My Ex

My Ex
Keinginan Askara



Desas desus tentang Asha wanita tidak benar semakin semarak mengedar di kantor, meskipun saat ini Asha sudah tidak lagi bekerja. Namun akan selalu menjadi perbincangan para karyawan karena mereka mengira Kaisar Asha memiliki hubungan dengan Kaisar.


Askara yang mendengar gosip murahan itu merasa sangat murka. Setelah memimpin rapat, Askara memanggil Kai untuk ke ruang kerjanya. Bukan untuk memberi perhitungan kepada Kai, tapi hanya untuk menyelidiki mengapa karyawan di kantor begitu sangat heboh membicarakan Asha. Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api. Pasti ada sesuatu dibalik foto yang sedang beredar di internet.


"Aku tidak mau tahu kamu harus segera mencari tahu siapa yang telah menyebarkan gosip murahan itu. Aku yakin semua ini ada hubungannya dengan pria yang hampir saja menodai Asha malam itu. Cari orangnya secepatnya, Kai!" perintah Askara.


Sebenarnya tanpa diutus oleh bosnya, Kai juga telah menyelidikinya sendiri, karena dirinya juga terseret dalam gosip murahan tersebut.


"Aku sudah menyelidikinya, bos. Tapi belum bisa menemukan dalangnya," jelas Kai.


"Bagus! Tumben pinter?"


"Bukan masalah pintar Bos, tapi masalahnya namaku juga terseret dalam gosip murahan itu. Bisa-bisanya mereka mengatakan jika pria yang bersama dengan Asha adalah aku. Padahal Asha kan tinggal dan kerja di rumah bos. Kalaupun ada yang berani tidur bersama dengan Asha, itu adalah Bos. Jangan-jangan pria yang bersama dengan Asha emang Bos," tebak Kai dengan datar.


"Memang iya." Askara menjawab dengan santai.


Seketika mata Kai langsung dengan terbelalak dengan lebar. "Hah?! Apa? Jadi pria yang tidur bersama dengan Asha itu Bos? Astaga .... kok bisa? " Kai benar-benar merasa shock dengan pengakuan Askara.


"Ah, sudahlah aku malas untuk membahasnya. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku bisa tidur bersama dengan Asha. Aku rasa ada seseorang yang sengaja ingin menjatuhkan Asha dengan menjebak kami berdua. Padahal aku dan Asha tidak berbuat apa-apa."


Kai terdiam untuk sesaat. Berpikir sejenak untuk mencerna ucapan bos-nya, karena Kai yakin jika emang ada seseorang yang tidak menyukai Asha dan ingin menjatuhkan.


"Bos, apakah Anda tahu jika Asha memiliki musuh?"


"Tidak. Aku rasa dia tidak akan memiliki musuh karena dia buka orang yang suka berantem. Jikapun patut dicurigai hanya satu orang, yaitu Karin. Karena belum kejadian itu, aku tempat menemui Karin untuk menyetop semua biaya hidupnya. Aku pikir dengan cara seperti itu Karin bisa berubah dan menyadari semua kesalahannya, tapi ternyata aku salah."


Kai mendengar semua keluh kesah yang ungkapkan oleh Askara. Meskipun dia sudah bekerja selama 3 tahun dengan Askara, tetapi Bosnya itu tidak pernah terbuka untuk masalah pribadi. Namun tidak untuk kali ini yang mau bercerita tentang pernikahannya dengan Asha yang tidak mendapatkan hasil dari keluarga. Namun, karena cintanya begitu besar Asha, Askara rela menantang semua dan menanggung akibatnya. Kai hanyut dalam cerita Bosnya. Bahkan Kai tidak percaya dengan jumlah sisa hutang yang ditinggalkan bosnya kepada Asha. Pantas saja selama ini Asha bekerja dengan gila, sebelum dipecat dari butik.


"Kasihan sekali Asha. Pantas saja tubuhnya kurus dan kering, ternyata begitu berat bebannya selama ini. Anda benar-benar sangat keterlaluan, bos!"


"Aku juga tidak tahu jika masih mempunyai hutang, karena Asha tidak pernah bercerita apa-apa."


"Tapi setidaknya Anda peka, Bos! Aku sebagai pacar sahabatnya Asha tidak akan rela jika Anda akan menyakiti dia lagi! Sudah cukup dia menderita selama ini, Bos! Segera nikah Asha agar dia lebih merasa aman, Bos!"


🌼🌼


Ucapan Kaisar masih terus berputar di dalam kepala Askara. Bahkan dia sampai tidak bisa berkonsentrasi dibuatnya. Memang ada niatan untuk menikah lagi dengan Asha, tidak untuk waktu dekat karena Askara masih ingin mempersiapkan pernikahannya dengan mewah dan megah.


Kini mobil yang dikendarai oleh Askara telah sampai di halaman rumahnya. Langkah sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Asha. Hampir satu harian tidak melihat Asha, rasanya sudah seperti satu tahun saja.


"Bi Sumi!" teriak Askara saat masuk ke dalam rumahnya.


Bi Sumi yang ada di dapur segera bergegas menghampiri majikannya yang telah memanggil dirinya. "Iya, Tuan. Ada apa?" tanyanya langsung.


"Asha dimana Bi? Apakah sia baik-baik saja karena sejak tadi dia tidak mengangkat panggilanku."


"Neng Asha baik-baik aja. Sekarang ada di halaman belakang bersama dengan Neng Kania."


Askara langsung menyerahkan tas kerjanya kepada Bi Sumi karena ingin melihat Asha terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa lelah. Namun, lagi-lagi tubuhnya harus membeku ketika mendengarkan percakapan antara Asha dan juga Kania.


"Sha, aku tahu semua ini sangat menyakitkan, tapi aku yakin kok kalau semua ini akan berakhir dengan indah pada waktunya. Teruslah bersabar, jangan menyerah."


Asha yang menyandarkan kepalanya di bahu Kania hanya mengangguk dengan pelan. Dia tahu keputusannya untuk menikah kembali dengan Askara berarti dirinya juga harus siap untuk menghadapi konsekuensi apa ya kakaknya dia terima nantinya. Dia yakin jika Karina tetap akan berusaha untuk memisahkan lagi dirinya dari Askara.


"Kan, makasih sudah mau menjadi tempatku bersandar. Aku tidak tahu jika tidak memiliki kamu, Sha."


Sha, kamu tenang saja karena aku tidak ingin melihatmu bersedih lagi setelah ini. Batin Askara yang mengurungkan niatnya untuk menemui Asha.


"Bi Sumi!" panggil Askara lagi.


Dengan langkah tergopoh, Bi Sumi segera menghampiri di mana tuannya berada. "Iya Tuan. Ada apa?" tanyanya.


"Bi, sini dulu aku!" pinta Askara.


Bi Sumi langsung menawarkan kedua alisnya dan bergidik geli. " Ah, tuan nggak usah aneh-aneh. Bibi udah tua enggak mau main bisik-bisikan. Kalau ada perlu mending dikatakan aja, kan nggak ada siapa-siapa yang mendengar!" tolak Bi Sumi.


"Ini sangat rahasia Bi! Takutnya kalau enggak bisik-bisik nanti ada yang dengar, Bi! Sudahlah Bi, sini!" Askara memberi isyarat agar Bi Sumi menurutinya.


Dengan helaan nafas panjang yang terdengar berat, Bi Sumi langsung mendekat ke samping Askara. "Yaudah, ada apa?" yang Bi Sumi.


Askara yang tidak ingin membuang waktunya lebih lama segera memisahkan sesuatu ke telinga Bi Sumi, hingga membuat wanita paruh baya itu langsung terbelalak dengan lebar. "Apa? Apakah Anda sedang sakit, Tuan? Apakah tidak besok saja?" tanya Bi Sumi dengan keterkejutannya.


"Tidak, Bi. Aku sudah memikirkannya sejak tadi. Dan saat ini aku sudah siap lahir dan batin. Bi Sumi bantu, ya!" rengek Askara.