
...Kamu bilang pada mantan kekasihku,...
...“rugi lu lepasin Nadine gitu aja.”...
...Membuatku penasaran, menurutmu......
...Mana yang lebih rugi?...
...“melepaskanku”...
...Atau...
...“karena terlanjur kenal denganku.”...
...??...
...***...
KRIINNGGGGG....KRIIINGGGGG.....KRINGGGGG
Suara alarm dari ponsel warna hitam itu berbunyi nyaring membuat tuannya terbangun. Nadine terbangun dari tidurnya, ia merasa malaaaaaassss sekali untuk pergi kerja hari ini. Ia membalikkan badannya ke kanan, lalu ke kiri.
“duh, males banget kerja,” lirih Nadine menyuarakan isi hatinya.
Pada akhirnya ia memilih untuk MC kembali dengan alasan diare. Dasar pemalas. Nadine memeluk bantalnya enggan untuk melepaskan benda empuk itu. Jarinya dengan lihai menari-nari di atas layar ponselnya. *Scroll up, scroll down*.
Ia menghela nafas, ia rindu Arka. Tanpa diperintah Nadine membuka sosmes Arka, manatapnya dari layar ponsel, memperhatikan kegiatannya dari media. *Stalk is a good way if u want to see someone but you don’t let him know*.
Mata Nadine terhenti ketika membaca status Arka di laman *facebook*-nya. Lelaki itu membuat sebuah pengharapan, membuat Nadine penasaran dengan apa yang lelaki itu harapkan.
“kita hanya merencanakan. Selebihnya Tuhan yang tentukan,”
Kurang lebih begitu bunyi status teratas yang ia *update*. Nadine memperhatikan foto matahari terbit yang melengkapi kalimat itu. Jarinya menggeser layar atas, ia ingin melihat apa yang Arka posting sebelumnya untuk menjawab maksud dari status tersebut.
“wah!” refleks Nadine terperanggah melihat status Arka yang sudah berubah
Relationship : Engaged with Clarissa
Mata Nadine seolah terfokus, men-zoom berkali-kali kata “ENGAGED” yang tertera sangat jelas disana.
“wah gila ni orang, putus sebulan sama gue udah gercep aja tunang sama yang lain, wah...” komentar Nadine kaget.
Nadine kembali menggeser layar ponselnya. Ia melihat ada 2 postingan lagi disana. Ada postingan ibu dan kakak perempuannya yang menandai Arka. Nadine memperhatikan satu persatu postingan foto itu.
Foto-foto yang menyebarkan bahwa orang tua Arka telah melamar Clarissa, lengkap dengan sanak saudara, barang-barang hantaran dan cincin tunang yang Clarissa pamerkan dengan sebuah senyuman di wajahnya. Nadine merasa iri dengan Clarissa, ia bukan iri karena Arka melamarnya, tapi Nadine iri dengan lamaran yang Clarissa dapat. ‘gue juga mau dilamar...’ jerit hati kecilnya.
Tapi anehnya, Nadine sama sekali tak merasa kecewa, kesal atau marah. Ia merasa lega, bahwa akhirnya Arka memilih Clarissa, bukan dirinya. Jadi Nadine tak perlu peduli lagi dengan Arka atau memikirkan apa Arka masih ada rasa dengannya atau tidak, atau apakah Arka akan kembali padanya atau tidak.
Nadine merasa lega karena ia tak perlu merisaukan itu, sudah jelas bahwa Arka bertunangan dengan Clarissa.
Nadine sangat tau kalau Arka memang berencana menikah untuk tahun ini. Hari itu Nadine sempat bingung, jika ia masih berhubungan dengan Arka, kemungkinan mereka akan menikah. Dan itu artinya, Nadine akan menunda *study*-nya lagi. Nadine merasa bersyukur karena telah berpisah dengan Arka sebelum hatinya jatuh lebih dalam dan perasaan mereka lebih rumit dari sekarang.
Tapi ada yang membuat Nadine sangat tak nyaman. Yaitu, perhatian Arka kepadanya. Arka tetap sama seperti dulu, hanya Nadine yang terus menjauh. Arka masih sering menghubunginya, yah bukan salah Arka juga. Sebab tamu tak akan masuk jika tuan rumah tak membukakan pintu, iya kan?
Ia merasa perlu mengucapka selamat atas pertunangan mantan pacarnya ini. Tapi Nadine tetaplah seorang Nadine, ia gengsi luar biasa. Nadine memilih menyampaikannya di status whatapp yang telah ia atur hanya Arka yang bisa melihatnya.
“Selamat atas pencapaianmu,
Akhirnya kamu bisa mendapat target untuk tahun ini,
Aku ikut senang”
Tulis Nadine dengan puitis. Ia meletakkan ponselnya dan beranjak bangun dari kasur, ia harus mandi dan pergi ke klinik untuk meminta surat MC, ya dengan alasan yang aneh. Diare.
BRAK!!!
Pintu kamar Nadine terbuka dengan keras membuat Nadine terlonjak dari kasurnya, hampir-hampir membuatnya jatuh terpeleset ketika Julia teman satu apartement-nya ‘mendobrak’ pintu kamarnya dengan bar-bar.
“ya Allah kaget gua...apaan si, pagi-pagi udah ngerusuh aja ke kamar orang,” protes Nadine pada Julia yang baru saja pulang kerja, karena Julia memang masuk malam untuk minggu ini.
“NADINEEEEEEE!!!!!” teriak Julia heboh menggema di kamarnya, Nadine langsung menutup kupingnya karena suara Julia,
“apaan? Ada apa? Apa?!” Nadine ikut-ikutan meninggikan suaranya pada Julia.
“lu harus tau Nadine, lu harus tau.... lu bakal shock gua jamin....” ucap Julia tersenggal-senggal saking semangatnya. Membuat Nadine menatapnya heran menunggu penjelasan.
“Arka Nad, Arka....” Julia mencengkram lengan Nadine dan mengguncangnya tak beraturan.
“WOI! Santai buk....” Nadine dengan gemas melepaskan cengkraman Julia.
“tarik nafas dulu, tenang...ngomong yang jelas,” ucap Nadine menuntun Julia menarik nafas menenangkan Julia yang rusuh.
“oke, apaan? Arka kenapa?” tanya Nadine meminta penjelasan setelah Julia lebih santai.
“lu tau ga? Arka tunangan sama ceweknya?!” Julia berkata dengan cepat membuat Nadine terdiam,
“udah tau, terus?” jawaban santai Nadine mendapatkan pekikan Julia seolah tak percaya Nadine akan sesantai ini.
“kok terus sih?! Ini berita udah heboh dari malem tau ga?” protes Julia.
“engga, orang gue baru tau barusan dari fb-nya Arka,” Nadine berkata dengan sangat santai.
Julia dibuat heran dengan reaksi Nadine. Padahal iya sudah menyangka bahwa Nadine pasti akan shock berat, menjerit atau menangis dan akan galau selama beberapa hari ini. Tapi nyatanya, Nadine hanya memberikan reaksi seadanya.
“lu gak marah gitu?” desak Julia
“gak”
“kesel gitu?”
“enggak.”
“kecewa gitu?
“enggak,”
“sedih ke,”
“enggak.”
“ga ada kata lain apa selain ‘enggak’?”
“GAK ADA!!” tegas Nadine membuat Julia membulatkan matanya tak percaya, baru kemarin-kemarin Nadine sangat galau dengan kandasnya hubungan mereka, sekarang mengetahui Arka bertunangan dia biasa-biasa saja.
“serius lu?” Julia masih memastikan, ia memincingkan matanya tak percaya begitu saja,
“iya... ah elah, lu rese ye pagi-pagi... sana mandi lu, bau asem, pulang-pulang udah ngerusuh aja di kamar ogut,” usir Nadine.
“eh lu jam segini belum mandi, ga niat kerja lu?” Julia baru sadar kalau Nadine masih memakai piama, harusnya sekarang Nadine sudah siap pergi kerja.
“gak, gue ga ada mood kerja,” ucap Nadine asal,
“buset gaya lu, dikira itu perusahaan punya moyang lu, dasar males. Ga ada mood kerja atau gegara ditinggal nikah sama mantan...” goda Julia,
“brisik lu,” sewot Nadine,
“hahaha mantan terindah mau nikah sama yang lain, sabar ya....” goda Julia puas, ia segera pergi sebelum kena amukan Nadine.
Nadine mendengus kesal. Ia mengacak rambutnya kesal.
“masih pagi loh, masih pagi, gue laper belom sarapan, gue makan juga lu...” kesal Nadine.
***
Senin...
Dimana setiap orang banyak mengeluhkan hari ini. Tapi bagi Nadine, setiap hari adalah sama. Ia seperti biasa pergi bekerja, sarapan dikantin dan bersiap memulai kerjanya pagi ini. ia meletakkan tasnya didalam loker. Sudah stand by dari 10 menit sebelum jam kerja.
“ooohhhh bagus ya, setelah dapet SP terus ijin sakit, kenapa? sedang merajuk ya?” goda Johan yang melihat Nadine yang duduk sambil memainkan ponselnya.
“ehehe....ga gitu juga kali, gue emang lagi sakit,” bela Nadine.
“aaallaahhh alasan aja,” Johan mengelos pergi.
Nadine memandang Johan heran, dan kembali dengan ponselnya. Ponselnya begetar, sebuah pesan masuk.
From: HRA office
‘Assalam Nadine, nanti siang setelah istirahat tengah hari, mohon untuk datang ke kantor HRA.”
Nadine terdiam. ‘wah, salah apa lagi nih gue? Masih pagi ah elah,’ batin Nadine mulai risau. Ia tak membalas pesan itu karena bell sudah berbunyi.
Setelah *briefing* pagi, mereka kembali keposisi masing-masing. Nadine sibuk menyusun barang-barang ditempatnya. Tak lama David menghampirinya, seperti hari-hari sebelumnya, David datang untuk melihat barang ditempat Nadine. David mulai menghitung barang dari semua model yang akan ia antar ketempat Nadine sepanjang hari ini.
David adalah kakak lelaki Arka. Tapi Nadine dan David tak terlalu akrab. Terkadang David menggodanya dengan memanggilnya ‘adik ipar’ membuat Nadine tersenyum geli. Baginya Arka dan David memiliki sifat yang sangat berbeda. Arka begitu tenang dan banyak diam, sedangkan David dia lebih aktif dan lebih berisik.
“kenapa lu? Baru liat cewek cakep?” tanya Nadine bergurau.
“dih pede banget lu,” cibir David.
“terus? Lu liatin gue kaya ada ‘apa-apanya’,” ucap Nadine curiga. David memandang Nadine dengan tatapan khawatir.
“lu gapapa?” tanya David.
“enggak, emang gue kenapa?”
“serius lu gapapa?” ulangnya,
“enggak papa,”
“bener gapapa?” tanya David lagi.
“lu yang kenapa?” Nadine balik bertanya, David menggeleng pelan, terus pergi berlalu begitu saja. Nadine bingung sendiri dengan kelakuan david.
“apaan sih, dasar ga jelas,” Nadine kembali melakukan pekerjaannya.
Sebenarnya David merasa kasihan sekaligus khawatir dengan Nadine, karena ia tau kalau Nadine baru saja putus dengan Arka. Tapi tak lama setelah itu, Arka telah bertunangan dengan Clarissa. Ia merasa simpati dengan Nadine. Tapi melihat responya yang masih saja ‘galak’ sepertinya gadis itu baik-baik saja, ia sempat khawatir jika Nadine bersedih karena adiknya.
***
Jam istirahat makan siang telah berbunyi. Semua karyawan menghentikan aktifitasnya dan segera beranjak menuju kantin. Nadine keluar dari pintu belakang gedung karena pintu itulah yang paling dekat dengannya untuk menuju kantin.
Matanya melirik ke arah pintu depan, ia menunggu seseorang keluar dari sana. Tak lama seorang lelaki berjalan melewati pintu, satu tangannya memegang rambut merapikan beberapa helai rambutnya yang sedikit berantakan. ‘nah itu dia, Arka.’ Batin Nadine puas melihat Arka yang tengah berjalan didepannya sama-sama menuju kantin.
Pandangan mereka bertemu, membuat Arka terdiam sejenak. Tapi Nadine seolah tak melihatnya, padahal dialah yang mencari-cari lelaki itu sejak tadi. Mereka berbaris mengambil piring dan menunggu giliran mengambil makanan di *buffet*.
“ehem,” seseorang berdehem pelan tepat dibekang Nadine.
Untuk sesaat membuat gadis itu menahan nafasnya. Tanpa menoleh pun iya tau siapa yang ada dibelakangnya. Tapi Nadine menghiraukannya. Hatinya berdebar ketika ujung matanya menangkap sosok Arka yang menunggunya selesai mengambil nasi. Nadine menjilat bibirnya yang kering karena gugup.
Arka lebih dulu melewati Nadine dan langsung pergi ke tempat minuman. Nadine menghela nafas lega. Ia berbelok mengambil salad, tangannya meraih sendok salad. Sialnya bersamaan dengan itu sebuah tangan juga hendak mengambil sendok salad, membuat kedua tangan itu bertabrakan,
“eh, maaf.” Ucap keduanya bersamaan, secara refleks mereka bertatapan, membuat Nadine terkejut.
‘apaan sih, kaya drama banget,’ batin Nadine merengut mendapati Arka juga hendak mengambil salad sama seperti dirinya.
*For your information*, Arka dan Nadine memang memiliki selera makan yang sama. Bahkan Nadine dibuat keheranan dengan cara Arka makan yang sama dengan dirinya, selalu pilih-pilih makanan.
“silahkan,” ucap Arka menarik tangannya, mempersilahkan Nadine mengambil salad lebih dulu. Tanpa kata Nadine langsung mengambil salad dan segera pergi begitu saja, tanpa menoleh sedikitpun pada Arka.
Nadine duduk jauh dari tempat Arka duduk, tapi posisi mereka yang berhadapan membuatnya mau tak mau bisa terlihat juga. Bukan tanpa alasan, Nadine memang sengaja duduk menghadap Arka. Entah mengapa, gadis ini gengsinya sangat tinggi. Jika didepan mata ia akan berlaga seolah tidak ada apa-apa, tapi ketika jauh, ia sendiri yang mencari-cari.
Lain Nadine, lain pula dengan Arka. Arka lebih santai dengan keadaan ini. jika ada didepan mata ia akan tetap ramah, menyapa seperti biasa. Tapi jika jauh, entah apa yang dia lakukan. Nadine menghela nafas, ia melirik Arka sesekali.
Arka memang sangat ramah, dan keramahannya ini sering membuat rekan-rekan perempuannya salah faham mengira ada maksud lain selain tata krama. Tapi Nadine kenal Arka, ramah tamah seperti itu adalah hal biasa untuknya, tapi jika seorang Arka selalu menghampirinya, itu baru yang Nadine sebut ada ‘sesuatu yang lain’.
Dan itu lah yang ingin Nadine pastikan. Apakah Arka masih akan terus menghampirinya setelah kandasnya hubungan mereka? Dan setelah Arka bertunangan? Nadine berharap lelaki itu segera berlutut meminta maaf padanya atas perlakuannya.
‘*memangnya dia akan merasa baik-baik saja setelah melukai hati orang lain? Jangan bermimpi*!’
Nadine melirik Arka lagi, tapi sialnya kali ini Arka juga tengah meliriknya, membuat mata mereka bertemu. Nadine langsung tersedak saking kagetnya, ia langsung minum membuat teman-teman disekitarnya menengok padanya.
Arka tersenyum geli melihat Nadine. Sejujurnya ia pun sama juga, diam-diam memperhatikan Nadine dengan ekor matanya.
Nadine menyelesaikan acara makannya lebih awal karena ia ingat kalau HRA ingin bertemu dengannya di kantor. Fikirannya mulai berkhayal macam-macam, apakah ini ada sangkut pautnya dengan SP tempo hari? Atau karena ia yang terlalu sering MC?
Ia meremas jemarinya sebelum menekan bell HRA. Menarik nafas untuk menetralkan ekspresinya. Nadine menekan bell, tak ada yang membukakan pintu. Ia menunggu sejenak, lalu menekan bell lagi. Belum sempat ia menekan, seseorang membuka pintu membuat Nadine terlonjak kaget.
“Astagfirullah....” ucapnya kaget sambil mengelus dada.
“oh, hai Nadine, ayo masuk sudah ditunggu Ibu Mira didalam,” ucap seorang paruh baya yang tak lain adalah Nuri, ia keluar dari ruangan tersebut dan melewati Nadine yang masih mematung ditempat.
Sepeninggalan Nuri, Nadine segera masuk. Ia melihat Ibu Mira, sang ketua HRA dan beberapa rekan perempuannya ada disana. Mira segera menyuruh Nadine duduk di kursi yang kosong dan memang hanya untuk dirinya.
“oke. Semua sudah hadir ya, langsung aja. Assalamu’laikum wr.wb. hari ini saya memanggil kalian semua dengan tujuan untuk mengisi acara malam dinner nanti pada tanggal 16 maret. Kita akan membuat projek tarian dalam bentuk grup, dan kebetulan seperti yang kita tau. Tahun lalu Nadine telah sukses menampilkan tarian yang sangat keren secara solo. Jadi saya meminta partisipasi kalian, tapi ini tak ada keharusan. Jika kalian rasa mau ikut, nah langsung isi formulirnya dan dikumpulkan lagi ke leader masing-masing selambat-lambatnya besok sore.” Penjelasan Mira panjang lebar, ia mematap satu-persatu orang yang ada diruangan itu.
“ada pertanyaan?” tanya Mira.
“kita akan melakukan tarian Apa untuk pertunjukan?” seorang gadis jangkung di ujung bertanya,
“kita akan melakukan tarian grup secara serempak, so kalian ga usah khawatir karena kita akan pilihkan gerakan yang ringan-ringan. Dan jika Nadine bersedia, bisa jadi koreografer atau pelatih untuk membantu teman-teman yang lain,” ucapan Mira membuat Nadine seolah disodori pistol di kepalanya, Nadine tergagap.
“eerr,, anu bu, boleh saya fikirkan dulu?” ucap Nadine merasa keberatan,
“oh tentu, ini hanya ajakan untuk ikut berpartisipasi mengisi acara, jadi tidak ada keharusan.” Jawaban Mira membuat Nadine lega.
“oke karena jam istirahat hampir habis, silahkan kalian fikirkan dan isi formulir ini bagi yang berminat, atau kalian bisa tawarkan kepada rekan yang lain.” Mira membagikan selembar kertas pada tiap orang yang hadir.
Sepanjang jalan kembali ketempat kerja Nadine, ia tak berhenti memikirkan apa jawaban yang akan ia berikan besok untuk mengisi formulir ini.
Tahun lalu memang menjadi tahun kebanggaan bagi seorang Nadine. Pasalnya ia telah membuat semua orang yang hadir di acara *dinner* itu terpukau dengan penampilan tarinya yang membuat orang-orang terkejut, seorang Nadine yang pendiam ternyata memiliki *talent* yang begitu epik dalam menari.
Sejak hari itu, Nadine menjadi terkenal di perusaannya. Tak jarang orang yang memberinya pujian, atau sekedar menggodanya menyuruhnya menari. Tak terkacuali Arka. Sejak hari itu ia begitu tertarik dengan sosok Nadine yang menurutnya sangat unik.
Ketika Nadine turun dari panggung, mata Arka tak lepas memandang Nadine yang tampil bak artis Korea. Ia terlihat sangat cantik dan berbeda. Sangat berbeda. Membuat Arka tak bisa melupakan malam itu.
Tahun lalu adalah tahun lalu, dan tahun ini iya mulai bimbang. Nadine berniat memakai hijab untuk tahun ini. ia tak ingin lagi menjadi tontonan. Karena menjadi pengisi acara seperti itu cukup memelahkan dengan jadwal latihan dan beberapa persiapannya, membuat Nadine enggan mengurus hal seperti itu.
Tahun lalu sudah cukup baginya.
Nadine sangat galau sekarang dan ia melampiaskan perasaannya di status whatapp. Jemarinya dengn lincah bergerak gerak di atas layar ponselnya. Mengetik sesuatu disana.
Aaakkkkkhhh gimana ini,,, gimana,,,,, aihh,,..... ahgddydgwidgfasdfhldsfbffywe
Mampus gue T.T
Tulis Nadine dengan kegelisahan hatinya. Ada sedikit perasaan ingin ia merasakan sensasi di atas panggung lagi seperti tahun kemarin. Tapi ia merasa enggan dengan persiapan dan latihan yang akan ia jalani, karena itu pasti akan menyita waktu dan menguras tenaganya. Terlebih untuk tahun ini Nadine hanya ingin berpenampilan anggun dengan hijabnya.
Beberapa menit setelah ia menulis status, Nadine terus melamun menatap formulir itu. Dia bingung harus ia apakan kertas satu ini.
Drrrrttt....
Ponsel Nadine bergetar, sebuah pesan masuk tertera dilayarnya. Nadine menggeser lock screen, tak lama ia dibuat terkejut dengan pesan itu, terlebih kepada si pengirim.
From: Arka
‘ada apa? Kenapa status lu begitu? Ada masalah?’
.....