
"****, kau membuatku gila!" umpat Lio dengan napas menggebu saat menyatukan kening mereka.
Menatap wajah Arneta yang terlihat memerah entah karena efek menangis tadi, ataukah karena hampir kehabisan napas saat ciuman tadi.
"Kenapa selalu membuatku kesal, ha? Tidak bisakah kau diam dan tak membuat masalah!" lirih Lio dengan menyentuh wajah cantik di hadapannya.
"Lio, aku—"
Lagi-lagi Arneta tak dapat menghindar saat pria itu kembali menciumnya. Sebuah ciuman yang akhirnya membawa tubuh mereka berdua ke atas ranjang.
Dan entah siapa yang memulainya, tapi yang jelas keduanya kini saling melepas pakaian yang dikenakan satu dan lainnya, tanpa melepas tautan bibir mereka.
"Tidak, ini salah," gumam Arneta mencoba menyadarkan dirinya sendiri sebelum jauh melangkah. Ketika pria di atasnya tengah mengeksplor tubuh polosnya dengan cumbuan.
Ya, inilah yang ditakuti Arneta jika tubuhnya kembali disentuh oleh seorang pria. Ia akan lepas kendali dan kembali menjadi ja lang yang haus akan belaian. Apalagi sudah bertahun-tahun tubuhnya tak tersentuh oleh pria.
"Hentikan Lio! Kita tidak boleh—"
Terlambat, semuanya sudah terlambat karena pria itu telah memulai percintaan mereka. Arneta bahkan tak dapat menahan desahannya saat penyatuan itu terjadi. Bahkan saat pria itu membawanya kesebuah kenikmatan, Arneta seperti seorang wanita murahan yang terus mendesah menyebut nama Lio Richard.
Kini kedua manusia yang tengah diselimuti gairah panas itu bergumul di atas ranjang, saling memuaskan satu dan lainnya. Buliran keringat pun memenuhi tubuh keduanya, seakan menggambarkan betapa panasnya kegiatan yang sedang mereka lakukan kini.
"Amalia...." Lio memanggil di sela erangannya.
Deg
Arneta yang terkejut, menatap pria yang ada di atas tubuhnya itu dengan tak percaya, karena tadi Lio Richard menyebut nama masa kecilnya.
"Tidak mungkin," lirih Arneta.
"Amalia..." Lio kembali mengerang.
Membuat Arneta yakin jika Lio benar-benar memanggil nama kecilnya, dan itu berati pria itu sudah mengetahui siapa dirinya dimasa lalu.
"Lio, kau..." Lagi dan lagi pria itu membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman disela pergulatan panas mereka.
Entah berapa lama keduanya menuntaskan hasrat, namun yang pasti Arneta langsung tertidur setelah percintaan panas itu selesai.
*
*
Arneta yang terbangun dari tidurnya dalam keadaan polos tertutup selimut. Hanya mendapati dirinya seorang diri di dalam ruangan tersebut, karena pria yang semalam memberikannya kehangatan itu sudah pergi entah kemana.
"Arneta kau bodoh!" umpatnya pada diri sendiri setelah apa yang dilakukannya semalam bersama Lio Richard. "Kenapa kau tidak bisa menahan hasratmu? Bagaimana kalau Ivy tahu kalau Ibunya kembali menjadi seorang wanita murahan yang tidur dengan pria beristri."
Arneta yang lelah menyalahkan dirinya sendiri, kini hanya bisa menghela napasnya sambil berpikiran positif dengan apa yang sudah terjadi. Setidaknya Lio tidak jadi mengusirnya, sehingga ia masih bisa menemani putri kecilnya.
"Ivy..." Arneta langsung beranjak dari atas ranjang setelah mengingat putrinya.
Ya, dia harus segera membersihkan diri dan mencari tahu kemana Lio dan Anna membawa Ivy pergi. Karena jujur ia merasa takut pasangan suami-istri itu membawa Ivy pergi jauh darinya.
Namun ketakutan yang dirasakan Arneta langsung menghilang, saat ia melihat putri kecilnya kembali bersama Sasha dan tentunya dengan Lio dan Anna.
"Mommy..." Ivy berlari lalu memeluk mom Arneta dengan erat.
Arneta pun membalas pelukan putri kecilnya dengan perasaan lega, karena akhirnya Ivy kembali pulang ke mansion Richard. Dan tentunya kembali ke dalam pelukannya.
"Ayo kita masuk ke kamarmu sayang," ajak Arneta pada putrinya.
Karena ia merasa canggung berhadapan langsung dengan pria yang semalam bertukar peluh dengannya.
"Ayo..."
Ivy pun berjalan bersama Mom Arneta dan Aunty Sasha. Sementara Lio dan Anna hanya menatap ketiga orang tersebut dalam diam.
"Anna aku harus kembali ke kantor, karena ada urusan yang harus ku kerjakan."
"Oke, hati-hati di jalan." Anna mencium bibir Lio seperti yang biasa dilakukannya selama ini jika sang suami pergi berangkat kerja.
Dan apa yang dilakukan Anna tadi, tentu saja dilihat oleh Arneta yang kebetulan menatap ke belakang.