My Ex

My Ex
Putus??!



Sediari tadi Nadine hanya memperhatikan ponselnya yang tak kunjung berbunyi, sunyi....sepi...bak kota mati tak berpenghuni.


Sudah 3 hari ini tiada kabar dari sang kekasih hatinya Arka, sebenarnya sudah seminggu ini hubungan mereka sedikit renggang tidak seperti biasanya. Weekend kali ini hanya dipergunakan Nadine untuk memperhatikan ponselnya dari pagi sampai malam.


“iss...bener bener deh” runtuknya kesal untuk kesekian kalinya mengecek ponselnya yang tiada kunjung berbunyi jua.


Seminggu terakhir ini sungguh membuat hatinya sangat kesal pada sang kekasih, betapa tidak, 2 minggu yang lalu mereka masih kencan seperti biasa, lalu pergi ketempat kerja seperti biasa dan ketika jam istirahat masih mereka pergunakan untuk berbincang-bincang bersama. Namun, ketika pergantian shift, dan Arka mulai kerja malam, Arka mulai berubah.


Yang biasanya selalu menemani Nadine ketika malam setiap hari selalu tanpa absent bertelfon ria hingga larut malam, tanpa peduli esok Nadine tetap harus bangun pagi-pagi untuk kerja, dia abaikan itu hanya demi sang kekasih.


Hari kamis ia sempat menagis karena ulah Arka yang terus menerus mengabaikan dirinya, whatapp tak di balas, tak ada telfon, setiap ia menelfon selalu dimatikan.


Memalukan jika diingat dia menangis hanya karena itu, tapi begitulah adanya. Nadine merindukan Arka yang manis dan romantis kepadanya.


Hari jum’at Nadine tak berniat pergi kerja, dia menganbil MC. Dan kecewanya Nadine, Arka sama sekali tak menanyai kabarnya, lelaki itu diam-diam saja. Padahal biasanya jika Nadine MC, Arka akan langsung menanyainya macam-macam.


Hari Sabtu, Nadine berniat mendiamkan Arka. Dia sama sekali tak mengabari Arka apa apa, sampai malam pun ternyata Arka tetap diam tak ada kabar, membuat Nadine geram dan ingin menghantam lelaki itu sekarang juga.


Ketika Minggu sore, Nadine tak sabar lagi. Apasih salahnya sampai dia didiamkan begini? Ini sama sekali tak normal, batin Nadine. Nadine sangat geram dan segera menyambar ponselnya lalu mengirimi Arka pesan di whatapp.


‘Arka...sibuk kah?’ tanya Nadine, ia mulai gelisah menunggu jawaban Arka yang menurutnya sangat lama dari menit-menit biasa.


‘iya nih, lagi sibuk’ balas Arka, Nadine mengerutkan keningnya bingung. “gitu aja? Serius?” gumam Nadine tak percaya dengan balasan Arka.


‘yaudah aku ga ganggu lagi,’ balas Nadine kesal, setelah tak menanyai kabar dan mendiamkannya tanpa alasan yang jelas, hanya itu jawabannya?


‘iya, ok’ jawaban singkat Arka membuat Nadine murka, kekesalannya mencuat, membuatnya melempar ponselnya saking kesalnya.


“apa-apaan sih, setelah ga ngasih kabar, sekarang dihubungi, Cuma itu jawabannya? Serius?” geram Nadine tak percaya, ini keterlaluan. Ada apa sih sebenarnya?, batin Nadine gundah.


Nadine kembali mengirimi Arka spam whatapp, ia tak ingat mungkin sekitar 50 lebih pesan ia kirimkan sebagai bentuk kekesalannya pada Arka. Walaupun ia yakin, Arka tak akan membaca pesannya satu persatu. Dan benar saja, setelah sekian lama, Arka online dan semua pesan sudah dibaca dengan cenang biru. Nadine penasaran apa yang akan Arka balas dengan semua pesannya itu.


‘waw, banyak banget...maaf gua bingung jawabnya, banyak banget, ntar malem gua telfon’


Itu saja balasan Arka untuk semua pesan Nadine. Ia pun mengeram kesal dan menunggu sampai Arka menelefon dan menjelaskan semua maksud aksi diamnya yang membuat Nadine gundah tak tenang hati.


...


Malamnya Arka benar-benar menghibunginya,


‘sorry Nadine, gua diemin lu, soalnya gua capek banget sama kerjaan’ tulis Arka


Dalam hati, Nadine heran. Apasih yang buat seorang Arka capek sekali sehingga benar-benar mendiamkannya seolah Nadine telah melakukan kesalahan besar.


‘tadi gua abis pergi ke tempat mobil, rencara mau beli mobil baru, jadi gua sibuk, sorry.’ Ponsel Nadine berbunyi lagi, Nadine merasa lega, karena memang kemarin-kemarin Arka sempat membiarakan perihal membeli mobil.


‘ada yang mau gua omongin juga,’ pesan ini membuat Nadine sedikit gusar.


‘tentang apa?’ balas Nadine


‘tentang kita.’ Nadine menghela nafas berat, perasaannya mulai tak enak, setiap kali Arka membahas ‘tentang kita’ akan selalu ada hal yang tak menyenangan bagi Nadine.


‘tentang kita? Kenapa? Lu mau ninggalin gua?’ balas Nadine gelisah


‘bisa jadi...’


Balasan Arka membuat Nadine sangat gelisah dan tak tenang, jantunya berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Salah gua apa lagi? Ada apasih?, gelisah hatinya.


‘gua telfon ya, soalnya besok kita ga bisa ketemu, lu kerja siang dan gua baru balik ntar subuh’ balas Arka, karena sekarang Minggu malam, Arka lembur shift malam, dan Nadine sedang di apartement sebab Nadine selalu kerja siang. Tak lama ponselnya berdering nyaring menampilkan nama Arka di layarnya, Nadine dengan gugup meneripa panggilan Arka.


“ya hallo?” ucap Nadine.


“hai, sayang...apa kabar? Ok kah?” sapa Arka di ujung sana dengan riang, membuat Nadine bingung, ada apa sih?


“lu mau ngomongin apa ‘tentang kita’?” tanya Nadine to the point.


“oh...itu...” suara Arka berubah tak seceria sapaannya.


“gua udah ngomong sama ibu, soal kita. Gua kan mau ajak lu balik kampung bareng, sekalian ngenalin lu sama keluarga dikampung,” sambung Arka.


“ohh, iya...terus?” jawab Nadine penasaran, sejujurnya Nadine tak menyangka kalau Arka akan benar-benar mengajaknya bertemu orang tuanya.


Sekilas ia ingat dengan kencan terakhirnya ketika mengunjungi kakak Arka di luar kota, dan mereka membahas masalah ini, serta rencara pernikahan mereka secara sekilas. Walau mereka baru menjalin hubungan selama beberapa bulan saja, tapi mereka sudah merasa cocok satu sama lain, dan nyaman satu sama lain, membuat mereka tak ingin menunda-nunda untuk ke jenjang yang lebih serius. Terlebih lagi, ibunda Arka sudah mulai menanyakan perihal pernikahan Arka yang ingin dilakukan secepatnya itu.


“tadi gua pas di tempat mobil, ibu nelfon. Pas udah ngobrol lama beliau bilang ‘ngapain kamu beli mobil? Mending uangnya dikirim aja kesini buat biaya nikah kamu’ beliau bilang begitu...” Arka memulai ceritanya, Nadine diam menyimak apa yang dikatakan Arka dengan membesarkan volume di ponselnya.


“gua nanya aja ‘bun, boleh ga nanti lebaran Arka balik bawa temen?’ terus beliau nanya ‘temen? Laki-laki? Boleh-boleh aja sih?’ terus gua jujur aja kan, ‘temen perempuan bun’ nah setelah gua bilang gitu, ibu langsung diem lama, ga tau kenapa.” Arka diam sejenak, Nadine mulai was-was mendengarkan cerita Arka, Nadine mulai meremas ujung piamanya dengan gusar.


“dan tiba-tiba ibu bilang gini...’loh kok perempuan sih? Terus pacarmu disini gimana? Dia udah nunggu kamu lama loh..’ terus gua bingung mau jelasinnya gimana, walaupun gua sama cewek itu udah selesai, dan kemarin gua sempet masih nunggu dia balik ke gua, gua sadar juga. Kalau dia sama sekali ga ngerespon gua lagi, dan ketika gua ketemu sama lu, dan gua udah sayang udah nyaman. Gua rasa ini saatnya gua buat buka lembaran baru sama lu.” Jelas Arka panjang lebar.


Nafas Nadine tercekat seketika, ternya ibunya masih menganggap hubungan anaknya belum selesai juga dengan perempuan itu. Remasan Nadine di ujung piamanya semakin kuat, hatinya benar-benar gelisah, dia bingung mau berkata apa untuk menanggapi penjelasan Arka.


Paham Lah dia sekarang, Arka mendiamkannya ternyata masalah perempuan itu.


Beberapa saat lalu, Arka sempat meceritakan soal perempuan itu, Clarissa namanya. Dia adalah mantan terakhir Arka, dan Arka sendiri sempat terang-terangan menceritakan kalau dia masih menunggu Risa kembali padanya, sebab dia masih berharap pada perempuan itu.


Wajar agaknya, sebab dia sangat cinta dengan mantan kekasihnya itu. Mereka berpisah sebab keputusan sepihak dari si perempuan, yang karena ayahnya tak merestui mereka, bahkan sampai ayahnya meninggal dunia karena sakit.


Sementara keluarga Clarissa yang lain sangat mendukung hubugan mereka, dan Arka masih ingin bersamanya seandainya gadis itu tak meninggalkannya secara sepihak. Dan masalahnya adalah, mereka berpisah tanpa diketahiu oleh kedua pihak keluarganya. Nadine paham kenapa jawaban ibu Arka begitu dengan permintaan anaknya yang memang tiba-tiba.


“Nadine?” panggil Arka membuyarkan lamunan Nadine yang shock dengan cerita Arka barusan.


“lu masih disana kan?” ucap Arka memastikan Nadine tetap mendengarkan di ujung telfon,


“iya, gua denger, terus?” jawab Nadine lesu, dia tau sekarang. Nadine tak lagi memiliki tempat untuk Arka.


“gua bingung harus gimana sekarang,” jujur Arka, terdengar desahan berat nafasnya


Nadine terdiam mencerna apa yang diceritakan Arka.


Baru saja mereka bahagia, dan sempat berniat lebih serius dengan hubungannya, tiba-tiba ini semua terjadi. Kepala Nadine serasa dihantam begitu keras, terasa pusing dan berat. Nadine telah memberikan seluruh hatinya untuk Arka, seluruh rasa sayangnya, dan dia benar-benar percaya pada Arka akan tetap bersamanya, walaupun Arka sempat bilang ‘masih menunggu dia kembali’.


Nadine tidak peduli.


Keheningan cukup lama di telfon, membuat suasana semakin canggung. Nadine menghela nafas panjang dan membuka suara memecah keheningan diantara mereka.


“yaudah, lu sendiri gimana? Masih mau kan balikan sama Rissa? Masih sayang kan sama dia? Biar gua yang mundur, gua ngerasa udah ga ada tempat lagi buat gua dan hubungan kita mulai ga sehat, biar gua yang ngalah,” jawaban Nadine sukses membuat Arka mati kutu.


“tapi Nadine...gua sayang sama lu...tolonglah...” suara Arka begitu pasrah tak tau apa yang harus dia katakan lagi untuk membalas Nadine.


“terus mau gimana? Lu masih mau sama dia, dan orang tua lu masih anggap kalian belum pisah, keluarga kalian udah kenal lama, kalian juga satu kampung halaman, dan...hubungan kalian juga udah lama, sementara sama gua...?” jawab Nadine sedikit emosi.


“jawab gua Ka, lu masih berharap kan sama perempuan itu?” desak Nadine, namun tak ada jawaban dari Arka. Nadine menghembuskan nafasnya kasar, mulai muak dengan kisah percintaannya sendiri.


“lebih baik lu lanjut aja sama dia, kalo sama gua. Lu harus mulai semua dari nol, dan itu akan susah lagi Arka...” jawab Nadine.


“siapa yang bilang susah? Bisa ko, emang kenapa kalau harus mulai semua dari awal?” kukuh Arka tak terima ucapan Nadine.


“lu ga ngerti perasaan gua? Gua udah coba tahan dan percaya sama lu kalau kita bisa buat semua baik-baik aja, tapi kalau udah gini gimana? Gua minta putus.” Ucap Nadine putus asa, dia merasa tak ada lagi kesempatan untuknya, dia merasa hanya jadi penghalang antara Arka dan Clarissa.


Arka shock dengan ucapan terakhir Nadine, jarinya mulai berkeringat. Arka mulai gugup sekarang.


“sayang...” panggil Arka lemah


“gua bukan sayang lu lagi, kita udah putus dan gua udah paham situasi, please jangan buat semu tambah susah, gua juga capek Ka, lu masih belum move on dari dia, terus kalau dia balik sama lu, gua bakal ditinggal gitu aja? Gua bukan pemain cadangan yang bisa dipake kalo pemain utama cidera.” Nadine tak bisa menahan emosinya yang mulai tak sabar menghadapi Arka.


“tapi gua sayang sama lu, Nadine”


“dan lu juga sayang Clarissa.” Balas Nadine cepat, membuat Arka diam tak bisa membalas.


“kita udah putus, please paham sama posisi kita, kalau lu masih takut dia ga nerima lu, biar gua yang hubungi dia dan tanya apa dia masih mau balikan sama lu,”


“Nadine please, ga usah lakuin itu..”


“tutup telfonnya, gua rasa udah ga ada yang harus kita bicarakan lagi, makasih penjelasannya,” ucap Nadine tegas menghiraukan protes Arka.


“sayang....” panggil Arka sangat lirih.


“ga usah panggil panggil sayang, kita udah PUTUS!” tegas Nadine.


“hhggg yaudah kalo itu mau lu, tapi gua ga bisa tutup telfonnya, gua takut lu ga mau gua telfon lagi setelah ini.” Arka menyerah, menyetujui Nadine.


Tanpa aba-aba, Nadine menutup sambungan telfonnya, hatinya tengah badai sekarang. Dia sama sekali tak menangis, tapi merasa sangat marah.


Marah dengan dirinya yang begitu mudah memberikan hati pada Arka, marah pada Arka yang sama sekali tak berusaha mempertahankan dirinya lagi, marah pada situasi yang mengakibatkan dirinya harus berpisah dengan Arka. Nadine meremas ponselnya kuat, sedari tadi Arka terus mengiriminya pesan.


‘Arka minta maaf sama Nadine’


‘jaga diri baik-baik’


‘semoga Nadine sehat selalu, jangan lupa makan, jangan telat tidur’


Dan tak ada satupun pesan yang dibalas Nadine, ia langsung menghapus kontak Arka dari ponselnya. Hatinya sangat panas sekarang.


Nadine berfikir sejenak, lalu mencari screenshot yang pernah dikirim Arka padanya, tertera jelas isi pesan Clarissa beserta no ponselnya. Nadine menyalin no itu lalu mengiriminya sebuah pesan singkat.


‘hai, ini Clarissa?’


.....


‘hai, ini Clarissa?’


....


Lama Nadine menunggu balasan, dilihatnya foto profil kontak itu. Hanya sebuah gambar kartun yang terpajang disana, membuat Nadine penasaran. Seperti apa sih wajahnya yang Arka sebut ‘cantik’ itu. Tiba-tiba teringat percakapannya dengan Arka dulu.


“namanya siapa sih?” tanya Nadine penasaran karena Arka menceritakan perempuan itu dengan sangat penuh kekaguman.


“namanya Clarissa”


“namanya cantik,” puji Nadine tulus, Arka tersenyum malu.


“iya, orangnya pun cantik.” Jawab Arka jujur


Nadine mendengus sebal mengingatnya.


Harus ya memuji mantan didepan kekasih barunya?, batin Nadine tak terima dengan ingatan itu.


Tring!


Sebuah pesan masuk datang, Nadine tanpa sabar langsung membuka kunci layarnya.


From: Clarissa


‘iya ini Rissa, ini siapa ya?’


Nadine menggigit bibirnya ragu. Antara membalasnya atau tidak, tapi hatinya sangat penasaran, sebenarnya bagaimana hubungan Arka dengan perempuan ini. Jemari Nadine segera mengetik sebuah balasan.


‘hai, namaku Nadine, aku temannya Arka.’ Nadine menunggu balasannya dengan tidak sabar.


‘oh hai Nadine, iya ada apa?’ ramah juga, pikir Nadine.


‘ada yang mau kutanyakan, kamu mantannya Arka?’ Nadine diam sejenak, kemudian menghapus pesannya kembali. Terlalu frontal, pikirnya.


To: Clarissa


‘ada yang mau kutanyakan, kamu dulu punya hubungan kan dengan Arka, Arka sempat menceritakan kamu padaku tempo hari’


Nadine meruntuki dirinya yang sudah mencampuri urusan orang lain hanya karena dirinya penasaran. Bodohnya...pekik Nadine serba salah.


From: Clarissa


‘emm, kenapa ya? Kamu siapanya Arka?’


Nadine berguling-guling dikasur menghilangkan kegugupannya akan tindakannya yang beresiko. Nadine bukanlah gadis yang suka merecoki urusan orang lain, tapi dia adalah tipe yang penasaan. Nadine kembali mengetik sebuah pesan balasan.


‘aku teman dekat Arka, kemarin dia bilang masih sayang kamu, tapi dia ragu apakah kamu masih mau kembali padanya,’


‘kasihan Arka dia bingung entah harus berbuat apa’


‘apa kamu masih sayang dengannya?’


‘bagaimana kalau dia mengajakmu untuk serius?’


Nadine tak henti-hentinya mengirimi pesan pada Clarissa. Jantungnya berpacu makin keras, antara takut dan penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Clarissa. Tak lama ponselnya berdering beberapa kali.


From: Clarissa


‘bukankah itu sudah pernah kami bahas, kenapa pula Arka masih bingung’


Nadine membaca balasan Clarissa dengan sangat bingung, ‘sudah pernah dibahas?’ Nadine bingung dan termenung dengan jawaban yang menurutnya ambigu. Dalam otaknya sudah terbayang, apa selama ini Arka membohonginya bahwa mereka sudah lama tak pernah berhubungan lagi.


Lalu maksudnya ‘sudah pernah dibahas’ apa?


From: Clarissa


‘sejujurnya, aku pun mau hidup bersamanya, mendampinginya sampai hari tua nanti.’


DUAAAARRRRR!!!!!


Hati Nadine hancur sudah membaca balasan itu. Kalau memang dia mau kenapa dia mengirimkan pesan yang mengatakan Arka lebih baik mencari perempuan lain, maksunya apa? Ini semua membuat Nadine bingung.


Jelas-jelas ia membaca sendiri isi pesan screenshot yang dikirim oleh Arka. Dia membaca sendiri apa isi pesan dari Clarissa untuk Arka. Tertulis dengan jelas...


‘kita sudah ga ada hubungan lagi, lebih baik kamu cari perempuan lain, selamat tinggal Arka’


Nadine kembali melihat screenshot itu, dan memang benar, bahkan ia melihat tanggalnya, sekitar 3 minggu lalu dari hari ini. Nadine merasa aneh dengan Clarissa, kalau dia memang mau kenapa tak bilang IYA dan malah mengatakan hal menyakitkan begitu, terus sekarang dia mau menjilat ludahya sendiri begitu? Menjijikkan.


Batin Nadine bergejolak, dia mulai tak menyukai Clarissa. Tiba-tiba sebuah pesan masuk muncul di ponselnya.


From: Clarissa


‘kenapa kamu tanya begitu? Kamu bukan temannya kan?’


Nadine terdiam, lalu membalas...


‘aku pacarnya, tapi sudah putus karena aku tau dia masih sayang sama kamu,dan berharap kembali, kita pun ga lama hubungan, dan kita ga terlalu serius. Kamu boleh ambil dia kembali’


Nadine tak lagi melayani Clarissa dia cukup muak dengan perempuan ini, ga ngerti gua sama ni cewek. Batin Nadine.


Ia men-screenshot ucapan Clarissa yang mengatakan ‘sejujurnya, aku pun mau hidup bersamanya, mendampinginya sampai hari tua nanti.’


Lalu mengirimnya pada Arka.


To: Arka


‘oke selamat ya, kalian balik lagi, jangan berantem lagi, akur sama dia, gua udah ngalah, sebagai gantinya gua minta di traktir ice bucket weekend ini.’


Nadine menghela nafasnya berat, mencerna apa saya yang telah terjadi. Kisah cintanya sudah berakhir. Dia menatap ponselnya yang masih menyala memperlihatkan balasan pesan Arka padanya.


‘oke akhir minggu ini gua traktir lu ice bucket’


Nadine tak membalasnya, dia memejamkan matanya.


Nadine sama sekali tak menangis, dia merasa hampa, semua terasa begitu cepat, dia baru saja putus kan? Iyakan?


Semalaman ini Nadine terus saja membuat status-status galau berbunyi kekecewaan di whatapp tapi nya Arka yang dia izinkan untuk membaca status-status yang dibuatnya itu. Semua terdengar begitu pilu. Semua dibaca Arka tanpa dilewatkannya satupun.


2am.


Nadine masih terus terjaga dan tak melepaskan ponselnya, dia membaca seluruh chat lamanya dengan Arka, seolah tak percaya semua telah berakhir seperti ini. Perlahan matanya memanas dan mulai berair, ia menangis dalam diam. Hanya 3 tetes air mata dan langsung ia hapus begitu turun dari matanya. Ponselnya bergetar.


From: Arka


‘sudahlah, Nadine...istirahat, besok kerjakan. Jaga kesehatan, jangan bergadang’


Nadine hanya membaca pesan itu tanpa berniat membalasnya, ia tau esok ia akan pergi kerja dan Arka baru pulang kerja, wajar kalau Arka masih terjaga karena ia memang kerja malam.


Sampai pukul 5 pagi, Nadine masih tetap terjaga, ia memilih untuk langsung mandi dan bersiap untuk kerja setelah ia membuat status.


‘semalaman ga bisa tidur, lagsung kerja go go’.


Selesai ia mandi, ia kembali mengecek ponselnya, ada 3 pesan baru dari Arka.


‘ga usah kerja, lu istirahat aja’


‘jaga kesehatan Nadine’


‘awas aja kalo lu kerja’


Nadine membaca pesan Arka dengan tatapan kosong. Kepalanya berat tak tau harus berfikir apa.


To: Arka


‘ga usah khawatir, gua ga papa,gua berangkat kerja dulu’


Setelah Arka membaca pesannya, lelaki itu langsung menelefon Nadine, tapi Nadine sama sekali tak berniat berdebat dengannya pagi ini. Tenaganya sudah habis untuk dia berpikir semalaman tentang hubungannya yang telah berakhir begitu saja.


***


Sesampainnya ditempat kerja, Nadine sengaja menghindari devisi Arka, ia tak ingin melihatnya untuk beberapa hari ke depan, padahal biasanya dia selalu sibuk mencari Arka. Jalannya begitu lunglai tak bertenaga , tatapannya kosong. Nadine yang ceria sekarang terlihat seperti mayat hidup yang berjalan kekantin untuk sarapan.


Hatinya mati rasa.


Ia memandang menu kantin tak berselera, lalu mengambil piring dan menyendok satu centong nasi goreng, dia berpikir sejenak lalu mengembalikan separuh isi piringnya karena dirasa terlalu banyak. Porsinya sangat amat sedikit. Beberapa temannya melihanya dengan heran. Bahkan kasir pun menatapnya dengan bingung.


Nadine menghiraukan tatapan orang-orang kepadanya, dia sama selali tak bersemangat untuk bergerak pagi ini, apalagi untuk kerja. Jika saja boleh, ia ingin mager dikamar sambil meratapi dirinya karena kisah cintanya yang kandas semalam, tapi sayangnya dia baru ingat jum’at kemarin ia baru saja MC, jadi bisa dipanggil atasan kalau senin ini dia MC lagi.


“pagi Ka Dine!” sapa seorang karyawan muda duduk didepan Nadine sembari meletakkan sepiring nasi gorengnya. Nadine sama sekali tak membalas sapaannya, membuatnya heran.


“heh! Pagi-pagi udah melamun aja, makan itu dikunyah bukan diliatin.” Protesnya yang tak lain adalah Erika, adik angkatan Nadine yang satu devisi dengannya.


Nadine hanya tersenyum seadanya membalas sapaan Erika, lalu menyuapkan sesendok nasi dengan enggan kemulutnya.


“Astagfirullah...! Kak Dine kenapa? Sakit? Udah kaya mayat hidup...” pekik Erika melihat kondisi Nadine yang memprihatinkan.


Muka kusam, penampilan seadanya, padahal Erika tau kalau Nadine adalah perempuan manis yang selalu terlihat sangat segar ketika pagi hari. Tapi berbeda dengan pagi ini.


“gua abis putus,” cicit Nadine hampir tak terdengar, tapi Erika mendengarnya sangat jelas membuatnya tersedak karena kaget, sebab dia tau sendiri betara romantisnya Nadine dengan Arka. Tanpa ada apa-apa main putus-putus aja.


“serius? Ah bercanda nih...kemarin kan baru ketemu kakak ipar,” ucap Erika setelah minum dan meredakan batuknya, memastikan kalau apa yang didengarnya salah.


“serius, gua putus semalem. Dia balik sama mantannya di kampung,” jelas Nadine


Erika tak berkomentar lagi, terlihat sangat jelas dia shock sampai sendoknya terjatuh membuatnya melongo mendengar jawaban Nadine.


Erika tau bagaimana hubungan mereka, bahkan Erika pun tau kalau Arka punya mantan Clarissa, tapi ia tak menyangka kalau Arka kembali dengan Clarissa dan membiarkan sahabatnya ini terlihat seperti mayat hidup begini, sungguh menyedihkan.


Nadine kehilangan selera makannya setelah 2 suapan masuk kemulutnya, Erika tak lagi berkomentar, iya tau bagaimana perasaan Nadine yang tengah kacau sekarang.


“gua duluan,” tanpa menunggu jawaban Erika, Nadine bangun dan segera masuk ketempat kerja, ia membuang sisa makanan di piringnya yang seolah tak dia makan sama sekali.


8a.m


Selesai meeting pagi, semua kembali keposisi tempatnya kerja, Nadine mulai bekerja dengan sangat tidak fokus. Jalannya sangat amat lunglai seolah kalau tersenggol pun dia akan jatuh pingsan.


“Nadine, kamu sakit?” tanya Herman leader di devisinya. Nadine hanya tersenyum dan mengangkat jempolnya seolah mengatakan ‘ok bos’.


“kalau masih sakit, MC saja lagi,” ucap Herman sambil berlalu.


Sejujurnya hari Jum’at itu ia tak benar-benar sakit, dia hanya kesal pada Arka dan pura-pura sakit, ia mencari perhatian Arka. Berbeda dengan saat ini, ia benar-benar sakit. Bukan fisikya, tapi hatinya yang mati rasa karena telah hancur semalam.


Selama ia kerja semua kenangannya dengan Arka tak bisa ia kendalikan, semua kenanga manisnya terlintas dan berputar-putar satu persatu seolah film lama yang diputar secara otomatis dikepalanya.


Semua tergambar begitu jelas, ketika Arka setiap hari selalu menyapanya dan mengambil barang ditempatnya untuk dia cek setiap shift pagi. Ia mengingat semuanya, hatinya semakin hancur. Terasa kemarahan dan kebencian yang mencuat sampai ubun-ubunnya.


“ya Allah...saya sakit hati, tolong balaskan sakit hatiku pada perempuan itu melebihi rasa sakitku sekarang,” adu Nadine pada Tuhannya dengan sangat serius.


Nadine merasa tak terima dengan jawaban perempuan itu semalam yang seolah menjilat ludahnya sendiri, dia pun sakit hati dengan Arka yang melepaskannya begitu saja. Ia meminta keadilan pada Tuhannya.


***


Sore itu Nadine seperti biasa duduk di gazebo taman belakang, tempatnya dan Arka biasa menghabiskan waktu sore sebelum lembur sampai malam. Nadine membuka whatapp dan kembali membuat status-status galau, mencurahkan perasaan kecewa dan kekesalannya untuk Arka, dan semua selalu dibaca Arka.


Tring!!


Sebuah pesan masuk muncul di ponselnya.


From: Arka


‘jangan begitu Nadine, gua minta maaf’


Balas Arka melihat ulah Nadine yang merajuk di status whatapp, Arka paham betul dengan Nadine. Nadine sama sekali tak membalasnya, ia malah mengganti foto profilnya yang hitam legam berubah menjadi foto Nadine-Arka yang saling tersenyum menghadap kamera. Nadine tau ia tak lagi berhak memajang fotonya berdua, tapi ia tetap mau. Ia ingat bahwa Arka menyukai foto ini, bagus katanya.


***


Malam hari sepulang kerja, Nadine merasa sangat rindu dengan Arka, ia tak bisa menahan diri untuk tak menghubungi Arka. Jemarinya mulai mengetik sebuah pesan.


To: Arka


‘Ka...’


Nadine menunggu jawaban, selang beberapa detik ponselnya bergetar.


‘ya? Kenapa Dine?’


Terasa sedikit janggal ketika Arka menyebut namanya lagi, Nadine terbiasa menyebutnya dengan sayang. Nadine berfikir sejenak untuk membalas.


‘lu udah baikan sama Clarissa?’ tanyanya basa basi


‘udah’ jawaban singkat Arka membuat hatinya ngilu.


‘gimana perasaan lu? Udah lega?’ tanya Nadine.


‘hmm, sedikit. Makasih ya,’ Nadine membeku membaca pesannya, makasih? Karena udah putus sama gua?. Batin Nadine meronta.


‘gua tetep sayang sama lu, Nadine.’ Balasan kedua Arka membuat Nadine bergetar, jantungnya mulai berdetak tak karuan.


‘gua juga masih sayang sama lu,’ Nadine membalas dengan hati yang rancu.


‘i love you’ Nadine dengan berani mengirim pesan sakral itu pada Arka, cukup lama tak ada balasan. Nadine merasa sangat malu, harusnya dia tak mengirim pesan itu lagi. Mati ajalah udah, cicit nadine pada dirinya sendiri.


Tak lama sebuat balasan pesan menggetarkan ponsel yang digenggamnya.


From: Arka


‘wah...gua ga bisa bales pesan itu lagi, nanti Clarissa marah ke gua’


BLAAARRRRRR!!!!!!


Hati Nadine terbakar seketika...ngilu sekali, untuk kesekian kalinya dia mengutuk perbuatan bodohnya yang sangat bodoh itu. Terlebih harga dirinya yang terluka.


.....