My Ex

My Ex
Bab 48



Setelah sampai di mansion Richard. Lio langsung masuk ke dalam kamar pribadinya untuk berbicara dengan Anna terkait persoalan putrinya.


"Tidak biasanya kau pulang lebih awal?" tanya Anna dengan sedikit terkejut saat mengetahui yang masuk ke dalam kamarnya adalah sang suami.


Karena biasannya Lio selalu pulang larut malam saat mereka tinggal di Paris. Bahkan terkadang pria itu tidak pulang ke rumah pribadi mereka, dan lebih memilih menghabiskan waktunya bersama wanita yang di sewa untuk memuaskan hasrat pria itu.


Ya, Anna memang mengetahui cara Lio menyalurkan hasrat biologisnya, karena mereka sudah membicarakan hal tersebut sebelum pernikahan itu terjadi.


Awalnya Anna tidak keberatan dengan apa yang dilakukan suaminya tersebut, karena pria itu selalu terbuka dan memberitahunya tanpa ada yang ditutupi. Tapi semenjak ia menyadari telah jatuh cinta pada sosok Lio Richard. Anna pun mulai merasa cemburu dan tak terima setiap pria itu memberitahu akan menghabiskan waktunya bersama wanita lain.


Bahkan karena ingin mendapatkan cinta seorang Lio Richard, Anna pun memutuskan untuk melanggar perjanjian mereka yang melarang untuk saling menyentuh. Dengan mengesampingkan rasa malunya, Anna pun dengan terang-terangan menawarkan tubuhnya untuk dijadikan pelampiasan hasrat sang suami. Namun yang didapatkannya justru sebuah penolakan tegas dari pria itu.


"Ada yang harus aku bicarakan denganmu," ucap Lio dengan menatap Anna yang melangkah mendekat. "Aku ingin kau menjaga sikapmu di depan Ivy."


"Menjaga sikapku?" tanya Anna dengan bingung.


"Ya, contohnya mencium bibirku seperti tadi pagi. Aku ingin menjaga perasaan Ivy, agar putriku itu tidak bingung melihat Daddy nya bermesraan dengan wanita lain," ucap Lio dengan tegas.


"Wanita lain?" Anna tertawa sembari membuka kancing kemeja yang dikenakan sang suami. "Lio, aku ini istrimu bukan wanita lain."


"Anna...."


"Kau itu sebenarnya ingin menjaga perasaan Ivy atau menjaga perasaan Arneta?" sela Anna dengan mengusap dada bidang Lio yang kini terbuka, setelah ia melepas kemeja yang dikenakan pria itu.


Dengan gerakan sensual, Anna menyusuri dada bidang suaminya tersebut dengan berkhayal suatu saat nanti tubuh pria yang ada di hadapannya itu bisa ia miliki seutuhnya.


"Hentikan An!" Lio mencengkram tangan Anna yang sejak tadi bergerilya memancing hasratnya.


"An...!"


"Semalam kau menghabiskan waktu dengannya bukan? Padahal kau bilang hanya ingin bertemu dan menyelesaikan sesuatu?" cecar Anna dengan tatapan tajamnya.


"Ya, kami memang bersama. Tapi apa yang terjadi semalam di luar rencanaku. Kejadian itu terjadi begitu saja."


Mendengar jawaban jujur sang suami. Anna pun hanya bisa tersenyum sinis. "Kau tahu aku benci perselingkuhan, tapi kenapa kejadian semalam kau baru berkata jujur sekarang?"


"Anna, aku—"


"Kau tahu Lio. Aku selalu bertanya-tanya, kenapa kau selalu mencari kehangatan pada wanita lain sementara ada aku yang bersedia memenuhinya. Apa karena aku tidak pantas untukmu? Apa karena aku begitu kotor karena pernah mengandung anak dari pria lain?"


Ya, alasan ia menerima pernikahan tersebut karena selain frustasi ditinggal oleh kekasihnya, juga karena saat itu kondisinya tengah mengandung benih dari pria itu yang tidak mau bertanggung jawab dan lebih memilih bersama wanita lain. Meskipun pada akhirnya ia harus keguguran juga, karena begitu tertekan dengan kondisinya.


"Kau tahu betul bukan seperti itu. Aku tidak bisa—"


"Menyentuh sahabatmu sendiri," sela Anna dengan tertawa miris.


Lio menganggukkan kepalanya. "Kau adalah wanita yang harus aku jaga sampai saatnya nanti kita berpisah."


"Berpisah..?" Anna tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. " Jika selamanya aku tidak mau melepasmu, apa yang akan kau lakukan?"


Deg.


Baik Lio maupun Anna kini saling menatap dalam diam, hingga membuat suasana di dalam ruangan tersebut terasa hening dan tegang.