My Ex

My Ex
Keluar Kota



Meskipun saat ini Asha telah tinggal bersama dengan Askara, tetapi dia tidak melupakan Kania, sahabatnya yang telah menemani dirinya selama tiga tahun terakhir. Karena hari ini Askara akan melakukan perjalanan ke luar kota, dia pun meminta izin kepada Askara untuk pulang ke rumah Kania. Namun, Askara tidak memberinya izin untuk keluar dari rumahnya.


"Kara, aku mohon," pinta Asha dengan penuh iba.


"Sekali tidak, tetap tidak Sha. Kamu jangan melawan, atau aku tidak akan memberikan gajimu!" ancam Askara.


Bibir Asha langsung mengerucut. Padahal dia hanya meminta izin untuk beberapa jam saja dan akan segera pulang setelah temu kangennya usai.


"Bisa gak sih gak usah bawa-bawa mantra. Apakah karena kamu kaya lalu kamu bisa mengucapkan mantra sesuka hatimu?"


"Mantra?" Kedua alis Askara langsung menaut. Dia tidak tahu mantra apa yang dimaksud oleh Asha.


"Ah, sudahlah. Bener kata Kai, kamu itu sesuka hati sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang lain. Dasar orang kaya belagu!" Asha mendumel karena merasa kesal tidak diizinkan untuk pergi ke rumah Kania.


"Oh, jadi Kaisar sudah berani menjelek-jelekkanku di belakang? Dasar Kaisar!" geram Askara.


"Kai bukan menjelekkanmu. Dia hanya membicarakan sebuah fakta tentangmu. Tidak usah menyalahkan orang lain jika kamu tidak bisa berkaca sendiri!"


Kali ini Askara hanya memilih diam. Namun, bukan berarti dia langsung menyetujui keinginan Asha untuk meninggalkan rumahnya. Askara hanya tidak ingin terjadi sesuatu kepada Asha di luar sana. Terlebih saat dirinya tidak bisa mengawalnya. Bisa saja orang yang tidak menyukainya akan datang lalu melakukan kekerasan padanya. Askara hanya ingin melindungi Asha dengan caranya sendiri.


"Baiklah, karena aku tidak mengizinkannya untuk keluar dari rumah, maka panggil saja sahabatmu untuk menemanimu di sini selama aku tidak ada. Tapi jangan berharap Kaisar juga akan menemani kalian di sini, karena dia akan aku bawa." Tiba-tiba Askara memecahkan suasana hening.


Dengan mengernyitkan keningnya, Asha langsung menyakinkan ucapan Askara. "Benarkah? Apakah Kania juga bisa menginap disini?"


"Terserah! Tapi setelah aku pulang, maka dia tidak boleh menginap disini lagi!"


Asha hampir tak percaya dengan ucapan Askara. "Wah ... Kara kamu baik banget sih." Karena terlalu senang Asha tidak bisa mengontrol diri dan langsung memeluk tubuh Askara. "Makasih Kara."


Seketika tubuh Askara membeku. Aroma tubuh Asha membuat sesuatu yang sedang tertidur mulai merangkak untuk bangun. Karena Askara tidak tahu bagaimana cara menidurkan lagi, dia pun langsung melepaskan pelukan Asha. Askara tidak mau kejadian setelah pulang dari pasar malam terjadi lagi, dimana dia harus menidurkannya di kamar mandi.


"Maaf Sha, sepertinya aku harus segera berangkat karena Kai sudah terlalu menunggu lama di mobil," kata Askara.


Menyadari akan kecerobohannya Asha pun langsung meminta maaf karena telah lancang memeluk tubuh Askara. " Ah, maafkan aku, Ra. Aku terlalu bahagia sehingga aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya."


Mendapatkan kata hati-hati di jalan hati Askara sangat berbunga. Kata yang sebenarnya dirindukan olehnya selama tiga tahun terakhir ini tiba-tiba menyentuh telinganya kembali. Askara berharap ini adalah awal yang baik untuknya. Dalam hati dia berdoa akan ada kata-kata seperti itu setiap hari di waktu mendatang.


"Iya. Kamu juga hati-hati di rumah. Jika ada yang mencurigakan segera hubungi aku. Aku tidak akan lama. Mungkin hanya dua hari saja."


Asha mengangguk pelan dan mengantarkan Askara di samping mobil. Rasanya sangat berat untuk meninggalkan Asha, tetapi Askara harus profesional.


Sebuah senyum lebar mengembang di bibir Askara sebelum dia benar-benar meninggalkan Asha. Tangannya pun melambai sambil berkata, "Daaa ... "


Asha pun juga membalas lambaian tangan Askara juga. Namun, setelah mobil tak terlihat tiba-tiba perasaan Asha merasa tidak enak. Dia takut apa yang pernah terjadi tiga tahun yang lalu akan kembali lagi terjadi pada dirinya hari ini. Terlebih beberapa hari yang lalu Karina datang dan mendapatkan perlakuan kasar dari Askara.


Hampir satu jam Asha sabar menunggu kedatangan Kania, karena dia harus membujuk mamanya terlebih dahulu. Sang mama takut itu hanya akal-akalan Kania saja. Namun, setelah Asha mencoba untuk memberikan penjelasan akhirnya Kania baru mendapatkan izin. Itu pun diantar langsung oleh mamanya.


Ting .. tong .... ting .. tong


Suara bel berbunyi. Bi Sumi yang sedang membereskan ruang tamu segera membuka pintu. Setelah dibuka, Bi Sumi langsung menyapanya dengan ramah. "Cari siapa ya?" tanyanya.


"Cari Asha. Asha-nya ada?"


"Oh, Neng Asha? Ada. Mari masuk dulu."


Kania dan mamanya pun ikut masuk kedalaman. Rumah yang besar nan megah. Bahkan Mamanya Kania merasa sangat takjub dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini. Dirinya seperti sedang berada di negeri dongeng.


"Kan, ini serius rumah atau istana sih?" bisik Mamanya.


"Mama apa-apa sih? Jangan malu-maluin, ah!"


"Tapi beneran Kan, ini rumah mewah sekali. Kalau Bosnya pacar kamu sekaya ini, pasti gaji pacar kamu berlipat-lipat. Udah langsung gas aja. Mama restuin kok, asalkan gajinya berlipat-lipat," ujar mama lagi dengan pelan.


Tak berselang lama, Asha pun keluar. Dia sangat terkejut saat melihat Kania bersama mamanya duduk di sebuah sofa.


"Kania ... Tante Sarah," ucap Asha.


"Asha. Ya ampun ... Kamu kenapa gak bilang kalau kerja disini sih? Tante pikir kamu sudah melupakan Tante."


"Maaf Tan ... Asha tidak sempat untuk memberi tahu Tante jika Asha bekerja disini. Soalnya majikan Asha tuh galak, Tan! Masa Asha mau ke rumah Tante aja gak dikasih izin." Asha mengadu pada mamanya Asha.


"Apa? Mengapa bisa seperti itu? Lihat saja kalau sampai ketemu mau tante penyet jadi ayam geprek."


Cukup lama mamanya Kania berbincang dengan Asha. Bahkan sebelum pulang mamanya Kania berpesan kepada Asha jika Askara pulang harap untuk memberitahu dirinya agar bisa memberi perhitungan kepada Askara.


"Sha, aku terkadang merasa iri denganmu. Bahkan aku sering bertanya-tanya dalam hati apakah kita adalah anak yang tertukar sehingga itu sangat sayang banget sama kamu," ucap Kania saat masuk kedalam kamar Asha.


"Huss, kamu gak boleh berpikir seperti itu. Mungkin mama kamu hanya merasa kasihan dengan hidupku yang menyedihkan ini." balas Asha.


"Ngomong apa sih kamu, Sha. Ah sudahlah, gak usah bahas mama. Gimana kalau kita bahas mantan kamu aja, Sha. Kayaknya seru nih! Ya, mumpung orangnya gak ada." kata Kania dengan penuh semangat.


"Maksud kamu kita ghibahin Kara?" tanya Asha untuk memastikan.


"Ya iyalah. Emangnya mantan kamu siapa aja? Kan cuma ada pak Askara aja." ledek Kania dengan tawanya.