My Ex

My Ex
Saatnya Cuti~



Arka: gue minta maaf karena udah buat lu sakit hati,


Nadine: kalo ini masih masalah yang kita pisah, ga usah khawatir, insyaallah udah gue maafin,


Arka: makasih Nad, gue ngerasa bersalah banget dan ga tenang, karena setelah gue sama lu pisah. Gue ngerasa kena karma sekarang.


Nadine: maksud lu??


.....


...Al jaza minjinsil amal, balasan itu sesuai amal,...


...Jika kamu berbuat kebaikan maka kebaikan itu untukmu...


...Jika kamu berbuat keburukan, maka keburukan itu untukmu...


...Karena apa yang kamu tanam, itulah yang akan di tuai....


“karma? Tadi dia bilang dapet karma? Maksudnya? Lagian kenapa juga dia tiba-tiba minta maaf begini?” Nadine bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ia pergi ke dapur dan membuat jus. Hampir setengah jam ia meletakkan ponselnya di kasur.


Nadine kembali kekamarnya sembari membawa segelas jus tomat. Ia mencek ponselnya, dan benar saja ada 3 pesan dari Arka.


From: Arka


‘gue ga bisa tenang Nad, semenjak gue putus sama lu, hubungan gue sama Clarissa ga pernah akur, kita terus aja berantem,’


‘gue juga ga ngerti kenapa setiap kali gue sama dia ngobrol pasti aja ujung-ujungnya gue ngebahas tentang lu, padahal bukan maksud gue mau ungkit-ungkit masa lalu,’


‘gue bener-bener minta, karena udah ngerasa dosa banget sama lu, maafin gue Nadine.’


Nadine membaca pesan itu pelan-pelan. Hatinya merasa mendapat angin segar. Dari cara Arka menyampaikan pesan ini, Nadine tau kalau lelaki itu tengah bingung sekarang.


Memangnya kamu pikir setelah melukai hati orang lain, hidupmu bakal tenang-tenang saja? In your dream, dude.


Semua yang kamu lakukan pasti akan kembali padamu. Tapi jujur saja Nadine tak menyangka akan datang secepat ini.


Nadine meringgis membayangkan bagaimana Clarissa marah. Dulu ketika ia masih pacar Arka, ketika Arka menyebut-nyebut Clarissa, Nadine tau betul bagaimana perasaan itu. Dan dengan tampang santai Arka seolah tak melakukan hal yang salah.


Asal kalian tau ya, itu adalah kesalahan besar. Dan apa tadi dia bilang? Selalu menyebut namanya setiap kali percakapan? Tak heran jika mereka tak akur. Siapa yang akan tahan jika ‘tunangannya’ menyebut-nyebut perempuan lain didepannya, yan tak lain adalah mantan kekasihnya. Dan itu setiap kali, bukan hanya satu dua kali.


Keterlaluan...


Nadine mulai mengetik pesan balasan.


Nadine: maksud lu masih nyebut-nyebut nama gue tuh gimana ya?


Arka: gue juga ga ngerti, setiap kali gue ngobrol sama dia, ujung-ujungnya gue pasti bahas lu, kadang gue seolah banggain kelebihan lu ke dia, atau gue juga bandingin dia sama lu.


Nadine: lu waras ga? Ngomong soal mantan didepan cewek lu? Apalagi di banding-bandingin, lu bunuh diri namanya bro..


Arka: nah itu dia, gue pun ga tau kenapa. Padahal gue ga ada niatan buat bahas masa lalu.


Nadine: ya sama. Dulu juga lu gitu ke gue, bahas dia mulu, banggain dia depan gue, lu pikir hati gue ga sakit?


Arka: bagus dah, gue dibales sama Tuhan. Hati gue sakit banget kalo udah berantem sama dia, dia ga kaya lu Nadine.


Nadine: urusan lu ya itu sih. Kalo lu emang sayang sama dia, jangan pernah sebut nama gue depan dia. Jaga perasaannya, cukup gue aja yang lu buat sakit hati. Ga usah dua-duanya.


Arka: iya gue minta maaf...


Nadine: minta maaf sama dia jangan sama gue. Kalo lu kaya gitu, lu sama aja kaya ‘sipembawa anak panah yang jatuh’


Arka: maksudnya? Pembawa anak panah?


Nadine: seperti yang lo tau gue ga suka sama dia, tapi gue ga ngomong langsungkan ke dia, tapi lu sendiri yang ngomongin gue ke dia. Dan secara ga langsung, lu buat dia ga suka sama gue. Seolah gue ‘yang manah dia’ tapi anak panahnya jatuh, terus lu pungut, terus lu samperin dia dan nusukin anak panah itu langsung kedadanya dan bilang ‘ini dari Nadine ya’. Paham??


Arka: gue paham...gue emang bukan lelaki baik, cewek kaya lu emang ga pantes buat gue,


Nadine: dan btw, selamat atas pertunangan kalian, sukses ya kepelaminan.


Arka: makasih, lu emang terbaik.


“tch, dasar cowok brengsek, makanya jan sok, kena juga kan lu. Emang dikira enak apa posisi kaya gitu...” umpat Nadine puas. Ia sama sekali tak membalas pesan Arka lagi.


Nadine merasa sedikit puas. Rasa sakit yang ia rasa kemarin, telah Tuhan balas. Dan tanpa ia harus repot-repot mencari tau, Arka sendiri yang mengantarkan berita itu untuknya. Tuhan itu adil.


Bahkan kalau Nadine fikir-fikir, rasa sakitnya kemarin tak sebanding dengan Clarissa. Hei, mereka sudah tunangan. Dan kalau ada masalah seperti ini bukan hal mudah untuk berpisah, kecuali ia mau mencoreng mukanya sendiri menahan malu, semua orang sudah terlanjur tau berita ini.


Dan satu-satunya ia hanya bisa menahan perih dari kelakuan Arka. Nadine tak bisa membayangkan jika Clarissa tau lebih jauh. Kalau Arka masih sering menghubunginya. Hubungan macam apa sih ini. penuh drama.


Nadine mulai muak dengan Arka dan dramanya, ia menarik nafas panjang. Nadine membuka galeri ponselnya, dan dalam seketika ia menghapus semua foto Arka disana tanpa sisa. Bahkan foto-foto yang mungkin bisa mengingatkannya pada Arka sekalipun, ia menghapusnya.


Tak hanya sampai disitu, ia juga memblokir whatapp dan facebook Arka. Hanya instagram yang masih ia biarkan. Nadine hanya men-unfollow akun Arka. Tapi Arka tetap dapat melihat akun Nadine. Ia mulai lelah dengan situasinya.


Nadine sudah tak mau lagi berurusan dengan Arka, tapi sialnya mereka masih satu tempat kerja. Ia tak bisa memutuskan kontaknya secara penuh dengan Arka. Setidaknya belajar untuk meminimalisir keadaan.


***


20 hari berlalu dan tak ada cerita menarik. Semua berjalan normal. Hingga disuatu Jum’at, Nadine kembali MC karena ia merasa nyeri kram karena bulanan. Oke semua perempuan tau bagaimana rasa nyerinya, dan itu terkadang diluar kendali, dan membuat Nadine harus pergi ke klinik.


Ia pergi ke klinik sengaja lebih pagi dari biasanya, bebab ini adalah hari Jum’at. Ia malas jika pergi siang, pasti dokternya tak ada di tempat dan dia harus menunggu sampai jam 2 sore.


Hari ini Nadine mengenakan gamis merah maroon denga khimar senada. Ini adalah tampilan baru dari seorang Nadine. Ia sedikit canggung keliar dengan pakaian seperti itu. Sesekali ia merasa ada beberapa orang memperhatikannya, entah benar atau hanya perasaannya saja.


Sesampainya di klinik ia duduk di ruang tunggu setelah mengisi formulir pasien. Tak lama seorang perawat memanggilnya.


“oke santai aja, jangan tengang.” Gumamnya pada diri sendiri.


Sedari tadi Nadine memikirkan alasan apa yang akan ia ucapkan pada dokter agar ia bisa mendapat surat MC. Sebab kalau surat itu tak ia dapatkan, nah besok ia akan mendapat masalah ditempat kerja. Sudahlah tempo hari ia kena SP, kalau sekarang absent dia bermasalah, matilah.


Nadine masuk keruang dokter, bau obat langsung menusuk penciumannya. ‘oh hari ini dokternya laki-laki,’ batin Nadine tenang. Ia beberapa kali konsultasi dengan sang dokter, dan ia adalah salah satu dokter yang sangat mudah memberi surat MC. Nadine bisa bernafas lega sekarang.


“hai, Nadine. Kenapa lagi kamu?” sapa sang dokter membaca data Nadine untuk menyapanya.


“emm anu dok, saya dari pagi diare, apa saya salah makan ya?” tanya Nadine memulai untuk ber-alibi.


“em, hari ini keliatan beda ya, apa karena sekarang hari jum’at?” ucap dokter itu mengalihkan percakapan, ia salah fokus dengan dandanan Nadine. Iya tau betul bagaimana Nadine jika datang keruangan nya.


Tanpa hijab, apalagi gamis dan khimar yang lebar dan panjang. Dokter itu tertawa menggoda Nadine yang tersipu malu dengan ucapan dokter.


Nadine keluar dari klinik dengan perasaan lega. Ia memandangi surat MC seolah mendapat golden ticket. Sepanjang jalan ia tersenyum geli dengan percakannya dengan dokter tadi yang terus menggodanya. Nadine merasa malu sendiri.


***


Jujur saja sejak kemarahan Nadine mereda, ia kembali membuka blokirnya di akun Arka. Ia merasa tak seharusnya sampai seperti itu, Nadine bukan tipe yang terlalu hard feeling. Ia hanya perlu space sampai ia merasa stabil.


Sabtu dan Minggu ini, Nadine cukup sibuk dengan kegiatan barunya. Yaitu pergi ke kajian, ia mulai membaur dengan teman-teman baru. Ia belajar agama lagi, mendengarkan ceramah dan nasehat para guru.


Nadine merasa hal yang lama telah kembali pada dirinya. Ketika ia melihat teman-teman barunya yang sangat religius, mau tak mau itu membawa dampak yang sangat positif bagi Nadine. Ia sadar jika bumi Allah itu luas, jika kamu merasa sesak disini, cobalah keluar dan cari suasana baru.


“Janji Allah itu terucap dua kali, bersama kesulitan ada kemudahan, bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS:94 ayat 5-6)


Tapi ternya hal itu tak semudah yang dibayangkan. Arka terus datang padanya seolah seperti cobaan untuk Nadine. ‘ini sih namanya ujian perasaan.’ Keluh Nadine.


Wanita akan kuat jika diuji dengan kemiskinan


Wanita akan kuat jika diuji dengan kekurangan pasangannya.


Wanita akan kuat jika diuji dengan anaknya


Tapi wanita akan lemah jika diuji perasaannya.


Nadine memposting gambar dirinya yang dibalut gamis merah maroon ke status whatapp-nya. Selang beberapa saat, Arka membalas postingannya.


Arka: hei, siapa ini? new look wow,


Nadine hanya bengong setelah membaca pesan tersebut. What the hell, whats wrong with you man~....


Nadine sama sekali tak mengerti dengan Arka. Oke mereka sudah putus, dan Nadine tak masalah jika masih harus berteman dengan Arka. Just friend, no more, it’s OK.


Tapi apa harus ya terus-terusan menghubunginya secara berkala begini, membuat situasi jadi ambigu. Membuat hati Nadine goyah, apakah ia telah salah mengambil keputusan untuk berpisah dengan Arka??


‘hey c’mone Nadine, don’t thinking about step back like a loser’


Nadine hanya membalas pesan Arka tanpa ada niatan apapun, hanya sebatas sopan santun agar hubungan mereka tetap normal seperti biasa.


Ia memijit pelan pelipisnya. Kepalanya pusing dengan tingkah lelaki satu ini. putus dengan seseorang karena terpaksa begini bukanlah hal mudah. Bahkan untuk menjauh pun dibutuhkan usaha yang ekstra.


Nadine hanya perlu ruang untuk dirinya agar bisa berdamai dengan hatinya. Tapi kenapa begitu sulit? Seolah lelaki itu memang sengaja mengganggunya.


Terkadang Nadine tak habis pikir dengan Arka. Setelah semua yang ia lakukan padanya, masih saja dia punya muka untuk menjalin pertemanan dengan Nadine. Ok, itu gak salah, hanya situasinya yang kurang pas.


Nadine meremas ujung jilbabnya dengan gusar. Menghela nafas dengan frustasi. ‘apa move on sesulit ini?’ batinnya.


“kenapa bu? Daritadi diem aja?” sengol Julia menyadarkan Nadine dari lamunannya.


“hehe biasa, ada godaan dari syaiton ahaha,” balas Nadine asal sambil menggoyangkan ponselnya.


“oooohhhhh pasti dari si’anu’ ya? Dia masih ngehubungin lu?” tebak Julia tepat sasaran, Nadine hanya bisa mengangguk pasrah.


“ya elah....cemen banget lu, udah tau dia udah tunang, lu masih aja mau ngelayanin tu cowok, kalo gue sih udah gue blokir semuanya, beres.” Ucap Julia sarkas.


Nadine hanya nyengir seolah itu guyonan. Sendainya semudah kamu menghapus file di galery, pasti itu sudah dilakukannya sejak dulu.


***


Hari ini Nadine tak pergi bekerja. Bukan...bukan karena dia MC lagi, tapi dia sudah ambil cuti tahunan untuk hari senin dan selasa minggu ini. ia rasa harus pergi untuk refreshing.


April menunggunya di bawah apartemen. Dari jauh ia bisa melihat Nadine dengan gamis merah dan kerudung hitam.


“ecieee...tumben pake gamis,” goda Nadine melihat April dengan gaun pinknya.


“iya kan biar samaan, btw udah pesen taxi?”


“belum, bentar gue pesen grab dulu,” Nadine dengan cekatan memesan taxi online.


Beberapa menit kemudian taxi mereka telah tiba di depan gerbang. Hari ini kedua gadis ini akan pergi ke perpustakaan negara. Sebenarnya Nadine pernah pergi kesana sekitar beberapa bulan lalu, dengan Arka. Tapi hari itu, perpustakaan sedan tutup.


Mungkin karena itu hari minggu, pikir Nadine.


“seharusnya, kalau senin gak tutup kan?” kata Nadine memastikan,


“harusnya sih gitu,” timpal April.


Perjalanan yang jauh terasa lebih menyenangkan, setidaknya ini membantu untuk relaksasi. Tapi semua ini tak bertahan lama.


Hujan turun dengan agak lebat, ini siang hari hei, bahkan tengah hari.


“yah hujan, gimana nih?” April melihat keluar halte,


“gue ga tau bakal hujan, padahal tadi cerah cerah aja,--- eee..itu busnya dateng, buruan!”


tanpa pikir panjang Nadine menarik Arpil masuk kedalam bus sebelum mereka basah kuyup.


Sayangnya mereka tak mendapat tempat duduk. Hari ini ramai orang pakai bus kota, padahal jarang sekali bus sepenuh ini. Nadine melihat dirinya yang sedikit basah karena air hujan.


“eh, udah lama gak ujan-ujanan,” celetuk April.


“ya terus? Lu mau ujan-ujannan terus entar MC gegara demam?”


“ya gak gitu sih, gue mah seterong aja, ga bakal demam, tau deh kalo lu, hehe” April cengengesan melihat muka Nadine yang kesal.


“eh, satu halte lagi, jan kelewatan. Males gue jalannya lagi ujan gini.” Ucap Nadine mengingatkan setelah melihat rute bus.


Bus berhenti di halte C, April dan Nadine segera turun dengan tergesa-gesa karena hujan yang masih lebat.


“wah...basah semua baju gue.” Keluh Nadine.


“ya namanya juga ujan, gimana sih, yuk jalan, udah deket,” April dengan cueknya berjalan menerobos hujan.


“eeee...bentar, hujannya masih gede, tunggu reda dikit lah,” Nadine segera menarik April sebelum keluar dari halte,


“ya terus? Mau nunggu sampe kapan? Keburu sore nih,”


“bentar lah, lu ga liat ujannya gede?”


“ujan mah cuma air, bukan batu, yuk jalan...” April berjalan meninggalkan Nadine yang masih menggerutu dibekalangnya.


Setelah berjalan menerobos hujan hingga membuat baju mereka basah. Mereka akhirnya tiba di depan gedung perpustakaan. Nadine memandang April dengan kesal bercampur kecewa, yang ditatap hanya membalas dengan pasrah.


“kok tutup sih!” geram Nadine kesal melihat pengumuman di pintu kaca yang bertuliskan ‘TUTUP SAMPAI FEBRUARI’ itu artinya masih 10 bulan dari sekarang.


“ya terus gimana?” tanya April tak tau harus merespon apa.


Nadine merasa kesal, tujuannya datang hari senin untuk bisa menikmati buku-buku, diperpustakaan yang tenang. Tapi ternyata, setelah melintasi hujan pun, perpustakaan malah tutup.


“yaudah daripada disini, mending masuk galeri,” April menunjuk bangunan klasik yang tepat disebelah perpustakaan.


“gak, gue udah pernah masuk ke sana sama Arka,” tolak Nadine,


“tapi sama gue kan belom pernah, ayok buruan, lu mau nongkrong disini?” April menarik tangan Nadine dengan tidak sabar. Mau tak mau Nadine menurutinya dengan malas.


Nadine pernah masuk kedalam galery ini dengan Arka, tepat dihari Minggu ketika ia mau masuk ke gedung perpustakaan yang ternyata masih tutup. Nadine merasa deja vu, semua yang ia lihat didalam seolah membuka kenangannya dengan Arka. Ia ingat betul dengan setiap sudutnya, dengan apa saja yang mereka lakukan didalam, dengan semua percakapannya. Membuat Nadine menahan sesak.


‘kenapa harus kesini sih..’


Setelah berkeliling ke seluruh galeri dan mengambil banyak foto di sana, April membawanya ketempat Souvenir


yang letaknya bersebelahan dengan cafe.


“chocolate cup cake, and vanilla cup cake please,” Nadine menyodorkan 2 kupon makan yang ia dapat di depan kasir sebelum masuk galeri.


“thanks,” April segera mengambil pesanannya dan duduk di meja yang dipilih Nadine.


“nih punya lu,” April menyodorkan rasa coklat pesanan Nadine,


“makasih, eh btw interiornya banyak yang diganti, terakhir gue kesini ga sebagus ini,” komentar Nadine memperhatikan jendela warna-warni dibelakangnya,


“hehe iyakan, gapapa lah ga jadi masuk perpus, disini juga ok.” April mulai memakan kuenya dengan lahap, membuat Nadine berfikir harusnya mereka pergi ke tempat yang menjual nasi, bukan kue.


***


Matahari semakin condong ke barat. Nadine dan April benar-benar menghabiskan hari cutinya dengan berkeliling di kota, sekitar taman kota dan pasar souvenir. Hingga akhirnya meraka memilih pulang karena matahari telah terbenam.


Tapi jujur saja, diam-diam Nadine merasa kesesakan di dadanya, diam-diam dia menangis melihat setiap penjuru tempat yang pernah dia singgahi dengan Arka. Tepat di hari terakhir mereka kencan.


Flashback~


“yang fotoin gue,” Arka menyodorkan ponselnya dan segera bergaya di tepi jembatan dengan latar sungai yang menyala biru. Langit malam yang gelap, serta kerlap-kerlip lampu kota membuat suasana sangat cantik di malam hari.


“gaya yang bener,” ucap Nadine dengan serius mengabil foto Arka yang berpose bak model.


“ganti gaya, yang swag coba, kalsik banget gaya lu,” Arka menurut dan merubah gayanya lebih tengil, Nadine tertawa geli melihat Arka,


“mana liat, bagus ga?---wah...kaya model nih gue,” puji Arka puas melihat hasil fotonya,


“siapa dulu yang fotoin,” bangga Nadine,


“makasih sayangku,” Arka dengan gemas mengacak rambut coklat Nadine,


“eehh bayar lah, enak aja gratis,” protes Nadine


“sini sini, gue bayar,” Arka menarik Nadine berjalan menuruni tangga, tangannya merangkul bahu Nadine tanpa canggung,


“mana bayarannya?”


“kiss dulu...” Arka menunjuk pipinya dengan genit, membuat Nadine mencibir dan mencubit pipi Arka dengan kesal,


“minta di cium bukan di cubit,” Arka dengan gemas mencium pipi Nadine, membuat Nadine salah tingkah.


Flashback end~


“gue ga kuat Pril,” ucap Nadine tiba-tiba,


“lah kenapa?” April kaget melihat Nadine seolah kehabisan nafas.


“semua tempat yang kita datengin dari awal sampe sekarang, ngingetin gue sama Arka,” ucap Nadine jujur, suaranya mulai serak.


Nadine tak tau harus bagaimana. Jika harus dikatakan dia terlalu lemah hanya karena hal sesepele ini, sepertinya memang begitu. Karena hati Nadine benar-benar sesak sekarang.


Sayup-sayup terdengar suara azan. Arpil melirik jam, sudah masuk jam Isya.


“eh solat dulu yu, sebelum turun ke stasiun,” Nadine hanya mengangguk menurut.


Disaat seperti ini, memang ia harus segera mengadu pada Tuhannya. Meluapkan segala isi hatinya. Tempat terbaik untuk mengadukan segala masalah.


***


“April! Buruan...keretanya udah dateng!” teriak Nadine berlari menuruni tangga dengan tergesa setelah melihat kereta yang sudah stand by. Arpil menuruni tangga dengan susah payah.


“aahh...alhamdulillah, untung ga ketinggalan,” lega nadine setelah duduk di dalam kereta,


“iya wkwk, kalo ketinggalan bisa kemaleman nih,” timpal April dengan nafas yang masih memburu.


“eh.. bentar deh, tadi kita masuk platform nomor berapa? Ko kaya aneh ya?” Nadine menepuk paha April dengan gusar,


“lah, ga tau gue, buru-buru sih tadi, emang kenapa?”


“kita salah masuk kereta, mampus lah,” cicit Nadine setelah melihat rute kereta diatas pintu,


“seriusan lu?” panik April,


“iyalah, noh liat, kita malah masuk jalur yang bertolak belakang sama rumah kita,” Nadine menunjuk-nunjuk rute, membuat April panik.


“terus gimana nih? Udah malem ini,” panik April.


“kita turun di stasiun berikutnya, terus naik lagi kereta yang arah ke rumah,” tepat setelah itu kereta berhenti di stasiun x002.


Nadine keluar dari kereta memandang stasiun yang sangat asing, sepi dan gelap. April mengekor di belakangnya,


“duh matilah kita,” ucap Nadine melihat papan pengumunam kereta yang akan tiba di jam 10 malam.


April duduk dengan pasrah, itu artinya ada 1 setengah jam sebelum kereta tiba. Keadaan yang sepi dan gelap membuat keduanya sangat gelisah di waktu-waktu menunggu.


Nadine memfoto stasiun yang sepi, lalu menulis di statusnya


‘ok, matilah kita, dimana ini ya Allah....nyasar kita...T-T’


...........