
“lu sama Clarissa gimana? Baik-baik aja kan??” tanya Nadine.
“baik,” jawab Arka seadanya.
“ngomong-ngomong makasi banyak ya, untuk hari ini, gue seneng banget, puas banget, makasih selalu baik ke gue, selalu ada kalo gue butuh, makasih banyak,” ucap Nadine tulus.
“iya sama-sama, gue juga ...minta maaf karena kita ga bisa kaya gini di aktu yang lebih lama,” jujur saja ucapan Arka membuat hati Nadine pilu.
Hening....
“Nad,”
“ya?”
“jujur, perasaan gue masih sama ke lu, gue masih sayang sama lu,”
“iya gue tau, gue juga bisa rasa,”
“kenapa Tuhan pertemukan kita memberi kita perasaan seperti ini, tapi akhirnya berpisah,”
“kenapa kita berjumpa, namun akhirnya berpisah,” Ulang Nadine yang lebih mirip lirik lagu.
“kenapa lu putusin gue waktu itu?” tanya Arka menuntut.
“karena gue rasa hubungan kita udah gak sehat, gue ngerasa ga ada tempat lagi, gue Cuma ngehalangin lu sama dia,”
“harusnya waktu itu lu gak usah ikut campur,”
“hm??”
“harusnya waktu itu lu ga usah kirim chat sama Clarissa, toh waktu itu gue udah beneran sayang sama lu,”
Nadine merasa sangat menyesal, ia merasa ingin sekali memutar waktu.
“tapikan, ibu lu gimana ?” sangkal Nadine.
“sebenernya ibu gue gak masalah gue sama siapapun, padahal kalo lu gak chat dia, kita masih sama sama. Dan gue gak bakal balikan sama dia,”
Ucapan Arka seolah menyudutkan Nadine, ia sangat sangat menyesal dengan langkahnya waktu itu.
“tapi kan, ga ada yang tau apakah semuanya bakal lancar kalo kita tetep, sama-sama,” ucap Nadine.
“iya, dan sekarang, mau gimana pun gue gak bisa tinggalin Clarissa gitu aja, jadi maaf Nadine,”
“udah ah, hati gue sakit banget dengernya,”
Suasana terasa amat sangat pilu untuk beberapa menit, waktu berjalan sangat lambat membuat sesak didada seolah oksigen mulai menipis.
“keliling yu, mumpung disini kita cari tempat bagus buat ambil foto,” ajak Arka kemudian.
Akhirnya mereka berkeliling di taman mencari tempat-tempat bagus untuk berfoto. Jam hampir menunjukan pukul 10 malam, tapi rasanya masih enggan untuk pulang.
“udah ah, cape,” Nadine memilih duduk di bangku taman di bawah bianglala.
Arka mengikutinya, ia tetap mengambil foto Nadine diam-diam seperti paparazi walaupun Nadine tetap tidak mau di foto.
“inget gak sama itu?” tunjuk Erka ke bianglala.
“inget lah, tempat pertama kita kencan,”
Ddrrrtttt....drrrtttt...
Ini kali kesekian ponsel Arka bergetar, siapa lagi kalau bukan Clarissa yang menghubunginya.
Arka terlihat bingung hendak membalas apa.
“haduh ganggu aja sih,” keluhnya melihat notifikasi di layarnya.
“kaga ah, kalo jawab dia nanti gue gak maksimal sama lu,” tolaknya terdengar konyol.
“emang dia gak marah kalo di diemin gitu?”
“kaga, paling nanti jadi bawel, biasa kan rindu,” rasanya Nadine ingin muntah sekarang juga.
Oh cringe....
“gak dibales?” tanya Nadine yang melihat Arka menyimpan ponselnya kembali.
“kaga, bingung gue mau bales apa, nih lu aja yang bales,” Arka memberikan ponselnya pada Nadine.
“kok jadi gue, gapapa emang kalo gue baca chat kalian??”
“bales aja, gue bingung mau bales apaan,” pasrahnya.
Nadine membuka roomchat mereka. Ia membaca satu persatu pesan yang dikirim
Clarissa
-by, kenapa gak bales?
-lagi sibuk ya?
-udah makan belum?
-ko gak dibales terus
-jangan gini lah
-ga suka kamu diem gini
-kenapa?
-kalo ada apa apa cerita by.
‘hah...apaan nih?’ ucap Nadine dalam hati.
“gue bales ya,” ijinnya pada Arka yang hanya di balas dengan anggukan pasrah.
Arka
Maaf
Lagi sibuk nih
Nanti ya kalo lagi ga sibuk aku chat lagi
Clarissa
Yakin sibuk??
Mana coba kirim foto kalo sibuk
“mampus, dia minta bukti lu lagi kerja, gimana ceritanya dah lu kan lagi bolos kerja,” panik Nadine.
“aisshh, sini, gue kirim foto kerjaan gue yang lama aja.” Arka mengambil alih ponselnya.
“emang dia bakal percaya kalo lu kirim foto gituan?”
“dia juga gak bakal ngerti gue kirim apaan,” kemudian Arka mengirim banyak foto-foto ‘palsu’ itu
Arka
Nah, lagi sibuk,
Nanti kalo udah gak sibuk aku telfon
^^^Clarissa^^^
^^^Oh yaudah,^^^
^^^Hati hati kerjanya^^^
^^^I love you^^^
Nadine meringgis pelan.
Apakah se-cringe itu jika orang melihat dirinya dan Arka dulu.
Rasanya perutnya jadi mual.
“oh iya, dia suka tanya-tanya gak tentang gue?” tanya Nadine membuka topik.
“ya lumayan,”
“oh ya, tanya apa?”
“tanya aja kenapa gue bisa suka sama lu, kenapa gue susah lepas dari lu, padahal kita Cuma beberapa bulan aja, dia ngerasa tersaingi.” Akunya, Arka terdiam cukup lama.
“gue juga gak ngerti kenapa, tapi rasanya memang sulit milih antara lu sama dia, jika aku pilih disana bagaimana yang disini, jika aku pilih disini apa kata di sana.” Nadine mendengarkan Arka bercerita.
“gue ngerasa hati ini terbagi dua, gue sayang sama lu, tapi gue gak bisa ninggalin Clarissa, maaf Nadine,” Arka menggenggam tangan Nadine walaupun setelahnya Nadine segera melepasnya.
“iya gak papa, gue paham, gue juga gak bisa memaksa keadaan,”
“dia malah ngira lu guna-guna gue karena gue terlalu sayang sama lu,”
“WHAT??!!! Konyol banget,”
“gue juga gak tau kenapa dia bisa mikir sejauh itu,”
“udah hampir jam 11, pulang?” tawar Arka kemudian. Sebenarnya ia maupun Nadine merasa enggan untuk pulang, rasanya waktu terasa sangat singkat. Tapi ia juga tak bisa menahan Nadine lebih lama lagi.
“yaudah deh,” akhirnya ia mengalah.
*****
Hari ini ia pergi dengan April setelah anak ini memaksanya pergi ke gym. Dan disinilah mereka menghabiskan hampir 3 jam untuk olahraga malam. Yap karena mereka pergi pukul 8 malam setelah April pulang kerja.
Dan selanjutnya mereka pergi ke bioskop, sayangnya film yang mereka tonton sangat membosankan. Ia merasa telah membuang uang untuk hal yang sia-sia.
Dan mereka baru kembali kerumah jam 2 dini hari setelah pergi makan di restoran 24 jam.
*
*
*
Ini adalah hari terakhir Nadine tinggal di apartemennya, karena besok pagi ia sudah harus pergi ke bandara. Kabar buruknya, beberapa malam ini jam tidurnya benar-benar kacau. Dan semalam ia sama sekali tak tidur.
Padahal hari ini ia harus mulai packing sementara cuciannya saja masih belum ia bereskan. Jadi dia mulai bergerak cepat meskipun kepalanya skit karena mengantuk, dia pergi ke loundry dan urusannya selesai pukul 9 pagi.
Sesampainya dikamar, Nadine mengurungkan niatnya untuk membereskan barangnya karena kepalanya sama sekali tak bisa diajak kompromi lagi. Akhirnya ia tak sadarkan diri sampai ia terbangun pukul 2 siang karena lapar.
“pengen makan, apa ya... order pizza? Kaga dah mahal, nasi goreng aja deh,”
Akhirnya ia turun dan pergi ke kedai tempat ia biasa makan jika malas memasak dirumah, walaupun ia lebih sering makan diluar.
Drrrtttt drrrrttt...
“ya hallo?”
“Nad lu lagi dimana?”
“mau ke kedai mau makan, ada apa?”
“mau ketemu gak?”
“yaudah dateng aja, di kedai deket rumah, tempat biasa gue makan,”
Ia heran sendiri, ada apa tiba-tiba Arka menghubunginya dan mengajak bertemu.
Nadine memesan nasi goreng, ia makan dengan sangat pelan sembari menunggu Arka tiba, hampir 45 menit ia makan dengan sangat lambat.
“hai.” Sapa Arka tiba-tiba duduk disampingnya.
“hai, mau pesen makan?” tawar Nadine.
“minum aja deh,”
“jadi, ada apa nih ngajak ketemu?” tanya Nadine to the point.
“ga ada apa-apa sih,” ia membenarkan tata rambutnya yang berantakan.
“lah terus?”
“pengen ketemu aja, ga tau kenapa abis Jum’atan, gue pengen banget ketemu, padahal ga ada niat juga,”
“aneh.” Nadine mendorong piringnya yang masih tersisa nasi goreng.
“gak di abisin?”
“udah kenyang,”
“yaudah, yuk jalan,”
“kemana?”
“jalan aja dulu,”
Nadine mengikutinya keluar kedai menuju tempat parkir.
“hei mau kemana??” tanya Arka yang melihat Nadine terus berjalan melewati tempat parkir,
“jalan, katanya jalan aja,” jawabnya polos.
“sini lah, gue pinjem mobil temen buat kita jalan,”
“oh! Kirain lu dateng pake taxi,” Nadine ikut masuk ke mobil sedan abu-abu itu.
“mau kemana nih kita?” tanya Arka setelah memasang safety belt.
“gak tau ya, lu yang culik gue,”
Arka akhirnya melaju tanpa tujuan
“kamana nih kita, kemana??” desaknya.
“duh kaga tau ya, yaudah mentok mentok ke alun-alun aja lah, atau ke danau kota ke,” jawab Nadine asal.
“oke kita ke alun-alun,”
Tapi bodohnya selain mereka tak punya tujuan pasti, mereka pun tak hafal jalan, sebab keduanya ebih sering naik taxi, jadi terpaksa Nadine menjadi navigator membaca google map memandu Arka. Tapi memang dasar payah, mereka malah berkeliling tak tentu arah, dan selalu salah ambil rute, yang membuatnya harus mengambil arah memutar.
“hape lu lowbat nih,” keluh Nadine.
“yah, hape lu ga bisa?”
“hape gue map nya ngaco,”
“sama kek orangnya,” celeuk Arka pelan.
“yaudah deh ke alun-alun gak nyampe-nyampe, ke danau aja, kalo ke sana gue tau tuh, lurus aja terus belok kanan,”
“oke deh,”
Sesampainya merek di lokasi, Nadine keluar lebih dulu dan menunggu Arka selesai parkir.
“lu masuk malem kan?” tanya Nadine memastikan.
“iya,”
“jangan bolos lagi ya, senin lu udah bolos gara-gara gue, masa jum’atnya bolos lagi,”
“iya kaga, masih ada 1 jam 30 menit buat jalan,”
“mau ngapain kita??” tanya Nadine melihat sekeliling.
“gimana kalo naik paddle boat aja, biar romantis gitu sambil sunset,”
“serah ya, yang penting lu yang bayar, lu yang culik gue, dan gue gak bawa duit buat sewa,”
“ok siap bosku, yuk gerak,”
Akhirnya mereka pergi menaiki perahu, setelah bernegosiasi dengan petugasnya.
Hampir satu jam mereka mengayuh paddle boat sampai di tengah danau.
“eh liat deh, romantik kan kita, ditengah danau sambil sunset gini,” celetuk Arka.
“serah,”
“mau foto gak?”
“boleh deh, buat kenang-kenangan,” entah kenapa Arka terasa lebih sering meminta foto.
“balik yuk, bentar lagi magrib,”
“oke”
Mereka mengayuh untuk kembali ketepian.
“gue minta maaf,”
“maaf untuk?” tanya Nadine.
“maaf karena gak bisa lanjut sama lu,”
“masih aja kepikiran,”
“masih, rasanya kaya gak rela kita pisah,”
Hening....
“sekali lagi gue minta maaf,”
“iya”
*
*
Perjalanan pulang terasa canggung, dalam mobil pun tidak ada percakapan apa-apa. Arka berniat mengantar Nadine pulang sebelum ia pulang dan bersiap pergi kerja. Tapi tiba-tiba saja....
Mobill berhenti ditengah jalan, nasib baik Arka sempat menepi walau tak benar-benar menepi.
Yap...mobilnya mogok kehabisan bensin....