My Ex

My Ex
Dari Nadine untuk Arka



Kejadian itu membuat keduanya jadi sangat dekat. Entah siapa yang memulai, entah siapa yang salah. Walaupun mereka itu mantan kekasih, tapi mereka makah terlihat seperti orang pacaran.


“nah selesai, ini caranya gini aja, kalo belum paham ke gue lagi, ok?” Arka selesai setting smartwatch untuk Nadine.


“mau dipakein?” tawar Arka.


“ga usah, bisa sendiri.” Arka hanya tersenyum simpul.


Nadine memakai jamnya ditangan kiri,


“makasih ya, gue balik dulu, bye” Nadine pun pergi ketempat kerjanya dan bekerja seperti biasa.


Namun ketika teman-temannya sadar Nadine memakai jam di tangan kirinya, teman-temannya mulai menggodanya,


“wow, jam baruuuu.... dari Arka ya...ciee,”


“jam mahal ini”


“serius dikasi Arka??”


Dan sebagainya, Nadine hanya mengangguk singkat tak ingin menambah panjang kalimat. Karena ia sebenarnya tidak mau juga pakai jam ini ketika kerja, sayang nanti lecet. Tapi demi menghargai Arka ia memakainya juga hampir setiap hari.


“Lucy, nih data yang kemaren udah gue fotocopy,”


“wah makasih banyak ya Nad, ini berapa??” ucap Lucy senang.


“udah kaga usah, Cuma 2 lembar doang,” tolak Nadine halus.


“jadi semalem tuh gimana? Lancar??” tanya Lucy penasaran, Nadine tak keberatan menceritakan soal Arka pada Lucy karena memang dia sering sekali curhat tentang Arka, maka Lucy tau betul bagaimana perasaan Nadine pada Arka.


“lancar, dia kasi gue ini buat hadiah perpisahan katanya,” ucap Nadine menunjukan jam barunya.


“wahh...hebat, baik juga dia,” puji Lucy


“yah... begitulah, sayang punya orang lain,”


“udahlah Nad, nanti juga lu dapet ganti yang lebih dari dia,” bujuk Lucy


****


Entah bagaimana ceritanya beberapa belakangan ini Arka sering sekali menelefonnya hanya karena alasan sepele, dan Nadine masih melayaninya. Dan itu terkadang sampai jam 2 pagi.


Suatu sore dihari Jum’at,


Seperti biasa Nadine dan Arka duduk bersantai di gazebo belakang, sibuk dengan ponsel masing masing, Arka dengan gamenya, dan Nadine dengan tontonan YouTube nya. Tapi hari itu matari lumayan terik sehingga begitu menyorot ke arah Nadine duduk.


Ia pun pindah ke tepi ilalang, karena disana lebih teduh. Nadine duduk dengan tenang dan memainkan ilalang dan bunga liar. Tiba-tiba Arka datang dan duduk dihadapannya. Jaraknya sangat dekat membuat Nadine bergeser mundur.


“lagi mikirin apa?” tanya Arka lembut.


“gak mikirin apa apa.”


“yakin??”


“iya, emang gue keliatan lagi mikirin sesuatu??”


“yaa siapa tau gitu,” Arka hanya diam memandang Nadine, membuat Nadine bingung.


“kenapa? Ada yang mau di omongin??”


Arka menggeleng, ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukan layarnya yang terpajang foto lukisan yang ia kirim tempo hari.


“kenapa di pake wallpaper??” tanya Nadine.


“bagus aja, suka,”


“lu suka??”


“iya,”


“yaudah ntar gue kasi gambar aslinya,”


“eh apa gapapa?? Itukan karya lu. Foto ini aja udah cukup ko,”


“gapapa, sebagai tanda makasih buat jam ini,”


Tak lama bell berbunyi dan mereka harus bekerja kembali, membuat Nadine segera melesat dari hadapan Arka, meninggalkan Arka yang termenung memandangi punggung Nadine.


******


Jam kerja telah berakhir, hari ini yang lembur tak teralu ramai. Nadine duduk di bangku yang belakang bis, duduk sendirian. Ia memasang earphone ditelinganya, dan mulai mendengarkan beberapa lagu.


Namun, setelah dirasa-rasa ia merasa ada hal yang aneh. Ia tak mengenali perjalanan ini setelah sekian lama mungkin hampir 10 menit stelah ia duduk. Sampai tiba-tiba bus berhenti, Nadine langsung berdiri dan hendak turun.


Tapi alangkah terkejutnya ia ketika ia samasekali tak mengenali dimana tempat itu berada. Dan parahnya semua teman-temannya sudah tak ada lagi, hanya dia sendirian penumpang di bis ini. Dan ngomong-ngomong, lampu bis nya mati.


Suasana jadi sangat horror, gelap dan tiada penumpang lain, ditambah tempat yang sangat asing. Nadine berjalan perlahan menghampiri supir bis.


Sang supir hmpir saja kena serangan jantung.


“WAAAAAAAAA!!!!!!!” teriaknya terkejut melihat Nadine yang tiba-tiba muncul dari dalam bis yang gelap.


“AAAAAAAKKKKHHHH!!!!” Nadine ikut menjerit kaget.


“hei... kukira kamu ini hantu,” ucap sang supir mengelus dada.


“maaf pak, ini dimana ya?? Ko teman-teman yang lain ga ada??” tanya Nadine parno.


“ini di tempat saya, saya ga antar sampai apartemen, tadi yang lain turun kenapa kamu gak turun??”


“turun?? Kapan???” Nadine semakin bingung.


“tadi mereka tukar bis, kamu gak dengar?”


Nadine menepuk jidatnya akibat kebodohannya sendiri,


“ga dengar saya, kan pakai earphone,”


“lah pantesan, untung kamu gak ketiduran, kalau ketiduran saya kunci kamu dalam bis...”


“bisa mampus saya pak,” potong Nadine,


“terus ini dimana ini?? Ga bisa anterin saya pulang??” ucap Nadine memelas.


“duh gak bisa, makanya tuker bis, karena saya ada urusan lain, pesan taxi aja, saya tungguin sampai dapat taxi, bahaya perempuan sendirian malam-malam, apalagi disini daerahnya rawan orang mabuk,”


GLEEK!!


‘oke Nadine how stupid u are....’


Nadine segera memesan taxi onlen sebelum ponselnya mati, dan sialnya baterainya tinggal 15%.


Ia mengabari Arka sembari menunggu taxi


Nadine


Eh liat deh gue dimana


(foto jalanan sepi)


Arka


Nad...lu dimana?


Sama siapa?


^^^Gue nyasar ka, gue juga ga tau dimana..^^^


Ko bisa?


Bukannya tadi lu naik bis kan??


^^^Iya^^^


^^^Cuma gue ga sadar kalo tukar bis ditengah jalan^^^


^^^Soalnya gue duduk di belakang sendiri pake earphone^^^


^^^Jadi gak kedengeran^^^


Nadine....


Shareloc coba, ntar gue jemput,


^^^Kaga usah, taxinya udah dateng^^^


ARKA CALLING


“ya hallo??” ucap Nadine


“lu udah naik taxi belum??” suara Arka terdengar aga kasar.


“iya udah ini lagi dijalan,”


“lain kali jangan pake earphone, kalo bisa duduk jangan dibelakang, masih mending gak dikunciin sama supirnya,”


“iya,”


“yaudah kalo udah sampe rumah kasi tau gue”


Pip!


“hah?? Apaan sih, ko gue malah dimarahin, sebel,” gerutu Nadine terlebih karena telfonnya dimatikan begitu saja, rasanya ia baru kali ini dimarahi Arka.


Sesampainya di rumah, nadine segera berbenah seperti biasa. Dan selesai semuanya ia naik ke kasur dan mengirim Arka pesan sesuai pintanya.


-udah dirumah-


Tak lama ponselnya berdering kembali, Nadine segera mengangkatnya.


“ya hallo?”


“udah dirumah?”


“udah”


“syukur deh lu kaga kenapa napa, lain kali hati hati,”


“iya makasih,”


“yaudah tidur ya, udah malem”


“belum ngantuk,” tolak Nadine.


“yaudah gue temenin sampe ngantuk,”


Setelahnya mereka terus berbincang di telfon tentang hal-hal yang tidak penting, setiap kali ponselnya mati, Arka akan kembali menelefonnya. Rasanya puas sekali. Beruntungnya besok adalah sabtu jadi tidak ada kerja.


Nadine benar-benar puas hati berbincang panjang lebar dengan Arka, rasanya hal sepele pun terasa menarik jika dibicarakan dengan Arka. Begitu pula Arka, dia sama sekali tak bosan meladeni Nadine yang terkadang susah menangkap inti ceritanya.


Kalimat yang Nadine ingat malam itu adalah...


“Nadine, berhenti mikirin gue, gue gak mau lu sakit hati, gue ga mau lu kecewa, gue sayang banget sama lu, tapi faktanya gue gak bisa tinggalin Clarissa, tanggung jawab gue ke dia lebih besar, gue harap lu ngeti, jadi berhenti mikirin gue, jadi jangan baper terus ya, bersikaplah biasa aja, biasa aja kita Cuma teman, gak lebih, faham??”


Jujur saja, Nadine menangis mendengar ucapan itu, kenapa Arka bisa begitu tega terhadap dirinya. Atau mungkin Nadine yang terlalu bodoh???


Terkadang Nadine berfikir apa sih yang membuatnya sangat menaruh hati pada Arka, padahal lelaki itu biasa saja. Terkadang ia merasa apa karena ia sendirian sementara Arka sudah dengan yang lain.


Apakah hanya karena Nadine merasa kesepian sehingga ia tak bisa jauh dari Arka??


Ataukah ada hal lain yang tak mereka ketahui??


Don’t know


*****


Tak terasa jam kerja Nadine tersisa satu Minggu lagi, dan bagusnya atau buruknya mungkin, munggu terakhir ini dia satu shift dengan Arka.


Dan Nadine sebenarnya diam-diam menulis sebuah surat untuk Arka. Dan yaaa surat itu lumayan panjang ada 5 lembar folio dan Nadine menulisnya dengan sangat hati-hati. Bukan apa apa, ia hanya mau tulisannya itu terlihat rapi dan mudah dibaca dibanding tulisan normalnya yang berantakan.


Dan ada hal yang aneh,


Setiap Nadine membuat status di whatsApp Arka tak lagi melihat statusnya, ini aneh karena sampai beberapa hari. Nadine berfikir apakah Arka menghapus nomor nya?? Atau sengaja dia skip statusnya itu?


Tidak tau..


Malam itu Nadine dan teman-temannya mengadakan acara makan bersama untuk perpisahannya dan teman-teman yang lain. Namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang juga. Yap. Arka tak datang, ada sedikit rasa kecewa sekaligus lega pada Nadine, dan itu membuat perasaannya sedikit aneh.


Seminggu terakhir ini jadwal tidur dan insomnia Nadine benar-benar sangat parah. Bahkan dia bisa tidur hanya 1-2 jam setiap hari. Fikirannya sangat kacau dan saling bertumpuk.


Arka bukannya tak tau, dia tau betul bahwa Nadine tak pernah cukup tidur, sebab Arka melihat status Nadine di Instagram. Ternyata Nadine punya cara lain untuk mengirim Arka kode.


Akibatnya Arka sedikit khawatir dengan keadaan Nadine yang jarang tidur.


“semalem gak tidur kan? Kenapa kerja?? Kenapa gak MC aja???” cerca Arka tiba-tiba didepan Nadine dan menghalangi pekerjaannya,


“gue gak papa, tidur ko sejam,” Nadine berusaha menyingkirkan Arka.


“jangan kaya gitu lah,” Arka tetap menghalanginya.


“minggir dong, lu ngalangin tau,” protes Nadine jujur.


“gue khawatir lu sakit,”


“udah sakit kok,” celetuk Nadine membuat Arka kaget.


“hah? Serius?? Sakit apa???”


“sakit hati! Udah ah minggir,” usir Nadine kasar membuat Arka mengalah.


*****


Malam ini Nadine benar-benar gusar ia memandangi gulungan kertas surat dan gulungan gambarnya yang akan ia serahkan pada Arka. Nadine memasukannya pada paper tube. Kemudian ia menulis di bagian tutup tube.


“dari Nadine untuk Arka”