My Ex

My Ex
Ditolak Askara



Jantung Asha berdegup dengan kencang ketika dia telah mengetahui berita yang sedang menjadi trending topik. Bagaimana tidak, ada seseorang telah menyebarkan foto dirinya yang hanya berselimut saja.


"Kara! Kenapa bisa seperti ini?" Asha menunjukkan ponselnya pada Askara. "Kenapa bisa seperti ini, Ra?"


"Aku gak tahu, Sha! Mungkin ada seseorang yang sedang menjebak kita, tapi target utamanya adalah kamu, karena disini wajahku tak terlihat."


"Lalu siapa yang melakukannya, Ra! Selama ini aku tidak pernah bermusuhan dengan orang. Lalu apa salahku sehingga dia tega melakukan ini padaku, Ra!"


Askara tidak tahu persis siapa yang telah menjebak mereka, tetapi saat ini dia hanya mempunyai satu nama yang patut dicurigai, yaitu Karina, adiknya sendiri. Namun, Askara belum yakin 100% karena belum mempunyai bukti tangan.


"Kamu nggak usah pikirin masalah ini. Aku akan berusaha untuk mencari tahu siapa pelakunya dan akan memberi pelajaran kepadanya," hibur Askara agar Asha tidak memikirkan berita itu terlalu dalam.


Asha hanya mengangguk pelan dan percaya kepada Askara. Bahkan Asha yakin jika tidak terjadi sesuatu antara dirinya dengan Askara tadi malam. Semua ini murni sebuah jebakan untuk menjatuhkan dirinya, karena Asha tidak merasakan sesuatu yang aneh pada **** **********.


"Iya. Aku percaya sama kamu."


🌼🌼


Berita tentang Asha telah menyebar luas. Bahkan sudah menjadi pembahasan para karyawan di kantor Askara. Kai yang sejak tadi merasa sangat risih dengan pembicaraan yang menjelek-jelekkan Asha. Meskipun Kai baru Asha selama dua tahun, tetapi Kai yakin jika Asha bukanlah wanita seperti yang diberitakan.


"Stop! Ini kantor bukan lapangan ghibah!" tegur Kai pada beberapa orang yang sedang mengghibah.


Semua orang langsung membubarkan diri masing-masing. Namun, meskipun begitu akan ada saja orang yang tidak terima dengan sikap Kai. Siapa lagi jika bukan Shela.


"Kalian tahu, kenapa Pak Kai terlihat sangat marah saat mendengar gosip kita? Aku yakin ada sesuatu antara Pak Kai dan juga Asha. Bukankah saat itu Asha bisa langsung menduduki kursi sekretaris karena rekomendasi dari Pak Kai. Jangan-jangan orang yang sedang bersama dengan Asha adalah Pak Kai," bisik Shela pada salah satu rekan kerjanya yang diusir oleh Kaisar.


"Benar juga. Jangan-jangan mereka berdua memang ada main. Gak mungkin juga kan wanita yang tidak memiliki pengalaman kerja bisa langsung duduk di kursi sekretaris. Padahal banyak dari kita yang mempunyai pengalaman kerja yang baik tapi sama sekali nggak dilirik. Untung saja wanita itu langsung dikeluarkan oleh Pak Kara. Jika sampai bertahan lama, bisa-bisa Pak Kata juga diembat."


Shela tersenyum puas setelah bisa berhasil meyakinkan tentang gosip baru untuk membuat Kaisar jatuh. Andaikan saja Kaisar mengangkat dirinya untuk mengisi kursi sekretaris, Shela tidak akan menyenggol Kai.


Lihat saja Pak Kai. Sebentar lagi kamu akan kehilangan wajahmu. Siapa suruh mencari orang luar untuk menjadi sekretaris Pak Bos. Ini belum seberapa, karena ini baru awalan saja. batin Shela dengan senyum tipis.


Satu ketukan pintu membuat Askara mengalihkan fokusnya ke pintu. Sosok wanita langsung masuk ketika mendapat perintah masuk. Dengan senyum yang melebar, wanita berjalan mendekat kearah Askara.


"Pak Kara, bisa berbicara sebentar dengan Anda?"


Askara menganggukkan kepalanya dengan pelan. "Silahkan!" ucapnya sambil menyilahkan wanita itu untuk duduk.


"Em .. saya dengar saat ini Anda sedang mencari sekertaris baru untuk menggantikan Asha yang baru bekerja beberapa hari saja. Kalau Anda tidak keberatan saya bisa menggantikan posisi itu. Kinerja saya selama ini cukup lumayan baik kok, Pak. Saya yakin anda tidak akan kecewa dengan kinerja saya," kata Shela dengan keberaniannya.


Askara masih terdiam. Sorot matanya memang terlihat tajam ketika melihat Shela yang ada dihadapannya saat ini.


"Mengapa kamu merekomendasikan diri kamu sendiri? Apak kamu yakin jika kinerja kamu selama ini sudah sangat baik dan ingin naik jabatan. Apakah kamu telah memenuhi syarat kriteria untuk menjadi sekretarisku?"


Shela menelan kasar salivanya. Jika berbicara tentang syarat kriteria yang diberikan Askara, tentu saja Shela tidak memenuhi kriteria karena saat ini usia Shela sudah menjadi angka 30 tahun. Sementara syarat kriteria untuk menjadi sekretaris adalah usia 28 tahun.


Helaan nafas berat keluar dari mulut Askara. Meskipun wanita yang ada di depannya saat ini terlihat sangat cantik tapi wanita itu jauh dari kriterianya. Terlebih dengan dandanan yang menor, tentu saja membuatnya merasa mual.


"Itu sama saja kamu tidak memenuhi syarat kriteria. Lebih baik kamu fokus pada pekerjaan kamu. Siapa tahu akan ada pengangkatan jawab di dalam devisi kamu."


Mendengar penolak yang keluar dari bibir Askara, tentu saja membuat dada Shela terasa panas. Dia yakin semua ini karena Asha.


"Pak, saya bisa kok tampil lebih muda seperti Asha jika bapak menginginkan saya seperti Asha," kata Shela mendesak.


Askara pun langsung menautkan kedua alisnya. "Mengapa harus bawa-bawa Asha?"


Shela gelagapan setelah menyadari kebodohannya. Mengapa bisa dirinya kelepasan menyebut nama Asha.


"Em .. itu, Pak."


"Stop! Keluar kamu! Jangan sampai aku memencetmu sekarang juga! Pergi!" bentak Askara dengan kasar.


Shela pun keluar dengan tubuh yang bergemetar. Baru kali ini dia melihat bosnya begitu sangat marah hanya karena dia menyebut nama Asha?


"Apakah Pak Kara sudah melihat berita pagi ini dan dia sangat kecewa dengan Asha yang ternyata bukan wanita baik-baik? Apakah Pak Kara benar-benar tertarik kepada wanita kampung itu? Lalu mengapa bisa wanita itu dipecat sebelum masa percobaan habis?" Shela bertanya-tanya dalam hati, karena merasa sangat penasaran.


"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi antara pak Kara dengan Asha. Bahkan pak Kara sampai mengendong Asha malam itu. Aku harus mencari tahu tentang hubungan pak Kara dengan Asha."


🌼🌼🌼


Di dalam kamar Asha masih mengurung diri. Dia tidak tahu saat ini orang-orang di luar sana sedang membicarakan dirinya. Baru saja ingin merasakan sebuah kebahagiaan, mengapa ada saja cobaan yang datang. Apakah Asha ditakdirkan untuk tidak boleh bahagia?


Satu ketukan membuat Asha langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Bi Sumi masuk dengan membawakan makan siang untuk Asha, karena hingga sore Asha tidak keluar kamar. Bi Sumi takut jika majikan akan marah ketika mengetahui Asha tidak makan siang.


"Neng, bangun. Makan dulu. Sebentar lagi Tuan Kara pulang," kata Bi Sumi yang kini telah meletakkan makanan di atas nakas.


"Aku tidak lapar, Bi."


"Tapi Neng harus makan. Jangan sampai Neng Asha sakit. Makan ya, Neng," bujuk Bi Sumi.


Tak ada jawaban dari Asha membuat Bi Sumi memberanikan diri untuk menyentuh tubuh Asha. "Neng, Bi Sumi tahu apa yang Neng Asha rasakan. Mungkin Neng Asha merasa sangat kecewa dengan berita yang tidak benar itu. Tapi percayalah jika Tuan Kara bisa menyelesaikan semuanya masalah ini. Dia tidak akan membiarkan masalah ini berlarut-larut," ucap Bi Sumi.


Mendengar ucapan Bi Sumi yang seolah mengetahui tentang dirinya, Asha pun langsung bangkit. "Apakah Bi Sumi mengetahui sesuatu tentangku?" tanyanya.


Bi Sumi tersenyum dan mengangguk pelan. "Iya. Bi suami tahu sebenarnya Neng Asha itu adalah mantan istrinya Tuan Kara."


"Apa? Kenapa Bi Sumi bisa tahu? Sejak kapan Bi Sumi mengetahuinya?"


"Semenjak Bi Sumi mulai bekerja di rumah ini, karena dulu di kamar tuan Kara, ada banyak foto Neng Asha. Saat Bibi tanya, Tuan Kara menjawab jika itu adalah foto mantan istrinya. Jadi sewaktu pertama kali Tuan Kara membawa Neng Asha pulang ke rumah ini, Bi Sumi yakin jika luka di hati tuan Kara sudah terbalut. Bibi senang saat neng Ahsa mau menikah kembali dengan tuan Kara. Tapi Bibi juga merasa sedih dengan berita yang sedang beredar di luar sana. Mungkin ini adalah ujian sebelum pernikahan, Neng. Neng harus kuat ya." Bi Sumi berusaha untuk menghibur Asha agar tidak larut dalam masalah yang sedang terjadi.