
"Tunggu!" Bara menahan langkah Arneta dengan menarik tangan wanita tersebut. "Ada yang ingin aku bicarakan."
Arneta menatap Bara lalu menghela napasnya dengan panjang. "Jika yang ingin kau bicarakan mengenai masa laluku—"
"Bagaimana kabarmu?" sela Bara dengan menatap intens Arneta. Menatap wanita yang dulu pernah sangat ia cintai, hingga menutup mata dan telinga dengan semua yang ia dengar tentang keburukan wanita tersebut. "Bagaimana kehidupan yang kau jalani beberapa tahun belakangan ini?"
Deg.
Arneta terdiam karena terkejut dengan semua pertanyaan Bara. Karena pria itu justru menanyakan kabarnya alih-alih mempertanyakan tentang masa lalunya seperti yang ditanyakan Lea tadi.
"Bara dengan kau bertanya seperti itu, apa kau tidak takut jika aku kembali mencintaimu dan ingin memilikimu lagi?"
Bara menggelengkan kepalanya. "Itu tidak akan terjadi, karena sejak dulu kau tidak pernah mencintaiku Arneta."
Arneta yang hendak menyanggah ucapan Bara, mengurungkan niatnya tersebut saat pria itu kembali bersuara.
"Karena jika kau mencintaiku, kau tidak akan pernah mengkhianati ku dengan lari ke dalam pelukan pria lain."
"Bara, aku—"
"Ivy, itu bukti cintamu dengan pria itu."
Arneta yang tak bisa berkata-kata hanya bisa terdiam dengan menatap wajah tampan dihadapannya.
"Apa yang bisa aku bantu?"
"Bara..." lirih Arneta dengan terkejut. Karena mantan suaminya itu menwarkan sebuah bantuan untuknya. "Tapi Bara aku wanita yang tidak pantas menerima bantuanmu."
Bara lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Karena ia tahu dengan jelas Arneta layak menerima bantuannya, setelah semalam ia mencari tahu tentang kehidupan Arneta dari Yogi asisten pribadi Kakak iparnya.
"Aku bisa membantu kalian untuk pergi dari mansion ini," ucap Bara dengan serius. Namun Arneta justru tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.
"Seandainya kau datang lebih awal," lirih Arneta dengan menitikkan air matanya.
"Kenapa Arneta?" tanya Bara dengan bingung saat melihat wanita itu menangis.
Arneta menggelengkan kepalanya masih dengan terisak, hingga akhirnya Bara pun memeluk wanita itu untuk memberikan sebuah dukungan. Karena ia tahu pasti, apa yang dilalui Arneta begitu berat dari apa yang diceritakan Yogi.
Namun yang tidak diketahui oleh Bara dan Arneta, ada sosok yang tengah menatap mereka dengan penuh amarah. Bahkan gelas yang sedang dipegangnya sampai pecah hingga melukai tangannya sendiri, karena begitu emosi melihat Arneta dan Bara yang berpelukan.
"Lio tanganmu berdarah?" pekik Anna dengan terkejut saat melihat tangan suaminya terluka oleh pecahan gelas.
Lio yang baru menyadari tangannya terluka, hanya diam lalu memilih keluar dari dalam kamar tanpa memberikan kesempatan pada Anna untuk mengobati lukanya.
*
*
Setelah selesai berbincang dengan Bara, yang berakhir dengan pria itu memberikan nomer ponselnya yang kapan pun bisa Arneta hubungi jika memerlukan bantuan. Karena rencananya besok Bara dan Lea akan kembali ke Paris setelah malam ini menghadiri acara ulang tahun salah satu kerabatnya.
Dan malam ini Arneta merasa suasana sedikit sunyi, apalagi Ivy pun ikut di ke acara pesta yang dihadiri oleh seluruh anggota keluarga yang ada di mansion Richard.
"Bagaimana rasanya di peluk mantan suamimu?"
Deg.
Arneta yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, terkejut saat mendapati sosok Lio yang berada di kamarnya.
"Kau? Bagaimana bisa kau ada di sini?" tanya Arneta dengan tak percaya. Karena setahunya pria itu ikut pergi bersama Lea, Bara, dan juga Anna.
Lio sendiri diam tak menjawab pertanyaan Arneta. Ia memilih menghampiri wanita itu lalu menariknya dengan kasar. "Jawab pertanyaanku! Apa kau merasa senang dipeluk mantan suamimu?" tanyanya dengan penuh amarah.
Ya, Lio merasa marah setelah melihat bagaimana Arneta dipeluk oleh adik iparnya sendiri. Sungguh ia tidak terima jika Arneta kembali merusak rumah tangan Lea dan Bara, dan yang paling utama ia tidak terima wanitanya disentuh oleh pria lain apalagi oleh Bara.