
Suara burung terdengar bersaut-sautan. Mata Nadine masih terpejam sebelum ia terbangun oleh suara bising dari ponselnya. Nadine berusaha menggapai ponselnya dan menyetuh layarnya berharap suara bising itu segara berhenti.
Tapi ternyata setelah ia menyentuhnya beberapa kali, suara itu tetap berbunyi dan semakin nyaring. Dengan setengah sadar, ia membuka matanya dan melihat layarnya. Tertera nama si penelepon dilayar ponselnya.
Kemudian jempolnya ia usap keatas dan menempelkan ponselnya ke telinganya, sebelah tangannya masih mengucek-ngucek matanya yang masih setengah terpejam.
“hallo?” sapa Nadine dengan suara serak khas bangun tidurnya.
“selamat pagi sayang,” sapa suara lelaki yang tak asing bagi telinga Nadine.
“ada apa? Tumben banget nelfon pagi-pagi?” katanya kemudian.
“tidak ada apa-apa cuma mau memastikan kalau kesayanganku sudah sampai di tujuannya dengan selamat.” Kata lelaki itu dengan sudut bibir yang tertarik keatas.
“aku udah nyampe Arka, ga usah khawatir, penerbangannya aman,”
“syukurlah kalau begitu, gimana tidurnya nyenyak?” tanyanya kemudian.
Nadine mulai beranjak dari tempet tidurnya dan berjalan menuju jendela kamarnya, ia membuka gorden dan masih bertelepon ria dengan Arka-mantan kekasihnya- pagi ini.
Nadine kini sudah berada jauh dari jangkauan Arka berpuluh-puluh kilo meter melintasi lautan, dan entah mereka akan bertemu lagi atau tidak, tapi bagaimanapun perasaan keduanya masih belum banyak berubah.
Nadine hanya berharap dengan jauhnya mereka, bisa membuat Nadine lebih cepat melupakan Arka, dan begitu pula sebaliknya. Karena Nadine tau Arka akan segera menikah dengan Clarissa meskipun entah kapan.
Kini Nadine sedang disibukkan sengan persiapannya untuk melanjutkan study-nya ayng sempat tertunda. Ia dengan semangat menata buku-buku barunya yang akan menjadi santapannya sehari hari mulai dari sekarang.
\#\#\#
Arka kini tengah disibukan dengan persiapannya untuk menikah. Sesekali ia merasa merindukan Nadine dan beberapa kali menelefonnya. Hingga membuat nadine sedikit jengah dengan kelakuan Arka dan memarahi Arka malam itu.
“stop nelfon aku ka, kamu harus inget kamu udah mau nikah, gak pantes kamu masih manggil-manggil aku sayang dan nelfon aku kaya gini, aku juga mau move on, ga adil dong kamu udah ada Clarissa aku masih sendiri, dan kamu gak mau lepasin aku,” isak Nadine malam itu terdengar putus asa dengan kelakuan Arka yang tidak berubah padanya.
“jadi kamu ga mau kita kontekan lagi? Sekalipun Cuma temenan?” tanya Arka diujung telfon
“ kamu nyiksa aku kalo gitu caranya, aku tau kamu bakal jadi milik orang lain, dan kamu masih gak mau jauh dari aku, kamu egois Arka!”
Terdengar hembusan nafas yang cukup kasar sebelum Arka menjawab,
“aku minta maaf, aku salah, aku begini karena masih berat buat lepasin kamu...”
“cukup!” potong Nadine sudah tak tahan lagi,
“cukup Arka, lepasin aku dan jangan pernah hubungin aku lagi, kita udah selesai, please jangan terus kaya gini gue capek.” Sambung Nadine sebelum telfon terputus.
Arka hanya diam merasakan sakit di dadanya, terasa sesak. *Kenapa kita berjumpa.... kalau harus dipisahkan*, batinnya tak terima.
“sayang, aku udah selesai milih baju buat nanti nikahan kita, ayo kita pulang,” ucapnya ceria sembari menggandeng tangan Arka keluar dari tiko baju pengantin.
Arka tak membalas apa-apa ia hanya tersenyum simpul dan mengikuti langkah Clarissa keluar toko menuju parkiran.
****
Beberapa minggu setelah nya,
Nadine pergi ke kantin untuk beristirahat setelah ia keluar dari ruang textile. Yap, Nadine kini kuliah di Fakultas Tata Busana.
Ddrrrrttt.... drrrrrttt....
Ponselnya bergetar, tertera pesan masuk dari temannya, Julia. Ia segera membuka pesannya dan hampir saya ia tersedak minumannya sendiri. Ia melihat Arka dengan Clarissa bergandengan di Altar memakai baju pengantin.
Mereka sudah menikah.
Julia
Hai Nad, ga mau nyampein apa apa gitu sama penganten?
Nadine meremas ponselnya dengan geram membaca isi pesan dan foto yang dikirim Julia. Belum sempat ia membalas pesannya, Nadine mengumpat dan menggebrak meja tanpa sengaja malah membuat tumpah minumannya sendiri.
“ya Tuhan!” kagetnya menyadari minumannya tumpah mengenai kaki seseorang, Nadine menutup mulutnya kaget dan segera bangun dari kursinya dan mengambil tisu di meja.
“maaf...maaf banget gak sengaja,” pekiknya cepat sambil mengusap minumannya yang berceceran mengenai sepatu orang tersebut.
Tiba-tiba orang tersebut berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan Nadine, menyentuh tangan Nadine yang sibuk membersihkan minumannya yang tumpah membuat Nadine diam seketika dan mengangkat wajahnya memandang siapa gerangan yang ia tumpahi minuman di sepatunya.
Seorang lelaki dengan hidung mancung dan sorot mata yang tajam tapi sayu tersenyum kepada Nadine, menyentuh tangannya mengisyaratkannya untuk berhenti. Ia membantu Nadine berdiri.
“maaf banget, gak sengaja,” cicit Nadine masih tidak enak karena kecerobohannya.
“iya gak papa, sepatu gue anti air kok,” katanya dengan ramah setengah bergurau,
Jangan lupa dengan senyuman simpul di wajah tampannya membuat Nadine membeku beberapa saat.
“emm...boleh sekalian ikut gabung dimeja?” ucapnya kemudian.
“ahh! Iya silahkan,” Nadine baru tersadar dari lamunannya.
Dan akhirnya ia makan 1 meja berdua dengan lelaki tampan tersebut yang ternyata teman satu jurusannya, mereka sama-sama anak baru.
Nadine sampai melupakan pesan dari Julia dan tidak membalasnya lagi.
*****
Percayalah, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, dan setiap apa yang diambil darimu pasti akan diganti dengan yang lebih baik.
Takdir itu tidak akan pernah salah alamat.
Manusia hanya merencanakan, dan Tuhan yang menentukan.
-Tamat-