
Seharusnya Askara menikmati liburannya dengan nyaman, tetapi karena suatu keadaan Askara memilih untuk mengakhiri liburan mereka meskipun belum waktunya.
Mendengar pernyataan dari bosnya, Kai sangat terkejut. Padahal baru kemarin Bos dan istrinya sampai di pulau Bali tetapi sore ini sudah harus terbang untuk pulang.
"Bos, apakah ada masalah yang serius sehingga Anda harus pulang saat ini juga? Anda Baru saja sampai. Belum juga menikmati suasana di pulau ini tapi anda harus pulang lagi. Ada apa?" tanya Kai dengan rasa penasarannya.
"Iya, memang ada sedikit masalah tetapi tidak serius. Kamu tidak usah memikirkan masalah ini aku bisa mengatasi sendiri. Nikmati saja waktu liburanmu."
Asha hanya pasrah saja ketika Askara memutuskan untuk pulang ke ibukota. Dengan berat hati dia merelakan waktu yang seharusnya menjadi moment honeymoon mereka. Namun nyatanya harus gagal total.
"Sha, aku benar-benar minta maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman dengan liburan kita. Tapi Aku berjanji akan mengajakmu berlibur lagi nanti," ujar Askara saat keduanya sudah menuju ke bandara.
"Gak papa, Ra. Masih ada lain waktu."
Askara hanya membuang nafas kasarnya. Bagiamana tidak, baru saja tiba di pulau Bali dia harus menerima sebuah telepon dari Karina yang semakin hari semakin berani untuk mengancamnya. Bahkan Karina tidak main-main dengan ancaman ketika Askara mengabaikan dirinya.
Asha yang terus mengamati gerak-gerik suaminya merasa jika saat ini sang suami sedang menyembunyikan sesuatu darinya ia Namun, Saat ditanya ada apa Askara tidak mau menceritakan masalah itu kepada Asha.
"Ra, jika kamu ada ada masalah, ceritalah! Aku akan mendengarkan ceritamu," kata Asha untuk menghibur Askara.
"Kamu enggak usah khawatir, aku enggak papa. Ini hanya masalah kecil, tetapi kemarin aku lupa untuk memberitahunya saja. Sudahlah, jangan berpikir berlebihan.".
"Terima kasih, Sha"
Askara menyandarkan kepalanya di bahu Asha saat pesawat yang mereka tumpangi sudah naik. Berharap semua akan baik-baik saja.
Semua kisah masa lalu yang sudah berhasil digenggamnya lagi, tidak mungkin akan hilang hanya karena kebodohannya. Bahkan selama ini Askara juga sudah bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.
Asha menutup mulutnya dengan rasa terkejut yang luar biasa. Baru saja sampai ke rumah, kondisi rumah sangat berantakan. Benarkah vas dan gucci hancur tak berbekas. Melihat keadaan rumah yang seperti sedang disatroni oleh maling, Kenza langsung masuk untuk memeriksanya
"Bi .... Bi Sumi!" teriak Asha.
Tak ada satu orang pun yang menyahuti panggilannya, membuat Kenza semakin merasa penasaran apa yang telah terjadi sebenarnya.
"Kara. kenapa kamu diam aja disitu? Ayo masuk!"
Kara masih tak percaya apa yang telah terjadi di dalam rumahnya. Hampir semua perabot yang ada di rumahnya hancur. Dengan langkah gontai, Askara pun mengikuti Asha untuk masuk ke dalam rumah yang seperti kapal pecah akibat hantaman sebuah badai.
"Ra, rumah ini sudah kebobolan sama maling," ujar Asha.
Askara masih terdiam. Setelah sampai di dalam kamar dua insan itu saling bersitatap saat melihat seorang wanita sedang duduk diatas tempat tidur mereka.
Asha yang sangat mengenali wanita itu langsung mendekat. Dengan wajah yang terheran Asha langsung bertanya apa yang sedang dilakukan di kamarnya. Namun pertanyaan Asha tak mendapatkan respon.
"Kara, dia kenapa?" tanya Asha pada Askara.
"Dia—"
"Asha, alu benci kamu! Sangat benci! Mengapa kamu kembali lagi? Kenapa?" Wanita yang tak lain adalah karena langsung berdiri dan langsung mendorong tubuh Asha. Beruntung saja Asha tidak jatuh.
"Karin!" sentak Askara.