My Ex

My Ex
Kedatangan Karina



Askara tidak bisa datang tepat pada waktunya karena harus menempuh jarak antara rumah dengan kantor yang memakan waktu hampir lebih 15 menit. Semua orang meminta Kai untuk mengundurkan diri dari perusahaan karena itu hanya akan mencoreng nama baik perusahaan.


"Sungguh kami merasa sangat malu memiliki seorang karyawan kepercayaan bos besar mempunyai sebuah standar dan saat ini sedang trending di mana-mana. Jika dibiarkan berlarut-larut ini hanya akan mempengaruhi kinerja perusahaan ini. Apakah pantat orang seperti ini dipertahankan di dalam perusahaan besar ini?"


"Saya sangat menyayangkan apa yang terjadi kepada Kaisar. Meskipun dia memiliki hubungan dengan seorang wanita, seharusnya jangan sampai bocor ke publik. Ini bisa mencoreng nama baik perusahaan ini."


Kai hanya bisa mendengarkan satu persatu orang yang mengomentari tentang sebuah foto yang sedang hangat diperbincangkan oleh semua orang. Dalam hati ingin rasanya menjahit satu persatu mulut yang telah mana dunia tanpa sebuah bukti yang kuat. Bagaimana jika mereka tahu sosok yang sedang tidur bersama dengan Asha itu adalah Bos mereka sendiri. Apakah mereka tetap akan menghakimi Bos mereka?


Saat semua orang sedang Kai, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan menampilkan sosok Askara yang sedang berjalan untuk menuju sebuah kursi kebesarannya. Semua peserta rapat berdiri dan membungkukkan kepala untuk menyambut kedatangan Askara. Mereka semua tidak menyangka jika Askara akan datang karena sebelumnya Kai mengatakan jika Bosnya sedang ada urusan di luar kota.


"Aku tidak tahu ini agenda rapat apa ya? Mengapa aku tidak tau menau?" tanya Askara yang kini sudah duduk di sebuah kursi kebesaran miliknya.


Semua orang yang hadir tercengang akan pertanyaan yang dilontarkan oleh bos mereka. Mengapa bisa sang pemilik perusahaan sama sekali tidak mengetahui rapat dadakan yang diselenggarakan oleh para petinggi di perusahaan.


"Apakah Anda sedang bercanda, Pak?" tanya salah satu diantara orang yang menghadiri rapat.


"Apakah wajahku terlihat seperti orang yang sedang bercanda? Siapa yang memutuskan untuk menggelar rapat hari ini?"


Hening. Kini semua orang tidak bisa menjawab pertanyaan Askara. Semoga orang yang hadir bukanlah orang sembarangan, melainkan orang-orang pilihan dalam perusahaan. Bisa-bisanya mereka menggelar sebuah rapat tanpa sepengetahuan dari bos mereka.


"Kenapa kalian semua diam? Apakah aku tidak berarti apa-apa di perusahaan ini?"


"Maaf Pak. Kami sungguh tidak tahu jika Anda tidak mengetahui agenda rapat hari ini karena kami mendapatkan kabar secara dadakan dari group, jika hari ini akan diadakan rapat untuk membahas tentang skandal Kaisar bersama dengan mantan sekretaris anda," jelas salah seorang yang mengikuti jalannya rapat tersebut.


"Apakah seperti ini cara kalian menyelesaikan sebuah masalah? Bagaimana jika orang yang berada di dalam foto itu bukanlah Kaisar? Apa yang akan kalian lakukan? Disini akulah pemilik perusahaan. Aku menggaji kalian bukan untuk mengurusi masalah pribadi seseorang tetapi untuk bekerja bagaimana perusahaan ini lebih berkembang. Kalian yang hadir hadir di sini bukanlah orang sembarangan mengapa kalian tidak bisa berpikir lebih jernih untuk menyelesaikan sebuah masalah? Disini aku yang berhak menentukan apakah seseorang itu masih layak untuk bekerja di sini atau tidak. Jadi jangan lancang untuk mendahuluiku. Bubar kalian semua!" bentak Askara dengan dada naik turun.


Semua orang hanya pasrah dan bangkit dari tempat duduk mereka untuk meninggalkan ruangan rapat. Namun, belum satu langkah mereka bergerak, Askara telah menghentikan langkah mereka.


"Tunggu!"


🌼🌼


Asha sudah menutupi lehernya dengan concealer agar tidak terlihat jejak kepemilikan yang telah ditinggalkan oleh Askara. Dengan langkah pelan Asha menuruni anak tangga.


Namun, setelah sampai di lantai dasar matanya langsung menangkap sosok orang yang sangat begitu familiar untuknya. Siapa lagi jika bukan Karina.


Mata kedua wanita itu saling bertemu. Tatapan penuh kebencian terpupuk kembali di mata Karina. Dengan langkah cepat, dia langsung menghampiri Asha dan melemparkan beberapa lembar foto tepat di wajah Asha.


"Dasar, wanita murahan!" sentak Karina dengan mata yang memerah.


Karina yang mendengar jika diam-diam kakaknya telah menikah lagi dengan Asha merasa sangat murka. Bahkan usahanya untuk menjatuhkan Asha pun tidak berhasil.


"Aku heran mengapa ada wanita yang tidak tahu diri seperti dirimu. Lihatlah berita di luar sana yang sedang membicarakan tentang dirimu! Kamu itu wanita murahan, Asha!" teriak Karina dengan emosi yang meluap-luap.


Asha tersenyum lebar saat melihat foto yang berada ditangannya saat ini. Apakah Asha harus merasa malu ketika fotonya tersebar luas di media sosial dan sedang menjadi trending di mana-mana. Apakah Asha harusmembuat sebuah klarifikasi jika seseorang yang sedang tidur bersama dengan dirinya adalah Askara? Jikapun Asha memberikan penjelasan, toh orang yang telah tidur bersama dengannya sudah bertanggung jawab dan menikahinya. Lalu apa yang akan dipermasalahkan lagi?


"Aku tidak peduli dengan foto yang sedang beredar luas itu. Toh aku sudah memiliki versi yang aslinya. Bahkan aku juga sudah mengantongi CCTV di sekitar bahwa foto itu sengaja dibuat seseorang untuk menjatuhkanku. Aku dan pria yang ada di dalam foto itu tidak melakukan apa-apa, lalu apa yang akan aku khawatirkan? terlebih saat ini pria yang ada di dalam foto itu telah menikah denganku." Asha berbicara dengan santai.


Seketika tubuh Karina membeku untuk beberapa saat. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Asha.


"Tidak mungkin! Aku tidak percaya jika kamu telah mengetahui CCTV disekitar sana Bagaimana mungkin bisa?" Karina terlihat sangat panik, karena sebelumnya dia sudah memastikan jika sudah merusak CCTV yang berada di sekitar kejadian.


Asha langsung meneruskan kedua alisnya. "Lho, kamu kenapa panik dan ketakutan seperti itu, Rin? Apakah kamu mengetahui tentang kejadian malam itu? Atau jangan-jangan kamu yang telah merencanakan semua ini? Jika iya, aku sangat menyayangkan sekali karena rencanamu kali ini gagal. Jika dulu aku adalah orang yang bisa kamu tindas, tetapi tidak untuk sekarang, Rin! Aku tidak akan melepaskan apa yang telah menjadi milikku. Silahkan gunakan caramu untuk menyingkirkanku dari sisi Kara, aku tidak akan takut lagi." Asha berbicara dengan tatapan menusuk. Baru kali ini Asha bisa tegas saat menghadapi Karina yang selalu saja ingin menghancurkan kebahagiaannya.


"Kamu pikir dengan menikah kembali dengan Kak Kara, kamu sudah menang? Tidak Asha! Aku tetap akan terus membayangi kehidupanmu sampai kamu benar-benar meninggalkan Kak Kara untuk selamanya. Meskipun saat ini aku gagal untuk menyingkirkanmu, tapi tunggu saja nanti!" ancam Karina sebelum meninggalkan rumah kakaknya.