
Mobilnya mogok...
DAN INI DI TENGAH JALAN
Nadine tertawa konyol dengan kejadian ini.
“aduh, gue lupa isi bensin,”
“ya gimana gak abis, orang ni mobil Cuma dipake muter-muter doang,”
Arka tampak bingung dan merasa bersalah kepada Nadine karena kejadian ini.
“ini dimana sih?” tanya Nadine yang merasa asing dengan tempat ini.
“coba pesen taxi online buat ke pom bensin terdekat, hape gue mati.” Arka segera mencari botol besar untuk menampung bensin. Sementara Nadine segera memesan taxi.
Untungnya tempat mogok mereka tak jauh dari pom bensin dan ternyata itu sudah di dekat apartemen Arka.
“terima kasih pak,” ucap Arka setelah selesai membeli bensin
Ia mulai sibuk mengurus mobilnya.
Beberapa menit kemudian,
“oke udah beres, ayo naik,” ajakanya pada Nadine
“eh gue mampir ke rumah dulu ya, ntar gue anter lu pulang setelah gue mandi dan ganti baju sekalian mau charge hape, biar abis nganter lu gue langsung pergi kerja, biar gak bolek balik,” pinta Arka.
“yaudah, tapi jangan lama lama,”
Nadine akhirnya menunggu Arka dengan urusannya, hampir setengah jam sampai sebelumnya ia kembali masuk mobil dan sialnya, jalanan sudah mulai macet.
“kayanya gue bakal telat deh,” ucap Arka.
“ya ampun...gue baru inget, belom packing barang gara-gara lu culik sih,” pekik Nadine.
“di culik juga lu rela rela ajakan,” Arka tertawa puas melihat muka masam Nadine.
“macet nih, kalo lu telat gimana?? Gak akan bolos kan?” tanya Nadine khawatir.
“kaga lah, paling gue masuk setengah hari aja,”
“enak ya, masuk seenaknya berasa bos,” cibir Nadine, Arka hanya cengengesan sampai ponselnya berbunyi.
“ya hallo bosku?” sapanya.
“ohh siap, gue telat nih, ada urusan bentar, maaf ya,”
“iya iya kalem aja, beres, oke”
Nadine memandangi Arka seolah menuntut penjelasan.
“yang punya mobil, dia nanya gue dimana, gue bilang masih dijalan, dia minta dicuciin mobilnya,” jelas Arka tanpa di minta, Nadine mengangguk paham.
“jadi lu bakal ke tempat cuci mobil dulu?”
“iya, mau makan malam sekalian?” tawarnya.
“emm... gue kan udah makan sebelum pergi sama lu,” mendengar jawaban Nadine membuat raut muka Arka kecewa.
“lu laper?” Arka hanya mengangguk.
“yaudah makan dulu deh kalo gitu, gue temenin,”
“ya lu juga makan lah,”
“iya makan,” jawab Nadine sambil tersenyum memandang Arka.
Arka membalas senyumnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
“kenapa senyumnya gitu?” tanya Nadine.
“ya karena lu senyum ke gue,” jawab Arka asal membuat Nadine tersipu malu.
“manis banget si,” goda Arka
Akhirnya mereka sampai di tempat cuci mobil, jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Setelah selesai menitipkan mobilnya Arka mengajak Nadine mencari tempat makan disekitar sana.
“eh gue sama Clarissa tinggian siapa?” tanya Nadine asal.
“emm... bentar,” Arka berendeng dengan Nadine,
“hampir sama sih kayanya, eh...tinggian lu deh dikit,” jawabnya.
“ohhh...”
Arka memesan nasi dan sop tulang, sementara Nadine hanya memesan roti bakar untuk makan malamnya.
“makan yang banyak biar gemuk,” ucap Arka ketika pesanan mereka tiba.
“iya,” Nadine memakan rotinya dengan tenang.
“makan itu aja kenyang? Mau sup?”
“kenyang ko, lagi pengen ini aja,”
“gue suapin deh,” bujuk Arka.
“ga usah, lu makan aja.” Tolak Nadine
Hening....
“Arka,” panggil Nadine.
“ya?”
“lu beneran balik sama Clarissa?” tanya Nadine tiba-tiba.
“ya... seperti yang lu tau,”
“terus kenapa masih sayang ke gue?” seolah belum puas dengan jawaban, Nadine menanyakan hal yang sama berulang kali.
“ya lu juga tau kan alasan gue suka sama lu kenapa,”
“iya sih, kalo sama Clarissa lu sayang juga?”
“emm gak tau,”
“kok ga tau?” desak Nadine.
“gue gak tau, tapi gue gak bisa tinggalin dia, karena situasi udah kaya gini, gue tetap harus tanggung jawab,” jawabnya tegas.
“kalo misalnya keadaan gak kaya gini, lu bakal lebih condong ke siapa? Gue atau dia?”
Lama Arka terdiam.
“mungkin sama lu,”
“mungkin?” tanya Nadine kurang puas,
“jadi lu sama dia itu lebih berat ke tanggung jawab? Sementara sama gue emang karena lu suka gue, gitu??” jelas Nadine.
“iya,”
Jawaban Arka membuat Nadine tersenyum, ia merasa dirinya menang dibanding Clarissa, meskipun itu hanya perspektifnya saja.
Jam menunjukan hampir pukul 10 malam
Dan akhirnya mobilnya selesai dicuci
Nadine kembali duduk disamping Arka,
“gak usah pakai sabuk ya, kan udah deket,” ucap Nadine.
“yaudah,” Arka kembali melepas sabuk pengamannya.
“eh, Arka, nunduk bentar coba,” ucap Nadine memberi isyarat pada Arka.
“ya?” tapi Arka tetap juga menunduk.
Cup~
Arka mematung untuk sekia detik otaknya merespon kejadian mengejutkan ini,
“woah! Disini gak sekalian?” candanya menunjuk bibir membuat Nadine semakin malu,
“apaan si, buruan jalan,”
Jantung Arka yang masih berdebar membuatnya menabrakkan mobil ke trotoar didepannya.
“woi! Santai dong, jan nabrak!” seru Nadine kaget
Sekali lagi Arka bergerak kali ini bagian belakangnya yang menabrak mobil lain,
“Arkaaaaa!” pekik Nadine
Arka hanya tersenyum kaku, jujur saja kecupan Nadine yang tiba-tiba membuat jantungnya tak karuan.
Akhirnya Nadine sampai di apartemennya, Arka menghentikan mobilnya tepat di bawah gedung.
“makasih banyak untuk kejutan dan penculikan hari ini,” ucap Nadine.
“iya sama sama,” jawab Arka tulus.
“gue pulang ya, lu hati-hati dijalan.”
“eh bentar!” ucapan Arka menahan gerakan Nadine membuka pintu.
“ya?”
Hening untuk beberapa saat
“boleh Arka peluk Nadine?”
Nadine terdiam tidak memberi jawaban apa-apa, sampai akhirnya Arka menarik tangannya dan memeluknya erat.
“Arka sayang Nadine sampai kapanpun,” suara berat Arka membuat bulu kuduk Nadine meremang
Ada desiran di hatinya.....
“Arka...”panggilnya pelan.
“Arka sayang Nadine,” ulangnya.
“iya” jawab Nadine pelan membalas pelukannya.
“Nadine juga sayang Arka,”
“jaga diri baik-baik disana, jangan telat makan, tidur yang bener,” ucap Arka melepaskan pelukannya dan mengusap kepala Nadine,
Nadine mengangguk, rasanya sedih sekali.
“udah?” tanya Nadine pelan.
“iya udah, sana masuk, selamat malam,” ucap Arka sebelum ia mengecup punggung tangan Nadine.
Rasanya Nadine ingin menangis....sungguh
“makasih. Hati-hati dijalan, Nadine masuk ya, malam,”
Setelah itu ia benar-benar keluar dari mobil, hatinya merasa ada ruang kosong.
Melihat Arka melambai padanya kemudian pergi, rasanya sungguh tak rela.
-kenapa kita berjumpa jika akhirnya berpisah-
Nadine segera masuk karena ingat barangnya belum di packing untuk besok pagi.
Nadine sibuk sekali dan ia baru selesai pukul 3 dini hari.
*
*
*
*
Paginya...
“udah siap semua??” tanya Julia.
“udah”
Hari ini teman-teman satu rumahnya mengantar Nadine ke bandara, ditambah April dan Erika.
Selama perjalanan hatinya antara senang dan sedih
Ia senang akhirnya ia bisa melanjutkan mimpinya, tapi sedih karena harus berpisah dengan teman-temannya disini.
Dia termenung di sepanjang jalan mengenang memori yang menyenangkan dengan teman-temannya disini.
“jaga diri baik-baik ya, hati hati disana,” pesan kawan kawannya.
“iya” jawab Nadine yang tak tahan berkata banyak jika tak mau air matanya mengalir.
Rasanya sedih sekali berpisah dengan teman-teman.
Nadine mulai masuk boarding pass
Dia melambai kepada teman-temannya sebelum masuk imigrasi.
Dan disinilah ia sekarang, di depan gate sambil memegang pasport da tiketnya,
“hallo?” ucapnya.
“ya hallo?” jawab suara disebrang sana.
“Arka kenapa gak datang ke bandara?”
“sorry Nad, gak ada mobil disini,”
“oh, yaudah gapapa,”
“kenapa sayang?”
Lemah hatinya kalo dipanggil sayang oleh Arka.
“gapapa, kangen aja,”
Arka tertawa di ujung telfon
“kan kemarin udah ‘diculik’ mau diculik lagi?”
“engga gitu ya...eh udah ya, gue mau masuk pesawat,”
Belum sempat Arka membalas, Nadine sudah memutuskan sambungan.
*
*
*
Terkadang cara Tuhan begitu unik untuk mengajarkan sesuatu pada manusia.
Ia mempertemukan tapi tidak dipersatukan
Ia memberikan luka agar kita berfikir
Ia memberikan kesedihan agar kita tau rasanya bahagia
Selalu ada banyak cara yang unik untuk Tuhan mengajar manusia, sekalipun manusia itu tak mengerti dan selalu bertanya...
Kenapa??
Kenapa harus saya??
“Terkadang Tuhan mematahkan hati manusia untuk menyelamatkannya dari orang yang salah”