
Terkadang akan ada banyak orang yang tidak menyukai dengan kebahagiaan dan keberhasilan seseorang. Timbul rasa iri dan dengki sehingga rasanya terus ingin menjatuhkan. Apapun yang dilakukan akan terlihat salah, karena rasa benci yang telah menggunung dalam hati. Sulit untuk menyadarkan manusia jenis seperti ini, karena nasehat apapun yang diberikan tidak akan pernah bisa diserap. Kebencian yang dimiliki seorang tidak akan pernah berakhir jika orang tersebut belum jatuh kedalam dasar jurang dan merenungi akan setiap perbuatannya.
...
Berkat kerja keras Kai satu malaman, akhirnya Askara bisa mengetahui siapa otak dibalik rencana yang ingin menjatuhkan Asha. Bukan hanya melibatkan satu atau dua orang, tetapi hampir beberapa orang yang telah menjadi sebuah komplotan untuk memuluskan rencana busuk mereka.
"Ini tidak bisa dibiarkan, Kai. Mereka bukan hanya ingin menjatuhkan Asha, tapi mereka ternyata telah mencuri uang perusahaan. Aku tidak bisa terus-terusan memelihara orang seperti ini!" Askara terlihat sangat marah ketika mengetahui bukti yang ditunjukkan Kaisar kepadanya.
Jika awalnya Kai hanya ingin menyelidiki orang-orang telah menyebarkan berita tidak benar. Namun nyatanya dia malah menemukan bukti lain tentang kejahatan yang telah dilakukan oleh beberapa orang di kantor. Salah satunya adalah orang manager kepercayaan Askara.
"Kamu tetap awasi orang-orang ini dan kumpulkan bukti yang kuat. Aku tidak menyangka jika selama ini aku telah memelihara tikus liar!" Askara mendengkus dengan kasar.
"Cari tahu juga apakah ada keterlibatan dari orang luar. Aku takut jika Karina adalah otak dibalik semua ini!" lanjut Askara lagi.
"Untuk masalah itu aku belum tahu, Bos. Tapi aku akan berusaha untuk segera mengungkapnya, tapi setelah semua masalah ini selesai, bisakah aku mengambil cuti tahunan ku? Karena otakku juga butuh istirahat, Bos."
Askara langsung mendelik ke arah Kai. "Bisa, tapi potong pajak 50 persen!"
Seketika Kai diam tak berkutik. Mending tidak mengambil cutinya daripada gajinya dipotong 50 persen. Bukan Askara jika tidak bisa mengancam Kai. Hanya dengan ancaman potong gaji saja Kai sudah tidak berkutik.
"Ra, kita mau kemana?" tanya Asha saat suaminya menyuruh Asha untuk bersiap.
"Jalan-jalan, cuci mata biar gak suntuk," ucap Askara.
"Wah, seru juga tuh kayaknya. Pas banget sih, aku juga lagi suntuk, Bos," sambung Kai.
Mata Askara langsung menatap Kai yang masih duduk di sofa. "Memang siapa yang akan mengajakmu? Kamu ke kantor sana!" usir Askara.
"Kok gitu, Bos? Aku juga lagi suntuk dan perlu cuci mata, Bos!"
"Terserah kamu saja. Mau ikut atau mau potong gaji 50 persen!"
...
Hari ini Askara sengaja mengajak ke sebuah mall. Selain untuk cuci mata, Askara juga ingin membelikan pakaian untuk Asha, karena Askara merasa pakaian Asha hanya itu-itu saja.
Sebenarnya bukan hanya itu-itu saja, melainkan Asha hanya mengenakan yang nyaman untuk dirinya saja.
"Ra, kita ngapain sih ke mall? Mending di rumah istirahat!" protes Asha.
"Ya, sekali-kali, Sha! Lagian kita juga belum pernah jalan bareng kan?"
"Gak usah lebay deh, Ra! Kita udah tua, ingat umur!"
"Romantis dikit, napa sih Sha!"
Layaknya pasangan muda lainnya, Askara menggenggam erat tangan Asha sepanjang langkahnya saat berada di dalam Mall. Untuk hari ini Askara tidak akan ingin memikirkan masalah yang sedang terjadi di kantornya, karena hari ini dia ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Asha.
Saat masuk ke sebuah toko baju, Askara langsung melihat-lihat pakaian untuk Asha. Namun, karena Asha tidak suka barang branded, dia pun tidak tertarik dengan pilihan yang diberikan oleh Askara.
"Sha, baju itu bagus dan cocok untuk kamu, lho!" Askara menunjuk salah satu pakaian yang dipasang di sebuah patung.
Bola mata Asha langsung mendelik saat melihat tangan Askara menuju ke sebuah patung. "Idih ... pakaian apa itu? Kayak jaring ikan!" protes Asha.
"Ogah! Itu pakai haram, Ra!"
"Enggak haram, Sha. Kan kita udah nikah."
Perdebatan kecil pun terjadi. Askara yang menginginkan pakaian seperti jaring lumba-lumba, dan Asha yang sangat membencinya. Bahkan untuk melihatnya saja Asha merasa jijik, apalagi untuk memakainya.
"Kalau kamu menginginkan baju itu, ambil aja tapi kamu yang pakai sendiri karena aku nggak mau memakainya!" Asha akhirnya menyerah karena Askara tetap ngotot ingin membeli sebuah lingerie yang menempel di sebuah patung.
"Hah? Kok aku sih, Sha? Ya kamu dong. Itukan pakaian khusus untuk wanita, apa ceritanya kalau aku yang pakai?"
"Itu urusan kamu! Kalau mu, beli aja! Dah, ah. Aku mau cari yang lain aja!"
"Ya udah aku beli!"
🌼🌼
Setelah puas mengelilingi mall, kini keduanya pun singgah kesebuah swalayan untuk membeli perlengkapan lainnya. Saat mendorong troli ke sebuah tempat buah, tak sengaja Asha melihat seseorang yang dikenalinya. Karena Askara sedang tidak bersama dengannya, dia pun memutuskan untuk menghampiri orang yang dilihatnya.
"Kamu!" wanita itu menunjuk ke arah Asha.
"Kamu ngapain di sini? Bukankah ini masih jam kantor?" tanya Asha.
Wanita yang tak lain adalah Shela tersenyum sinis kearah Asha. Sebenarnya sudah lama Shela ingin bertemu dengan Asha. Namun, karena tidak tahu Asha tinggal dimana, Shela tidak bisa apa-apa.
"Terserah aku mau ngapain aja disini. Toh bos yang punya perusahaan aja nggak mempermasalahkannya. Kamu gak usah ikut campur deh! Mending urusin aja tuh foto kamu yang sedang tranding di internet. Dasar janda murahan!"
Asha tidak terima jika dirinya dikatakan janda murahan. Seketika tangan Asha wayang hendak melainkan sebuah temperan ke arah pipi Shela. Namun, dengan cepat tangan Asha langsung dicekal oleh seorang pri a yang tiba-tiba muncul dari belakang Shela.
"Jangan berpikir kamu bisa menyentuh dia!"
Asha sangat terkejut dengan pria yang berada disamping Shela. Tiba-tiba tubuh Asha membeku. Keringat dingin pun mulai bercucuran. Suara yang sangat melekat di telinganya. Meskipun saat itu tidak bisa mengenali wajahnya, tetapi dengan suara yang berdengung kembali membuat Asha yakin jika pria yang ada di depannya saat ini adalah orang yang sama di malam itu.
"Kasih dia pelajaran, Gas. Biar gak kurang ajar!" seru Shela.
Mata Bagas terus menatap Asha tanpa berkedip. Namun, tiba-tiba cekalan tangannya dilepas paksa oleh seseorang.
"Kamu jangan kurang ajar! Jangan pertama kali kamu sentuh Asha!"
Shela dan juga Bagas tak kalah terkejut saat melihat Askara muncul di depan mereka.
"Pak Kara," gumam Shela.
"Apa yang kalian lakukan di sini saat masih tidak. Apakah kalian tidak memiliki pekerjaan di kantor? Siapa yang telah mengizinkan kalian untuk keluar saat masih jam kerja?" cecar Askara.
"Maaf Pak. Tapi kami hanya disuruh oleh manajer Liie. Beliau yang menyuruh kami untuk berbelanja sebentar karena nanti akan ada tamu istimewa dari luar kota" Jelas Shela.
"Tapi dia bukanlah bos di perusahaan. Lalu mengapa kalian lebih patuh kepada ucapan manajer Liie, ketimbang dengan bos kalian sendiri."
"Kami benar-benar minta maaf pak."