My Ex

My Ex
Tamu Tak Diundang



Janji untuk saling mencintai kini terucap untuk yang kedua kalinya. Tidak peduli dengan rintangan yang akan datang menghadang. Siap tidak siap kedua harus sigap manakala badai akan datang kembali.


Didalam sebuah kamar, Asha masih merasa canggung saat harus naik keatas tempat tidur. Padahal ini bukanlah kali pertama untuk Asha tidur satu ranjang dengan Askara.


"Kenapa masih berdiri di situ? Apakah ada yang salah?" tanya Askara saat melihat Asha masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Tidak. Aku hanya β€”" Asha menjeda ucapannya.


"Hanya apa? Hanya takut jika kita melakukan malam pengantin? Tenang saja aku tidak akan melakukan malam ini, karena aku sangat lelah dan ingin langsung beristirahat. Besok aku harus bekerja lagi!"


Asha menggaruk kepalanya meskipun tidak terasa gatal. Bibir nyengir seiring dengan langkah kaki yang mulai mendekat tempat tidur.


Bukan tidak ingin melakukan malam pertama sebagai pasangan suami-istri, tetapi Asha masih belum percaya saja jika hanya dengan kedipan mata dirinya telah menjadi istri seorang Askara. Rasanya seperti mimpi panjang yang belum usai.


"Sudah sini!" Askara menarik lengan Asha sehingga tubuh Asha langsung terjatuh di atas tempat tidur. Dengan cepat, Askara menarik selimut dan langsung mematikan lampu kamar.


"Sudah, ayo tidur!"


Dada Asha masih berdegup dengan kencang. Apalagi saat tangan Askara mulai melingkar di perutnya. Rasa sensasi berdebar dan ingin muntah tidak bisa dielakkan lagi. Bahkan untuk bernafas saja rasanya sangat sesak.


"Kara, tangan kamu berat!" ucap Asha.


"Ini baru tangan aja Sha, belum tubuhku. Jika seperti ini saja kamu sudah merasa berat, lalu bagaimana jika tubuhku yang menimpanya nanti? Perasaan dulu kamu suka bobok kayak gini, deh!"


"Itu kan dulu, Ra. Sekarang tangan kamu sudah kekar," balas Asha.


"Iya juga sih. Tapi selai tangan ada lagi yang lebih kekar, Sha. Kamu mau lihat gak? Kayak udah mulai kekar deh dia."


"Gak usah ngelantur! Ayo tidur!"


🌼🌼🌼


Tidak ada yang berubah meskipun telah menikah, karena saat membuka mata Askara sudah tidak menemukan keberadaan Asha disampingnya. Padahal rencana Askara ingin mengambil morning kiss, tapi apa daya dia terlalu pulas dalam tidurnya sehingga tidak menyadari jika hari sudah terang kembali. Saat melihat jarum jam yang berada di dinding, Askara membulatkan matanya dengan lebar. Jarum kecil sudah menunjukkan angka 8 sedangkan jarum yang besar sudah menunjukkan angka 30. Itu artinya saat ini sudah setengah sembilan pagi.


"Astaga ...!" pekik Askara dengan kuat.


"Asha!" teriaknya untuk memanggil Asha. Dengan cepat Askara menyibakkan selimut yang masih menutupi tubuhnya dan bergegas ke kamar mandi.


Asha yang mendengar namanya dipanggil segera naik ke lantai atas dimana kamar Askara berada. Saat pintu dibuka, Asha tidak menemukan keberadaan askara di dalam kamar sehingga ia pun memanggilnya.


"Kara!"


Askara yang berada di dalam kamar mandi langsung menyahut. "Asha cepat siapkan semua perlengkapan kerjaku! Mengapa tadi kamu tidak membangunkanku?" teriak Askara dari dalam kamar mandi.


Asha yang mendengar hanya bisa menghela nafas beratnya. Bahkan sejak tadi Asha sudah berusaha untuk membangunkan Askara tetapi, pria itu terus meminta tambahan waktu 5 menit. Karena Asha ingin memasak, Dia pun akhirnya meninggalkan Askara yang tak kunjung bangun. Ternyata di dapur dan Bi Sumi larut dalam perbincangan mereka, membuat Asha lupa untuk membangunkan Askara lagi.


Muncul dari pintu kamar mandi dengan balutan handuk menutupi bagian pinggang hingga atas lutut, membuat Asha harus menelan kasar salivanya. Terlebih bentuk bagian perut milik Askara telah berubah layaknya papan balok.


"Sha!" panggil Askara. "Malah bengong disitu!" lanjut Askara tak ada jawaban dari Asha.


"Apaan sih!" gerutu Asha yang langsung membuang pandangan matanya.


"Ngapain bengong disini? Mana bajuku?"


"Itu!" Asha keatas tempat tidur di mana sudah ada pakaian kerja Askara. Mata Askara pun langsung melirik ke tempat tidur. Dengan senyum smirk tangan Askara menarik pinggang Asha sehingga tubuh mereka hampir menempel.


"Ra, kamu mau apa?" tanya Asha dengan gugup.


Mata Askara tak berkedip saat melihat bibir ranum milik Asha yang dahulu pernah membuatnya candu.


Tak ada kata yang terucap dari bibir Askara, tetapi pria itu malah mendekatkan wajah wajahnya hingga saat ini jarak wajah Askara dengan Asha hampir tak bercelah lagi karena Askara sudah menempelkan bibirnya di bibir Asha.


Tubuh Asha langsung membeku bahkan mata Asha terbelalak dengan lebar. Jika awalnya Askara hanya ingin mengerjai Asha saja, tetapi setelah merasakan sensasi yang sudah lama dirindukannya, Askara malah larut dalam permainannya sendiri.


Karena tidak ada perlawanan dari Asha, Askara semakin berani untuk memperdalam ciumannya, meskipun tidak ada balasan dari Asha.


"Sha, balas seperti dulu," kata Askara saat melepaskan ciumannya. Tak menunggu waktu lama lagi Askara melanjutkan kembali kegiatan bermain di rongga mulut milik Asha.


Suara decakan menggema di kamar karena Asha sudah membalas ciuman yang diberikan oleh Askara. Kini ciuman panas mereka telah diatas tempat tidur. Entah bagaimana ceritanya saat ini tubuh Askara sudah menimpa tubuh Asha. dengan suara decekan yang tanpa henti.


Nafas keduanya terengah-engah. Menyadari jika hampir kekurangan pasokan oksigen, Askara langsung melepaskan ciumannya dari bibir Asha. Tangannya pun langsung mengusap bibir Asha yang basah.


Tangan yang jahil kini perlahan mulai berjalan nakal kebawah hingga menemukan sebuah kancing baju dan melepaskan dengan pelan.


Menyadari satu kancing bajunya sudah dilepas oleh Askara, Asha langsung menahan tangan Askara saat ingin membuka kancing yang kedua.


"Kara, bukankah kamu akan berangkat ke kantor?"


Askara langsung menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Sepertinya aku tidak ingin pergi ke kantor karena aku memiliki pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Tapi Ra! Bukan bukan aku tidak mau melayanimu, tapi saat ini sedang datang bulan," ucap Asha dengan lemah sambil memejamkan matanya.


Askara yang sudah dalam mode on langsung mendelik. "Kok bisa?"


"Aku juga tidak tahu. Tadi pagi saat aku bangun sudah datang dia."


"Argh ... kenapa dia datang disaat yang tidak tepat sih, Sha?" Askara langsung menjatuhkan tubuhnya begitu saja. Semangat 45 kini tiba-tiba lenyap begitu saja saat tamu bulanan milik Asha datang begitu saja. Padahal hanya tinggal sedikit lagi Askara akan melakukan pembobolan, namun ternyata harus gagal di tengah jalan.


"Ra, menyingkirkan dari tubuhku! Badanmu berat sekali!" Asha mencoba untuk menyingkirkan tubuh Askara. Namun, Askara tetap menahan tubuhnya karena masih kecewa dengan tamu yang tidak bisa diajak bekerja sama.


"Tidak! Aku tidak mau menyingkir! Tapi jika kamu mau melakukan sesuatu, aku akan menyingkir saat ini juga," kata Askara dengan mata yang terus tertuju pada Asha.


"Apa itu?" tanya Asha.


Askara pun langsung membisikkan sesuatu pada Asha hingga membuat wanita itu langsung terbelalak dengan lebar. "Apa?"