My Ex

My Ex
Sebuah Kejutan



Meskipun tidak ada Askara di rumah, Asha tetap mengerjakan apa yang harus dikerjakan, meskipun sudah dilarang oleh Bi Sumi, tetapi Asha tetap ngeyel.


"Sudahlah Neng, biar Bibi aja yang ngerjain," kata Bi Sumi saat Asha ingin mengepal.


"Udah gak papa, Bi. Bi Sumi lanjutin aja nyucinya. Aku udah biasa ngepel kok. Jadi Bi Sumi gak usah khawatir dengan hasilnya."


"Tapi Neng—"


"Udahlah gak udah tapi-tapian. Beres-beres," potong Asha.


Bi Sumi tak ingin memaksakan diri. Ya, meksipun sebelum pergi Bi Sumi mendapatkan amanah untuk menjaga Asha dan tidak boleh membiarkan Asha mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi apa boleh buat. Asha orangnya ngeyel dan keras kepala.


"Ya sudah, tapi hati-hati nanti kepleset."


"Tenang aja, Bi. Aku udah terbiasa dengan pekerjaan seperti ini."


Saat ini semua aktivitas yang dilakukan oleh Asha terpantau langsung oleh Askara, meskipun saat ini Askara sedang berada di luar kota. CCTV yang di pasang di setiap sudut membuat Askara mengetahui semua yang dilakukan Asha.


"Bos, jika Anda masih mencintai Asha mengapa tidak rujuk saja? Takutnya nanti ada yang sat set sat set ujung-ujungnya Asha diambil orang baru deh gigit jari," celetuk Kai yang tak sengaja melihat Askara sedang memantau Asha di laptopnya.


"Kamu gak usah sok tahu! Sana keluar!" usir Askara pada Kai.


"Aku belum mandi, Bos. Bos!" teriak Kai saat dirinya telah di keluarkan dari kamar.


"Dasar Kaisar pengganggu!" gerutu Askara.


Karena Askara tidak ingin berlama-lama di luar kota, sebisa mungkin dia menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin. Bahkan ria harus ngebut untuk menyelesaikan sebuah masalah yang sedang terjadi. Berkat bantuan Kaisar, semua berjalan sesuai rencana dan siap lebih awal. Askara benar-benar merasa sangat bahagia karena bisa pulang lebih awal dari jadwal sebelumnya.


"Emang beda ya vibesnya orang yang sedang jatuh cinta. Dunia seakan hanya milik berdua yang lain ngontrak," kata Kai saat melihat bosnya.


"Kamu ngomong apa sih, Kai? Mending kamu ngomong yang jelas!"


Perjalanan keluar kota yang seharusnya berjalan 2 hari kini hanya 1 hari saja karena Askara memilih untuk menyelesaikan dengan kilat. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Asha.


Perjalanan udara hanya ditempuh dalam waktu 45 menit. Dan saat ini Askara sudah dalam perjalanan untuk pulang ke rumah. Dia sengaja tidak memberitahu Asha karena ingin melihat ekspresi Asha saat melihat dirinya pulang lebih awal. Anggap seperti sebuah kejutan.


"Maaf Bos, aku tidak bisa mengawalmu sampai ke dalam rumah karena aku ingin segera pulang. Rasanya badanku sangat remuk. Aku ingin segera beristirahat untuk mengumpulkan tenaga karena besok aku sudah harus bertempur lagi di kantor," kata Kai saat Askara hendak membuka pintu mobilnya.


"Tidak maslahah. Apakah kamu tidak berniat untuk bertemu dengan pacarmu terlebih dahulu?" tanya Askara.


"Maaf Bos, sepertinya aku berubah pikiran. Mari aku antar ke dalam."


Askara hanya tersenyum sini melihat Kai terlihat begitu semangat saat ingin mengantarkannya ke dalam.


"Dasar!" cibir Askara.


Langkah pelan mengantarkan kedua pria itu menuju ke kamar Asha, karena Bi Sumi mengatakan jika Asha dan Kania sedang berada di kamar. Kedua pria itu berjalan mengendap-ngendap seakan ingin memberikan sebuah kejutan kepada pujaan hati mereka masing-masing. Namun, saat kedua pria itu telah berada di depan pintu tak sengaja telinga mereka mendengar perbincangan dari dua wanita yang sedang berada di dalam kamar. Karena penasaran Askara memberi isyarat kepada Kai untuk menguping sejenak, karena Askara mendengar suara Asha yang sedikit terisak.


"Aku tahu kamu melewati semua ini dengan kuat, Sha. Kamu wanita hebat yang bisa berjuang seorang diri untuk melunasi semua hutang yang ditinggalkan oleh Askara. Bahkan kamu sampai harus kehilangan seorang anak. Itu memang sangat menyakitkan, Sha. Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi tidak ada salahnya jika kamu dan Askara membenahi lagi puing-puing yang telah hancur. Mungkin ini adalah cara Tuhan untuk mengganti semua kesedihanmu selama ini, Sha. Jika Askara meminta untuk kembali, kembalilah, Sha. Lupakan rasa sakit yang pernah tertanam dalam hatimu. Kamu berhak untuk bahagia, Sha." Kania berkata dengan air mata yang meleleh begitu saja. Sungguh dirinya tidak sanggup untuk mengingat bagaimana perjuangan Asha selama ini.


"Tapi Kan... aku sudah berjanji kepada Ibu Kara jika aku tidak akan datang lagi dalam hidupnya Kara. Tapi ternyata takdir membawaku bertemu lagi dengannya. Aku sudah mencoba untuk membentengi perasaanku sendiri, tapi aku tidak mampu. Apa yang harus aku lakukan, Kan?" isak tangis Asha kian menjadi saat dia mengeluarkan unek-unek dalam hatinya.


"Aku tahu jika ridho seorang ibu adalah ridho Tuhan, tapi apa yang telah dilakukan oleh ibu Askara sudah sangat keterlaluan, Sha. Dia rela menyewa seseorang hanya untuk mengajar Askara. Semua itu semata-mata hanya untuk memisahkan kalian berdua. Bagaimana jika saat itu nyawa Askara tidak tertolong? Kamu bukan hanya berpisah dengan Askara, tetapi kamu juga akan menanggung apa yang tidak kamu lakukan, Sha. Mungkin Tuhan telah memberikan karma untuk ibunya Askara."


Dua wanita malah terisak dalam tangis mereka masing-masing. Namun, keduanya harus menahan nafsu saat pintu kamar dibuka oleh seseorang. Derap langkah semakin dekat hingga akhirnya kedua wanita itu menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang telah masuk ke dalam kamarnya. Dengan mulut ternganga, jantung Ashaa hampir terlepas saat melihat Askara telah berada di depannya.


"Kara," gumamnya.


Kania juga tak kalah terkejut saat melihat Askara dan Kai telah muncul di dalam kamar. Susah payah Kania menelan salivanya.


Mata Askara masih menatap Asha dengan lekat. Tanpa kata pria itu berjalan mendekat kearah Asha yang duduk diatas tempat tidurnya.


"Kara." Dada Asha naik turun saat langkah Askara kian mendekat, terlihat sorot matanya terlihat sangat tajam.


Tubuh Asha langsung membeku saat tubuhnya dipeluk Askara.


"Sha, kenapa kamu tidak mengatakan kepadaku jika kamu pernah mengandung anakku, Sha! Kenapa? Bahkan kamu harus semua hutang-hutangku. Apakah masih pantas aku untuk mendapatkan maaf darimu atas kebodohanku, Sha? Kenapa kamu memilih menderita seorang diri, Sha. Kenapa?"


Air mata yang sudah ditahan sejak tadi akhirnya tumpah begitu saja. Untuk kali pertama seorang Askara menangis dipelukan Asha untuk menyesali waktu yang telah berlalu.


"Kara."


"Biarkan aku seperti ini dulu, Sha!"


Asha hanya pasrah dan membalas pelukan Askara. Air mata juga semakin deras saat Askara terisak dalam pelukannya.