
"Aku mohon jaga putri kita dengan baik," lirih Arneta pada Lio dengan kembali menangis.
"Tentu akan ku jaga." Lio menatap wajah Arneta dengan intens, sampai akhirnya ia beranjak dari ruangan tersebut bersama Ivy dan Anna.
"Bye Mommy," Ivy melambaikan tangannya.
Arneta pun membalas lambaian tersebut, sembari berjalan mengiringi kepergian Ivy yang kini masuk ke dalam mobil. Lama ia menatap kepergian mobil yang ditumpangi Ivy, sampai akhirnya mobil tersebut menghilang dari pandangannya setelah keluar dari gerbang mansion.
"Ivy pergi Sa, dia sudah pergi," lirih Arneta dengan terisak.
"Kak..." Sasha pun memeluk Arneta dengan menguatkan wanita tersebut. "Kak Neta jangan menangis! Ingat Kakak sedang mengandung. Lagi pula Kakak melepas Ivy juga demi masa depan dan kebahagiaannya?"
Arneta menganggukkan kepalanya sembari mengusap air matanya. "Ya, kau benar Sa. Aku tidak boleh menangis demi kebahagiaan Ivy."
Sasha pun tersenyum dengan mengusap punggung Arneta.
"Ayo kita pergi, Sa!"
"Pergi?" tanya Sasha dengan bingung.
"Kita harus pergi dari mansion ini, karena sudah tidak ada Ivy."
"Tapi Kak, kita akan pergi kemana?"
"Kita akan pergi —"
Arneta terdiam saat melihat sebuah mobil mewah masuk ke dalam gerbang mansion. Begitupun dengan Sasha yang ikut menatap pada mobil tersebut.
"Yogi?" ucap Arneta dengan terkejut saat melihat yang keluar dari dalam mobil tersebut adalah asisten pribadi Lio Richard.
Bukankah seharusnya Yogi ikut ke Paris, mengingat pekerjaan pria itu yang mengharuskan untuk terus berada di samping tuannya.
"Nyonya Arneta," sapa Yogi dengan hormat. "Anda pasti terkejut dengan kedatanganku."
"Kedatanganku kemari hanya ingin memberikan ini." Yogi menyerahkan berkas yang dititipkan oleh tuan Lio.
"Apa ini?" tanya Arneta dengan bingung sembari membuka berkas tersebut.
"Di dalamnya ada sertifikat rumah mewah atas nama Anda, juga ada cek kosong yang bisa Anda tulis berapa pun jumlah yang diinginkan," jelas Yogi. "Dan ini kunci rumah dan kunci mobil milik Anda." Ia menyerahkan semua kunci tersebut, sembari menunjuk pada mobil baru yang dibawanya tadi yang merupakan milik Arneta.
"Untuk apa semua ini? Aku tidak membutuhkannya."
Arneta menyerahkan kembali semua berkas dan kunci tersebut, namun Yogi tidak mau menerimanya.
"Tuan Lio bilang jika Anda tidak mau memakainya, simpan saja!"
Arneta menghela napasnya dengan menatap berkas tersebut. Lama ia berpikir sampai akhirnya mau tidak mau Arneta pun menerima berkas tersebut dengan memberikannya pada Sasha.
"Ayo Sa!"
"Tunggu Nyonya!" Yogi menahan langkah Arneta dan Sasha. "Tuan Lio juga berpesan Anda harus tetap tinggal di mansion ini."
"Untuk apa aku tinggal di sini, bukankah putriku sudah pergi."
Yogi terdiam sesaat karena tidak bisa menjawab pertanyaan Arneta. "Aku hanya menjalankan tugas dengan menyampaikan apa yang di perintahkan Tuan Lio."
Arneta menghela napasnya dengan kasar. "Kalau begitu aku ingin bertanya, untuk apa Tuanmu memberikan semua ini?" tunjuknya pada berkas yang ada di tangan Sasha. "Asal kau tahu, aku tidak memerlukan sepeserpun harta Tuanmu itu," ucapnya saat melihat Yogi diam tidak bisa menjawab pertanyaannya. "Ayo Sa, kita berkemas dan cepat pergi dari mansion ini."
Arneta tidak ingin lebih lama lagi tinggal di mansion Richard. Karena baginya mansion ini penuh dengan kenangan pahit, di mana ia harus kehilangan Ivy setelah bertahan dengan semua kesakitan yang dirasakannya.
"Tunggu Kak, boleh aku berbicara dengan dia sebentar. Eh, maksudku dengan Tuan Yogi," Sasha meralat ucapannya dengan tersipu malu.
Membuat Arneta mengerutkan keningnya dengan bingung, terlebih saat melihat Yogi pun tersenyum pada Sasha seolah keduanya memiliki hubungan dekat.
"Kalian....?"