
Sejak kedatangan Karina dua hari yang lalu, pikiran Asha tidak tenang. Dalam hati dia terus bertanya-tanya rahasia apa yang sedang disembunyikan antara Askara dengan Karian. Mengapa Karina begitu sangat membenci dirinya dan tidak bisa menerima pernikahannya dengan Askara.
Dalam kesunyian malam Asha terus merenung untuk mencari tahu sesuatu yang sedang tersembunyi. Namun, setiap kali Asha menanyakan hal itu kepada Askara, pria itu mengatakan tidak ada apa-apa.
Wajah damai yang hampir menemaninya setiap malam dipandang begitu lekat. Wajah yang sama seperti tiga tahun lalu. Wajah yang selalu datang kedalam mimpi ketika dirindukan. Kini sudah berada didepan mata. Namun, rasanya seperti jauh.
Selama ini Asha sudah cukup menjalani hidup penuh dengan kebohongan. Dan saat hatinya kembali dibuka, tiba-tiba rasa cintanya tak berasa. Sedikit demi sedikit mulai pudar digulung rasa kecurigaan.
Sebagai pasangan suami-istri sebuah kejujuran adalah syarat penting untuk mencapai sebuah kebahagiaan. Belajar dari sebuah pengalaman, hubungan mereka harus berakhir manakala satu pihak menyembunyikan kebohongan. Lalu apakah akan terulang kembali?
Mata Asha perlahan mengerjap dengan pelan. Dilihatnya ke samping lagi-lagi tak menemukan keberadaan suaminya. Saat mengedarkan pandangannya Asha menangkap bayangan Askara sudah berada di balkon. Terlihat pria itu sedang menelpon seseorang.
Ada rasa berdenyut dalam hati Asha. Namun, sebisa mungkin Asha menepi semua perasaannya. Mungkin saja itu adalah telepon penting dari kantor, sehingga dia harus menjauh.
Dari balkon, Askara juga melihat jika Asha telah bangun. Dia pun lantas mematikan ponselnya dan masuk kedalam.
"Kamu udah bangun, Sha?" tanya Askara sambil meletakkan ponselnya di atas nakas.
Asha tersenyum kecil. "Iya. Kamu ngapain pagi-pagi udah di balkon?" tanya Asha yang dengan pura-pura.
"Oh itu ... aku sedang mencari udara segar," jawab Askara.
Asha hanya mengangguk pelan sambil membuang nafas kasar. Sudah jelas jika saat ini Askara sudah pandai untuk berbohong.
"Sha, kita nyusul Kai ke Bali yuk! Ya itung-itung kita honeymoon," ajak Askara tiba-tiba.
Asha langsung mendongak. "Kok mendadak, Ra?"
"Sebenarnya enggak mendadak sih. Aku sudah merencanakan saat malam itu. Tapi sepertinya kamu terus menerus kelelahan jadi aku menundanya. Namun setelah aku pikir-pikir aku ingin mengajakmu liburan secepatnya."
Asha masih terdiam tanpa kata. Banyak teka-teki yang belum bisa terjawab. Namun Asha akan mencari tahu sendiri secara pelan-pelan.
"Baiklah. Kita akan menyusul Kai hari ini juga."
🌼🌼🌼
Kabar jika Asha ingin menyusul liburan ke Bali telah sampai ke telinga Kania. Tentu saja wanita itu sangat bahagia. Mereka bisa liburan bersama dengan pasangan mereka masing-masing.
"Kamu kenapa, Kan? tanya Kai yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Asha, Kai .... Asha," ucap Kania dengan penuh rasa bahagia.
"Iya, Asha kenapa? Udah hamil dia?" tebak Kai dengan asal.
"Huss... baru juga berapa malam disemai, masa udah mau tumbuh sih! Bukan itu, Kai. Tapi Asha dan Askara mau nyusul kita kesini."
"Hah?! Seriusan?"
Kania mengangguk dengan pelan sebagai tanda jawaban keseriusannya.
"Wah ... makin seru nih. Kita bisa belajar sama mereka, Kan," celetuk Kai.
Seketika mata Kania langsung mendelik ke arah Kaisar. Tentu saja Kaisar mengerti jika ada kata yang salah. Sambil menyengir, Kai berkata, "Bercanda, Kan."
Rasanya tidak sabar untuk menunggu Asha tiba di pulau Bali. Sejak tadi Kai sudah sibuk menghias kamar yang akan ditempati oleh Asha dan Askara.
"Udah selesai belum, Kai?" tanya Kania saat masuk ke dalam sebuah kamar.
"Belum. Tapi bentar lagi juga siap. Bantuin dong! Jangan cuma perintah aja!"
Kai hanya bisa mengelus dadanya dengan pelan. Dia tidak ingin melakukan perdebatan dengan Kania. Bisa-bisa liburan mereka hanya akan terasa hambar jika Kania sudah ngambek.
🌼🌼
Jika cinta datang, sambutlah dengan kedua tangan. Jika cinta tak sanggup bertahan, lepaskan! Percayalah akan ada cinta lain yang lebih baik. Cinta bukan hanya sekedar aku cinta kamu. Tetapi cinta adalah dua hati yang terikat dalam satu janji. Dua jiwa yang akan menyatu, menjadi satu hati. Ketulusan dan kejujuran adalah tahta tertinggi.
Suara dari sebuah radio seakan menampar Askara yang saat ini sedang duduk di dalam mobil. Keringat dingin mendadak keluar begitu saja. Bahkan hawa yang dingin pun rasanya sangat panas. Rasa gelisah pun Askara rasakan.
"Kamu kenapa, Ra? Kok keringatan?" tanya Asha yang merasa heran dengan Askara.
"Gak papa. Aku cuma kepanasan aja. Mungkin karena cuaca disini panas."
"Oh. Tapi kamu enggak sedang sakit, kan?"
"Kamu tenang aja, aku gak papa."
Tidak butuh waktu lama mobil pun telah sampai di sebuah hotel tempat Kai dan Kania menginap. Baru saja turun dari mobil, Asha sudah disambut oleh Kania yang merasa sangat bahagia dengan kedatangan Asha.
"Asha ... akhirnya kamu sampai sini juga." Kania langsung memeluk tubuh Asha. "Yaudah, ayo aku antar kalian ke kamar."
Kai dan Askara hanya mengikuti langkah dua orang wanita yang ada didepan mereka. Sesekali Kai melirik kearah Askara.
"Bos kenapa, sakit?" tanya Kai yang melihat Askara terlihat lesu.
"Aku gak papa, Kai. Hanya kecapekan aja," kilah Askara.
"Yaudah, setelah ini Bos langsung istirahat saja."
Mata Asha terbelalak dengan lebar saat memasuki sebuah kamar yang telah dihias layaknya sebuah kamar pengantin. Beberapa lilin telah berjejer dari depan pintu hingga sampai di dekat ranjang. Begitu juga taburan bunga mawar seolah membentuk jalan ke tempat tidur. Tidak sampai di situ saja di atas kasur juga ada taburan bunga mawar berbentuk love.
"Ya ampun, cantik banget Kan?" Asha sangat terkagum dengan hiasan kamar untuknya.
"Iya. Ini semua aku yang menyiapkan untukmu," kata Kania dengan bangga. "Apakah kamu menyukainya?"
Kepala Asha mengangguk dengan pelan. "Iya, aku suka banget, Kan. Makasih ya."
Kai hanya membuang nafasnya dengan kasar Bagaimana mungkin hasil kerjanya bisa diakui oleh Kania yang sejak tadi hanya terus memerintahnya.
"Jangan percaya, Sha! Semua ini aku sendirian yang menyiapkannya. Kania hanya terus memerintahku saja." Kai memprotes pengakuan Kania.
"Tapi semua ini ide dariku." Kania tak ingin kalah.
"Tapi aku yang mengerjakannya!"
Melihat dua insan saling merebutkan pemangku, Asha pun langsung menyuruh keduanya untuk dia.
"Sudahlah, kalian nggak usah ribut. Aku tahu kalian sudah lelah untuk menyiapkan kamar ini untuk kami jadi karena kami juga sedang lelah, kami ingin beristirahat dulu. Iya kan, Ra?" Asha meminta pendapat dari Askara.
"Iya benar sekali. Badanku rasanya ingin remuk karena tiap hari harus double lembur."
Mata Kania dan Kai langsung saling berpandangan. Tak menunggu waktu lama keduanya segera undur diri untuk meninggalkan kamar Askara. Entah mengapa tiba-tiba keduanya merasa terdidik merinding saat masker yang mengatakan double lembur.
"Ya udah kalian istirahat dulu. Kami akan ke kamar. Jika Bos utuh sesuatu hubungi saja aku. Aku siap dalam 24 jam untuk melayani Anda," kata Kaisar.
...🌼🌼...
MARHABAN YA RAMADHAN, SELAMAT MENYAMBUT IBADAH BULAN RAMADAN 1444 H DAN SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA BAGI YANG MENJALANKANNYA. MOHON MAAF JIKA BANYAK SALAH DARI OTHOR, Ya 🥰