My Ex

My Ex
Bab 45



"Sa, apa kau tahu semua itu?" tanya Arneta pada Sasha yang sejak tadi diam saja mendengar percakapannya dengan Ivy.


Karena tidak mungkin wanita itu tidak tahu, apalagi Sasha tidur bersama Ivy semenjak mereka tinggal di mansion Richard.


Sasha menganggukan kepalanya. "Aku juga tahu, setiap malam Tuan Lio—" ucapannya terhenti saat pintu kamar terbuka dari luar.


Membuat ketiga orang yang ada di dalam ruangan tersebut, menatap sosok yang kini berdiri di balik pintu.


"Maaf menganggu pembicaraan kalian," ucap Anna tanpa masuk ke dalam kamar putri suaminya. "Tapi aku harus berbicara denganmu Arneta, jadi bisa kau ke kamarku?"


Arneta terdiam sesaat, lalu menganggukan kepalanya. Karena tidak mungkin ia menolak keinginan istri dari pemilik mansion tersebut.


"Baiklah, aku tunggu di kamarku!" Anna kembali menutup pintu kamar Ivy.


Sementara Arneta langsung meminta Sasha untuk menjaga Ivy. Karena ia tahu pembicaraan yang akan dilakukannya dengan Anna pasti akan memakan banyak waktu, mengingat sejak pertama mereka bertemu belum pernah berbicara apa pun mengenai hubungan masa lalunya dengan Lio.


*


*


"Kau pasti tahu apa yang ingin aku bicarakan," Anna memulai pembicaraan setelah Arneta duduk di atas sofa yang ada di dalam kamarnya. "Jujur aku begitu terkejut, marah, sedih, saat mengetahui suamiku ternyata memiliki seorang putri dengan wanita lain," ucapnya dengan tersenyum sendu.


Sementara Arneta hanya terdiam dengan perasaan bersalah, karena ia tahu betul jika berada di posisi Anna pastilah tidak mudah. Jika Arneta berada di posisi Anna pun, pasti akan marah bahkan membenci kehadiran pengganggu di kehidupan rumah tangganya.


"Tapi setelah Lio menjelaskan semuanya kalau kejadian malam itu tidak disengaja, aku pun mencoba untuk mengerti. Apalagi Lio bilang melakukannya karena pengaruh obat perangsang. Itu artinya Ivy hadir ke dunia ini bukan karena cinta, tapi sebuah kesalahan."


Deg.


Rasanya Arneta ingin sekali memaki Anna saat wanita itu menyebut kehadiran Ivy sebagai sebuah kesalahan. Namun niat itu diurungkannya, karena ia ingin tahu apalagi yang ingin dibicarakan Anna.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan putriku, jika yang ingin kau bicarakan adalah memintaku untuk meninggalkannya," sela Arneta dengan tegas.


"Tapi Arneta, masa depan putrimu akan terjamin jika bersama kami. Apa kau tidak ingin melihat Ivy hidup bahagia?"


"Ivy sudah hidup bahagia bersamaku."


"Tapi hidupnya tidak terjamin."


Arneta terdiam dengan mengepalkan kedua tangannya, karena menahan emosi.


"Dengar Arneta. Aku berbicara denganmu saat ini hanya ingin kau mempersiapkan diri jika suatu saat nanti kau dipisahkan dengan putrimu. Karena kau tahu bukan Lio bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkannya."


Lagi-lagi Arneta hanya diam karena tahu apa yang dibicarakan Anna memang benar. Lio dengan kekuasaannya memang bisa mendapatkan Ivy dengan mudah, apalagi putrinya kini sudah menerima pria itu sebagai ayah kandungnya.


"Aku sebenarnya tidak tega memisahkan kalian, tapi aku tidak memiliki pilihan selain mengikuti keinginan suamiku," ucap Anna dengan sangat menyesal.


"Kenapa?" tanya Arneta dengan menatap intens wajah wanita di hadapannya.


"Kenapa apa?" tanya Anna dengan bingung.


"Kenapa Lio begitu menginginkan Ivy? Kenapa kalian tidak memiliki anak sendiri saja?"


Deg


Anna pun tertawa sembari menggelengkan kepalanya. "Kau pikir kami tidak menginginkannya? Percayalah kami sudah bercinta setiap malamnya demi mendapatkan seorang anak. Tapi sayangnya Tuhan belum memberikan kesempatan aku untuk mengandung."