
Anna yang tengah menguatkan hatinya untuk tetap bertahan dalam pernikahannya bersama Lio Richard. Justru berbanding terbalik dengan Arneta yang tengah menepis perasaannya pada Lio, saat melihat wajah tampan pria itu yang berbaring di samping kanan putrinya. Karena saat ini mereka tengah berbaring di satu ranjang yang sama, dengan Ivy yang berada di tengah-tengah keduanya.
Lama mereka saling menatap dalam diam, hingga hembusan napas Ivy yang teratur menyadarkan keduanya jika putri mereka telah tertidur dengan pulas.
"Ivy sudah tidur, kau bisa pindah sekarang!" ucap Arneta dengan setengah berbisik, karena tidak ingin menganggu putrinya yang sudah tertidur dengan pulas.
Lio pun segera beranjak dari tidurnya. Namun bukan untuk keluar dari kamar, melainkan untuk pindah berbaring di samping Arneta.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Arneta dengan terkejut.
"Jangan berisik!" Lio menempelkan jari tangannya pada bibir Arneta. "Nanti Ivy terbangun."
Arneta pun terdiam sembari menatap wajah putrinya.
"Tidurlah!" perintah Lio.
"Tapi—"
"Aku bilang tidurlah!"
Lio pun menarik Arneta masuk ke dalam pelukannya, tanpa mempedulikan wanita itu yang tampak kesal dengan apa yang dilakukannya.
"Keluarlah Lio! Aku tidak ingin Anna melihat kita seperti ini!" ucap Arneta dengan berusaha lepas dari pelukan Lio.
Karena pria itu saat ini tengah memeluknya dengan begitu erat hingga membuat Arneta sulit untuk bergerak.
"Aku bilang tidurlah! Kau pasti lelah seharian ini mengurus keperluan Ivy," sahut Lio tanpa ingin membahas tentang Anna.
Arneta pun menghela napasnya dengan membalik badan memunggungi Lio, karena percuma saja berdebat dengan pria itu yang selalu saja bersikap semaunya.
"Kau harus menjaga dirimu dengan baik setelah kami pergi!"
Hem...
"Seandainya kau tahu di dalam sana ada benihmu yang sedang berkembang, apa kau akan tetap pergi bersama Ivy?" tanya Arneta namun hanya dalam hati.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" bisik Lio tepat ditelinga wanitanya.
Arneta menggelengkan kepalanya dengan sendu, dan entah keberanian dari mana ia pun ikut menggenggam tangan Lio yang berada di perutnya.
"Tetaplah seperti ini sampai aku tertidur!" pinta Arneta dengan lirih.
Ya, malam ini Arneta ingin bersikap egois dengan meminta Lio untuk memeluknya sampai tertidur tanpa mempedulikan bagaimana perasaan Anna. Tapi hanya untuk malam ini, karena malam-malam berikutnya pria itu tidak akan ada lagi disisinya.
Lio pun hanya diam dengan mengeratkan pelukannya, hingga akhirnya Arneta pun tertidur dengan lelap terlihat dari helaan napas wanita itu yang teratur.
"Maafkan aku," ucap Lio dengan mengecup kepala Arneta. Menghirup aroma wangi wanitanya dalam-dalam, karena mulai besok ia akan sangat merindukan aroma tubuh Arneta. "Aku mencintaimu, Arneta. Jaga dirimu...."
Arneta yang tengah tertidur, sayup-sayup mendengar suara seseorang mengatakan maaf dan mengatakan cinta padanya. Namun karena matanya begitu mengantuk, ia pun tak lagi mendengar perkataan seseorang tersebut.
*
*
Keesokan harinya.
Arneta yang terbangun dari tidurnya begitu terkejut saat melihat Lio masih berbaring di sampingnya. Bahkan posisi pria itu masih sama seperti semalam, memeluknya dengan erat.
Dengan perlahan Arneta pun menyingkirkan lengan Lio agar pria itu tidak terbangun, karena ia ingin melihat dengan jelas wajah Lio saat tertidur.
"Meskipun kau tidak pernah meminta maaf padaku, tapi aku sudah memaafkan semua kesalahanmu Lio," lirih Arneta dengan mengusap wajah pria itu dengan perlahan. "Karena berkat kau, aku bisa memiliki Ivy. Memiliki malaikat kecil yang sangat cantik yang telah merubah hidupku. Kau dan juga Ivy adalah hal yang paling berharga dalam hidupku."
Arneta mengecup bibir Lio perlahan, dengan air mata yang menetes di kedua pipinya. Sungguh ia merasa menjadi wanita yang sangat bodoh, karena berulangkali di sakiti oleh pria itu namun tetap saja mencintai dan tidak bisa membencinya. Bahkan sudah dua kali Lio membuatnya hamil, dan dua kali pula ia akan menjalani kehamilannya seorang diri tanpa kehadiran pria itu di sisinya.
"Jaga dirimu baik-baik, dan jaga putri kita." Setelah mengucapkan hal itu Arneta pun beranjak dari rajang, tanpa menyadari jika Lio sejak tadi sudah terbangun dan mendengar semua yang dikatakan Arneta.