
Hancur hati Asha setelah mengetahui sebuah kenyataan dimana Askara pernah melakukan hubungan badan dengan Karina, meskipun dalam keadaan tidak sadar. Yang membuatnya lebih hancur lagi ternyata Karina bukanlah adik kandung Askara dan niatnya selama ini menghancurkan hubungannya dengan Askara karena Karina menginginkan Askara. Bukan sebagai kakak, tetapi sebagai pasangan pada umumnya.
Langit yang cerah mendadak tertutup awan hitam. Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan membasahi bumi yang kering. Asha tak peduli. Dia terus berjalan tanpa tujuan dengan sejuta rasa sesak di dalam dadanya. Hatinya benar-benar sangat hancur dengan kenyataan ini.
"Mengapa ... mengapa aku baru mengetahui setelah aku kembali pada Kara. Kenapa tidak jauh-jauh hari aku mengetahui kenyataan ini. Mengapa Tuhan?" Asha masih terisak di bawah guyuran air hujan yang semakin lama semakin deras.
Langkah kaki yang tak berarah, membuat Asha terus melangkah. Tak ada tempat yang dituju, karena Asha memang tidak memiliki siapa-siapa lagi. Hanya keluarga Kania satu-satunya tempat untuk bernaung. Namun, Asha menyadari jika selama ini telah banyak membebani keluarga Kania dan memutuskan untuk tidak pergi ke rumah Kania.
Disisi lain Askara tidak peduli dengan berbagai ancaman yang diberikan oleh Karina karena dia tetap pada pendiriannya, tidak akan menikahinya. Semua terjadi begitu saja karena saat itu Askara sedang dalam pengaruh alkohol.
"Aku tidak peduli dengan ancamanmu sekalipun kamu menyebarkan aib ini. Aku tidak akan takut untuk kehilangan apa yang telah aku miliki, asalkan aku tidak kehilangan Asha. Ternyata selama ini aku salah telah memelihara benalu seperti kamu. Sudah bagus aku mau membiayai semua keperluanmu. Jangan bermimpi untuk aku nikahi karena sampai akhir hayat ini aku tidak akan menikah denganmu!" ujar Askara dengan rasa kecewanya pada Karina.
Askara tidak pernah menyangka jika Karina bisa memiliki perasaan lebih kepadanya. Padahal setelah kejadian itu Askara sudah meminta Karina untuk melupakan malam. Anggap malam itu tak pernah ada. Namun, Kenyataan Karina malah menyimpan perasaan itu dan mencoba untuk mendapatkannya dengan berbagai cara. Salah satunya dengan cara menghancurkan keluarga yang sedang dibina oleh Askara.
"Cukup Karin! Jangan sekali-kali kamu menyakiti ibu. Meskipun dia bukan ibu yang melahirkan kamu, tapi dia ibu yang telah merawat kamu sejak kecil. Memberikan kasih dan cintanya padamu. Menyayangimu layaknya anak kandung. Lalu apa yang ingin kamu lakukan padanya? Inikah balasan dari semua yang ibu berikan padamu. Jika kamu tega, silahkan lakukan sesuka hatimu pada ibu, tapi kamu juga akan menyesal setelah ini!"
Karina membeku tanpa kata. Ucapan Askara mampu menamparnya hingga ulu hati. Bukan niatnya untuk membalas air susu dengan air tuba, Karina hanya ingin mendapatkan apa yang diinginkannya saja, yaitu dinikahi oleh Askara karena saat ini dia telah menjadi wanita cacat yang tak akan ada satu pria menerimanya. Jikapun ada pria itu tidak akan bisa menerima Karina apa adanya. Lalu salahkan jika Karina menginginkan pertangungjawaban dari Askara?
Melihat hujan yang semakin deras, Askara langsung menyambar kunci mobilnya. Sungguh dia merasa sangat khawatir dengan keadaan Asha yang tak tahu telah pergi kemana.
"Asha kamu dimana? Tolong jangan tinggalkan aku untuk yang kedua kalinya. Aku tahu aku telah salah, tapi aku tidak sengaja, Sha. Asha ... " Mata Askara dengan terus menyapu jalanan untuk menemukan sosok Asha. Namun, sepanjang jalan Askara tak menemukan keberadaan Asha dipinggiran jalan.
"Asha ... kamu dimana?"