My Ex

My Ex
Berpisah



Askara masih menunggu Asha terbangun. Namun, karena lama akhirnya sambil memegang tangan Asha. Siapa yang tidak kedinginan setelah terkena air hujan. Dan rasa hangat itu bisa dirasakan saat tubuhnya menempel pada tubuh Asha.


Askara hanya bisa berharap jika setelah bangun, Asha bisa memaafkan atas khilafnya. Dan jika waktu bisa diputar kembali, Askara tidak akan minum hingga mabuk agar tidak menyentuh wanita selain Asha. Namun, semua sudah terlambat. Meskipun disesali seribu kali, tetap tidak akan mengubah kenyataan karena Askara telah menghancurkan masa depan Karina yang pada akhirnya Karina meminta pertanggung jawaban dari Askara untuk menikahinya. Tentu saja Askara tidak bisa karena cintanya hanya untuk Asha.


Perlahan Asha mengerjap untuk membuka matanya. Rasanya ada sebuah kehangatan yang menimpa tubuhnya. Dan saat dilihat, ternyata itu adalah tangan dann kaki yang telah berada diatas tubuhnya. Helaan nafas panjang terdengar kasar.


"Kara," ucapnya dengan pelan. Dan saat menoleh kesamping, dilihatnya Askara tertidur dengan lelap.


Hati Asha bergemuruh. Entah keputusan apa yang akan diambil. Apakah tetap mempertahankan rumah tangganya atau berlari karena Askara telah melakukan sebuah kesalahan yang tidak disengajanya.


Perlahan, Asha menyingkirkan tangan dan kaki yang menimpa tubuhnya dengan pelan. Kepalanya yang masih terasa pusing membuatnya berjalan sempoyongan. Sepertinya meninggalkan Askara adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh.


Asha sudah memikirkan masalah ini dengan matang. Meskipun cintanya begitu besar pada Kara, tetapi Asha tidak sanggup jika hidupnya akan diteror terus-menerus oleh Karina yang berambisi ingin dinikahi dengan Kara. Taka pernah akan ada kebahagiaan yang didapatkan dari pernikahan yang dia jalani. Lebih baik pergi daripada harus merasakan sakit yang terus-menerus akan mendatanginya.


"Neng, mau kemana?" tanya Bi Sumi saat melihat Asha diam-diam ingin meninggalkan rumah.


"Bi Sumi ... " Asha terkejut saat sat mendengar pertanyaan Bi Sumi. "Asha mau pergi, Bi."


Langkah Bi Sumi kian mendekat. "Pergi kemana, Neng?"


"Bi ... Asha lelah dengan semua ini. Asha menyerah."


"Tapi aku lelah, Bi. Aku tidak sanggup jika harus mendapatkan teror dari Karina setiap hari. Dia akan terus menerorku agar aku tidak bisa hidup dengan tenang, Bi. Lebih baik aku mengalah dan menyerahkan Kara pada Karina." Asha bersikeras dengan pilihannya yang ingin meninggalkan Askara.


Namun, dari belakang Askara mendengar apa yang dikatakan oleh Asha. Dia oun berkata, "Aku bukan barang jadi kamu tidak bisa sesuka hati untuk memberikan kepada orang lain. Sha, aku salah. Tolong maafkan kesalahanku ini. Sha, tolong jangan pergi." Askara meminta dengan iba.


"Tidak Kara. Lebih baik aku berdiri sendiri daripada aku bersandingan denganmu tetapi aku selalu diteror dengan orang yang sangat berambisi ingin menikah denganmu. Jujur aku tidak sanggup, Ra. Sudah cukup penderitaan yang aku alami selama ini. Dan kini aku hanya ingin hidup tanpa beban sedikitpun. Kara, kita akhiri saja hubungan k kita dan menikahlah dengan Karina."


"Tidak ... aku tidak mau! Sha, kamu boleh menghukumku, Tapi tolong jangan pergi untuk mengakhiri hubungan ini. Aku sayang sama kamu, Sha."


Hati yang telah sakit, tak mudah untuk menerima maaf, sekalipun itu adalah permintamaafan yang tulus. Mungkin ini adalah takdir yang harus dijalani oleh Asha. Kisah cinta yang tak terukir dengan indah. Seharusnya Asha belajar dari sebuah kegagalan untuk tidak masuk kedalam lubang yang sama. Namun, kini sudah terlambat. Rasa sesal yang tak akan bisa mengambilkan semuanya. Lebih baik hidup sendiri tanpa beban.


Biarlah mantan berada pada tempatnya. Seharusnya Asha tidak gegabah untuk menerima perasaan Askara kembali. Harusnya Asha tahu jika keluarga Asha tidak menyukainya. Harusnya Asha sadar jika mantan tetaplah mantan.


Keputusan Asha sudah bulat. Dia memilih berpisah dari Askara, demi hidupnya terbebas dari teror yang sering kali mendatanginya.


"Kara terima kasih telah mencintaiku. Kuharap kamu bisa hidup bahagia tanpa aku."


...SEKIAN...