
‘ok, matilah kita, dimana ini ya Allah....nyasar kita...T-T’
...........
Nadine melihat sekeliling, menunggu kedatangan kereta selanjutnya dengan gelisah. Batrai ponselnya sudah memerah. Sisa daya 10%. Nadine menonaktifkan ponselnya.
“laper gue,” celetuk April,
“nih, kacang gue masih banyak,” Nadine menawarkan kacang rebus yang sempat dibelinya tadi sore.
“thanks,” merekapun menghabiskan kacang rebus sembari menunggu kereta.
“eh, konyol ya kita, untung gue sadar kalo kita salah kereta, kalo ga sadar bisa nyasar jauh banget,” ucap Nadine dengan horor,
“iya ya wkwkwk, ada ada aja, eh kemaleman nih kayanya,” April melirik arloji ditangannya,
“nasib deh nyampe rumah bisa tengah malem nih,” komentar Nadine.
Suasana benar-benar sepi, membuat keduanya gugup. Tak lama ada seorang lelaki chinese duduk di bangku sebelah. Nadine melirik April dengan gusar.
“tegang banget nih, masih lama ya keretanya?” Nadine melirik papan pengumuman, masih 48 menit sebelum kereta datang.
Nadine melirik April yang sedang asik mendengarkan lagu di earphone-nya. Padahal April sudah mulai mengantuk, beberapa kali ia menguap.
“ngantuk gue, masih lama ya? Gue tidur dulu ya,” April mulai memejamkan mata dan bersandar tiang di sebelahnya.
“ga akan gue bangunin lu kalo keretanya dateng,” ancam Nadine yang tak ingin ditinggal tidur.
Tapi April tetap tidur juga,
“fine, gue sendirian dan mulai bosen,” ia melirik ponselnya yang mati, beberapa kali Nadine melihat rel kereta yang tetap sepi. Ia mulai risau apakah kereta akan datang atau tidak.
Nadine mulai komat-kamit membaca beberapa surat pendek di Al-Qur’an dan berkali-kali berdzikir untuk mengisi kekosongan waktu. Diliriknya April yang sudah tertidur pulas. Ia membereskan sisa sisa kulit kacang yang berserakan di kakinya.
Dari jauh ia lihat ada cahaya lampu yang menyorot lurus ke stasiun. Suara operator terdengar menandakan kedatangan kereta yang hampir tiba.
“Alhamdulillah, Pril, oii bangun!!” Nadine dengan antusias membangunkan April, dan segera menarik April yang masih setengah sadar begitu pintu kereta terbuka.
“dimanaaaa iniiiiiii.....” tanya April masih mengumpulkan nyawa. Nadine mengiringnya untuk segera duduk.
“disurga,” jawab Nadine asal.
Ia lega akhirnya kereta datang tepat pada waktunya. Ia melirik April yang kembali melanjutkan tidurnya dengan damai. Nadine hanya menggelengkan kepala melihat April yang sudah tepar tak berdaya.
Nadine merogoh sakunya, menatap ponselnya yang mati lalu menghidupkannya kembali. Tak lama ponselnya bergetar beberapa kali. Ia membuka whatapp, Nadine mengerjit bingung.
From: Arka
‘hei, lu dimana?’
‘bisa balik ga? Duh...’
‘sama siapa disana?’
‘kalo ga bisa balik langsung telfon gue,’
‘gue telfon ya,’
Nadine melihat ada 3 miscall dari Arka.
‘wow apaan nih?’
Nadine: lu kenapa? Gue gapapa ko, salah naik kereta aja.
Hening beberapa saat, Nadine memandang keluar jendela memperhatikan lampu-lampu diluar.
Drrrrtt...drrttt...
Arka: ko bisa salah kereta, lu dimana sekarang?
Nadine: otw balik, lu kenapa nanya-nanya mulu, heran gue,
Arka: khawatir.
Nadine: ooooohhhhh, masih bisa lu khawatir sama gue?
Arka: bisalah, kan sayang.
Nadine terkejut bukan main dengan balasan Arka. ‘bercanda nih, duh jantung gue.’
Arka: kalo udah dirumah kasi tau gue,
Jantung Nadine berdebar dengan cepat. Ia buru-buru mematikan ponselnya. Aneh rasanya ketika ‘mantan’ masih peduli dan ah sudahlah.
Nadine mengelus dadanya yang masih berdetak tak beraturan. Rasanya ia ingin melempar Arka dari tebing paling tinggi saking gemasnya.
***
Tepat tengah malam Nadine baru sampai di kamarnya. Ia segera mandi dan berganti pakaian dengan piama. Matanya menerawang kelangit-langit kamar. Rasanya berbaring pun jadi sangat aneh.
“maksudnya apa sih?” ia kembali teringat dengan pesan Arka.
Nadine tertidur dengan tak tenang, beberapa kali ia terbangun sampai adzan subuh berkumandang. Ia segera bangun dan bersiap untuk kerja.
***
Seperti biasa, Nadine duduk di kantin menikmati sarapannya. Matanya yang masing mengantuk tiba-tiba terbuka dengan lebar ketika Arka berlalu didepannya dan mengatakan sesuatu yang belum sempat ditangkap telinganya karena terlalu mendadak.
Nadine masih bengong melihat Arka yang tiba-tiba lewat.
“ngomong apa sih? Ngagetin aja sial,” umpatnya kemudian.
Nadine segera menghabiskan sarapannya karena sebentar lagi bell akan segera berbunyi. Ia segera masuk ke tempat kerjanya dan bersiap-siap.
Semua berjalan seperti biasa. Normal. Setidaknya sampai sebelum Arka datang untuk mengambil sample.
“semalem balik jam berapa?” tanya Arka begitu selesai mengambil sample.
“midnigth,” balas Nadine tanpa melirik sedikitpun,
“lain kali kalo pulang jangan kemaleman, ga baik perempuan di luar malem-malem,”
“siapa lu sok peduli,” Nadine mendelik kesal,
“temen lu lah,” jawaban Arka bagai belati yang menusuk tepat di ulu hati Nadine.
Nadine sudah membuka mulut hendak protes tapi Arka sudah terlanjur pergi dari tempatnya sambil melambaikan tangannya. Nadine memincingkan mata menatapnya dengan kebencian.
‘teman? Hah!’
Gumam Nadine tak terima. Entah kenapa ia merasa sakit ketika Arka menjawab satu kata itu dengan entengnya. Tanpa sadar ia meremas dengan kuat map ditangannya.
“woi kak, kerja...map nya jangan di remes gitu,” ucapan Erika menyadarkan Nadine.
Ia menarik nafas pelan. Selama bekerja, Nadine sulit sekali fokus. Arka selalu datang mengganggu fikirannya seperti hantu gentayangan yang penasaran.
“sialan,” umpat Nadine, tepat saat itu bell istirahat berbunyi.
Nadine beranjak dari tempatnya, baru beberapa langkah seseorang menarik ujung lengan bajunya membuat Nadine berhenti dan berbalik.
“apalagi?” dengan malas, ia memandang Arka yang masih menahan ujung lengannya. Nadine menepisnya.
“minggu depan kan ada libur 4 hari, lu ada waktu ga?”
“mau apa?”
“temenin gue keluar, kita makan es krim, lu pernah minta di traktir kan?” Nadine diam sejenak, ia ingat ketika dia putus dengan Arka, Nadine sempat meminta imbalan es krim karena sudah membuat Clarissa kembali pada Arka.
Nadine mendengus kesal.
“ga bisa, gue sibuk,” tolak Nadine,
Belum sempat Arka berbicara, Nadine sudah buru-buru pergi meninggalkan Arka.
‘hei, ayolah...bisa ga sih ga ganggu gue lagi, ngejauhin lu itu susah banget, kalo lu nempel terus kaya gini gimana gue mau move on!’
Arka memandang punggung Nadine dengan sedih. Hatinya aga ngilu melihat Nadine yang terus menjauh darinya. Walaupun ia tau itu adalah hal yang wajar. Tapi Arka sebenarnya masih ingin dekat dengan Nadine. Ia merindukan Nadine.
Beberapa hari kemudian.....
“eh mau kuota gratis ga?” ucap Arka tiba-tiba di pagi hari, suaranya lebih pelan dan parau.
“ga, kuota gue masih banyak,”
Arka merengut, dia mengambil memo lalu menulis sesuatu, menempelkannya di meja Nadine sebelum beranjak pergi.
‘ini gratis, gue beli 3 voucher kuota, jadi gue mau kasi lu 1, ada 10 GB.’
Nadine membacanya lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia heran bukan main, makin hari rasanya Arka makin terus mendekat padanya, membuat Nadine bingung ‘apa sih maunya?’
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah saatnya untuk pulang. Seperti biasa mereka semua mengantri di gerbang untuk passcard.
“Nad,” suara panggilan yang pelan tepat di balik punggung Nadine, tapi gadis itu tak menoleh.
“Nadine,” panggilnya sekali lagi lebih keras. Nadine menoleh dan mendapati Arka yang tersenyum simpul,
“mau ga? Gratis beneran,” Arka masih menawarkannya voucher kuota 10 GB-nya.
“yaudah kalo maksa, mana,” Arka tersenyum makin lebar dan memberikannya pada Nadine.
“hehe, entar di aktifin dulu sebelum dipake, kalo ga ngerti caranya tanya gue aja,” suara Arka yang serak membuat Nadine memandangnya dengan tatapan seolah butuh jawaban.
Nadine melangkah maju karena antian mulai bergerak, tanpa sadar ia menarik ujung baju Arka,
“sini maju, jangan terlalu jauh, suara lu kenapa gitu?” tanya Nadine memandang Arka dengan intens, membuat Arka salah tingkah.
“emm, anu, itu..terngorokan gue kena alergi kayanya, udah seminggu ini susah nelen dan serak gini,” terlihat samar-samar wajah Arka yang bersemu merah, walau tak terlalu nampak.
“ohh, udah ke klinik?”
“udah,
“minum obatnya teratur, kalo bisa minum air anget terus, cepet sembuh,” suara Nadine melembut, membuat Arka tersipu malu ia mengulum senyumnya.
“dokter bilang jangan minum air anget,”
“terus gimana?”
“air biasa aja, tapi makan yang lembut-lembut, kaya bubur gitu.”
“oohhh, tapi kan disini ga ada yang jual, kecuali lu bikin, bisa bikin bubur?” tanya Nadine.
“emm bisa hehe,” Arka menjawab dengan kikuk,
“yaudah,”
Dalam hati, Nadine menyambung kalimatnya, ‘lu sih putus sama gue, sekarang sakit ga ada yang ngurus kan,’
Nadine sudah memasuki busnya, ia iseng memandangi Arka dari jendela. Ada rasa rasa yang berdesir aneh dihatinya. Tapi entah apa.
Ia membuka kontak di ponselnya, dan baru ia menyadari sesuatu. Ternyata nomor arka dengan Clarissa itu sama, hanya berbeda di ujung saja. Digit terakhir Arka itu 2 dan Clarissa itu 9.
Entah kenapa Nadine merasa hatinya membara sekarang. Ia membanting punggungnya ke sandaran jok dengan kesal. Membuat teman disebelahnya terlonjak kaget,
“sorry,” ucap Nadine kemudian.
***
Sesampainya di rumah Nadine bergegas mandi sebelum teman-temannya mandi lebih dulu. Badannya lengket dan panas. Selesai ia mandi dan kembali ke kamar, Julia sudah duduk-duduk di kamarnya.
“entar lah,” Julia masih asik dengan gadged-nya
“ck, kebiasaan,”
Nadine duduk di tepi kasur memandangi voucher yang di berikan Arka.
“eh, mau ga?” tanya Nadine menggoyang-goyangkan voucher,
“apaan tuh?” Julia melirik sekilas,
“kuota gratis, 10 GB, mau ga?”
“wiih, tumben baik, lu ga mau pake emang?” Julia langsung meletakkan ponselnya, menatap Nadine antusias.
“itu dapet dikasi, kuota gue juga masih banyak,”
“dikasi? Sama siapa?”
“sama anu-“ jawab Nadine ambigu,
“Arka?” binggo! Tebakan bagus Julia.
Nadine mengangguk,
“lah, ngapain dia ngasih lu kuota gratis?”
“ga tau, maksa sih, yaudah. Katanya udah beli 3 voucher jadi di kasi ke gue satu, tapi kuota gue masih banyak, baru isi. Kata lu gak punya kuota?”
“iyanih, kebeneran banget, yaudah kalo ga mau. Sini bagi buat gue aja,”
“nah, entar aktifin dulu, gue ga terlalu paham sih, jarang pake voucher,” ucap Nadine sembari memberikan voucher itu pada Julia.
“oke deh, thanks hehe,” Julia seneng-seneng aja dikasi voucher gratisan.
Drrrttt....drrrttt,,,,
‘pasti dari tu orang lagi,’
Arka
Binggo!
Arka: udah di pake belum voucher-nya?
Nadine: belum, entar aja kalo kuota gue udah abis,
Arka: ohh, okee...
Tak ada balasan lagi. Nadine jadi tak enak hati karena memberikan voucher yang Arka beri padanya malah diberikan pada orang lain. Seolah dia memang tak menghargai pemberian.
*
*
*
-Langit mendung sekali hari ini, mungkin akan turun hujan dengan beberapa petir-
Nadine memposting status barunya. Dan benar saja, bagai sedang memancing dan baru memberi umpan baru, seekor ikan memakan umpannya dan masuk ke ‘kail’nya.
Nadine membaca pesan yang baru masuk ke whatapp-nya, siapa lagi kalau bukan Arka sang mantan yang terus saja berlaga sebagai ‘teman’.
Memuakkan memang, tapi Nadine sama sekali tak menolaknya, seolah ia ingin tau sejauh apa ini akan berlanjut. Oh dear...are you playin’ a drama??
Arka: udah di pake voucher-nya?
Nadine: masih belum.
‘Julia udah pake belum sih? Jadi ga enak gue bilangnya,’
Arka: ohh ok, oh iya. Liburan akhir bulan ini gimana?
Nadine: apanya yang gimana?
Arka: kita jalan....mau ga?
‘jalan? Maksud lo? Ngajak kencan bro??’-batin Nadine mulai gusar.
Entahlah, hati Nadine berdebar-debar sekarang. Bukan karena ia merasa senang. Tapi dia sedang gelisah. Sebenarnya apa yang sedang Arka perbuat. Menarik ulur hati dan perasaannya. Seolah mempermainkan dirinya.
‘okeeyyy...wanna play with me? Ok. Let’s play’
Nadine mempertaruhkan hatinya yang mungkin akan terluka lagi. Memangnya ada ya yang bermain-main api tapi tak merasakan panasnya? Ohh bullshit man~
Setelah beberapa jam ia tak membalas pesan Arka, bukan karena tak mau. Tapi Nadine memang sengaja.
Nadine: lu ngajak kencan?
Tak menunggu lama, balasan langsung sampai ke ponselnya. ‘wow fast-response,’
Arka: iya, mau?
Nadine: kemana?
Arka: lu maunya kemana? Gua ikutin
‘iyuuhhh kebiasaan, ga jelas,’ Nadine berdecak dengan jawaban Arka, yang menurutnya ‘ga banget’
Nadine: lah,,, ada apa sih?
Arka: apanya?
Nadine: ya itu lu, tiba-tiba ngasih voucher, ngajak-ngajak jalan, ajak yang lain aja ga bisa?
Arka: kenapa? Lu ga mau?
Nadine: hmm
Arka: oke, gue ga maksa,
“heran deh, udah mantan juga masih aja watados. Eh tenggelamkan orang dosa ga sih?” tanya Nadine tiba-tiba pada teman disebelahnya,
“apa si lu, gaje,” saut temannya menimpali ucapan random Nadine,
Sementara itu, Arka aga kecewa dengan penolakan Nadine. Ia menimang-nimang ponsel di tangannya. Dan bersandar di bangku memandang langit di gazebo belakang tempatnya biasa beristirahat sore hari.
‘segitu bencinya kah lu sama gue, segitu ga maunya kah lu deket sama gue lagi?’ -Arka
***
Liburan kali ini Nadine habiskan dengan berpergian bersama April. Entah kenapa disaat begini hanya April yang selalu ada untuknya dan masih mau mendengarkan curhatannya tentang Arka tanpa berkomentar yang membuatnya merasa insecure.
Kali ini ia pergi dengan April ke sebuah Aqurium Raksasa. Sebenarnya sudah lama sekali Nadine ingin pergi ke tempat ini. walaupun tadinya ia mengajak Julia, tapi ternya temannya yang aktif itu malah memilih pergi hiking dan bermalam digunung.
Dan disinilah mereka sekarang. Entah kenapa kali ini Nadine begitu berisik, padahal biasanya dia adalah gadis yang diam.
“Pril! Fotoin gue... buruan,”
“Pril yang fokus dong,”
“Pril...kaki gue ga kefoto nih,”
“Pril, ulang dong....”
“pril!”
“iisshhh berisik lu,” protes April pada akhirnya, Nadine hanya nyengir kuda.
“hehe... sorry, eh kesana yuk,” Nadine langsung berjalan mendahului April masuk ke tempat aquarium.
Keduanya dibuat terkesima dengan ciptaan Tuhan yang begitu indah. Sungguh, nikmat mana yang kau dusta kan?
Sampai akhir di perjalanan keduanya tak berhenti berbicara karena kekagumannya pada pemandangan di bawah laut yang mereka saksikan. Benar-benar menakjubkan, seolah segala masalah, segala kepenatan yang mereka bawa dari rumah rontok begitu saja di tempat ini.
Mereka sudah ada di ujung lorong aquarium, dan menaiki eskalator untuk exit. Ternyata sebelum keluar, mereka diarahkan ketempat souvenir.
Tapi memang dasarnya ga modal, datang ke tempat cendramata hanya untuk foto-foto tanpa membeli apapun.
“eh beli ini yuk... atau ini deh,” ucap Nadine dengan mata berbinar memandang kerang-kerang cantik,
“mahal, ga usah,” April the irit girl
“ini deh, cetak foto kita pas di tempat tiket, bagus tau buat kenang-kenangan,” Nadine memelas menunjukan album foto pengunjung yang dicetak seukuran A5.
“berapa tuh?”
“bentar gue tanya kasir dulu,” Nadine langsung pergi ke kasir dengan muka seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan favorit oleh ibunya. Oh man~
“300 rebu, 2 foto,” ucap Nadine sekembalinya dari kasir,
“udah kita balik yuk,” tanpa aba-aba, April merebut sample foto dari tangan Nadine dan mengajaknya keluar dari toko sebelum ia meminta yang aneh-aneh lagi.
“yah, ga beli apa-apa kita?” keluh Nadine,
“gak, daripada beli gituan mending beli makan, laper gue,” Nadine hanya rolling eyes mendengar jawaban April yang selalu makanan.
Sepanjang hari mereka terus berjalan-jalan tanpa kenal lelah. Sampai matahari terbenam dan digantikan oleh sang bulan. Disinilah mereka, di masjid bergaya Arabic di tengah kota menunaikan shalat magrib dan tengah menunggu untuk isya berjamaah.
Nadine merasa dirinya sangat damai mendengar ayat-ayat suci yang terus bersahutan di ruangan ini. semua orang begitu khusuk berdoa. Nadine merekam video pendek dan mengunggahnya di whatapp.
Tak lama kemudian ia melihat status baru dari Arka. Sebuah foto Arka yang memakai kopiah hitam, lengan bajunya tergulung sampai ke atas siku dan celananya digulung setengah betis.
Nadine memperhatikan background foto yang sepertinya sebuah tempat wudhu. Arka menulis sebuah caption di fotonya,
-selamat menunaikan ibadah solat magrib-
‘WHAT!!!!!!!!!!!’
Nadine melongo dengan status Arka yang ia posting beberapa saat ketika status Nadine baru saja update. Arka berada di sebuah tempat wudhu, dan pastinya itu di sebuah masjid kan?
‘hey, Arka? Wudhu di masjid? Sholat di masjid? Wow!’
Nadine terkejut. Lelaki itu ada perubahan.
Tapi entah kenapa ia merasa statusnya memang sengaja di balas Arka, seolah ia berkata. ‘hey gue juga di masjid’
Selesai mereka shalat, Nadine duduk-duduk di taman masjid sembari menunggu April selesai dari toilet. Ia sibuk membuat pesan broadcast untuk memperingati malam Nisfu Syaban. Karena lusa akan memasuki bula suci Ramadhan.
Sampai ketika mata Nadine menangkap sesosok lelaki yang manarik pandangannya. Tepat sesaat setelahnya April duduk disampingnya.
Keduanya saling bertatapan dan tersenyum mencurigakan. Setelah lelaki itu pergi keluar area masjid yang pastinya di ikuti pandangan kedua gadis ini.
“wooaaa ganteng banget!!!” ucap April menepuk lengan Nadine dengan gemas,
“lu liat? Calon imam gue ahahaha,” timpal Nadine,
“eh mukanya kaya kenal ya? Kaya aktor korea di drama,”
“eh kirain gue doang yang mikir gitu,”
“aaahhh calon imam gue.... aamiiiinnn,” seolah ada kupu-kupu berterbangan di atas kepala April.
“halu mulu lu, ayok balik entar kemaleman.” Nadine bangun dari duduknya.
Sesaat kemudian ponselnya mulai bergetar, beberapa temannya membalas pesan broadcast-nya. Sampai dimana pandangan Nadine tertuju pada 1 pesan. Ia menepuk jidatnya frustasi.
“aduh, kenapa nih orang gue tag sih,” gumam Nadine melihat balasan pesan Arka,