My Ex

My Ex
Kemarahan Karina



Selama liburan, Asha melupakan apa yang sedang bersarang di dalam pikirannya. Sebisa mungkin dia tetap berpikir positif tentang suaminya. Berharap itu hanya perasaan saja, karena selama mengenal Askara dia adalah pria yang baik dan pria yang setia.


Setelah mengistirahatkan lelahnya, Askara merasa cacing di dalam perutnya sudah mendemo meminta untuk diisi.


"Sha, keluar yuk. Lapar," kata Askara sambil mengelus perutnya.


Karena Asha juga merasa bosan berada di dalam kamar dia pun menyetujui ajakan Askara untuk keluar. "Ya udah, ayo!"


Keduanya pun kini keluar dari kamar dan mencari sebuah restoran terdekat untuk untuk mengganjal perutnya.


Tangan Askara terus menggenggam tangan Asha, layaknya seorang yang sedang dimabuk cinta. Sesekali Askara pun mengecuupi tangan Asha. "Sha, apapun yang terjadi, maukah kamu berjanji kepadaku untuk tidak meninggalkanku?" tanya Askara.


"Iya aku berjanji, asalkan tidak ada sebuah bohongan di antara kita lagi. Aku ingin setitik masalah tidak ada yang kita tutupi lagi, karena kejujuran adalah sebuah kunci kebahagiaan. Jika kuncinya saja sudah bengkok, lalu bagaimana kita bisa bahagia?" balas Asha.


"Siap. Aku tidak akan pernah untuk membohongiku."


Meninggalkan kamar hotel tanpa memberitahu Kai dan Kania membuat dua orang itu hanya terus memikirkan apa yang sedang dilakukan pengantin baru di dalam kamar, mengapa hingga sore mereka tak kunjung keluar.


"Kan, mereka betah sekali sih ngurung di dalam kamar. Aku aja rasanya pengap. Mau keluar masih malas karena panas," celetuk Kai yang penasaran dengan kegiatan Bosnya di dalam kamar.


"Mungkin mereka ketiduran, Kai. Coba kita samperin ke kamar aja!" Kania memberikan sebuah saran.


"Tadi kamu bilang masih panas. Terus ngapain sekarang ngajak ke pantai?"


"Yah, itukan tadi, Kan. Sekarang udah berubah pikiran. Ngeram terus di dalam kamar tanpa boleh melirik sesuatu membuatku merasa bosan.


"Dasar, messum!"


Kabar tentang liburan Askara ke pulau Bali pun terdengar ke telinga Karina. Tentu saja wanita itu sangat murka. Tanpa rasa bersalah Askara malah pergi liburan dengan Asha. Padahal dirinya sedang berjuang untuk mendapatkan uang demi menyambung hidupnya yang sudah tidak dibiayai oleh Askara lagi. Pahkan dia juga harus membiayai pengobatan ibunya yang tidak bisa apa-apa lagi.


Jika dulu Karina tidak keberatan untuk mengurusi ibunya yang sedang sakit, namun tidak untuk saat ini yang dirinya harus berjuang sendiri untuk mencari biaya pengobatan ibunya.


Satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas penderitaannya adalah Asha. Sejak kedatangannya di dalam kehidupan Askara lagi, semua biaya hidupnya dicabut oleh Askara. Dan saat ini dia harus meemeras keringat untuk mendapatkan uang.


"Dasar Asha sialan! Mengapa dia harus kembali ke dalam hidupnya Kak Kara? Kenapa?" teriak Karina dengan kuat.


Ibunya yang berada di atas kursi roda tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya air mata yang membasahi kedua pipinya. Matanya hanya melihat kearah Karina yang sejak tadi terus histeris. Bibirnya sangat berat untuk mengucapkan kata. Bahkan tangannya juga sangat sulit untuk digerakkan.


Maafkan ibu Karin. Semua ini salah ibu. Jika Ibu tidak memanjakanmu, kamu tidak akan mengalami kesulitan seperti ini. Ibu tahu bagaimana sakit dan hancurnya dirimu saat ini. Maafkan ibu yang tidak bisa melindungimu. Apapun yang terjadi kepadamu, selamanya kamu adalah anak ibu, meskipun tidak ada ikatan darah diantara kita.