
Awan mendung perlahan mulai menghilang saat sinar mentari telah bersinar kembali. Secerah harapan telah mengusir badai yang selama ini menyapu daratan. Tidak ada yang tidak mungkin jika semua terjadi atas kehendak Tuhan.
Dua insan yang merasa dunianya sudah kembali tidak bisa mengungkapkan perasaan mereka dengan kata-kata. Jawab Asha membuat Askara tidak sabar untuk rujuk kembali dengan mantan istrinya, terlebih semua akar permasalahan dari perceraian terjadi karena ulah ibunya.
"Bi Sumi, Kara kok belum turun ya?" Asha bertanya pada Bi Sumi yang sedang membersihkan dapur.
"Tuan Kara sudah berangkat pagi-pagi tadi, Neng," balasnya.
"Hah?!" Asha terkejut dengan jawaban Bi Sumi. Dalam hati Asha bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang sangat penting sehingga dia berangkat lebih awal dari biasanya. "Tumben?" lanjutnya lagi.
"Sepertinya Tuan Kara mau mengunjungi ibunya terlebih dahulu, karena hampir satu bulan ini beliau belum mengunjungi Nyonya Dewi," kata Bi Sumi menjelaskan.
Seketika Asha mengangguk pelan. "Kenapa tidak diajak tinggal disini saja, Bi?"
"Waktu itu Bu Dewi pernah tinggal di sini, tapi tidak lama, karena langsung dibawa pulang lagi oleh Non Karin, Neng."
"Oh, begitu ya."
πΌπΌ
Seberapa besar kemarahan yang dimiliki oleh Askara tetap tidak bisa diungkapkan dihadapannya ibunya, sekalipun ibunya telah bersalah. Kemarahan itu dilampiaskan kepada Karina yang ikut andil dalam rencana perceraian.
"Mulai sekarang aku tidak bisa lagi membiayai pengobatan ibu dan juga biaya hidupmu yang semakin boros, Karin!"
Bagaikan petir disiang bolong. Karina benar-benar sangat terkejut dengan ucapan Askara yang secara tiba-tiba. Dadanya naik turun, terlebih saat mengingat wajah Asha yang saat ini berada di rumah kakaknya.
Karin tertawa sinis. "Kaka Kara jangan bercanda, ini gak lucu!"
"Aku tidak sedang bercanda, Karin! Aku serius! Mulai saat ini kamu yang akan membiayai pengobatan ibu dan juga hidupmu."
"Kak, Kakak waras kan? Bagaimana Kakak tega menelantarkan ibu yang sedang sakit?! Dia ibu Kakak. Ibu yang telah melahirkan dan membesarkan Kak Kara. Jangan jadi anak durhaka, Kak!" bentak Karina dengan menahan amarahnya. Dia sudah bisa menebak semua ini karena Asha.
"Aku tidak menelantarkan ibu. Aku masih akan membiayai kebutuhan ibu, tapi tidak dengan biaya pengobatannya. Mulai sekarang aku menyerahkan biaya pengobatan ibu kepadamu, Karin!" tegas Askara.
Karina menggelengkan kepalanya. "Kak Kara keterlaluan! Aku yakin jika otak Kakak sudah dicuci oleh wanita murahan itu. Iya kan?!" bentak Karina.
"Jaga mulutmu, Karin! Kamu tidak berhak untuk menghina Asha. Aku sudah tahu semuanya, termasuk dengan orang suruhan untuk menghajarku. Cepat atau lambat kebusukan itu akan tercium, Karin. Selama ini aku terlalu bodoh karena sangat percaya kepada kalian, Tapi tidak untuk sekarang."
Karina terbungkam dengan ucapan Askara. Jika mulai saat ini Askara sudah tidak mau membiayai hidupnya, lalu bagaimana caranya dia akan bertahan hidup, sementara selama ini yang menanggung seluruh biaya kehidupannya adalah Askara. Karina tidak terima jika Askara menelantarkan dirinya.
"Kak, ini gak lucu, Kak! Kak Kara tahu kan kalau aku tuh gak kerja. Lalu bagaimana caranya aku bisa menghidupi diriku dan membiayai pengobatan ibu, Kak! Pokonya aku gak terima!"
"Terserah kamu saja. Yang jelas aku sudah lepas tangan!"
Setelah menyelesaikan urusannya dengan Karina, Askara pun langsung berlalu tanpa mempedulikan bagaimana Karina memohon kepada dirinya. Bukan Askara tidak peduli dengan keluarganya, tetapi dia hanya ingin sang adik belajar bertanggung jawab. Anggap saja itu adalah hukuman kecil karena Karina telah menghancurkan rumah tangganya dengan Asha yang masih seumur jagung.
πΌπΌ
Malam ini Askara sengaja mengajak Asha untuk makan malam di luar. Dia ingin memulai kisah baru dengan cerita baru. Melupakan masa lalu dan menggapai masa depan yang indah bersama dengan Asha, meskipun keduanya pernah mengalami kegagalan. Namun, Askara yakin untuk kali ini dia bisa mewujudkan mimpi dan harapannya. Asalkan kedua belah pihak saling terbuka, tanpa ada yang ditutupi lagi.
Tampil mengenakan dress tosca serta rambut yang dibiarkan tergerai membuat Asha terlihat lebih cantik dari biasanya.
"Kara!" Tangan Asha melambai untuk menyadarkan Askara. Saat itu juga Askara langsung tersentak.
"Cantik." Satu kata yang keluar dari mulut Askara.
"Maksudnya?" Kedua alis Asha menaut.
Askara pun sadar jika mulutnya telah salah mengucap. Karena sudah terucap apa boleh buat.
"Malam ini kamu cantik, Sha," lanjutnya lagi.
Pipi Asha langsung memerah dan terasa panas. "Udahlah, gak udah ngegombal! Mending kita langsung berangkat aja. Takutnya nanti macet."
"Oke. Ayo kita berangkat."
Hanya butuh waktu lima belas menit, mobil Askara telah sampai didepan sebuah restoran berbintang lima. Dengan cepat dia langsung keluar dari mobil untuk membukakan pintu Asha.
"Dih, apaan sih! Aku bisa buka sendiri tau!" protes Asha.
"Gak apa-apa. Karena mulai hari ini aku yang akan membukakan pintu untukmu. Ayo turun!"
Senyum Asha mengembang luas. Hatinya sangat bahagia ketika bisa merasakan apa yang pernah dia rasakan dahulu. Bagaimana tidak bahagia ketika dia dilimpahkan rasa cinta dari orang yang dicintainya.
Setelah keduanya masuk, sebuah mobil yang sejak tadi mengikutinya juga telah berhenti tepat di samping mobil Askara terparkir. Sorot matanya terlihat sangat tajam. Setelah memakai topi dan kacamata hitam, orang tersebut langsung turun untuk mengikuti Asha dan Askara masuk kedalam restoran.
"Aku tidak ingin kamu gagal!" ucapnya pada seseorang yang berjalan di sampingnya.
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan gagal!"
Tak terpikirkan oleh Asha jika malam ini dirinya akan dilamar kedua kalinya oleh Askara. Dihadapan para pengunjung restoran, Askara berlutut dihadapan Asha untuk mengungkapkan isi hatinya serta mengajaknya untuk menikah lagi. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Askara menyita perhatian semua orang. Tak sedikit dari mereka berteriak dan meminta Asha untuk menerimanya.
"Terima ... terima ... terima!"
Asha tak mampu lagi untuk membendung rasa bahagianya. Dengan penuh haru Asha pun menganggukkan kepala sebagai tanggapan bahwa dia menerima lamaran Askara malam ini.
"Apakah itu artinya .... " Ucapan Askara terjeda karena dia hampir tidak percaya dengan isyarat yang diberikan oleh Asha.
"Iya. Aku menerimanya."
Mendengar jawaban Asha, hati Askara seperti ingin meledak. Dia pun segera menyematkan cincin ke tangan Asha sebagai tanda bahwa Asha telah menjadi miliknya lagi.
"Asha, terima kasih."
Setelah memasang cincin ke jari Asha, Askara langsung memeluk tubuh Asha untuk meluapkan rasa bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.
Begitu juga dengan emua orang yang menyaksikan langsung berteriak penuh bahagia. Satu persatu dari mereka memberikan ucapan kepada Asha.
Jika dulu air mata Asha akan jatuh ketika dia sedang bersedih, tetapi tidak untuk malam ini. Air matanya jatuh begitu saja karena merasa sangat bahagia. Mungkinkah itu yang dikatakan air mata bahagia?
ππ