My Ex

My Ex
Sebuah Rahasia



Askara hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Mau tak mau Askara menuruti keinginan Asha untuk memintakan izin pada bos Kania.


"Puas kamu!" ketus Askara pada Kai yang belum beranjak dari rumahnya.


"Terima kasih, Bos. Anda baik sekali. Tapi ngomong-ngomong apakah anda tidak mempunyai rencana untuk liburan secara Anda ini adalah pengantin baru, lho." Kai memanasi Askara.


Sejenak Askara terdiam untuk memikirkan saran yang diberikan oleh Kaisar. Ada kenapa juga jika dia juga harus liburan. Kapan lagi jika tidak sekarang? Jika kelak Asha sudah mengandung bibitnya, akan semakin susah mengajak Asha liburan.


"Sudahlah sana pulang! Muak aku melihat wajahmu!" usir Askara.


Kaiasar tidak merasa keberatan ketika dia harus diusir karena dia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Ya sudah, aku pulang Bos. Asha terima kasih. Aku sangat beruntung bisa mengenalmu," ujar Kai sebelum meninggalkan rumah Askara.


Sepeninggal Kai, Askara juga langsung mengungkapkan keinginannya untuk mengajak Asha berlibur. Namun, Asha tidak mau karena saat masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan oleh Askara.


"Tapi aku bisa mengatasinya, Sha!"


"Tidak Ra! Kamu harus selesaikan dulu semua pekerjaanmu baru kita akan liburan."


.........


Pulau Bali adalah tujuan Kaisar untuk liburannya. Selama ini Kai merasa penasaran dengan pulau Bali yang sering dikunjungi oleh para wisatawan baik dari dalam negeri maupun manca negara. Bahkan kebanyakan pasangan melakukan honeymoon di pulau tersebut.


Sesampainya di Bandara, Kai sudah dijemput oleh seseorang. Kania hanya mengikuti langkah Kai untuk menuju ke sebuah mobil.


"Kai, apakah kamu sudah menentukan tempat penginapan untuk kita?" tanya Kania.


"Kamu tenang saja. Semua sudah aman. Kamu juga enggak usah pikiran biaya kita selama liburan, karena semua ditanggung oleh Bos Kara."


"Seriusan Kai? Tumben bos kamu baik sekali Biasanya perhitungan sekali," timpal Kania.


"Ya karena aku menggunakan kelemahannya untuk memberikan biaya liburan ini. Jadi saat ini kita sedang menikmati liburan gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun. Bahkan kita juga dapat uang jajan setiap harinya. Tapi kamu jangan boros-boros ya. Sebagai kita simpan buat modal kita nikah nanti," ujar Kai.


"Wah ... keren sekali Kai. Kayak anak TK ya, dapat uang jajan." Kania tertawa pelan.


Tidak butuh waktu lama mobil yang ditumpangi oleh Kaisar telah sampai di sebuah hotel di kawasan dekat pantai. Kaisar sengaja menginginkan tempat itu agar bisa leluasa saat melihat pantai dari dalam kamarnya.


"Kan, kita pesan satu kamar aja ya," kata Kaiasar.


"Terserah kamu aja, Kai! Tapi kamu gak boleh macam-macam! Kita belum halal!"


"Iya, iya. Aku tau itu. Aku tahu batasannya."


Sebenarnya hubungan Kania dan Kaisar sudah menginjak tahun ketiga. Namun, karena mamanya Kania masih belum yakin dengan Kai, maka keduanya belum mendapatkan restu. Padahal Kai itu tampan, hanya saja dia tidak kaya. Dan setiap bulan dia harus mengirimkan uang untuk biaya pendidikan adiknya yang berada di luar negeri. Itu sebabnya Kai belum siap untuk menikah dalam waktu dekat dengan Kania, karena masih membiayai pendidikan adiknya.


🌼🌼🌼


Asha terbangun karena mendengar sedikit keributan. Saat dia menoleh, dia sudah tidak menemukan Askara yang tidur di sampingnya. Karena merasa penasaran dengan keributan yang didengarnya, Asha pun memutuskan untuk langsung melihatnya.


Dengan langkah pelan, Asha menuruni anak tangga. Sudah tidak asing lagi suara yang ditangkap oleh telinganya. Jelas itu adalah suara Karina. Tetapi mengapa pagi buta seperti ini Karina sudah sampai disini?


"Kak, sudah cukup Kak Kara menyembunyikan semua ini dari Asha. Apakah Kak Kara tidak capek? Aku sudah lelah, Kak!" bentak Karina pada Askara.


"Karin, stop ungkit masalah itu! Aku sudah bertanggung jawab. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas masalah ini lagi. Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri, jadi tolong jangan usik kebahagiaanku lagi.


"Enak sekali Kak Kara berbicara seperti itu setelah menghancurkan seluruh hidupku! Selama ini aku diam menutupi semuanya. Tapi apa yang aku dapatkan? Setelah Kak Kara bertemu lagi dengan Asha, Kak Kara tidak peduli lagi denganku. Selama ini aku yang mengurus ibu Kak Kara. Dan ini balasan kakak kepadaku?"


Askara membuang nafas kasarnya. Namun, sekelebat matanya menangkap sosok Asha yang sedang berdiri tetangga. "Asha," ucapnya pelan.


Karina pun langsung menatap kearah Asha dengan penuh kebencian. Susah payah Karina berusaha untuk menyingkirkan Asha, tetapi wanita itu malah datang kembali di kehidupan Askara.


Asha tidak tahu rahasia apa yang sedang disembunyikan oleh Askara. Namun, Asha bisa menyimpulkan jika Askara telah melakukan sebuah kesalahan.


"Ada apa ini? Mengapa pagi-pagi udah ribut?" tanya Asha.


Mendadak Askara merasa sangat gugup saat ingin menjawab pertanyaan Asha. Entah sejak kapan Asha berada di tangga.


"Kamu ngapain pagi-pagi sampai sini, Rin?" Kini Asha menatap ke arah Karina.


"Kamu tidak usah berlagak seperti nyonya di rumah ini! Kamu karena kamu itu hanya sampah yang dipungut oleh Kak Kara."


"Karin!" sentak Askara. "Jaga ucapanmu. Jika kamu tidak bisa menjaga sikap kamu mending kamu tidak usah mengerjakan kata-kata ini lagi. Asha adalah istriku, kamu harus sopan sama dia!"


Karina tersenyum ketika. Tatapan penuh kebencian yang tidak akan pernah hilang. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap dia sebagai istrimu, karena dia itu hanya sampah!" ucap Karina sebelum pergi.


Bagi Asha, dia sudah biasa mendengarkan kata-kata kasar yang keluar dari mulut Karina. Jadi saat ini dia sudah tidak mengambil hati lagi. Asha yang sekarang, bukankah Asha yang dulu, yang mudah untuk ditindas.


"Kara, apa yang sedang kamu rahasiakan dariku? Bukankahkamu sendiri yang mengatakan jika kita harus saling terbuka? Jika kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku, apakah aku harus percaya kepadamu?" Kini Asha mendekat ke arah Askara.


Askara mencoba untuk membuang kegugupannya. "Kamu ngomong apa sih, Sha. Aku tidak menyembunyikan apa-apa darimu. Percayalah padaku."


Asha hanya tersenyum getir ketika Askara masih berusaha untuk menyembunyikan sesuatu darinya. "Baiklah, aku harap kamu memang sedang tidak menyembunyikan sesuatu."


Lain di hati, lain pula di mulut. Meskipun Asha mengatakan dia baik-baik saja, tetapi hatinya terasa sesak ketika mengetahui jika Askara sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Ya, meskipun Askara sendiri mengatakan jika dia sedang tidak menyembunyikan apa-apa, tetapi hati seorang wanita itu sangat peka. Dari tatapan matanya saja Asha sudah bisa membaca jika Askara sedang tidak jujur kepada dirinya. Bukankah sebuah hubungan yang tidak didasari dengan kejujuran hanya akan menjadi bumerang? Asha tidak ingin kegagalan yang pernah terjadi kepada dirinya terulang lagi. Berpisah dengan orang yang sangat dicintai itu sangat menyakitkan. Jika bisa meminta, Asha tidak ingin pernikahannya ini gagal karena adanya sebuah kebohongan lagi.