
Tidak berbeda jauh dengan Anna yang tengah dilanda kecemasan tentang nasib rumah tangganya. Lio yang tengah berada di ruang kerjanya pun sejak tadi hanya diam saja tak melakukan apa pun, dengan sesekali menghela napas panjang.
Ya, pria yang terkenal berhati dingin itu sejak tadi kehilangan fokusnya dalam bekerja karena tenggelam dalam bayang-bayang Arneta, setelah menghabiskan malam panasnya bersama wanita dari masa lalunya tersebut.
"Ada apa, Tuan? Apa ada masalah?" tanya Yogi yang melihat tuannya itu sejak tadi diam saja.
Bahkan sejak pertemuan penting dengan klien mereka, tuan Lio terlihat tidak bersemangat dan lebih banyak melamun.
"Semuanya jadi kacau," gumam Lio dengan kembali menghela napas panjang.
"Maksud Tuan?" tanya Yogi dengan tak mengerti.
"Lupakan apa yang tadi aku katakan," ucap Lio dengan menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. "Yogi, kita harus segera menyelesaikan pekerjaan di sini! Karena aku ingin kembali ke Paris secepatnya!"
"Apa? Kembali ke Paris secepatnya?" Yogi yang terkejut bahkan sampai membelalakkan kedua matanya.
Sungguh ia tak sanggup jika harus bekerja lembur untuk menyelesaikan semua urusan pekerjaan mereka yang ada di Jakarta. Bisa-bisa dirinya kembali menjadi mayat hidup jika tuan Lio bekerja gila-gilaan untuk mencapai targetnya tersebut.
"Tapi Tuan, bukankah rencananya kita di sini selama satu tahun?"
Lio menggelengkan kepalanya. "Tiga bulan, aku ingin dalam waktu tiga bulan semua pekerjaan di sini sudah selesai."
"Apa?" Lagi-lagi Yogi terkejut. Bahkan tubuhnya kini terasa lemas seperti jelly, saat membayangkan waktunya akan habis tersita dengan semua tumpukan pekerjaan. "Tapi kenapa Tuan? Em, maksudku kenapa harus secepat itu?"
"Karena aku ingin secepatnya membawa Ivy ke Paris."
Mendengar jawaban yang diberikan tuannya, Yogi pun hanya bisa terdiam. Karena ia tahu betul bukan itu alasan utama tuannya mempercepat kepulangan mereka ke Paris. Tapi karena keadaan sekarang, di mana nona Anna ada di tempat yang sama dengan Arneta.
"Jadi Tuan tetap akan memisahkan Nona kecil dengan Nona Arneta?" tanya Yogi dengan memberanikan diri.
"Kebaikan seperti apa? Bukankah dengan memisahkan mereka, Anda hanya akan menyakiti Nona Arneta kembali?"
Lio yang tengah mengenakan jas hitamnya, terdiam dengan menatap asisten pribadinya tersebut.
"Anda sudah menemukan Amalia? Lalu kenapa sekarang ingin menyakitinya lagi?"
Ya, Yogi sudah mengetahui semuanya tentang masa lalu tuan Lio dengan Arneta yang ternyata Amalia, dari mulut tuannya sendiri beberapa hari yang lalu.
"Tutup mulutmu!" sentak Lio dengan emosi.
Sungguh ia menyesal sudah menceritakan semua rahasianya pada Yogi, karena kini asistennya tersebut sudah berani berbicara seperti itu.
"Maaf jika aku lancang. Tapi aku hanya merasa kasihan pada Nona Arneta jika Tuan memisahkan mereka," ucap Yogi dengan menundukkan kepalanya.
"Kau pikir aku melakukan semua itu untuk siapa? Aku memisahkan mereka agar keduanya bisa hidup bahagia. Dengan Ivy hidup bersamaku, maka Arneta bisa memiliki kehidupan barunya tanpa harus terbebani oleh putri kami. Aku ingin Arneta hidup bahagia bersama pasangan barunya kelak, itu caraku untuk menebus semua kesalahan yang pernah aku perbuat," ucap Lio dengan menepuk bahu asisten pribadinya itu sembari beranjak dari ruangan tersebut.
"Apa Anda yakin Nona Arneta akan bahagia?Apa Anda juga akan bahagia jika Nona Arneta bersama pria lain?"
Deg.
Semua pertanyaan asisten pribadinya itu mampu membuat langkah Lio terhenti.
"Kenapa tidak memperbaiki semuanya saja dengan memulai dari awal? Anda, Nona Arneta, dan Nona kecil. Apalagi hubungan pernikahan Anda dengan Nona Anna hanya sebuah status di atas kertas?"
Lio menggelengkan kepalanya. "Bicara memang mudah, tapi untuk melakukannya...." Ia memilih untuk tak meneruskan pembicaraan mereka dengan membuka pintu ruangan, meninggalkan Yogi yang kini hanya diam dengan segala kebingungannya.