My Ex

My Ex
Date with My Ex



Ini adalah hari Jum’at terakhir Nadine bekerja. Ia menyimpan paper tube serta parfum yang pernah ia minta dari Arka. Nadine juga menyelipkan memo di parfum itu.


-terima kasih sudah memberiku ini tapi aku gak bisa simpan ini lebih lama, jadi kukembalikan-


Hari itu Arka seperti biasa memeriksa sample barang di tempat Nadine. Dan karena hubungan mereka yang mulai akrab, Arka tak lagi canggung untuk senyum dengan Nadine.


“Arka,” panggil Nadine ketika Arka hendak pergi,



“ya??” Arka berbalik menghadap Nadine,



“hari ini, hari ini gue *last* kerja,” ucapan Nadine sukses membuat Arka tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, membuat Nadine termenung sesaat.



“ohh,, i iya kah?? O ohh, oke deh... sukses ya bosku,” ucapan kaku Arka membuat Nadine merasa sedih.


*****


Ketika jam istirahat pukul 3 petang, Nadine pergi menemui Arka. Ia mengintip sedikit dan melihat Arka sedang menelepon seseorang.


-paling sama tunangnya- pikir Nadine.


“hei,” sapa Nadine tiba-tiba, membuat Arka berhenti menelpon.



“ya?”



“sorry ganggu, gue cuma bentar ko, gue udah nulis surat buat lu, dan gambar yang gue janjiin itu semuanya ada di loker gue, ini kuncinya, nomor loker 20.” Ucap Nadine memberi instruksi, kemudian memberikan Arka kunci lokernya.



“inget ya, no 20.” Setelah itu Nadine pergi.



Tangannya sedikit gemetar karena jantungnya yang berdebar ketika hendak memberikan kunci itu, apalagi membayangkan Arka akan membaca apa yang dia tulis, *oh my god, it’s cringe to infinity and beyond*.....


Nadine benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Arka ketika membaca suratnya. Membuatnya merinding geli dengan apa yang ia tulis.


********


Nadine benar-benar selesai dari tempat kerjanya, dan yang dia lakukan sebelum pergi ke bandara Minggu depan adalah menghabiskan waktu dengan teman-teman terdekatnya tentu saja.


Shopping


Quality time


Dan sebuah pesta kejuatan perpisahan dari devisinya, Nadine merasa sangat terharu dengan apa yang mereka siapkan untuk dirinya. Sewa cafe, kue bolu walaupun dia tak suka kue bolu tapi dia akui kue itu bentuknya cantik. Dan pastinya moment paling mengharukan selama ia bekerja bersama mereka sebagai satu tim. Nadine hampir saja menangis sesenggukan jika bukan karena gengsinya,


Dan....


Sebenarnya Nadine masih punya janji spesial dengan Arka di hari Senin. Setelah acara perpisahan dengan tim kerja di hari Minggu.


Nadine bersiap menemui Arka di mall yang sama seperti malam itu mall XXX.


Nadine sampai lebih dulu seperti biasa, dan ia menunggu di lantai dasar sembari membaca buku. Tak lama dari kejauhan ia menangkap sosok Arka dengan outer putih. Nadine hampir saja tersedak nafasnya sendiri.


Arka sangat rapi, dia berdandan dengan sangat rapi. Wow...


Sejujurnya, Nadine sedikit kesal karena Arka memang sering terlambat jika janji dengannya sehingga membuat Nadine sering sekali menunggu.


Sebenarnya hari ini adalah hari untuk menepati janji Arka yang akan mentraktir Nadine es krim. Sebenarnya ini permintaan Nadine ketika mereka putus, kemudian membuat Arka dan Clarissa ‘akur’ kembali.


Nadine bahkan hanya bercanda ketika memintanya, ternyata Arka masih mengingat janjinya. Ini juga salah satu alasan Nadine menyukai Arka. Dia lelaki yang tidak ingkar janji, yah untuk sebagiannya.


Tapi karena mereka belum makan siang, jadi mereka pergi makan terlebih dahulu.


Nadine dan Arka sekilas sangat mirip sepasang kekasih. Duduk dan makan siang berdua, bertukar cerita dan menikmati siang dengan santai.


Dan tiba-tiba, Clarissa menelfon Arka.


-aduh mampus gue, yang punyanya nelfon-


Nadine merasa dirinya seperti maling yang tertangkap basah.


“Clarissa ya?” tanya Nadine basa basi



“iya,”



“dia gak tau kita jalan??” tanya Nadine selidik.



“kaga,”



“jadi lu bohong sama dia dan bilang lagi ada urusan? Padahal lu jalan sama gue??”



“iya, demi melaksanakan janji gue ke lu kan,”



“tapi lu bohong sama dia ka? Lu gak kasian sama dia? Kalo dia tau dia bakal sakit hati,” ucap Nadine terdengar ironi, padahal dirinya juga curang dengan Arka.



“makanya jangan sampai dia tau, kan jaga hati,” senyuman Arka lebih terlihat seperti seringai yang memuakkan.



Nadine hanya bisa mendengus sebal



“oh iya, *by the way* suratnya udah dibaca???” tanya Nadine mengalihkan pembicaraan.



“oh itu... emm sudah belum ya..... emmmmm” Arka malah sengaja menggoda Nadine.



“ck serius lah,” desaknya tak sabar.



“eh foto dulu ah, untuk kenang-kenangan,” Arka malah asik memfoto Nadine walau yang difoto tidak mau difoto.



“liat deh, bagus ga??” tunjuk Arka membuat Nadine ikut melihat potret dirinya dalam ponsel Arka.



“bagus, kirim ke gue, terus hapus deh punya lu,”



“lah kenapa dihapus??” protes Arka.



“katanya mau jaga hati, ko foto gue tetep disimpan??” Nadine merebut ponsel Arka dengan sedikit paksa, Arka diam saja membiarkan Nadine.



“ini apaan dah...ko foto lama kita kaga dihapus katanya udah dihapus gimana sih,” omel Nadine tak terima foto-foto mereka masih Arka simpan.



“itu ke download otomatis dari google drive, kalo mau hapus, hapus aja,” jelas Arka.



“hapus aja sendiri,” suruh Nadine menyodorkan ponselnya.



“ga bisa, ga tega gue, gak sampe hati,” jawab Arka.



“halah lemah. Gue aja udah hapus semua foto foto kita, dan udah gak ada yang nyisa.” Nadine kembali memainkan ponsel Arka,



“eh, nomor gue lu hapus?? Ko gitu??” tanya Nadine, ternyata penyebab Arka tak lagi melihat status whatsapp nya benar, nomornya dihapus.



“bukan gue yang hapus, tapi Clarissa yang hapus,”



“ko bisa dia, kan kalian jauh.....”



“dia yang pegang akun google gue, dan dia yang hapus nomor lu secara permanen dari sana,” jelas Arka.



“sadisnya,” komentar Nadine sukses membuat Arka tertawa.



“oh iya suratnya???” tanya Nadine mengingat ke pertanyaannya sebelum ini.



“oh belum gue baca,”



“oh belum??” ada nada lega tapi kecewa dalam suara Nadine.



“kenapa?”



“serius belum??”



“udah sih...”



“dih yang bener, kalo udah kapan bacanya??”



“udah , pas gue sepi di gazebo belakang pas hari sabtu,”



“HAH?? SERIUS LO?? DEMI APA DAH!!!!” Nadine auto panic.



“iya serius napa dah lu,”




“kenapa si??”



“malu gue... lu baca ya?? Ehhh hueee maluuu mama....”



“dih, ya kalo kaga mau dibaca jangan ditulis terus dikasi ke gue suruh baca, gimana dah,”



“iyasih, gue tuh pengen lu baca tapi gue malu kalo lu baca,” ucap Nadine menutup separuh wajahnya, membuat Arka merasa gemas sendiri.



“kenapa sih....” Arka sengaja menggantung kalimatnya,



“hm?”



“kenapa sih kita dipertemukan kalau tidak disatukan,” ucapan Arka seolah panah yang menembus tepat ke jantung Nadine. Seketika hatinya ngilu.



“pas gue baca surat lu, gue ngerasa sedih, gue ga rela kita pisah, rasanya mau nangis tapi gak bisa keluarin air mata,” terlihat samar-samar mata Arka yang mulai memerah dan berair, namun segera di usapnya.



“ha?? Jangan nangis.....” nadine merasa sedih tapi juga konyol dengan apa yang Arka ucapkan.



“gue gak pernah ketemu perempuan kaya lu, seandainya aja kita jodoh...”



“cukup Arka, jangan ngayal mulu, berhenti bilang seandainya, lagi pula Clarissa juga perempuan yang ok kan? Kalo gak ok lu gak bakal mau sama dia,”



“iya sih, tapi lu beda, lu lebih...”



“sayangnya kita gak bisa sama-sama” ucapan Nadine seperti melodi paling pilu yang pernah mereka dengar.


Hening......


“pindah yu, panas, katanya mau es krim.” Ucap Arka kemudian.



“oke,” Nadine mengikuti Arka ke kedai es krim.


-----------------------------------------------------


“tau gak sih gue pertama makan di kedai ini sama mantan gue sebelum sama lu,” ucap Nadine ketika es krim mereka tiba.



“oh jadi gue ngikutin dia nih ceritanya??” ucap Arka merasa tersindir.



“hehehe dan menu yang kita pesen juga sama, waktu itu gue pesen mix buah, dan dia coklat, sekarang juga sama, gue mix buah dan lu coklat. Betewe coklat itu manis banget, gue gak bisa makan yang sangat manis begitu,”



“iyalah kan lu udah manis,”



“apaan sih lu, gombal mulu sebel.”



“sebel tapi di rindui,” skak mat, ucapan Arka skak mat untuk Nadine.


Mereka pun menikmati es krimnya dengan tenang, walaupun Arka akhirnya menyerah dengan es krim coklatnya yang terlampau manis.


“abis ini kita kemana?” tanya Arka setelah keluar dari kedai.



“kemana lagi, pulang lah, entar malem lu masuk kerja kan jaga malem?”



“iya sih, tapi masih lama, masih ada waktu 2 jam lagi buat jalan,” Arka melirik jam di lengannya yang menunjukan pukul 4.30 petang.



“hmmm kemana ya? Ada ide?”



“gimana kalo ke Taman kota??”



“Taman kota?? Ohh boleh deh,”



Taman Kota adalah tepat yang sangat cantik untuk kencan, karena di sana ada banyak wahana permainan dengan lampu yang warna warni menghiasi pohon-pohon dan salah satu tempat favorit Nadine untuk jalan-jalan dimalam hari karena suasananya yang cantik.



20 menit perjalanan di dalam taxi sama sekali tak ada percakapan.



Nadine ingat betul dengan kencan pertamanya di tempat ini dengan Arka, dan yang paling Nadine ingat adalah permintaannya untuk makan pizza, entah kenapa memori itu yang ia ingat.



Nadine juga ingat di sini adalah saat pertama kali ia mengetahui tentang Clarissa. Ia tersenyum pahit memandang tempat duduknya kala itu.



“mau ngapain kita disini??” tanya Nadine sambil memandang langit yang mulai gelap.



“bersenang-senang tentunya,” Arka mengajaknya membeli tiket untuk wahana


Nadine terdiam ia termenung lama, fikirannya benar-benar berantakan. Tempat ini sangat penuh dengan memori.


“yuk, kita naik kereta gantung.” Ucap Arka menunjuk kereta yang ada di atas kepala mereka. Nadine hanya mengangguk menyetujui.



Rasanya ia ingin sekali menghentikan waktu saat itu juga, kenapa saat-saat yang menyenangkan seperti ini selalu cepat berlalu dan hanya akan menjadi kenangan di masa depan?


“Nad, sukses ya nanti. Aku sayang kamu,”


Nadine tak membalas, dia hanya tersenyum seadanya, seolah tak rela Arka mengucapkan kalimat itu.


“eh liat sana ada yang mau foto,” Nadine refleks melihat ke arah yang Arka tunjuk, ternyata di tengah perjalanan ada seorang petugas untuk mengambil foto para pengunjung, Nadine berpose dengan kikuk.


“ada yang foto ternyata,” celetuknya kemudian,


Sisanya mereka menikmati pemandangan taman dari atas, entah kenapa malam itu lampu-lampu disana terlihat lebih bersinar dari biasanya,


“yah udah selesai yuk turun,” ucap Arka kecewa karena kereta sudah berhenti di titik awal mereka mulai.


“perasaan kaya cuma 2 menit,” Nadine menimpali,


“kak, untuk cetak foto ada di sebelah sini ya,” ucap si petugas ketika Nadine menuruni tangga.


“foto?” Nadine melirik Arka.


“itu foto yang tadi di atas, kan ada yang fotoin,”


“ohhh”


“mau di cetak gak??” tawar Arka.


“buat apa?”


“kenang-kenangan lah,”


“kaga ah makasih, entar gue ga bisa move on kalo dikasi kenangan gituan,”


Arka tertawa mendengar ucapan Nadine yang kelewat jujur.


“emangnya kalo di cetak, lu mau simpen??” tanya Nadine balik


“kaga dah, bisa di bunuh gue sama Rissa,”


Kali ini Nadine yang tertawa.


“hei, lu gak kerja??” tanya Nadine ketika sadar jam sudah menunjukan pukul 7 malam.


“kaga, gue bolos aja,”


“loh kok gitu??”


“kapan lagi gue jalan sama lu kalo bukan sekarang?” Arka diam memandang Nadine lurus-lurus membuat yang dipandang terdiam.


“hm, naik apa lagi nih?? Kora-kora mau??” tawar Arka


“gak deh makasih, gue mau main wahana yang kalem aja,”


“oh, oke,”


“nah naik itu aja,” tunjuk Nadine


“komedi putar??” tanya Arka shock


“iya...ayo...” Nadine menarik Arka tak sabar


Nadine duduk di kereta kencana sementara Arka duduk di kuda-kudaan komedi putar


“berasa wahana pribadi, masa gak ada yang naik ini selain kita,” ucap Nadine melirik sekeliling yang memang tidak ada orang lain selain mereka.


“hehe, berarti mereka tau kalo kita lagi kencan,”


Nadine rolling eyes mendengar ucapan Arka.


“lu ngapain sih naik gituan?” tanya Nadine merasa konyol melihat Arka naik kuda-kudaan.


“kan lu yang suruh, gimana sih,”


“gak nyadar umur banget sih,”


“eh gue masih muda ya...” ucap Arka tak terima.


“berapa umurmu pak..” goda Nadine


“gue kan baru 12 kaka,”


“wkwwkwk dua belas kali dua,” ucap Nadine sebelum tawanya pecah, tanpa sadar Arka terus merekam Nadine sedari tadi.


Hampir seluruh wahana mereka coba, malam semakin larut. Mereka terduduk memandangi air mancur warna warni yang di iringi musik.


“lu sama Clarissa gimana? Baik-baik aja kan?” tanya Nadine