
Kepala Asha terasa sangat berat, tetapi dia berusaha untuk membuka mata. Entah apa yang terjadi Asha tidak bisa mengingat apa-apa. Bahkan Asha juga tidak tahu sedang berada dimana dirinya saat ini. Sambil mengerjap pelan, langsung menoleh kesamping karena terasa asing baginya.
"Kara." Satu kata yang keluar dari bibir Asha sat melihat Askara tidur disampingnya. Namun, saat melihat Askara tidak mengenakan baju, Asha langsung melotot dengan lebar. Saat diintip kebawah selimut, ternyata juga tidak ada pakaian yang melekat di tubuhnya. Karena merasa panik, Asha langsung membangunkan Askara.
"Kara bangun! Apa yang telah kita lakukan?" Asha mencoba untuk menggoyangkan tubuhnya.
Askara yang merasa terganggu menggeliat dengan pelan. "Ada apa, Sha. Aduh ... kepalaku kok berat, ya." Askara mencoba untuk membuka mata.
Setelah mengumpulkan separuh nyawa, matanya tercengang karena melihat Asha terisak. Dirinya juga sangat terkejut dengan penampilannya saat ini.
"Sha, apa yang terjadi?" tanyanya dengan heran. Padahal seingat Askara mereka berdua tidak mabuk, lalu mengapa keduanya bisa berada diatas tempat tidur dengan keadaan tanpa busana.
"Aku enggak tahu, Ra. Aku gak ingat apa-apa," ucap Asha dengan lemah.
"Sama. Aku juga tidak mengingat apa-apa, Sha. Tidak mungkin kan kalau kita tadi malam telah melakukan itu—" Askara menjambak rambutnya untuk mengingat apa yang telah terjadi tadi malam. Namun, Askara sama sekali tidak bisa mengingatnya.
"Sha ... maaf aku tidak bermaksud untuk merusakmu."
Asha hanya terisak dalam tangisnya. Meskipun dia sudah menerima lamaran Askara, bukan berarti dia merelakan tubuhnya untuk disentuh sebelum mereka menikah.
Hampir satu harian dua insan itu berada didalam sebuah kamar. Sudah jelas jika saat ini kedua sedang berada di kamar hotel. Bahkan Askara mengabaikan ponselnya yang sejak tadi terus berbunyi. Dia sudah bisa menebak jika yang menghubunginya adalah Kaisar.
Tidak berselang lama ponsel Asha juga berbunyi. Sebuah nama Kania mengambang di layar ponselnya. Sambil melirik kearah Askara yang masih berdiri di depan jendela, Asha mengangkat panggilan telepon dari Kania.
"Halo Kan," kata Asha dengan pelan.
"Aku baik-baik saja. Ada apa?"
"Apakah kamu sejak tadi belum membuka hape? Hari ini kamu menjadi tranding topik, Sha. Jangan bilang kamu belum melihatnya."
"Berita apa, Kan. Aku tidak tertarik untuk melihatnya. Memangnya berita tentang apa?" Asha masih bersikap polos karena memang tidak tahu apa-apa.
"Astaga ... Asha! Itu berita tentang kamu dan seorang pria, Sha. Ya sudah jika kamu tidak berniat untuk melihatnya, mending gak usah kamu lihat. Toh juga berita tidak penting. Aku merasa lega aja jika kamu baik-baik aja. Dah dulu ya ... bye...!" Kania pun langsung mematikan ponsel.
Askara yang merasa penasaran langsung bertanya kepada Asha. "Ada apa, Sha?"
"Gak tahu. Katanya pagi ini ada berita tentangku yang sedang trending," jawab Asha dengan lemah.
Bukan Askara namanya jika tidak merasa penasaran. Dia langsung mengambil ponselnya yang berada diatas meja. Bahkan karena ingin melihat berita apa yang sedang trending, Askara memilih untuk mengabaikan semua pesan yang dikirim oleh Kaisar kepada dirinya. Karena bagi Askara yang terpenting itu adalah Asha.
"Sebenarnya berita apa, sih?" gumam Askara.
Matanya terbelalak dengan lebar karena sangat terkejut dengan sebuah foto Asha yang sedang berada di tempat tidur. Bahkan yang membuat Askara semakin membulatkan matanya adalah sebuah caption yang menjelekkan Asha.
"Gila, ini gila! Bisa-bisanya mereka membuat berita sampah seperti ini! Sebenarnya siapa yang sudah merencanakan semua ini? Apakah mungkin Karina! Argh ... sial!" umpat Askara.
"Ada apa Kara?" tanya Asha yang merasa yang juga merasa penasaran dengan berita pagi ini.
"Gak ada apa-apa."