My Ex

My Ex
Ikhlaskan lah...



Malam itu Nadine hanya menyibukan diri dengan ponselnya. Memutar beberapa video di YouTube untuk menghilangkan kejenuhannya. Ia rindu sekali dengan Arka, jika saja mereka masih bersama, saat ini Arka pasti tengah menelfon nya mengajaknya berbincang hal-hal yang menghiburnya.



Satu hal yang sangat Nadine suka dari Arka, lelaki itu sangat pandai memperbaiki mood Nadine yang tadinya seperti badai di lautan dengan banyak petir menjadi seperti padang bunga yang indah dengan pelangi dan langit yang cerah. Nadine tak pernah dibuat kecewa dengan cara Arka menghibur dirinya.



Tapi sekarang sudah tidak ada lagi hal seperti itu. Nadine menghela nafas, fikirannya mulai melayang jauh, membayangkan Arka yang sekarang tengah asik dengan Clarissa, membuat hati Nadine mulai memanas.



Nadine merasa dirinya sangat amat lelah hari ini, ia berniat untuk ambil MC besok. Nadine perlu istirahat untuk badan, fikiran dan juga hatinya. Terlebih akhir-akhir ini kerjaannya sangat menumpuk membuatnya sulit bernafas.



‘*bad day, lelahnya diri ini*,’


Tulis Nadine di status whatapp-nya. Selang beberapa menit ada sebuah pesan masuk.


Arka: kenapa? Hari ini keliatan mumet banget.


Nadine terdiam cukup lama membaca pesan Arka. Selalu saja begitu, ketika dia sangat rindu dan memikirkan Arka, entah bagaimana bisa tak lama Arka pasti menghubunginya. Seperti saat ini.


Perlahan rasa rindunya sedikit terobati, senyum simpul tergambar diwajahnya. Bahkan hanya dengan begitu saja Arka sudah menaikan mood seorang Nadine.


Nadine: cape aja, hari ini perasaan ga ada yang beres. Pagi-pagi udah kena masalah aja.


Nadine mengadu pada Arka. Salah satu yang membuat Nadine sangat merasa kehilangan dari sosok Arka adalah sisi Arka yang seperti sahabat curhatnya. Mereka banyak sekali bertukar cerita, bertukar fikiran selayaknya sahabat karib. Maka ketika Arka pergi, Nadine merasa kesepian. Ia merasa kehilangan teman curhatnya.


Arka: pagi-pagi? Masalah apa?


Nadine: ya itu, biasa. Gue salah pasang model, jadi kena omel.


Arka: loh, lagi?


Arka sangat tau, Nadine memang sering membuat kesalahan dibanding rekannya yang lain. Dia memang sedikit ceroboh.


Nadine: iya gitu deh. Tapi ini parah, gue buat salah sampe satu daftar. Jadi kena surat peringatan.


Arka: serius? Wah lu kena SP. Ko bisa sampe satu daftar, lu kerja sambil tidur?


Nadine: ya enggak lah, ya kali tidur. -_-. Gua cape, banyak pikiran juga.


Arka: mikirin apa? Yaudah istirahat aja


Nadine merasa geram dengan Arka. Terkadang Arka walaupun tau apa penyebabnya, dia selalu pura-pura tidak tau. Ingin rasanya Nadine meneriaki Arka kalau ini semua karena Arka yang mematahkan hatinya.


Arka: gue minta maaf


Nadine: maaf buat apa?


Arka: gue ngerasa salah aja, soal kemarin.


Nadine merasa sedikit was-was, sepertinya Arka mulai membahas topik yang sama sekali tak ingin Nadine bahas.


Nadine: oh, yaudah santai aja, lagian gue juga sadar diri, apasih gue dibanding cewek lu. I’m just nothing.


Arka: hmm...


Arka: maaf, gue juga ga tau kau bakal jadi rumit begini, maaf.


Nadine: yaudaah santai aja. Gue gapapa. Cuma shock aja, kalau apa yang selama ini gue khawatirkan ternyata kejadian juga. Ga usah terlalu difikirin, bukan hal yang harus difikirin juga, ngasilin duit engga, pusing iya.


Arka: hahaha iya si, bener. Btw sabar ya karena lu dapet SP.


Nadine: iya, makasih bosku. Laper gue.


Arka: laper ya makan lah masak sana.


Nadine: ah malezzz...malem-malem gini masak, pengen makan aja gue sih.


Arka: iyalah, emang lu gitu kan


Nadine: apanya?


Arka: yaaa gitu males mulu


Nadine: iya hehe, tau aja. Arka memang terbaik haha. Ini gua lagi makan roti, laper bos.


Arka: nah iya, itu aja. Untung ada yang bisa dimakan, kalo gak ada kesian lu, udah kurus makin aja kurus. Itu vitamin yang gue kasi udah abis belum? Diminum gak?


Nadine terperanggah, dia baru ingat dengan vitamin itu. Vitamin yang Arka berikan untuknya sebagai vitamin penambah nafsu makan. Sebab Arka tau, Nadine ini sedikit susah kalau makan, terlalu banyak mager. Membuat Arka gemas dengan Nadine yang sulit makan.


Nadine: oh iya vitamin, lupa gue... sorry... masih ada banyak, jarang banget diminum, lupa terus gue. Lu sih ga ngingetin, coba kalo tiap malem lu ingetin gue sebelum tidur pasti gue minum.


Arka: kebiasaan, kalo gitu terus kapan mau gemuk?


Nadine: hehehe, eh disana ujan ga? Disini lagi hujan, dingin bosku... >.<


Arka: wah....best itu untuk ‘ehem-ehem’ wkwkwk


Nadine: apaan si lu, receh -_-, banyak petir tau..


Arka: nah,,, lebih bagus lagi itu, coba lu rekam, gue pengen liat kilatan petirnya.


Nadine: ogah banget, entar gua kesamber petir gimana ceritanya coba.


Arka: tenang aja bosku, kan ada rumah sakit ahaha


Nadine: aah sialan lu, jahat banget


Arka: ehehe, sekali kali jahat gapapa kan...


Nadine: iya sekali kali jahat, tapi sekalinya jahat nusuk banget sampe kejantung, sakit banget hati gue.


Arka: -_-


Skak mat. Nadine menyindir Arka terang-terangan. Setelah itu tak ada lagi perakapan diantara mereka. Jam sudah menunjukan pukul 12.30 malam, sudah lewat tengah malam. Saatnya untuk istirahat, rasanya esok Nadine tak akan bisa bangun dari kasurnya, pundak dan lehernya sangat pegal sekali.



Hati Nadine mulai menghangat setelah chit-chat dengan Arka. Ia merasa senang, akhirnya Arka tak lagi mendiamkannya. Jika didepan mata Nadine terlihat membencinya, tapi jauh di lubuk hatinya Nadine sangat amat menginginkan Arka.



“akhirnya ada celah, seenggaknya gue ga terlalu canggung lagi kalo di sosmed.” Gumam Nadine sebelum tertidur.


***


Semenjak percakan hari itu, Nadine merasa Arka jadi lebih sering menghubunginya. Entah itu adalah masalah yang penting tentang pekerjaan, maupun hal-hal tak penting. Nadine tak keberatan jika yang dibahas adalah hal-hal yang menurutnya penting, tapi terkadang dia merasa heran, jika Arka menghubunginya hanya untuk hal-hal sepele.



Nadine tak ambil pusing masalah itu, apa motif Arka dia tak terlalu memikirkannya. Menurutnya, perpisahan bukan berarti menjadi tembok pemisah diantara mereka. ‘Selama dia baik dan sopan sama gue, gua akan tetep ladenin dia. Walaupun dia mantan.’ Prinsip Nadine.



Lagi pula jika difikir-fikir, memang tidak adil jika Nadine membenci Arka hanya karena mereka putus dan Arka pergi dengan perempuan lain. Itu sama saja terlalu membesar-besarkan satu masalah dan mengabaikan kebaikan-kebaikan yang telah Arka buat untuk dirinya dulu.



Nadine hanya perlu space untuk dirinya agar perasaanya kembali netral. Dan sepertinya dengan seperti ini tidak apa-apa. Walaupun kesannya dia seperti berkomunikasi diam-diam. Tapi sejauh ini masih aman. Setidaknya ketika ditempat kerja, Nadine tak lagi bingung bagaimana harus bersikap ketika di depan Arka.



Sedikit-sedikit berita tentang putusnya hubungan mereka di ketahui oleh rekan-rekan kerjanya. Bukan karena mereka menyebarkan beritanya, tapi teman-teman nya merasa ada yang berbeda dengan Nadine dan Arka yang makin lama seperti biasa saja. Mereka tak lagi sering duduk berdua ketika istirahat, atau tak lagi duduk bersama ketika sarapan, ketika pulang selalu masing-masing. Bahkan ketika berpapasan pun, tak ada tegur sapa manja seperti dulu.



Tapi teman-temannya tak membuat berita ini heboh, ketika mereka sudah tau, mereka tak banyak bertanya pada Arka maupun Nadine. Karena Arka maupun Nadine sangat risih dengan orang-orang yang kepo dengan urusan pribadi mereka.



Sore itu, Nadine dibuat penasaran dengan status Arka. Dia men-*capture* sebuah tulisan yang menceritakan tentang halangan-halangan seseorang yang hendak menikah. Iya mencurahkan isi hatinya secara tersirat disana. Tapi Nadine faham, hubungan Arka dengan Clarissa pasti tengah bermasalah.



Karena tak mungkin Arka membuat status demikian jika tidak ada apa-apa. Tapi Nadine tak mau ikut campur, itu bukan urusannya. Memangnya kenapa kalau mereka bertengkar? Sama sekali tak ada hubungannya dengan Nadine.


Kecuali penyebabnya adalah karena dirinya yang membuat Clarissa cemburu dan memancing pertengkarang diantara keduanya. Mungkin Nadine akan merasa senang hati.


‘EH...oops..’ batin Nadine, merasa pikirannya terlalu jauh.


Tiba-tiba Nadine teringat saat pertama kali ia pergi bersama Arka, kesan pertamanya dengan seorang Arka.


Flasback...


Ini adalah cerita dimana Arka dan Nadine masih berstatus sebagai teman, hanya teman biasa.


Sabtu siang yang cerah. Langit tanpa awan dan suasana hati yang sangat baik. Hari itu Nadine pergi menemani Arka berbelanja baju ke sebuah mall. Mereka duduk di restoran makanan cepat saji untuk makan siang bersama.


Kesan pertama Arka terhadap Nadine.


‘ternyata dia orangnya asik juga kalo diajak ngobrol begini, beda banget kalo di tempat kerja, cuek abis. Dia juga punya selera fashion yang mirip sama gue. Keliatan kalo dia cewek yang independent dan smart, beberapa kali gue ngobrol sama dia udah kaya kenal lama, padahal baru beberapa hari yang lalu kita deket.’


Sementara kesan pertama Nadine pada Arka,


‘hmm lumayan juga ni cowok, kirain dia pendiem ternyata bawel parah juga. Asik sih, cute. Dia juga punya banyak kesamaan sama gue, ga heran gue langsung akrab sama dia.’


“Arka, menurut lu gimana kalo gue lanjut *study*?” tanya Nadine meminta pendapat.



“hmm ya bagus lah, ilmu itu kan penting, lagian lu juga pinter, gue yakin lu bisa masuk Universitas. Emang lu study lagi mau apa? Kan udah kerja,”



“ya...pengen aja, gue emang kepo gitu kan, pengen aja belajar lebih banyak, biar banyak ilmu.” Arka menganggukkan kepalanya setuju, iya tau Nadine itu suka belajar hal baru. Bukan Hal aneh jika Arka melihat Nadine.


membicarakan sesuatu yang tak ia tau, tapi Nadine tau. Itulah salah satu pesona yang Arka sukai dari seorang Nadine. Arka banyak belajar dari Nadine, walaupun sebenarnya Nadine 3 tahun lebih muda darinya.


“yaudah, gue dukung aja kalo lu mau lanjut *study*, selagi masih muda, ya kan,” Arka tersenyum dengan lebar mendukung keinginan Nadine.



“tapi kalo gue lanjut belajar, kayanya gue bakal resign dari perusahaan dan bakal pindah jauh dari sini, mungkin juga ga balik lagi.” Ucapan Nadine membuat Arka menghilangkan senyumannya, dia bingung harus merespon apa.



“hmm kenapa ga masuk Univ disini aja, kan bisa sambil kerja juga.”



“gue udah nyari dan gue ga tertarik, karena jurusan yang gue mau ga ada disini, mungkin gue bakal kuliah keluar negeri, makanya gue lagi *prepare* sekarang.” Nadine meminum cola-nya dengan santai tak menyadari perubahan mimik Arka yang sedikit sedih mendengar keputusan Nadine.



Arka mulai tertarik dengan Nadine, ia ingin tau lebih banyak tentang gadis ini. Karena menurutnya Nadine itu *limited edision*. Arka terdiam cukup lama.



“tapi gue seneng punya temen kaya lu, lu paham sama gue, jadi gue nyaman kalo cerita banyak hal sama lu, dari yang ga penting sampe hal yang penting,” aku Nadine jujur.



“iya, gue juga.” Arka tersenyum menyiratkan sesuatu dihatinya.



“lu janji ya, jadi temen gue minimal sampe kontrak kerja gue habis, sebelum gue pergi buat belajar lagi, janji? Temenin gue selama kerja disini.” Nadine mengulurkan tangannya.



“janji.” Arka menyambut tangan Nadine dengan lugas.



“oke deal,” Nadine tersenyum simpul.



“emm...Nad, ada yang mau gue omongin sama lu,” Arka merendahkan suaranya, terdengar lebih serius. Nadine memandang Arka menunggu lanjutan kalimatnya.



“eerr...gimana ya bilangnya,” Arka menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia jadi kikuk sendiri.



“apaan si? Ngomong aja kali, santai aja pak,” goda Nadine melihat Arka canggung sendiri.



“hmm, tapi kalo gue ngomong sekarang, kayanya terlalu cepet.” Arka memandang lurus langsung ke manik mata Nadine. Membuat Nadine bingung dengan tatapannya.



“emm, apa ya? Lu juga ngapain liatin gue kek gitu, curiga gue.” Nadine mengalihkan pandangannya, ia merasa ada perasaan aneh yang masuk kedadanya.



“hahaha, entar ajalah, yuk lanjut jalan. Temenin gue milih baju,” Arka tertawa geli melihat respon Nadine yang menurutnya lucu.



Mereka kembali berjalan-jalan mengelilingi mall mencari baju dan beberapa barang, *it’s shoping day*.



Sebenarnya Arka ingin mengatakan kepada Nadine tentang perasaannya, tapi ia mengurungkan niatnya karena dirasa *timing* yang kurang pas. Sejak hari itu Arka terikat janji dengan Nadine untuk tetap berteman baik, apapun yang terjadi, minimal sampai Nadine selesai kontraknya.


Flasback end...


Nadine mengingat janjinya dengan jelas. Itu artinya ada sekitar 5 bulan sebelum kontraknya benar-benar selesai. Tapi apa jika keadaan sudah seperti ini mereka akan tetap bisa berteman dengan baik? Tanpa ada perasaan yang kembali tersakti??



Nadine menggigit bibirnya gugup. Ia berfikir sejenak. Apa yang Arka lakukan padanya belakangan ini hanya karena ingin menjaga janji? Karena ia tau, Arka masih memperhatikannya, masih sering menghubunginya, dan masih bersifat ramah dengannya. Apa itu semua tak lain hanya karena ‘janji’? atau mungkin hanya karena *feeling guilty*? Apa itu semua tak ada sangkut pautnya dengan perasaan pribadi Arka kepadanya? Nadine menebak-nebak apa motif Arka masih peduli padanya.


.....


Allah tak akan memberikan cobaan yang diluar kemampuan hambanya,’


‘janji Allah itu terucap 2 kali, bersama kesulitan ada kemudahan, bersama kesulitan ada kemudahan.’


\*\*\*



Nadine menggeliat pelan diatas kasurnya, ini hari Minggu. Dan dia dengan santai tidur kembali setelah subuh. Nadine terbangun, meraih ponselnya melihat jam.


10.30am


Nadine langsung terduduk setelah melihat jam, menepuk kepalanya baru menyadari sesuatu.



“mampus gue! Telat nih....” Nadine ribut sendiri langsung mengabari teman-temannya. Pasalnya ia sudah ada janji pergi *shoping* dengan teman-temannya siang hari ini.



Nadine langsung menyambar handuk dan pergi mandi. Harusnya mereka pergi pukul 11, tapi Nadine baru saja selesai mandi, ia belum menyetrika baju yang hendak ia pakai, belum lagi Nadine bingung sendiri mau pakai baju apa hari ini.



Setelah satu jam berlalu, Nadine buru-buru keluar dari lift karena teman-temannya sudah menunggunya di taman bawah. Nadine berpenampilan sangat casual. Kaos lengan panjang warna army dan jeans biru, serta yang membuatnya berbeda sekarang adalah sebuah kain warna hijau yang ia pakai menutupi kepalanya.




“hai, sorry nunggu lama ya? Ngaret banget gue, *sorry* ya...” ucap Nadine begitu tiba di taman. Salma melongo melihat penampilan Nadine.



“eih...siapa nih? Tumben pakai hijab, kirain lu lama lagi dandan ngurusin rambut,” ucap Salma yang entah memuji atau menyindirnya.



“ehehe iya nih, tobat lah gue, mau jadi anak baik.” Ucap Nadine sambil tersenyum menunjukan gigi serinya.



“Alhamdulillah, bagus gitu Nad, cantik.” Puji Sarah jujur. Membuat Nadine tersipu malu.



Mereka pun pergi sebelum matahari semakin tinggi. Nadine sebenarnya berniat memberi baju baru, ia mencari baju gamis. Sedikit banyak Nadine mulai berubah. Banyak dia termenung dengan apa yang telah ia alami. Ia tau semua yang terjadi tak mungkin kebetulan, karena baginya tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua adalah atas kehendak dan takdir Allah.



Apa yang telah terjadi padanya benar-benar menjadi cambuk untuknya. Ia merasa telah bangun dari tidur panjangnya. Nadine sadar sekarang, semenjak ia berpacaran dengan Arka banyak sifatnya yang berubah menjadi seperti bukan dirinya. Sedikit-sedikit dia melupakan kewajibannya kepada Tuhannya. Semua waktu, fikiran, dan hatinya sangat penuh dengan Arka, seolah tak ada lagi tempat untuk yang lain.



Nadine mulai faham kenapa Allah memisahkannya dengan Arka. Ia sadar, ternyata selama ini Nadine sudah bermain-main terlalu jauh dan tak ingat jalan pulang.



Ketika kamu bermain-main ditepi jurang, besar kemungkinan kamu akan jatuh terperosok kedalamnya. Dan ketika kamu diselamatkan dengan cara yang sangat kasar sekalipun membuatmu terluka. Kamu sama sekali tak pantas menyalahkan orang yang telah menyelamatkanmu, iyakan?



Sesampainya mereka di stasiun kereta menuju ibu kota. Nadine sedikit banyak merasa semua kenangan-kenangannya bersama Arka berputar silih berganti. Nadine memandang stasiun dengan menerawang jauh ke fikirannya.



***Flasback-1***



Nadine duduk bersebelahan dengan Arka didalam kereta. Nadine dengan sengaja memandangi Arka, membuatnya salah tingkah. Nadine merasa lucu melihat Arka tersipu.



“tatapan lu tuh membahayakan tau ga?” ucap Arka tersipu malu.



“apaan? Berbahaya lu pikir tatapan gua ada laser mematikannya,” Nadine menimpalinya asal.



“bukan gitu, tatapan lu menggoda iman,” Arka tersenyum genit membuat Nadine yang mati kutu sekarang.



***Flasback-2***



Nadine menekuk wajahnya, dia kesal bukan main karena telah menunggu Arka begitu lama. 2 jam sudah ia menunggu. Kalau sampai keretanya datang lebih dulu daripada Arka, Nadine tak akan mau menunggunya lagi, ia pasti akan langsung naik duluan dan meninggalkan Arka.



Tapi ternyata Arka begitu beruntung ketika dia datang tak lama kereta pun sampai di stasiun. Nadine merenggut kesal, selama perjalanan Arka tak henti-hentinya meminta maaf berharap Nadine luluh. Pasalnya Nadine bukan hanya karena kesal menunggu tapi ia juga kesal sebab hari kemarin ia telah mendengar sendiri pengakuan Arka yang masih menunggu Clarissa kembali.



Mereka sampai di restoran untuk makan siang. Tak sepatah katapun yang Nadine ucapkan. Air muka Nadine benar-benar menakutkan sekarang, Arka bergidik pelan melihat Nadine. ‘salah apa coba gue’ batin Arka bingung menghadapi Nadine yang marah kepadanya.



“yang, ayo makan dulu, masa baru makan 2 suap ga mau makan lagi. Jangan mubazir,” Arka gemas juga melihat Nadine yang merajuk.


Ia dengan sabar membantu Nadine memotong-motong makanannya, Arka menyendok sesuap nasi.


“nah, ayo buka mulutnya, kalo lu ga mau makan biar gue yang suapin,” ucap Arka lembut.



Hati Nadine tiba-tiba ngilu, fikirannya mulai jauh. ‘begini ya lu dulu sama Clarissa kalo cewek lu ngambek, sekarang lu sama gue begini juga,’ batin Nadine merasa kacau membayangkan bagaimana Arka dengan Clarissa dulu.



“Nadine sayang, makan dulu...” bujuk Arka,



“kita putus aja,” sontak ucapan Nadine membuaut Arka shock,



Tatapan Arka berubah, entahlah. Arka terlihat marah, kecewa, terkejut, sedih dan sedikit frustasi. Mimik mukanya begitu sulit digambarkan. Arka meletakkan sendok dengan kasar.



“ko lu ngomong gitu sih? Lu marah gara-gara gua telat dateng? Kan gua udah minta maaf...” Arka tak terima dengan ucapan Nadine.



“bukan itu, tapi soal kemarin juga. Soal Clarissa...” Nadine menundukkan pandangannya, ia lebih memilih memandangi ujung sepatunya dibawah meja.



“sayang....gua bilang kan Cuma ‘*seandainya*’ kita kan udah bahas itu kemarin...tolonglah..” bujuk Arka meraih tangan Nadine, tapi ditepisnya dengan kasar.



“hmm..gue harus fikirin hubungan kita lagi, gue ngerasa ga nyaman sekarang,” jujur Nadine. Ia tau Arka marah sekarang, terlihat dari tatapannya yang tajam.



“Nadine, please...jangan gitu, sakit hati gue dengernya,” Arka menegaskan suaranya, Nadine hanya terdiam.



“daripada gitu mending lu tusuk aja jantung gua sekalian biar lu puas,” ucapan Arka membuat Nadine memandangnya dengan heran, terlihat raut kesedihan disana membuat Nadine tak tega,



“maaf...gue Cuma masih ga terima sama pengakuan lu kemarin,” ucap Nadine melembut.


...


Flasback-3


Hari ini adalah kencan yang melelahkan untuk Arka dan Nadine, terutama Arka. Mereka duduk didalam kereta berendengan. Nadine melihat keluar jendela memandangi lampu-lampu malam yang cantik, tiba-tiba bahu kirinya terasa berat, ia menoleh kesamping.



Arka dengan manja menyandarkan kepalanya di bahu Nadine, membuat Nadine tersenyum gemas melihatnya. Diusapnya rambut Arka dengan sayang. Tapi dengan sengaja Arka menaikan sebelah kakinya di atas paha Nadine, membuatnya kaget.



“eh berat tau,” protes Nadine menyingkirkan kaki Arka yang menopang di atas kakinya.


Arka tersenyum jail, dia malah dengan sengaja manaikannya lagi. Setiap kali Nadine protes dan menurunkannya Arka terus melakukan hal yang sama, sampai kedua kaki Arka dengan sukses menimpa kaki Nadine. Nadine menghela nafas pasrah dengan kelakuan Arka.


Flasback-end


Nadine kembali ke dunia nyata sekarang. Ia melihat Salma dan Sarah yang duduk di stasiun bersamanya menunggu kereta tiba. Hatinya terenyuh teringat kenangannya bersama Arka di stasiun. Tatapannya sendu, ia merasa sesak di dadanya. Ia merasa rindu.



Tak terasa, mereka telah sampai di mall. Sialnya, Nadine tak berhenti untuk *flasback* dengan kenangan manisnya bersama Arka. Ia memang sering pergi ke mall ini, ia ingat setiap tempat yang pernah ia singgahi bersama Arka, jujur saja ia merasa sesak nafas selama perjalanan ini.



Tak terasa mereka telah menghabiskan waktu di mall sampai malam tiba. Dengan tangan yang menenteng banyak belanjaan dan rasa penat yang mereka bawa pulang. Wajah Nadine sangat kontras dengan kedua temannya. Salma dan Sarah walaupun keduanya sama-sama lelah, tapi tergambar jelas kepuasan dan keceriaan di wajahnya karena berhasil menemukan barang-barang yang mereka cari. Tapi berbeda dengan Nadine, ia terlihat sangat murung.



“wah seneng banget gue...untung belanja hari ini, banyak diskon, terus baju yang merah juga lucu banget, ga mikir lagi gue langsung aja beli, ahahah” Salma dengan semangat menceritakan belanjaannya pada Sarah.



“iya beruntung banget kan kita, tapi gue ga beli barang cuma karena ada diskon sih, percuma lucu kalau gue ga terlalu perlu, gue beli 4 potong baju aja sih sama 3 kerudung,” timpal Sarah. Mereka tak henti-hentinya bercerita, sedangkan Nadine, ia hanya menimpalinya sesekali.



Mereka berjalan beriringan menuju eskalator yang mengarah langsung ke stasiun kereta yang akan mengantar mereka pulang. Hati Nadine benar-benar ngilu sekarang ia ingat dengan sangat jelas saat ia dan Arka begitu sering melewati eskalator ini.



Semua senyum dan candaan Arka membuat dirinya begitu merindu. Nadine diam termenung, fikirannya sudah melayang jauh. Tatapannya menerawang.



“Nad awas jatoh, ayo jalan..” suara Sarah menyadarkannya ke dunia nyata.



“eh, apa? Oh iya, makasih.” Nadine terkejut saat dirinya sudah ada diujung eskalator dan hampir terjatuh karena melamun. Salma memegangi lengan Nadine yang hampir terjatuh ketika melangkah,



“ti ati buk, ngelamun mulu, kenapa sih?” tanya Salma merasa Nadine banyak melamun hari ini. Biasanya Nadine sangat senang jika sepulang dari berbelanja.



“gue, gue keinget Arka,” cicit Nadine pelan. Ia merasa gengsi harus mengakui hal ini.



“ohh ya ampun, inget mantan...iya sih belum lama putus juga, lu sama dia akur banget,” Sarah merangkul Nadine dengan simpati.



“gue juga kaget tau-tau kalian udahan,” timpal Salma. Nadine hanya menghela nafas berat.



‘Arka, gue kangen banget...apa lu juga kangen sama gue?’ batin Nadine seolah berbicara dengan Arka dalam fikirannya. Nadine merasa sangat sedih hari ini.



Sesampainya dirumah, ia merasa energinya terkuras habis. Setelah ia membereskan barang-barang belanjaannya yang berupa 2 baju gamis dan beberapa kerudung baru, Nadine pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.



Nadine ingin merubah penampilannya, ia ingin merubah hidupnya. Nadine tak ingin membuat Tuhannya marah kepadanya, dia tak ingin hal buruk terjadi lagi padanya. Saat ini, Nadine benar-benar merasa rapuh. Ia sangat perlu sebuah sandaran yang sangat kuat, kokoh dan tak akan pernah hilang dari hidupnya.



Nadine bersujud begitu lama dalam sujud terakhirnya, ia mengadukan semua isi hatinya pada sang Pencipta ia menangis dalam diam. Sujud nya begitu lama, ia merasa sangat lelah dengan hatinya sendiri. Jika dia boleh memilih, ia ingin menghapus saja semuanya tanpa sisa. Tapi sayangnya hati Nadine sama sekali tak mengijinkan itu.



“duhai Allah yang menggenggam hati manusia, palingkan lah hatiku dari Arka, jika memang ini adalah takdirku untuk berpisah dengannya, hilangkan lah perasaan hamba kepadanya. Hilangkan dia dari hati dan fikiran hamba, ikhlaskan hati ini. Berilah hamba kelapangan dada dan jadikanlah hamba sebagai manusia yang pandai bersyukur, Aamiin...” do’a Nadine di penghujung curhatnya malam itu.



Nadine tak tau kepada siapa lagi ia harus berkeluh kesah. Ia ingat, jika tak ada bahu untuk bersandar, maka masih ada lantai untuk bersujud. Hanya cara ini yang bisa ia pakai untuk mengobati hatinya yang sedang terluka.



Ia meraih sebuah buku kecil yang sudah lama jarang sekali ia buka. Nadine membukanya dia menarik nafas dalam-dalam.



“A’uzubillahiminasyaitonirrozim...bismillahirrahmanirrahim....” Nadine membaca kitab suci itu dengan sangat pelan. Nadine merasa jiwanya terguncang sekarang. Ada sebuah getaran aneh yang merasuk di dadanya.


Membuatnya sangat pilu...sangat pilu, Nadine tak kuasa menahan kesedihan dan perasaannya membaca ayat demi ayat, sampai akhirnya ia menangis sendiri di kamarnya.


Tak ada yang tau kecuali ia dan Tuhannya.



Nadine merasa dirinya sangat bodoh. Ia membiarkan setan menghasutnya, membisikan macam-macam kedalam hatinya. Padahal Arka hanyalah lelaki biasa, dia manusia biasa sama seperti dirinya, tapi Nadine telah terhasut setan. Ia telah mengukir nama Arka di hatinya, dan inilah yang ia dapat.



Kenangan manis yang begitu memilukan.



Ia tak kuasa menahan perasaanya sendiri. Apakah Nadine terlalu mengikuti kata hatinya dan mengabaikan logikanya? Sepertinya begitu. Dia merasa dirinya sangat menyedihkan sekarang. Ia sangat malu dihadapan Tuhannya.



Hanya karena hal sesepele ini, ia menjadi begitu rapuh. Jujur saja, Nadine sangat sulit jatuh cinta. Dan ia telah melabuhkan hati pada seorang Arka. Bahkan Nadine sendiripun tak mengerti apa yang membuatnya sampai jatuh hati begini pada Arka. Ini sangat aneh.



Beginikah cara Allah menghukum Nadine??



*La haula wa la quwwata illa billahil’aliyyil ‘azhim*



Ini hanya sebuah kerikil, yang jika ia mau, ia bisa menendangnya sejauh mungkin dari jalannya. Ini bukan sebuah batu besar yang menghalangi jalannya secara total. Bukan!



Cinta tak pernah salah, karena cinta datangnya dari Allah.



Sekalipun manusia itu dititipi ‘hati’ tapi tetap saja ia tak akan bisa mengaturnya kepada siapa dia harus suka, dan kepada siapa dia akan membenci. Maka mintalah keteguhan hati pada sang memilik hati.



Nadine berpegang dengan yakin. Allah maha kuasa membolak-balikkan hati. Ia berharap semua perasaan ini segera luntur dengan seiringnya waktu berjalan.



Ia mencari semua hikmah dari perpisahan ini. Nadine ingat betul sebelum berpisah, ia pernah bermimpi tentang Arka. Dua kali mimpi itu datang di tidurnya. Yang artinya kurang lebih adalah ‘*perpisahan yang mendalam*’ ternyata inilah maksud mimpi itu. Tenyata sebelum ini ia sudah banyak diperingatkan Allah, tapi Nadine tetap menghiraukannya.



Jika memang begini cara Allah menuntunnya kembali, ia ikhlas.



Jika dengan cara ini membuat Nadine menjadi lebih dekat dengan Allah, ia ikhlas.



Jika dengan begini ia menjadi manusia yang lebih baik dimasa depan, ia ikhlas...


“ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku dan lancarkanlah lisanku, supaya mereka mengerti perkataanku,” –(QS: Taha: 25-28)