
Setelah malam kesepakatan yang terjadi di antara mereka. Lio pun menepati janjinya dengan memberikan waktu bagi Arneta untuk bersama Ivy. Dan waktu itu pun dipergunakan oleh Arneta dengan sebaik mungkin dengan mengajak putri tercintanya itu tidur bersama dalam satu kamar. Tidak hanya itu saja, Arneta pun mengajak Ivy ke tempat hiburan yang selama ini ingin di kunjungi putrinya, namun belum sempat mereka datangi karena kesibukannya dalam bekerja.
Dan selama waktu kebersamaan mereka, baik itu Lio maupun Anna tak ada satu pun dari mereka yang menganggu Arneta dan Ivy. Karena pasangan suami-istri itu menyadari waktu yang dimiliki Arneta bersama putrinya hanya sedikit, mengingat keberangkatan mereka ke Paris dipercepat.
"Ingat sayang, jangan nakal dan jangan pernah melawan apa yang dikatakan Daddy!" ucap Arneta sembari membantu Sasha mengepak semua pakaian putrinya ke dalam koper, karena rencananya besok malam Ivy akan berangkat ke Paris bersama Lio dan Anna.
Ya, ternyata waktu yang mereka lewati selama hampir dua Minggu itu harus berakhir besok malam. Dan rasanya Arneta belum puas menghabiskan waktunya bersama Ivy, yang entah mengapa semakin lama semakin berat rasanya untuk berpisah dengan putri tercintanya tersebut.
Ivy menganggukkan kepalanya. "Tapi kenapa Mommy tidak ikut pergi sekarang saja bersama Ivy?" tanyanya dengan sendu, karena ia harus pergi lebih dulu bersama Dad Lio dan Aunty Anna untuk bertemu dengan kakek dan neneknya yang ada di Paris.
"Masih banyak urusan yang harus Mommy kerjakan di Jakarta, sayang," jawab Arneta dengan berbohong.
Kebohongan yang ia dan Lio ciptakan dengan mengatakan kalau dirinya akan menyusul ke Paris agar Ivy mau pergi bersama Lio dan Anna terlebih dahulu.
"Tapi Mommy harus janji menyusul Ivy secepatnya!" sahut Ivy dengan memeluk Mommy nya.
Arneta pun hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan menahan tangis, sembari mengecup kepala putrinya dengan penuh kasih.
"Ivy juga harus berjanji jadi anak yang baik, tidak boleh menyusahkan Daddy, Aunty Anna, Grandma, dan Grandpa di sana."
Ivy menganggukkan kepalanya dengan menitikkan airmata. "Aku akan sangat merindukanmu Mom," lirihnya dengan memeluk Mom Arneta dengan erat.
"Mom juga akan sangat merindukanmu," sahut Arneta dengan menangis.
"Jangan menangis sayang," ucapnya dengan mengusap air mata di kedua pipi putrinya. "Ivy akan bertemu dengan Grandma dan Grandpa, juga sepupu yang lain. Aunty Sasha juga akan ikut bersama Ivy ke Paris, iya kan Sa?"
Arneta menatap pada Sasha yang ternyata ikut menangis bersama mereka.
"Iya," jawab Sasha dengan mengusap air matanya.
"Dengar bukan? Jadi Ivy jangan menangis!"
"Tapi Mommy—"
"Ivy tidak akan menangis lagi, akan aku pastikan itu," sela Lio dengan berjalan masuk ke dalam kamar putrinya, setelah mendengar percakapan dua wanita yang paling berharga di dalam hidupnya tersebut.
"Lio..." Arneta yang terkejut langsung mengusap air mata dikedua pipinya, karena ia tidak mau jika pria itu melihat bagaimana kesedihannya.
Sementara Lio terus berjalan menghampiri Ivy yang berada di dalam pelukan Arneta. "Putri kita anak yang tangguh, jadi dia tidak akan menangis lagi," ucapnya dengan mengusap kepala Ivy dengan penuh kasih.
"Ivy tidak akan menangis lagi, tapi bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Ivy dengan menatap kedua orangtuanya secara bergantian.
"Tentu saja," ucap Lio dengan menatap pada Arneta.
Menatap wanita yang sangat ia cintai itu, yang saat ini pasti merasa sedih karena harus berpisah dengan putri mereka.