
Asha tak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar kata yang baru saja keluar dari mulut pria yang kini telah menjadi suaminya kembali. Matanya silih berganti untuk melihat dua orang yang duduk berjauhan di sebuah sofa panjang.
Asha tak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan oleh Askara. Selama ini Asha menganggap jika Askara adalah pria baik dan setia. Namun nyatanya dia sama seperti pria pada umumnya yang tidak bisa menahan hasratnya.
"Sha, semua ini hanyalah kekhilafan. Malam itu aku sedang terpengaruh oleh alkohol. Dan aku mengira jika Karin itu adalah kamu. Ku mohon percayalah denganku. Aku bukan pria ba*ji*ngan seperti pada umumnya. Meskipun aku dan Karin tidak memiliki ikatan darah tapi aku telah menganggapnya seperti adikku sendiri. Semua yang terjadi malam itu sebuah kesalahan yang tak tersengaja. Jika aku dalam keadaan sadar aku tidak mungkin melakukan hubungan terlarang itu, Sha. Sah, ku mohon, percayalah." Askara mencoba untuk meyakinkan Asha jika malam itu hanyalah malam kesalahan.
Asha masih berdiam tanpa kata. Dia belum bisa menerima kenyataan jika suaminya pernah melakukan hubungan terlarang dengan diangkatnya. Bahkan apa yang telah dia lakukan sampai berbuah. Namun, karena saat itu Karina sangat terpukul dengan kenyataan yang ada dia mengalami stress dan pada akhirnya janin yang berada di rahimnya tidak bisa bertahan. Karina yang baru saja dinyatakan hamil 3 Minggu harus keguguran.
"Asha, kamu percaya kan sama aku?" Askara masih berusaha untuk meyakinkan hati Asha jika dirinya bukanlah pria ba*ji*ngan yang asal meniduri para wanita.
Karina memang telah dianggap adik oleh Askara. Bahkan rasa cinta yang diberikan oleh Askara adalah rasa cinta sebagai keluarga, tidak seperti rasa cinta yang dimiliki Karina untuk Askara.
Semenjak Karina mengetahui jika dirinya hanya anak angkat, tiba-tiba timbul perasaan aneh dan sulit untuk dikendalikan. Rasa ingin memiliki Askara sepenuhnya. Bahkan dia tidak akan terima saat Askara memiliki hubungan dengan orang lain, termasuk dengan Asha.
Jika biasanya Karina akan menggebu dengan kebencian yang dimilikinya, tetapi tidak untuk saat ini yang membisu tanpa kata. Bahkan tak ada kata maaf yang keluar dari mulutnya.
Air matanya tak henti membasahi pipi. Dengan hati yang kalut, Asha meninggalkan rumah Askara tanpa tujuan.
"Rin, apa yang kamu lakukan? Kamu ingin menghancurkan hidupku?" Dengan amarah yang tertahan di dalam dada, Askara menatap kearah adik angkatnya.
"Bukan aku yang menghancurkan hidup Kak Kara, tapi Kak Kara yang udah hancurin hidup aku! Kak Kara sadar gak sih, dengan Kak Kara merenggut kesuciannyaku, aku telah menjadi wanita cacat tanpa mahkota lagi. Kak Kara jangan egois!"
Askara mengusap kasar wajahnya. "Rin, aku kan sudah meminta maaf kepadamu dan aku juga sudah membiayai seluruh hidupmu. lalu apalagi yang kamu inginkan dariku? Tolong jangan persulit hidupku. Aku ingin hidup tenang bersama keluargaku."
"Jadi Kal Kara mau tahu apa yang aku inginkan. Baiklah akan aku katakan sekarang." Karina menjeda ucapannya. Helaan nafas panjang terdengar begitu berat.
"Aku ingin Kak Kara menikahiku!"