My Ex

My Ex
Rencana Tak Terduga



Asha merasa sangat terkejut dengan kedatangan beberapa orang ke dalam kamarnya. Tanpa tahu apa maksud dari beberapa orang wanita itu meminta Asha untuk duduk didepan meja rias.


"Tunggu ini ada apa?" tanya Asha dengan gugup.


"Anda tenang saja Nona, kami tidak akan menyakiti Anda. Kami hanya diutus untuk mendandani Anda," jelas salah seorang di antara mereka.


"Hah? Untuk apa? Ini udah malam! Gak usah ngadi-ngadi, deh!"


"Kami serius dan tidak bercanda, Nona. Jangan bilang anda tidak tahu jika hari ini anda akan menikah."


"Hah?! Ini ada apa sih?"


"Mawar, mandikan Nona ini!" Wanita yang memakai makeup tebal mengutus salah satu wanita yang sedang bersamanya.


"Baik, Madam." Wanita yang bernama mawar langsung membawa Asha masuk ke kamar mandi.


"Hei! Lepaskan! Aku sudah sudah mandi tadi!" teriak Asha yang kini sudah dituntut ke kamar mandi.


Rencana yang tak terduga-duga dari seorang Askara dimana dia berencana untuk menikah dengan Asha malam ini juga. Bahkan beberapa orang sudah mendekor rumahnya dengan ala kadarnya. Tak lupa Askara juga mengundang Kania beserta dengan mamanya untuk menyaksikan pernikahan dengan Asha malam ini.


Kaisar yang baru saja mendapat kabar dari Askara langsung meluncur ke rumahnya. Awalnya Kai tidak percaya dengan ucapan Askara, tetapi saat Askara menunjukkan sebuah foto rumahnya sedang dekorasi, Kai hanya menggelengkan kepalanya.


Tidak sulit bagi orang berduit. Apa saja yang diinginkan bisa dapatkan dengan mudah. Seperti halnya untuk mengundang pak penghulu yang akan menikahkannya dengan Asha. Jika bukan karena uang, tidak akan ada yang mau untuk memproses acara yang serba dadakan.


"Astaga ... apakah bos sudah gila? Mau nikah layak mau makan bakso, tinggal pesan langsung jadi," gerutu Kai setelah sampai di rumah Askara yang sudah banyak orang hampir memenuhi rumahnya.


Saat kakinya ingin melangkah masuk ke dalam rumah tiba-tiba dihentikan oleh suara seseorang memanggil namanya. "Kai!"


Kaisar pun langsung menoleh kebelakang. Ternyata itu adalah suara Kania. "Kania." Namun, wajah Kai mendadak berubah ketika melihat wanita yang berada di samping Kania. Siapa lagi jika bukan mamanya Kania.


"Kai, ini bagaimana konsepnya mengapa tiba-tiba Askara mau nikah dadakan seperti ini sih?" tanya Kania yang mulai mendekat ke arah Kaisar.


"Aku gak tahu, Kan. Aku saja hampir tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh bos Askara. Aku pikir dia hanya bercanda, eh gak taunya beneran."


Langkah mamanya Kania semakin mendekat ke arah Kaisar membuat pria itu berkeringat dingin. Ada rasa takut dan canggung saat harus berhadapan dengan mamanya Kania yang sejak awal kurang menyukainya.


"Malam Tante," ucap Kai dengan gugup sambil menyalami tangan calon mertuanya itu.


"Malam juga," datar mamanya Kania.


"Oke. Aku juga akan menemui bos Kara."


Semua seperti mimpi. Bagaimana mungkin sebuah pernikahan dilaksanakan hanya secara dadakan. Bahkan tanpa sepengetahuan dari mempelai wanitanya. Malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat kini malah menjadi momen langka yang tak akan pernah bisa dilupakan begitu saja.


Asha menatap dirinya dalam pantulan cermin besar. Sebuah gaun pengantin berwarna putih telah melekat ditubuhnya. Polesan makeup wedding juga telah menempel di wajahnya. Dalam hitungan menit saja dirinya telah disulap seperti seorang bidadari yang turun dari khayangan.


"Ya ampun Asha ... aku terharu sekali mendengar kamu akan menikah lagi dengan orang yang sama. Tapi mengapa mendadak seperti ini? Apakah kamu dan Askara sudah melakukan tanam bibit sehingga Askara melaksanakan pernikahan ini secara dadakan?" tanya Kania yang merasa takjub akan kecantikan sahabatnya saat ini.


"Huss! Kamu kalau ngomong jangan sembarangan! Kamu pikir Asha wanita apa? Meskipun dia seorang janda tetap dia bisa menjaga dirinya dengan baik. Apakah selama 3 tahun ini kamu tidak bisa menilai Asha?" Mama Kania memprotes ucapan Kania.


"Bukan begitu Ma ..."


"Sudahlah. Simpan sendiri saja rasa penasaran itu! Yang penting saat ini dia akan menikah! Daripada kamu, dibawa ke sana ke sini tapi gak ada perubahan. Contoh Asha dong! Sat set sat set langsung jadi. Bisa kamu seperti ini? Tidak kan?" Mama langsung membungkam Kania hingga tak bisa bersuara lagi. Ucapan mamanya begitu sangat menampar ulu hatinya. Bagaimana bisa Kai disamakan dengan Askara seorang bos yang memiliki segalanya.


Tak berselang lama, seseorang telah memanggil Asha untuk keluar karena acara sudah hampir dimulai. Diiringi oleh Kania beserta namanya, Asha keluar dari kamar. Meskipun acara sederhana dan jauh dari kata mewah tetapi, rumah Askara telah berhasil dihias dengan berbagai macam bunga.


Mata Askara tidak bisa berkedip saat melihat Asha berjalan mendekat ke arahnya yang telah duduk di depan pak penghulu. Meskipun saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tetapi rumah Askara tetap masih dihadiri oleh beberapa orang. Asha tidak tahu apakah itu tetangga kanan kiri atau kenalan Askara.


"Ya ampun Asha .... " gumam Kai yang merasa takjub dengan sosok Asha yang terlihat sangat cantik.


"Jangan macam-macam!" bisik Askara yang masih bisa mendengar ucapan Kaisar.


"Santai Bos! Apakah kamu tidak melihat wanita yang berada di samping Asha? Yang satu calonku, dengan satu adalah calon mama mertuaku. Jadi Bos gak usah khawatir kalau aku akan merebut milik Bos." Kai pun membalas bisikan Kaisar.


Sebuah janji dan sumpah pernikahan yang disebut akad telah terucap lancar dari bibir Askara. Bahkan suara sah dari belakang telah menggema di Askara, itu tandanya saat ini Asha dan juga Askara telah sah menjadi pasangan suami-istri. Tidak perlu mewah, yang penting sah. Begitulah kata yang terucap dari bibir Askara.


"Alhamdulillah saat ini kalian berdua sudah menjadi pasangan yang sah. Selamat atas pernikahan kalian. Semoga pernikahan kalian bahagia sampai until jannah." Ucap Kania aambil meneteskan air mata. Sungguh rasanya seperti mimpi.


"Terima kasih Kania. Maaf jika selama ini aku telah banyak menyusahkanmu."


"Jangan berbicara seperti itu, Sha! Aku sudah menganggapmu sebagai keluarga, jadi tolong jangan katakan itu. Jika aku masih mendengarnya, aku akan marah kepadamu."


Dua orang sahabat saling berpelukan dengan air mata bahagianya. Kini penderitaan yang dialami oleh Asha terbayar sudah ketika orang yang telah membuatnya menderita telah bertanggung jawab. Mungkin ini adalah buah dari kesabaran Asha selama ini.


Entah apa yang dipikirkan oleh Askara sehingga dia nekat mengambil sebuah keputusan untuk menikahi Asha malam ini juga. Hanya dalam sekejap dia bisa mewujudkan apa yang diinginkannya. Dan saat ini dirinya sudah sah menjadi suami Asha. Itu artinya tanggung jawab Asha berada di tangannya.


Selamat menempuh hidup baru Asha dan Kara, semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian. ❤️ teh ijo ❤️