My Ex

My Ex
Bab 61



"Tapi Lio, jika Sasha tidak ikut siapa yang akan menjaga Ivy?" protes Arneta dengan tak terima.


"Ada Anna yang akan menjaganya."


"Iya, aku tahu. Maksudku siapa yang akan mengasuhnya?" Karena tidak mungkin Anna menjaga putrinya seperti seorang pengasuh. Apalagi wanita itu pun pasti memiliki pekerjaan dan kesibukan lainnya.


"Aku akan mempekerjakan pengasuh yang berpengalaman di sana."


"Tapi—"


"Kau sudah siap Ivy?" Lio menyela perkataan Arneta.


Ivy menganggukkan kepalanya dengan sendu, karena itu artinya ia akan berpisah dengan Mom Arneta.


"Mommy..." Ivy berlari dengan memeluk kaki mommy nya.


"Sayang," Arneta bersimpuh mensejajarkan tubuh mereka agar bisa memeluk putrinya dengan erat. "Kau tidak keberatan Aunty Sasha tidak ikut?" tanyanya dengan harapan agar putrinya meminta pada Lio agar Sasha ikut bersama mereka ke Paris.


Sungguh Arneta tidak tega jika membiarkan Ivy pergi pergi sendirian tanpa didampingi oleh orang kepercayaannya.


Ivy kembali menganggukkan kepalanya. "Kalau Aunty Sasha ikut, Mommy akan sendirian dan tidak ada yang menjaga."


"Tapi sayang, Mommy tidak apa-apa sendirian dan tidak perlu dijaga. Kalau Ivy masih kecil jadi harus dijaga Aunty Sasha."


Ivy kali ini menggelengkan kepalanya. "Daddy bilang di sana akan ada pengasuh baru yang akan menjaga Ivy. Lagi pula bukankah Mommy dan Aunty Sasha akan menyusul Ivy secepatnya?"


Deg


Arneta terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi. Karena tidak mungkin ia berterus terang, dengan mengatakan jika dirinya maupun Sasha tidak akan pernah menyusul Ivy ke Paris.


"Mommy janjikan?" Ivy kembali bertanya karena melihat Mommy nya diam saja.


"Ivy ingatkan apa yang kemarin Mommy ucapkan?"


Ivy menganggukkan kepalanya dengan menangis di dalam pelukan Mom Arneta.


"Bagus, anak pintar," Arneta melepas pelukannya untuk bisa menatap wajah cantik putrinya. "Jangan menangis lagi sayang!" ia pun mengusap air mata di kedua pipi putrinya, meskipun air matanya sendiri kini tengah mengalir dengan deras.


Lama Arneta menatap wajah Ivy untuk mengingat dengan jelas wajah putrinya yang pasti akan sangat dirindukannya. Sementara itu semua orang yang ada di ruangan tersebut pun ikut hanyut dengan apa yang mereka lihat. Termasuk Anna, karena bagaimana pun wanita itu tahu rasanya pasti sangat sedih berpisah dengan orang yang kita sayang dan cintai. Itu sebabnya Anna tidak bisa melepas Lio, pria yang sangat ia cintai karena tidak ingin merasakan kesedihan tersebut.


Lio sendiri hanya diam dengan raut wajah dinginnya, menatap pada Arneta dan Ivy yang kini tengah menangis. Ingin rasanya ia memeluk kedua wanita yang sangat ia cintai itu, namun tidak sanggup mengingat kesedihan yang dirasakan Arneta dan Ivy karena perbuatannya terutama karena janjinya pada Anna.


"Mommy sayang Ivy." Arneta mengusap wajah putrinya lalu menciumnya dengan berulangkali.


"Ivy juga sayang Mommy." Ivy balas dengan mencium pipi Mom Arneta.


"Ayo Ivy, kita harus pergi sekarang!" Anna mengulurkan tangannya pada putri Lio.


Namun sayangnya Ivy tidak menyambut uluran tangan tersebut, dan lebih memilih berlari kearah Lio. Apakah Anna merasa kecewa? Sudah pasti ia kecewa. Tapi Anna sudah bertekad untuk mengambil hati Ivy dan Lio, hingga apa yang terjadi saat ini tidak ia masukkan ke dalam hati.


"Arneta apa kau yakin tidak ingin ikut mengantar kami ke Bandara?"


Arneta menganggukkan kepala sembari mengusap air matanya. Ya, Arneta memang memilih untuk tidak ikut mengantar Ivy ke Bandara, karena takut tidak bisa menahan tangisnya seperti saat ini.


"Ayo kita berangkat sekarang!" Lio menggendong Ivy sembari berjalan ke arah Arneta. "Ucapkan selamat tinggal pada Mommy mu!"


Ivy menatap Mom Arneta masih dengan mata berkaca-kaca. "Selamat tinggal Mommy, Ivy menunggu Mommy di sana." ia pun memeluk Mom Arneta hingga membuat tubuh Lio dan Arneta pun mendekat.


Membuat Anna memalingkan wajahnya, karena tidak sanggup melihat pemandangan tersebut. Apalagi melihat kesedihan di kedua mata Lio, dari balik raut wajah dingin yang diperlihatkan suaminya tersebut.