
Setelah selesai mengurus semua keperluan putri tercintanya untuk keberangkatan malam ini ke Paris. Arneta pun sibuk seharian ini menghabiskan waktu terakhirnya bersama Ivy, hingga baru menyempatkan diri untuk menemui Anna yang tengah sibuk menyuruh pelayan untuk memasukkan koper-koper ke dalam mobil.
Tujuan Arneta ingin menemui Anna tidak lain dan tidak bukan untuk menitipkan putrinya di tangan wanita itu. Karena mulai hari ini Anna lah yang akan menggantikan tugasnya untuk menjaga dan merawat Ivy.
"Anna bisakah kita berbicara sebentar?" tanya Arneta, setelah melihat wanita itu selesai berbicara dengan pelayan.
Anna menatap pada Arneta lalu tersenyum. "Tentu saja, apa yang ingin kau bicarakan?"
Arneta terdiam sesaat dengan memikirkan kata-kata yang paling pas untuk ia ucapkan.
"Aku ingin menitipkan Ivy. Tolong jaga putriku dan sayangi dia. Aku—"
"Arneta," sela Anna dengan menggenggam tangan wanita yang sangat dicintai suaminya tersebut. "Kau jangan khawatir. Aku pasti akan menjaga Ivy dengan baik, karena Ivy bukan hanya putrimu tapi sekarang dia juga putriku."
Arneta menghela napasnya dengan lega, meskipun kata-kata terakhir Anna membuat hatinya sedikit tak terima karena menyebut Ivy sebagai putri wanita itu juga. Tapi itulah kenyataannya, karena Anna memang ibu sambung bagi putrinya.
"Terima kasih," lirih Arneta dengan mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes di kedua pipinya.
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu Arneta, karena kau sudah mau menyerahkan Ivy pada kami," sahut Anna dengan memeluk wanita tersebut.
Karena dengan mundurnya Arneta dari hidup Ivy, maka secara otomatis hubungan wanita itu dengan Lio pun berakhir. Dan Anna pun tidak perlu menjadi orang jahat dengan melakukan sesuatu yang licik, untuk memisahkan mereka berdua.
Sementara itu Arneta yang merasa tersentuh dengan kebaikan Anna, semakin menangis dengan terisak. Ya, bagi Arneta Anna adalah wanita yang baik. Walaupun mereka jarang berkomunikasi selama tinggal di mansion Richard, tapi Anna tidak pernah sekalipun bersikap jahat padanya. Bahkan Anna sangat menyayangi Ivy tanpa mempedulikan jika putrinya itu adalah hasil kesalahan Lio dan dirinya.
"Maafkan aku Anna," ucap Arneta setelah melepas pelukan mereka.
"Maaf? Untuk apa?" tanya Anna dengan berbohong. Karena ia tahu jelas permintaan maaf Arneta, karena wanita itu sudah tidur kembali bersama suaminya.
"Maaf jika aku secara sengaja, atau tidak sengaja melakukan hal yang sudah menyakitimu." Arneta tidak akan sanggup berkata jujur kalau sudah melakukan kesalahan dengan tidur bersama Lio di belakang Anna.
Anna pun tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.
"Mommy..."
Baik Arneta maupun Anna langsung menatap pada Ivy yang tengah berjalan bersama Lio, dan Sasha yang berada di belakang dengan menarik sebuah koper.
"Sayang..." Arneta pun langsung memeluk Ivy dan hendak menggendongnya.
Namun Lio sudah lebih dulu menarik putrinya, sehingga Arneta tak dapat menggendong Ivy untuk terakhir kalinya.
"Kita harus pergi sekarang, Anna!" ucap Lio dengan tegas.
Anna pun menganggukkan kepalanya. "Koper Ivy mana? Berikan pada pelayan untuk di masukkan ke dalam mobil."
Sasha pun menyerahkan koper milik Ivy pada pelayan. Sementara Arneta terdiam saat melihat hanya ada koper milik putrinya, sedangkan milik Sasha tidak ada.
"Di mana kopermu Sa?" tanya Arneta dengan bingung.
Sasha yang ingin menjawab pertanyaan Arneta, dibuat terdiam saat Lio menyelanya lebih dulu.
"Sasha tidak akan ikut bersama kami."
"Apa?" pekik Arneta dengan terkejut.
Bagaimana tidak terkejut jika orang yang paling dipercaya untuk menjaga putrinya, justru tidak ikut pergi ke Paris. Dan jika hal itu sampai terjadi, maka Arneta tidak akan bisa mengetahui keadaan Ivy dari jauh.