap saja asa merasa malu jika sampai tanda itu dilihat oleh Bi Sumi.


"Kara, sejak tadi ponselmu terus berbunyi. Apakah kamu tidak dengar?"


Mendengar suara Asha, Askara pun langsung membuka matanya. "Biarkan saja. Itu pasti panggilan dari Kai."


Asha pun langsung mengambil ponsel milik Askara dan mengangkat panggilan tersebut.


"Halo Kai, ada apa?" tanya Asha langsung.


"Akhirnya ... " Terdengar suara Kai merasa lega saat panggilannya telah diangkat, ya meskipun yang mengangkat bukanlah askara tetapi setidaknya Kai bisa menyuruh Asha untuk memberikan ponselnya kepada Askara.


"Sha, kalian ngapain aja? Sekarang dimana pak Bos? Aku harus berbicara dengannya sekarang juga. Ini penting Sha! Berikan ponselnya pada bos sialan itu!"


Asha hanya menawarkan kedua alisnya lalu menjauhkan ponsel dari telinganya. "Kai, gak usah teriak-teriak! Aku bisa dengar kok!


"Iya makanya cepetan berikan ponselnya kepada pak Bos!"


Asha pun langsung menyerahkan ponsel kepada Askara. "Ra, ada sesuatu yang ingin dibicarakan kepadamu!"


Dengan wajah malas Askara menerima ponsel yang diberikan Asha kepada dirinya. Baru saja mengatakan kata halo, Askara langsung menjauhkan ponselnya. Dengan mata yang membulat lebar, Askara langsung turun dari tempat tidurnya.


"Ra, ada apa?" tanya Asha terheran dengan sikap Askara.


"Sha, dimana pakaian kerjaku? Aku harus ke kantor sekarang juga."


Asha tidak tahu apa yang terjadi di kantor sehingga Askara terlihat sangat setelah berbicara dengan Kaisar.


"Ra, ada apa? Apakah ada masalah di kantor?" tanya Asha yang kini sudah membantu Askara untuk mengenakan dasinya.


"Kurang lebih seperti itu. Tapi kamu tenang saja ini tidak ada hubungannya kebangkrutan. Ini hanya tentang nasib Kai yang sedang berada di ujung tanduk. Ya sudah aku berangkat dulu. Kamu beristirahat aja di kamar, pulihkan stamina untuk keluar angkasa nanti malam." Sebuah keccuupan singkat kening Asha sebelum Askara meninggalkan kamarnya.


"Dih ... messum!" teriak Asha.