My Ex

My Ex
Adonan Martabak



Lagi-lagi ada sebuah kejanggalan yang begitu sulit untuk diungkapkan. Seakan semua sudah direncanakan dengan matang tanpa meninggalkan sebuah jejak dan pada akhirnya saling lempar melemparkan kesalahan.


Tidak ada yang mau mengakui kesalahan yang telah dibuat. Bahkan saat ditanya satu persatu tidak ada yang mengetahui siapa yang menurunkan perintah untuk melakukan rapat dadakan tanpa sepengetahuan dari sang pemilik perusahaan.


Di ruang kerjanya Askara beserta Kai terus mengecek CCTV untuk menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan. Namun, tak ada tanda-tanda keduanya menemukan pelakunya.


"Kenapa masalah seperti ini saja tidak bisa kamu selesaikan Kai?" tanya Askara dengan rasa kecewa kepada Kaisar. Bahkan Kai juga belum bisa menemukan dalang dibalik orang yang telah berani untuk melecehkan Asha.


"Maaf Bos, tapi aku sudah berusaha dengan keras untuk menemukan orang tersebut. Hanya saja orang ini sama sekali tidak meninggalkan jejaknya sehingga aku sangat kesulitan untuk menemukannya," jelas Kaisar dengan apa adanya. "Aku yakin ada sebuah kerjasama antara beberapa orang untuk menyembunyikan rapat-rapat masalah ini, bos."


"Makanya kamu selidiki dengan benar. Masa iya, kasus seperti ini saja kamu tidak bisa menanganinya Kai?"


"Maaf Bos, jika aku sudah mengecewakan Anda. Aku berjanji setelah ini akan menyeret orang itu ke hadapan Anda."


"Baiklah, aku pegang janjimu! Awas saja sudah kamu tidak bisa menepati janjimu. Siap-siap gaji kamu akan menjadi taruhannya!" ancam Askara.


Kaisar hanya mengangguk pasrah. Kini tugasnya bertambah lagi.


🌼🌼


Karena harus menangani sebuah masalah, akhirnya Askara terlambat untuk pulang ke rumah. Namun, sebelumnya dia sudah memberitahu kepada Asha jika akan pulang telat agar Asha tidak mengkhawatirkan dirinya.


Tepat pukul tujuh malam, Askara baru sampai si rumah. Dengan wajah lelahnya, dia masuk kedalam rumah. Saat melihat Asha duduk di depan televisi, tiba-tiba nyawanya yang hampir menghilang kembali lagi sepenuhnya. Apalagi saat membayangkan malam yang akan dia lewat nanti bersama dengan Asha, tentu saja Askara semakin bersemangat.


"Baru pulang?" tanya Asha saat Askara yang telah menjatuhkan tubuhnya di samping Asha.


"Iya. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan," ujar Askara.


"Ya udah, mandi sana!"


Askara menggeleng pelan dan malah berkelayutan manja di lengan Asha. "Nanti aja mandinya, toh keringat lagi."


"Memangnya kamu mau ngapain lagi?"


"Mau buat adonan martabak."


Asha langsung mendelik. Seketika langsung melepaskan tangan Askara yang menggelayut di lengannya. "Dih .. mulai deh! Mandi sana! Bau acem!"


"Gak mau!"


"Ya udah kalau nggak mau mandi nggak usah tidur di kamar!" ancam Asha.


"Hei... mana bisa seperti itu! Itu kamarku. Atas dasar apa aku tidak boleh tidur di kamarku sendiri?"


"Atas dasar kamu enggak mandi!"


Karena tidak ingin tidur luar Askara pun langsung mandi. Sebenarnya Askara hanya melontarkan candaannya saja, tetapi Asha menanggapinya dengan serius.


Rasa yang dulu telah mati, kini hidup kembali. Jika dulu hanya ada kebencian, kini rasa itu berubah menjadi budak cinta. Cinta Askara untuk Asha terlalu besar hingga rasanya tidak akan melepaskan setelah berhasil menangkapnya lagi.


Malam yang sudah direncanakan untuk membuat adonan martabak ternyata tidak berjalan sesuai rencana. Aksara yang kelelahan malah langsung tertidur tanpa mengingat lagi jika dia harus membuat adonan. Asha yang melihat Askara tidur dengan puas langsung menyelimutinya.


Wajah lelah masih bisa terbaca oleh Asha, meskipun saat ini Askara sedang tidur. Asha yakin jika saat Askara sedang menghadapi sebuah masalah. Mungkin semua ini ada hubungannya dengan ancaman Karina tadi?


"Kara, apakah kita bisa melewati pernikahan ini tanpa halangan yang melintang lagi? Apakah kita bisa hidup bahagia sampai menua bersama?" Asha mengelus pipi Askara sebelum merebahkan tubuhnya disamping Askara.


Malam terasa sangat cepat berlalu. Rasanya baru sebentar memejamkan mata, tiba-tiba sang fajar telah menyapa kembali.


Asha menggeliat dengan pelan. Dilihatnya Askara masih terpejam. Ingin rasanya tenggelam dari permukaan bumi ketika melihat apa yang telah terjadi kepada dirinya tadi malam. Bisa-bisa tengah malam kedua bisa hanyut dalam pembuatan adonan martabak, hingga membuatnya lupa waktu.


"Kara, bangun!" Kini Asha menggoyangkan tubuh Askara untuk bangun.


"Udah pagi. Kamu harus persiapan untuk ke kantor."


"Tapi masih ngantuk, Sha!"


"Terserah kamu aja. Yang penting aku sudah membangunkanmu!" Asha pun langsung beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.


Tubuhnya hampir remuk saat harus melayani keganasan suaminya setiap malam. Mungkin dengan berendam bisa menghilangkan rasa lelahnya.


Baru saja masuk kedalam bathup, tiba-tiba Asha harus dibuat terbelalak dengan Askara yang sudah memeluknya dari belakang.


"Kara!" sentak Asha.


"Kita belum pernah mencoba sesuatu yang baru. Bagaimana kalau kita bermain di air terlebih dahulu pasti akan terasa berbeda," celetuk Askara tanpa rasa bersalahnya.


"Dih ... apaan sih, Ra! Badanku tuh rasanya kayak mau remuk. Gak usah aneh-aneh, deh!"


"Bukan aneh-aneh, Sha. Ayolah!" Tangan Askara sudah bermain nakal di depan dada Asha. Tidak ada perlawanan yang bisa dilakukan, ketika Askara sudah menguasai tubuh Asha.


Seharusnya waktu mandi Asha hanya sekitar lima menit. Namun, karena suatu keadaan yang tidak bisa ditolak akhirnya waktu mandinya harus memakan waktu kurang lebih 30 menit.


Sejak tadi ketukan pintu kamar terus terdengar. Sesekali suara Bi Sumi memanggil majikannya, karena dibawah telah ditunggu oleh Kaisar.


Tokk ... tokkk tokk


"Tuan Kara. Di bawah ada Mas Kai yang sudah hampir lumutan untuk menunggu Anda." Bi Sumi belum beranjak dari depan pintu karena belum mendapatkan jawaban dari dalam kamar.


Aksara yang samar-samar mendengar ketukan pintu memilih untuk mengabaikannya karena kegiatannya belum selesai.


"Kara, sepertinya Bi Sumi manggil deh!" Asha mencoba untuk memberitahu Askara.


"Biarkan saja. Mending kita cepat selesaikan adonan ini!" kata Askara dengan nafas terengah-engah.


Diluar sana, Bi Sumi tidak putus asa sebelum mendapatkan jawaban. Bi Sumi terus mengetuk pintu, karena dia mengira jika majikannya belum bangun.


Kaisar yang sejak pagi buta telah sampai di rumah Askara hanya mendengkus kasar ketika bosnya tak kunjung datang. Sebagai seorang pria, Kai sudah bisa menebak apa yang sedang dilakukan oleh bosnya sehingga tak kunjung menemuinya.


"Jika tahu akan seperti ini, aku tidak akan datang lebih awal! Aku benar-benar menyesal ingin memberitahu masalah ini secepatnya, jika pada akhirnya bos masih bercocok tanam. Argh, dasar bos sialan!" Lagi-lagi Kai harus mengumpat dengan rasa kesalnya.


Pagi ini Kai sengaja mendatangi rumah bosnya karena ingin menyampaikan hasil penyelidikannya tadi malam. Demi mempertahankan sebuah gaji, Kai rela tidak tidur untuk menemukan titik terang dari kejadian demi kejadian yang datang. Dan ternyata tebakan mereka ada benarnya jika ada beberapa orang yang sengaja telah bekerja sama untuk menjatuhkan Asha. Kai sampai bingung mengapa harus Asha yang diserang, padahal Asha baru bekerja belum genap satu bulan. Tapi mengapa sudah ada banyak yang tidak menyukai dirinya.


Karena terlalu lama menunggu kedatangan Bosnya, mata Kai terserap oleh rasa kantuknya.


"Itu Kai kenapa, Ra?" tanya Asha saat melihat tubuh Kai tergeletak di atas apa.


Askara menautkan kedua alisnya karena tidak tahu apa yang telah terjadi kepada Kaisar.


"Dia tidak mati, kan?" tanya Asha lagi.


"Sembarang kamu, Sha!" tegur Askara.


Langkah Askara semakin mendekat kearah Kai. Perlahan tangannya ditempelkan di depan Kai untuk memastikan apakah Kaisar masih bernapas atau tidak.


Akhirnya Askara bernapas dengan lega ketika masih merasakan nafas hangat yang keluar dari Kaisar.


"Syukurlah, dia masih hidup," ujarnya.


Mendengar ucapan Askara, Asha pun juga bernafas lega karena Kaisar masih hidup. "Syukurlah," timpal Asha.