
Malam itu Nadine seperti biasa sibuk dengan dirinya sendiri dikamar. Tiba-tiba Eisqil datang dengan dandanan yang formal dengan gaun navy dan rambut curly-nya.
“mau kemana lu?” tanya Nadine.
“kondangan lah, kan tadi sore gue udah bilang, btw lu gak ikut? Ada Arka loh,” centilnya
Membuat Nadine meringis pelan.
“gak deh makasih, gue sibuk,” cicit Nadine kemudian,
“yakin lu gak mau ikut? Arka sendirian ntar...buat gue aja yak,” godanya semakin membuat Nadine pusing,
“iye iye serah, bungkus sana biar kenyang,” celetuknya.
Esoknya....
“lu kenapa kemaren malem gak dateng?” tanya Arka tiba-tiba.
“sibuk,” jawaban Nadine sukses membuat Arka kecewa,
“sibuk apa sengaja gak mau ketemu gue?” ucap Arka dengan nada yang membuat Nadine gemas membuatnya luluh juga.
“apaan sih lu, sibuk beneran dah,”
“iyalah,” ucap Arka tak puas hati.
“btw, Eisqil keknya seneng banget kencan sama lu disana ya,” goda Nadine memperlihatkan foto-foto yang dikirim Eisqil semalam.
“buset dah, nyesel gue foto banyak sama dia kemaren,” celetuk Arka melihat foto dirinya dengan Eisqil yang bertebaran di ponsel Nadine, membuat pipinya bersemu malu, terlebih membaca captions yang di tulis Eisqil. Nadine tertawa geli melihat respon Arka.
****
Karena waktunya yang tersisa sedikit Nadine memilih cuti kerja untuk membeli banyak barang hari ini. Ia mengecek daftar belanjaannya berkali-kali memastikan tidak ada yang terlewat membuat kepalanya mulai pusing.
Nadine
Erika, lu udah siap belom? Jam 12 ye jan telat,
Nadine mengirim pesan pada Erika mengingatkannya akan janji hari ini untuk menemaninya berbelanja. Buka tanpa alasan. Erika ini memang sering php, sementara Nadine tak mau dirinya kecewa diakhir dan akhirnya membuat mood nya hancur.
Lama ia menunggu balasan Erika, sampai pukul 1 siang belum juga ada balasan jelas, terakhir Erika mengatakan dirinya masih dalam perjalanan pulang dari urusan dengan temannya yang lain.
Nadine berusaha memaklumi, mungkin jalanan sedang macet, jadi ia memilih menunggu sampai pukul setengah 2 siang. Sejujurnya, Nadine mulai kesal. Karena ia merasa sudah membuang banyak waktu.
2pm
Nadine tak berfikir panjang, ia lekas mengambil tasnya dan pergi ke stasiun. Dirinya sudah kelewat kesal sebenarnya, janji pukul 12, pukul 2 masih belum mendapat kabar pasti. Padahal ia sendiri tengah dikejar waktu, jika hari ini semua daftarnya tak terbeli, bisa repot dan merusak jadwalnya yang lain.
Dan itu akan membuatnya lelah 2 kali.
Erika
Ka Nad, ada dimana? Ini Erika udah sampai, yuk jalan..
^^^Nadine^^^
Udah dijalan, maaf ya duluan, udah telat banget
Lah kenapa gak nungguin?
Pergi sama siapa?
Sendirian
^^^Gue udah nunggu ya 2 jam apa gak cukup?^^^
Maaf kak Nad T.T
Gue susul ya ke statiun?
Tungguin
^^^Sorry gak bisa,^^^
^^^Jangan nyusul, gue ngejar kereta nih, kalo lu nyusul bisa nunggu lagi sejam buat kereta selanjutnya^^^
^^^Dan itu kelamaan, keburu sore,^^^
^^^Tokonya bakal pada tutup kalo jam 4^^^
^^^Gak usah nyusul gapapa^^^
Kak Nad, jangan marah maaf.....
Dan pesan pesan senada yang dikirim Erika tak sama sekali ia balas, tapi Nadine memang jujur, ia tak mau ketinggalan kereja jam 2 siang. Bisa-bisa kalau tertinggal dia harus menunggu sampai jam 3, itu artinya sia-sia ia pergi karena jam 4 petang toko-toko disana sudah mulai tutup. Ini membuatnya harus bergerak cepat.
Singkat cerita ia menghabiskan waktu belanja sampai malam hari. Ia baru sampai apartemen pukul 10 malam. Membuat badannya sangat lelah apalagi melihat belanjaannya yang sangat banyak.
“besok MC aja lah, urusin paketan, kalo lu nunggu cuti weekend takutnya paket lu ngaret nyampenya,” saran teman-temannya.
Tadinya Nadine memang hendak kerja besok dan mengurus barang-barangnya di akhir minggu. Tapi benar apa kata teman-temannya jika ia tidak bergerak besok, ini akan membuatnya susah.
Akhirnya hari Selasa itu Nadie kembali MC dan seperti biasa tidak ada masalah dengan caranya mengarang cerita pada dokter. Agak heran memang dia mudah sekali mendapat surat MC dari dokter.
Jadi seharian ini ia sangat sibuk dengan barang-barangnya, walau sebenarnya setengah dari waktunya ia pakai diatas kasur bersama ponselnya.
Dan Arka?
Oh...
Dia sempat mengirim Nadine saran tontonan bagus tentang paranormal dan Indigo. Dan ekpresi Nadine...
“apaan sih”
Dia hanya membalas
“ohh lu lagi tertarik nonton gituan? Gue lagi sibuk belajar bahasa Jerman onlen, kapan kapan ya gue nonton itu, hehe,”
Konyol-
***
Seminggu kemudian....
Minggu ini mereka satu shift. Sedikit mimpi buruk untuk Nadine. Ia sebenarnya mulai jengah juga melihat Arka. Rasanya sesak didada, jujur saja perasaannya masih sangat labil. Dan akan lebih baik jika ia tidak melihat Arka untuk waktu yang lama.
Setidaknya sampai luka hatinya sembuh...
Tapi kenyataan tak berpihak padanya,
Petang itu Nadine duduk di gazebo taman belakang, ia tau Arka ada di gazebo satunya. Tapi Nadine sengaja duduk di tempat lain yang terpisah. Akibatnya membuat Arka mengiriminya banyak pesan, dan beberapa kali lambaian tangan, yang semuanya diabaikan Nadine.
Sebenarnya nadine geram sekali ingin membalas pesannya, tapi kalau dirinya lemah terus seperti ini, dia sama sekali tiada usaha peningkatan untuk move on, dan pada akhirnya ia kalah kembali.
Ia membalas pesan Arka tengah malam.
Nadine
Sorry ya baru bales,
^^^Arka^^^
^^^Eihh, belum tidur^^^
^^^Jam berapa ini..^^^
Jam 12.19 malam
^^^Iya gue tau, maksudnya ngapain belum tidur?^^^
^^^Besok kan kerja^^^
Iya gue tau
Maaf ya chat lu gak gue bales tadi sore
^^^Iya gapapa santai aja,^^^
^^^Gue kira lu lagi main game, makanya chat gue dikacangin^^^
Kaga
Gue emang sengaja kacangin lu
^^^Lah..... ^^^
^^^Kenapa????^^^
^^^Kok gitu^^^
Mikir aja sendiri,
^^^Nadine..... ^^^
Nadine memilih tidur setelahnya....ohh cringe.
Hari selasa, karena semalam Nadine memilih untuk tidur dan tidak mencharge ponselnya. Akibatnya ia repot sendiri karena batrainya yang tinggal 20%.
Mau tak mau ia tetap membawa ponselnya ketempat kerja dan sialnya dia lupa membawa charger. Satu-satunya yang terintas difikirannya adalah meminta bantuan pada Arka, sebab ia tau Arka selalu menyimpan charger cadangan di lokernya.
Selesai ia meeting pagi, Arka tiba-tiba mendatanginya membuat Nadine kaget.
“mana hapenya,” ucap Arka tanpa basa-basi.
“hape?”
“katanya minta di charger, mana sini,”
“emang masih berapa persen?”
“ adalah 18% lagi, cukuplah sampe siang,”
“ohh oke deh,” dan Arka pun pergi.
Nadine baru saja menghela nafasnya, bibirnya melengkung membentuk senyuman.
“cieeee....pagi pagi udah disamperin sama kesayangan,” goda Lucy teman kerjanya yang baru karena Nadine dipindah tempat lagi untuk kesekian kalinya. Biasalah jika anak yang mau resign memang sering bertukar tempat.
“apaan sih, orang mau pinjem charger,” elak Nadine
“aahhhh charger,, apa charger....” Lucy senang sekali menggoda Nadine.
Selama kerja hari ini nadine benar-benar tak bisa fokus, ia terus saja berfikir tentang “hal yang ingin diceritakan” pada Arka. Rasanya memang membebani fikirannya. Rasanya ia tak bisa lagi menunggu.
Akhirnya jam istirahat tengah hari pun tiba. Ketika di kantin Arka melirik Nadine, begitu sebaliknya, seolah mereka sedang melakukan telepati dengan sebuah kode rahasia.
Arka selesai makan, ia melewati Nadine kemudian melambai, Nadine hanya mengangguk-angguk kepalanya singkat memahami maksud Arka.
Dan disinilah mereka. Di tempat Arka biasa menghabiskan waktu tengah harinya.
“kenapa? Muka gue aneh?” tanya Nadine salah tingkah karena terus menerus dipandangi Arka, membuat Arka tersenyum simpul.
“emangnya ga boleh? Pengen aja mandangin lu, kangen,” jawabnya dengan licin membuat Nadine tersedak nafasnya sendiri.
“apaan dah, kemaren ketemu apanya yang kangen,”
“maksudnya kangen mandangin muka lu,”
“kenapa?”
“karena lu manis,” ucap Arka tersenyum, membuat Nadine ingin sekali menamparnya keras-keras.
Nadine menghela nafasnya,
“nanti balikin hape gue jam 3 atau jam 4, mungkin udah penuh.”
Arka mengangguk patuh,
“oh ya, nanti jangan lembur ya, plis ikut gue, gue udah gak tahan pengen cerita yang waktu itu,” ucapan Nadine sukses membuat Arka duduk dengan tegak.
“serius nih? Katanya akhir bulan...” ucapnya antusias.
“gak kayanya kelamaan, gue pengen cepet plong, biar gak kepikiran mulu,”
Nadine melirik jam nya,
“oke deh gue pergi dulu, tinggal 5 menit lagi, bye,”
Mulai detik itu Nadine tak berhenti memikirkan susunan kalimat yang ia tahan tahan selama ini, seolah semuanya berlarian diotaknya dan terus menerus berputar-putar bagai benang kusut.
“lucy, hari ini gue balik awal ya, lu yang lembur, gue ada hal darurat,” ucap Nadine ditengah-tengah kerjanya.
“lah, gue kira lu gak bakal balik awal, gue juga mau balik nih, mau urus tiket balik kampung gue,”
“lah gimana dong, gue udah bilang sama leader,”
“terus gue gimana?? Gue butuh banget nge-fotocopy data gue biar dapet ijin balik kampung, dan gak ada masalah sama tiket ntar,” keluh Lucy
“fotocopy doang kan?” tanya Nadine memastikan,
“iya, gimana nih?”
“yaudah mana datanya biar gue yang fotocopy. Asal lu ngalah sama gue, gue bener-bener darurat nih,” desak Nadine
“darurat urusan Arka ya.” Tepat sasaran, sial.
Lucy hanya tertawa puas seolah berhasil menangkap maling dirumahnya.
“yaudah nah, janji besok data gue kelar,”
“siappp bosku, kalem aja...”
Dan akhirnya ia bisa bernafas lega ketika bell menunjukan pukul 5.45 pm. Time up.
Nadine
Ka, lu balik awal kan? Gue udah di bis, ketemu jam 7.30 malem ya di Mall XXX
Nadine menunggu balasan Arka dengan tidak sabar, tapi ia agak sedikit kesal membaca balasannya
^^^Arka^^^
^^^Lah,, lu balik sekarang??^^^
^^^ Gue kirain jam 7.15^^^
Kagaaaaaa.... kan gue bilang jangan lembur
^^^Gimana dong^^^
^^^Yaudah lu ke daerah apart gue aja, naik bis yang kesana,^^^
Kaga bisa, gue udah dijalan otw apart sendiri,
Ketemu jam 7.30 di mall XXX
^^^Duh,^^^
^^^Kaga bilang^^^
^^^Yaudah gue cabut sekarang^^^
Lah emang bisnya masih di parkiran??
^^^Kaga udah cabut dia,^^^
^^^Gue naek taxi^^^
Yaudah, jam 7.30 di Mall XXX
Nadine turun dari bis dan segera menuju tempat fotocopy. Hal mengesalkan berikutnya adalah, dia harus mengantri dan itu sangat memakan waktu, padahal ia tak punya waktu banyak.
Dan benar saja, ia hampir terlambat. Nasib baik ia sampai dilokasi pukul 7.15 pm .
Nadine menunggu Arka. Tadinya ia berniat menunggu Arka agar bisa makan malam bersama, tapi nyatanya perutnya tak bisa menunggu lebih lama lagi.
Nadine
Masih dimana? Masih lama?
^^^Arka^^^
^^^Lumayan, lagi siap siap^^^
^^^Sabar ya,^^^
^^^Lagi pesen taxi^^^
Nadine telah menghabiskan 2 porsi waffle dan segelas kelapa muda. Ia menngecek balasan Arka. Lelaki itu bilang ia masih bersiap-siap. Oke... Nadine adalah orang yang suka ngaret, tapi ternyata ada yang lebih parah darinya.
Nadine
Masih dimana? Jan kelamaan jam 10 mall nya tutup
^^^Arka^^^
^^^Iya ini lagi dijalan^^^
^^^Arka ^^^
^^^Nah, udah sampe, lu dimana??^^^
Nadine
Lantai 3, di resto yang waktu itu kita pernah makan, samping KCF bagian outdoor
Dan ketika suapan terakhir, Arka baru datang. 8.40 pm. Nadine hampir saja pulang jika 5 menit lagi Arka tak datang. Keterlaluan.
“maaf telat,” ucapan Arka setelah ia duduk berhadapan dengan Nadine.
“iya telat banget” sindirnya sarkas
“maaf maaf,”
“udah makan? Sana pesen makan dulu,” Nadine menyingkirkan piring kosongnya dari meja.
“udah,” jawaban Arka mendapat tatapan Aneh dari Nadine, membuat Arka salah tingkah
“ohh jadi telat gegara makan dulu, untung gue gak nungguin lu dateng bisa kelaperan gue,” protes Nadine dengan tajam, membuat Arka hanya membisu.
Hening....